
Sebenar nya dari kemarin, Gilang memikirkan untuk mencari pendamping lagi. Bagaimana pun Baby Elang masih butuh, sosok seorang ibu yang tulus menyayangi nya. Kadang Gilang merasa kasihan, kalo melihat baby Elang seketika murung. Jikalo melihat teman-teman nya yang lain, bermain dengan ibu nya.
"Tapi siapa? Aku sendiri kan tidak punya pasangan. Ah... Sudah lah, kepala aku pusing memikirkan" Ucap Gilang dalam hati.
Pagi hari nya Gilang seperti biasa memperhatikan baby Elang dan Rani berinteraksi. "Mungkin kah, bila aku menikah bersama Rani? Apa Rani mau dengan ku yang notabene duda 2 kali?" Gumam Gilang masih dengan memperhatikan Rani.
Rani yang merasa gerak-gerik nya di perhatikan menoleh kan kepala nya ke arah Gilang. Namun secepat kilat, Gilang membuang pandangan ke arah lain. Setelah itu, ia menghela nafas lega karena tidak ketauan oleh Rani.
Setelah sarapan, Gilang berangkat ke kantornya. Gilang berpamitan pada Rani dan baby elang, Iya menitipkan anaknya untuk dijaga dengan baik oleh Rani.
"Ran, Saya berangkat dulu ya? tolong jaga baby Elang dengan baik, kalo ada apa-apa segera hubungi aku." Ujar Gilang tersenyum tipis.
"Baik pak, anda bisa percaya dengan saya." Ujar Rani tersenyum manis. Gilang menganggukan kepala nya dan tersenyum, setelah itu ia berangkat ke kantor nya. Sesampai nya di kantor, Gilang menuju ruangan nya.
Di meja, sudah banyak berkas yang menumpuk. Gilang harus memilah mana berkas yang punya profit bagus, dan mana yang punya provit kurang bagus.
Siang hari nya, Gilang makan siang di kantin kantor. Tiba-tiba ada rekan kerja wanita yang mendekati nya, ia mencoba merayu nya. "Hai...Pak Gilang, boleh saya duduk di sini? Semua meja penuh, dan hanya meja ini yang masih sisa bangku nya." Ujar karyawan bernama Alya dengan kikuk.
Gilang yang di panggil menoleh kan kepala nya, dan melihat sekitar. Benar saja, hanya ada bangku yang ada di meja nya saja yang kosong. Gilang tidak menjawab, ia hanya mengangukan kepala nya.
"Terima kasih pak, sudah di bolehin duduk di sini." Ujar Alya tersenyum manis. Gilang kembali menganggukan kepala nya. Tidak lama kemudian, Gilang selesai makan siang nya. Ia segera beranjak dari meja tersebut, menuju ke kasir. Setelah membayar pesanan nya, Gilang kembali ke ruangan nya.
Sedang Alya manyun, di tinggal sendiri oleh Gilang. Ia kembali, mendapat cemoohan dari teman-teman nya. Mereka mengada kan taruhan, untuk bisa mendapatkan perhatian dari Gilang.
__ADS_1
"Al, seperti nya pesona kamu sudah luntur deh. Nyata nya pak Gilang saja, malah pergi ninggalin kamu sendiri di meja kantin tadi." Ujar Hana tersenyum mengejek.
"Eh... Ini baru permulaan, tunggu saja pasti ia akan bertekuk lutut pada ku." Ujar Alya sombong.
"Kita tunggu bukti nya yah, jangan janji nya saja di gedein." Ujar karyawan yang lain sama dengan senyum mengejek.
Alya yang emosi karna di ejek pun pergi ke toilet, untuk menenangkan diri nya. Setelah 15 menit Alya baru keluar dari toilet dan menuju ke meja nya, ia harus segera menyelesaikan tugas nya.
Memang Alya dan teman geng nya, suka mengadakan taruhan dengan hadiah yang cukup menggiurkan. Kadang berupa barang, kadang juga berupa uang tunai. Kalo untuk taruhan kali ini berupa barang dan uang tunai, jika berhasil kencan 1 minggu dengan Gilang.
Semua temen geng nya, sudah mencoba namun gagal. Sekarang giliran Hana yang mencoba, menahlukkan Gilang. Selesai bekerja Gilang langsung menuju parkiran, untuk mengambil motor nya. Namun lagi-lagi Hana mencegat dan meminta tolong, untuk di antarkan pulang ke rumah nya.
Gilang menolak secara halus permintaan toling dari Hana. "Maf.. Saya tidak bisa mengantar. Minta tolong sama yang lain nya saja yah, saya lagi buru-buru anak saya sudah menunggu." ujar Gilang.
Setelah itu Gilang langsung pulang ke rumah nya, dan benar saja sampai di rumah baby Elang sedang menangis. "Ran, baby Elang kenapa menangis gitu?" Tanya Gilang penasaran.
"Itu pak... Baby Elang minta adik bayi. Tadi ia dengar, kalau ibu teman nya melahirkan dede bayi. Maka nya ia mau dede bayi, dia maksa hari ini harus ada." Ujar Rani menjelaskan.
"Oh ya udah, biar saya yang bicara sama Elang." Ujar Gilang. Ia menghampiri Elang di kamar nya, Gilang menasehati sang anak. "Bahwa ada nya, adik bayi tidak secepat membalikan telapak tangan. Proses nya sangat lama sekali, bahkan sampai berbulan-bulan." ujar Gilang menasehati.
Baby Elang, yang mendengar nasihat ayah nya seketika terdiam. Ia melihat wajah ayah nya yang lelah, baby Elang berdiri dan memeluk sang ayah. "Ayah mau yah menikah sama tante Rani, aku ingin punya ibu yang sayang tulus sama Aku." Ujar Baby Elang memohon.
Gilang terdiam, lalu ia melepaskan pelukan anak nya sebentar. Kemudian, Gilang memeluk kembali sang anak. "Baby yakin ingin punya mama lagi, dan baby memilih tante Rani untuk menjadi mama baby?" tanya Gilang penasaran.
__ADS_1
Baby Elang, hanya menganggukan kepala nya saja. "Baik lah papa akan coba tanya sama tante Rani, mau tidak menjadi ibu kamu?" Tanya Gilang kembali.
Selang 30 menit, baby Elang sudah rapi dan wangi. Ia menghampiri, Rani yang sedang masak di dapur. "Mah, mau yah jadi mama nya aku? Mamah nikah sama papa, biar mamah beneran jadi mama aku." Ucap polos Elang.
Rani yang sedang memotong sayuran berhenti, ia terkejut sampai menggores tangan nya sendiri dengan pisau. Baby Elang yang melihat jari Rani mengeluarkan darah, ia kembali menangis dan memanggil papa nya.
"Pah... Papah, tolong mama jari mama tergores pisau dan berdarah." Ujar Elang dengan berderai air mata.
Gilang yang mendengar anak nya kembali menangis, segera menghampiri nya. Karena yang Gilang, dengar hanya tolong jari berdarah. Gilang menghampiri sang anak di dapur, "kenapa apa yang berdarah?" tanya Gilang khawatir.
"Itu pah, jari mamah yang berdarah. Dari tadi tidak berhenti keluar darah nya." Tunjuk baby Elang pada jari Rani yang masih mengeluarkan darah.
"Ko bisa tergores Ran, kamu sedang memikirkan apa?" Tanya Gilang perduli.
"Itu pak, tadi saya terkejut dengan perkataan Baby Elang. Jadi saya tidak sengaja menggores tangan ini." Ujar Rani menjelas kan.
"Ya sudah kamu obati dulu tangannya, kamu tidak usah memasak. Biar kita pesan dari luar saja, untuk makan malam nanti." Ujar Gilang menasehati.
Rani menganggukan kepala nya, ia membereskan dapur dengan di bantu oleh Gilang dan Elang. Setelah beres mereka duduk di depan televisi, mereka melihat film kartun kesukaan Elang.
Bersambung...
Terima kasih atas semua dukungannya, untuk karya receh ini. Semoga semoga para teman semua suka dengan alur cerita ini.
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karya ini dengan cara like, komen, saran, kritik, vote dan gif berupa bunga bermekaran dan secangkir kopi manis.