Aku Selalu Salah

Aku Selalu Salah
Bab 150 Rujak


__ADS_3

Pagi ini Gilang berangkat ke kantor lebih pagi, ia ada rapat penting di perusahaan. Rani yang tidak tau, kalo Gilang berangkat lebih pagi. Bahkan ia tidak sempat membuat sarapan, jadi Rani cuma membawa kan bekal untuk sarapan di kantor nya.


Seminggu telah berlalu dari semenjak Gilang mengungkap kan perasan nya, pada pengasuh baby Elang. Sekarang mereka sudah tidak canggung lagi, tidak seperti awal menyatakan perasaan.


Gilang dan Rani rencana nya akan menikah 3 bulan dari sekarang. Minggu depan, Gilang akan menemui keluarga Rani. Ia akan mengadakan acara lamaran resmi, atau mungkin akan tunangan terlebih dahulu.


Keluarga Rani sudah tau, kalo Gilang seorang duda dengan 1 anak. Mereka menyetujui nya, kalo Rani akan menikah dengan Gilang. "Mungkin ini memang takdir nya, harus menikah dengan seorang duda anak 1." Ucap dalam hati wali dari Rani sebut saja pak Deden.


Pak Deden telah berkenalan dengan Gilang juga baby Elang. Pak deden yang menentukan pernikahan Gilang dan Rani, 3 bulan ke depan. Dan selama 3 bulan, Gilang tidak boleh sering-sering menemui Rani. Mereka tinggal terpisah, walau masih satu kota.


Pak Deden tidak membiarkan mereka tinggal dalam 1 rumah, alasan nya takut terjadi hal-hal yang tidak di ingin kan. Sedang baby Elang ia ikut tinggal dengan Rani, ia akan bertemu papa nya setiap sabtu dan minggu saja sampai hari pernikahan tiba.


Gilang hanya bisa pasrah dengan keadaan, toh jarak dari rumah yang di tempati nya hanya berjarak 15 menit jalan kaki. Seperti hari ini, ia sedang berjalan kaki untuk menengok baby Elang.


Mereka sudah janjian bertemu di taman dekat kosan Rani. Karena hari ini, baby Elang sedang ingin bermain di taman. Sesampai nya di taman Gilang segera mengedar kan pandangan nya, untuk mencari keberadaan Rani dan baby Elang.


Karena hari ini, hari minggu banyak keluarga kecil yang bermain di taman tersebut. Tidak lama kemudian, Gilang mendapati kerumunan orang di tengah-tengah taman.


Ia yang penasaran mencoba menghampiri nya, dan ternyata yang sedang bertengkar adalah Diva dan Rani. Mereka sedang memperebutkan Baby Elang, Gilang yang melihat itu pu segera memisahkan nya.


"Diva, apa yang sedang kamu lakukan pada calon istri dan anaku." teriak Gilang lantang.


Diva yang merasa nama nya di panggil menolehkan wajah nya, ia menemukan Gilang sedang menatap nya sengit. "Ah.. Tidak aku cuma ingin bertemu dengan Elang anak ku." Gugup Diva.

__ADS_1


"Bohong... Jelas-jelas kamu langsung tarik tangan anak itu, sampai ia menangis histeris. Beruntung ada mba ini yang berhasil menenangkan nya." Ujar salah seorang warga sambil menunjuk Rani.


"Eh.. Bu, kalo bicara jangan sembarangan yah. Dia itu anak saya, darah daging saya." Ucap Diva emosi.


Gilang hanya menggelengkan kepala nya, kemudian berucap. "Kenapa baru sekarang, kamu mengakui kalo Elang anak kamu. Kenapa tidak dari dulu kamu mengakui nya, di saat anak itu sudah tidak mau lagi dengan mu?" Tanya Gilang tersenyum mengejek.


Diva tercekat mendengar pertanyaan Gilang yang seakan memojokan nya. "Itu karena kamu yang tidak pernah membiarkan aku, untuk dekat dengan anak itu." Ujar Diva memutar balikan fakta.


Setelah Diva berucap seperti itu banyak warga yang berbisik-bisik, tentang mana yang benar dan mana yang salah. Namun kemudian, Gilang kembali berucap.


"Ha.. Ha.. Kamu bilang, aku tidak membiar kan kamu bertemu dengan Elang. Kemana kamu saat Elang masuk rumah sakit, selama beberapa bulan kamu tidak menjenguk nya sama sekali." Ujar Gilang tersenyum miris.


Diva merasa ada yang menyentil hati nya, dengan perkataan Gilang. Setelah itu, ia berlalu pergi meninggal kan kerumunan tersebut. Sedang dari tadi Rani mencoba memberi ketenangan pada anak asuh nya, karena tadi badan Elang sedikit gemetaran.


"Baby tanang yah, sudah tidak apa-apa." Ucap Rani menenangkan. Sedang Gilang segera menghampiri anak dan calon istri nya, setelah mengucapkan terima kasih pada warga sekitar.


Sesampai nya di restoran, Gilang segera memesan tempat. Mereka mendapat kan tempat di dekat jendela, sekarang keadaan baby Elang sudah tidak begitu mengkhawatirkan.


Gilang memesan makanan yang paling enak, untuk makan siang. Selang 20 menit makanan sudah terhidang di atas meja, mereka makan dengan sangat lahap.


...***************...


Sudah hampir 1 minggu Ayu, mual-mual di pagi hari. Tapi, saat siang dan malam tidak ada keluhan apa-apa. Cuma kalo tengah malam, suka ada saja keingunan yang tidak masuk akal. "Mas bangun, tolong carikan aku rujak mangga." Ujar Ayu sedikit gelisah.

__ADS_1


"Apa sih, Yu. Ini masih malam loh, mau cari rujak di mana? Besok saja ya, nanti aku cariin sampai dapat. Janji." Ujar Revano tersenyum, sambil mengulurkan jari kelingking nya pada Ayu.


'Baik lah kalo kamu tidak mau mencari nya, biar aku cari sendiri saja.' Ucap Ayu dalam hati. Ia bangun dari tiduran nya dan ingin berganti baju.


Revano yang sudah membuka mata, hanya memperhatikan tingkah laku istri nya. "Kamu mau kemana, sayang?" Tanya Revano sedikit bingung karena ini baru pukul 1 pagi.


"Aku mau cari rujak mangga di luar, entah kenapa aku ingin memakan nya sekarang juga." Ujar Ayu masih sedikit gelisah.


"Iya, tapi jangan sekarang yah. Ini masih dini hari, tuh lihat sekarang baru pukul berapa?" Tanya Revano. Sambil menunjuk jam dinding yang ada di tembok.


Ayu memperhatikan jam yang ada di dinding baru, menunjukan pukul 1 dini hari. Ayu menghela nafas panjang akhir nya, ia mengurungkan niat nya untuk mencari mangga di tengah malam.


Namun Ayu tetap keluar kamar, ia agak kesal keinginan nya tidak di turuti oleh suami nya. Ayu melangkah pergi ke kamar Kalvin, untuk tidur di sana malam ini. Revano menghela nafas lega, paling tidak ia tidak harus mencari rujak tengah malam.


Pagi hari nya Ayu kembali memuntah kan isi perut nya, tapi tidak keluar apa-apa hanya ada cairan berwarna kuning yang keluar. Revano dari kamar nya buru-buru menuju kamar sang putra, untuk melihat keadaan sang istri.


"Yu nanti sore kalo kamu masih tidak enak badan, kita periksa di rumah sakit. Biar ketauan kamu sakit apa, sudah seminggu kamu mual di pagi hari." Ujar Revano sendu.


Ayu sudah tidak sanggup berbicara, ia hanya mampu menganggukan kepala nya. Setelah mual, badan nya akan lemas. Yang ia ingin kan sekarang hanya istirahat saja, biasanya kalo sudah istirahat ia akan kembali membaik.


Bersambung...


Terima kasih atas semua dukungannya, untuk karya receh ini.

__ADS_1


Semoga pembaca semua masih setia, untuk Mengikuti alur ceritanya.


Mohon dukungannya untuk karya ini dengan cara, like, comment, share, saran, kritik, vote dan give berupa bunga bermekaran atau secangkir kopi manis. Terima kasih.


__ADS_2