
Aisyah dan Adam berkunjung ke rumah orangtua Adam, yang kebetulan umi Humairah dan Abi Ali sedang berada di rumah kediaman keluarga Dirgantara, anak anaknya begitu senang karena mereka juga merindukan opa dan oma serta nenek dan kakek mereka.
"Assalamu'alaikum". Salam mereka bersama.
"Waalaikumussalam". Jawab para orangtua pada mereka.
"Apakabar ayah bunda umi Abi?". Tanya Aisyah setelah menyalimi tangan mereka satu persatu.
"Alhamdulillah baik sayang". Jawab mereka pada Aisyah.
"Syukurlah kalau begitu". Ujar Aisyah sambil tersenyum pada mereka.
"Bagaimana dengan Cucuku Hasan?". Tanya Abi Ali pada mereka berdua.
"Alhamdulillah masih betah di pesantren abi". jawab Aisyah pada Abi Ali.
"Ternyata Hasan memang niat dengan sungguh sungguh memasuki pesantren untuk menambah ilmu agamanya". Ujar Abi Ali kagum. pada cucu nya.
"Iyaa benar apa yang dibilang Abi, Hasan memang sungguh sungguh dengan niatnya". Ujar Aisyah pada Abi Ali.
"Tapi menunggu Hasan selesai pesantren sangat lama". Ujar Ayah Ramli pada Aisyah.
"Iyaa sih tapi mau bagaimana lagi ayah". Ujar Aisyah pada mertuanya.
Mereka terus saja berbincang bersama mengenai berbagai hal, ada tentang kantor ataupun yang lainnya, hingga beberapa menit kemudian Aisyah dan yang lainnya berpamitan untuk pulang pada kedua pasang paruh baya.
"Oh ya bagaimana dengan nak Arham?". Tanya ayah Ramli pada menantunya.
"Bagaimana apanya Yah?". Tanya Adam pada ayahnya.
"Iyaa ayah dengar bukannya dia memenangkan juara pertama lomba adzan kan?". Tanya Ayah Ramli pada anaknya.
"Oh itu iyaa benar opa, abang Arham keren banget, Husein jadi kagum". Bukan Adam yang menjawab melainkan anaknya Husein.
"Wah andai saja Opa juga ikut saat itu". Ujar Ayah Ramli pada cucunya.
"Iyaa harusnya Opa ikut suara adzan bang Arham merdu banget loh". Puji Husein saat menceritakan Arham.
"Wah benarkah?". Tanya Ayah Ramli pada cucunya.
"Benar dong opa, masa Husein bohong". Jawabnya sambil tersenyum pada opanya.
"Baiklah opa percaya padamu jagoan". ujar Ayah Ramli sambil mengelus rambut cucunya.
Beberapa jam kemudian Aisyah serta keluarga kecilnya pamit untuk pulang, selama dalam perjalanan pulang Kahfi terus saja mengoceh pada kakak dan abangnya, membuat Aisyah hanya menahan senyumnya saat anaknya bertanya "Kenapa daun harus warna hijau?".
Sebelum pulang ke rumah mereka mampir ke sebuah toko untuk membeli cake, karena Kahfi menginginkan Cake rasa Redvelvet topping keju parut, membuat yang lainnya juga ingin beli tetapi dengan rasa yang berbeda beda.
__ADS_1
"Eum enak banget bunda". Ujar Kahfi saat mereka sedang memakan cake di mobil.
"Iyaa enak lah kalau engga juga ngga mungkin di makan dong". Ujar Husein pada adiknya.
"Udah jangan banyak bicara". Ujar Arsyila pada mereka.
"Iyaa benar apa yang dibilang sama kakak kalian, jangan banyak bicara apalagi lagi makan ngga baik sayang". Ujar Aisyah menatap anak anaknya.
"Iyaa maaf bunda". Ujar Kahfi dan Husein pada Aisyah.
"Iyaa gapapa sayang, udah lanjut sambil jalan aja ya". Ujar Aisyah pada anaknya.
"Ayah gimana makan cake nua bunda?". Tanya Kahfi padanya.
"Bunda yang akan suapin ayah". jawabnya pada anaknya.
"Oke kalau gitu jadi ayah engga akan kelaparan selama perjalanan". Ujar Kahfi pada bundanya.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah, selama dalam perjalanan selalu ada saja yang ditanyakan Kahfi pada kakak dan abangnya ataupun Aisyah dan Adam, pertanyaan yang sangat membingungkan untuk dijawab pikirnya.
Sesampainya mereka dirumah, sontak saja mereka langsung turun dari mobilnya serta mengucapkan salam pada pekerja dirumah nya, saat Aisyah akan hendak menyuruh anak anaknya untuk makan tetapi terlebih dahulu kelima anaknya pamit pengen tidur.
"Udah sayang, kita juga tidur siang". Ujar Adam pada istrinya.
"Iyaa mas". ujar Aisyah pada suaminya.
"Ih mas udah dehh, cukup enam anak aja banyak banget yang ada aku pusing". Jawabnya pada sang suami.
"Haha iya deh iya sayang maaf ya". Ujarnya sambil merangkul istrinya.
"Iyaa gapapa mas". Ujar Aisyah sambil tersenyum pada suaminya.
"Oh ya sayang, Mbak Husna tadi ada telepon kamu engga?" Tanya Adam pada istrinya.
"Ada mas, mereka kembali membicarakan masalah lamaran". Jawaban Aisyah membuat Adam menghela nafasnya lelah.
"Kenapa juga sih Arham kekeuh banget pengen sama Arsyi?". Tanya Adam pada istrinya.
"Iya aku engga tau lah mas, orang Arham yang ngerasain nya bukan aku ataupun orang lain". Jawabnya pada suaminya.
"Heum iya juga ya sayang". Ujarnya sambil. mengangguk anggukan kepalanya.
Sesampainya mereka di kamar, Adam langsung masuk ke dalam kamar mandi karena tidak tahan ingin buang air kecil, sementara Aisyah menunggu sambil duduk di sofa yang berada di kamarnya tersebut.
"Udah mas?". tanya Aisyah pada sang suami.
"Udah sayang, sekarang gantian kamu yang ke kamar mandi". Jawabnya pada Aisyah.
__ADS_1
"Baiklah mas, kalau mau tidur duluan silakan aja mas". Ujar Aisyah pada suaminya.
"Iyaa sayang ,udah sana mandi biar seger sayang". Ujar Adam pada istrinya.
"Inget ya mas kalau udah ngantuk tidurin aja". Ujar Aisyah pada suaminya.
"Iyaa sayang iyaa". Ujar Adam sambil terkekeh pada istrinya.
"Okee kalau begitu". Ujarnya sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Gemesin banget sih punya istri". Gumam Adam dengan tersenyum manis.
Hingga beberapa menit kemudian Aisyah baru selesai dari kamar mandi, lalu menoleh ke arah suaminya yang sudah terlelap karena pastinya lelah menyetir, seandainya saja suaminya itu membolehkannya bergantian untuk menyetir mobilnya.
Sehatkan selalu suami hamba Yaa Allah, Aamiin yaa rabbal'alamin. Batin Aisyah menatap wajah tenang suaminya.
Aisyah menaiki ranjangnya lalu merebahkan tubuhnya disamping sang suami, menatap suaminya terlebih dahulu sebelum akhirnya Aisyah tertidur dengan lelap, karena menatap suaminya yang sedang tidur saja membuatnya nyaman serta aman.
Drrtt Drrtt Drrtt
"Udah jam 2 siang ternyata". Gumam Aisyah menatap ponselnya yang baru saja membangunkannya.
"Mas bangun mas". ujar Aisyah membangunkan suaminya.
"Ehehm iyaa sayang". Ujar Adam pada istrinya.
"Ayok cepat bangun sayang". ujar Aisyah menggoyangkan badan suaminya.
"Iyaa Syaang ini mas bangun". Ujar Adam sambil duduk mengumpulkan nyawanya.
"Yaudah mas belum kekumpul nyawanya ya, Ais duluan masuk kamar mandi ya". Ujar Aisyah pada suaminya.
"Bareng aja syaang". Ujar Adam pada istrinya.
"Yaudah ayok mas". Ujar Aisyah dengan malu malu membuat Adam terkekeh.
"Iyaa Ayok sayang". Ujar Adam menghampiri istrinya yang sudah berdiri didepan pintu kamar mandi.
Beberapa menit kemudian mereka selesai dari kamar mandi, kini keduanya sudah bersiap akan keluar dari kamarnya, saat dibuka pintu kamar terlihat anaknya yang paling mungil siapa lagi jika bukan Kahfi.
"Kenapa sayang?". Tanya Aisyah pada anaknya.
"Ngga papa bunda, cuman pengen nunggu bunda samaa ayah aja". Jawabnya pada Aisyah.
"Kenapa engga nunggu di kamar aja sayang?". tanya Aisyah pada anaknya.
"Takutnya ketiduran bunda". Jawabnya dengan tersenyum tipis pada bundanya.
__ADS_1
Aisyah yang mendengar itupun tersenyum geli karena memang ketika merebahkan tubuhnya dikasur membuatnya cepat mengantuk dan ketidura.