Assalamu'alaikum Suamiku

Assalamu'alaikum Suamiku
Bab 84


__ADS_3

"Bunda! ". Panggil Ayra sedikit berteriak pada Aisyah.


"Apa sayang? kenapa harus teriak sih? nanti adek bangun". Ujar Aisyah dengan lembut.


"Ay ada tugas bun, tapi susah bantuin ya". Ujarnya sambil tersenyum pada Aisyah.


"Tugas apa emangnya sayang?". Tanya Aisyah pada anaknya.


"Agama bunda". Jawab Ayra padanya.


"Memangnya soalnya gimana? coba bunda liat sayang". Ujar Aisyah pada anaknya.


Ayra berlalu dari hadapan Aisyah untuk mengambil buku tugasnya, Aisyah menunggu sambil menyusui anaknya yang memang tadi menangis karena kaget, setelah beberapa menit Ayra kembali dengan membawa buku ditangannya, Aisyah menidurkan kembali baby Kahfi di kasur.


"Ini bunda". Ujarnya pada Aisyah.


"Kota lahir Nabi Muhammad dimana bun?". Tanya Ayra padanya.


"Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Mekah pada 12 Rabiul Awwal tahun Gajah bertepatan dengan tahun 570 Masehi.". Jawab Aisyah pada anaknya.


"Ohh gitu bun, oke Ay tulis". ujarnya pada Aisyah.


"Ada lagi soal yang susahnya?". Tanya Aisyah padanya.


"Ada bun, Nabi Muhammad SAW wafat pada usia berapa bun?". Tanya Ayra pada Aisyah.


"Wafatnya Nabi Muhammad SAW itu tanggal 8 Juni tahun 632". Jawab Aisyah pada anaknya.


"Oke makasih bunda, udah kok cuman dua soal hhe". Ujarnya sambil terkekeh pada Aisyah.


Aisyah kembali menatap anaknya yang masih kecil, ia mencium pipi anaknya dengan pelan agar tidak membangunkan anaknya, hingga beberapa menit kemudian Adam masuk ke dalam kamarnya setelah berbincang dengan rekan kerjanya ditelpon.


"Udah mas?". Tanya Aisyah pada suaminya.


"Udah sayang". jawab Adam pada istrinya.


"Jadi gimana mas?". Tanya Aisyah pada suaminya.


"Apanya sayang?". Tanya Adam pada istrinya.


"Iya kerjasama nya gimana mas?". Tanya Aisyah pada suami tercintanya itu.


"Alhamdulilah kerja sama nya terjalin sayang, mereka mempercayakan proyek nya pada mas". Jawab Adam pada istrinya.

__ADS_1


"Alhamdulilah kalau begitu mas". Ujar Aisyah sambil tersenyum pada suaminya.


"Iyaa syang". Ujar Adam pada istrinya.


"Baby Kahfi tidur ?". tanya Adam pada istrinya.


"Iyaa mas, masih nyenyak tidurnya nih". Jawab Aisyah menatap anak mungilnya.


"Tampan ya sayang". ujarnya menatap putranya.


"Iyaa tampan nurun dari ayahnya". Ujar Aisyah sambil tersenyum pada suaminya.


Adam yang mendengar itupun tersenyum senang, ia mengecup bibir istrinya sekilas sebelum masuk ke kamar mandi, Aisyah yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pada suaminya, kini tatapan Aisyah tertuju pada sebuah kertas di meja riasnya.


"Sayang, anaknya bunda bangun ternyata". Ujar Aisyah saat menatap anaknya.


"Eh senyumnya manis sekali anaknya bunda saMa ayah". Ujarnya dengan tersenyum senang.


"Terimakasih ya Allah, telah memberi hamba keturunan yang sangat imut, terimakasih karena dengan kehadirannya membuat rasa rinduku pada Hasan sedikit terobati karena menatap baby Kahfi". Ujar Aisyah sambil berkaca kaca.


"Sehat sehat ya anak bunda". Ujarnya mengecup kening anaknya.


Beberapa menit kemudian Adam selesai membersihkan badannya, ia menghampiri istrinya yang sedang menggendong anaknya, ternyata baby Kahfi sudah terbangun saat Adam masuk ke kamar mandi, Adam memeluk keduanya karena posisi Aisyah membelakangi kamar mandi.


"Mas ih pakai bajunya sana, nanti masuk angin mas". Ujar Aisyah saat menyadari suaminya hanya memakai handuk dibagian bawah.


"Nanti sayang, mas masih pengen peluk kamu". Ujarnya pada Aisyah.


"Mas, Aisyah ngga tanggung jawab ya kalau masuk angin". Gerutu Aisyah membuat Adam tersenyum tipis.


"Iyaa syaang engga akan kok". Ujar Adam pada istrinya.


"Ngga akan orang belum masuk angin nya juga". Ujarnya dengan cemberut.


"Yaudah mas pakai baju syaang". ujarnya pada Aisyah.


"Iyaa mas". Ujar Aisyah pada suaminya.


Hanya beberapa menit Adam sudah memakai bajunya, lalu menghampiri Aisuah yang duduk diranjang sambil menidurkan anaknya, Adam duduk disamping istrinya membuat Aisyah menoleh pada suaminya Adam.


"Mas lebih baik kita bawa saja baby Kahfi ke lantai bawah, takutnya di biarkan di atas ngga akan kedengaran kalau nangis mas". Ujar Aisyah pada suaminya.


"Yaudah ayo kita ke kamar bawah sayang". Ujar Adam padanya.

__ADS_1


"Iyaa mas". Ujar Aisyah pada suaminya.


"Tidurkan dulu baby Kahfi sebelum menghampiri mereka sayang". Ujar Adam saat mereka sampai dibawah.


"Iyaa mas ini juga kan mau". Ujarnya pada suaminya.


"Bunda, ayah kalian disini, aku cari ke kamar atas juga pantesan ngga ada". Ujar Ayra pada mereka berdua.


"Memangnya kenapa syang?". Tanya Adam pada anaknya.


"Itu Ay pengen dengerin kisah nabi lagi ayah". Jawab Ayra pada Adam.


"Yaudah ayo kita ke ruang tengah Sayang". Ajak Adam diangguki oleh anaknya.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di ruang tengah, terlihat keempat anaknya sedang menunggu mereka di ruang tengah, Aisyah dan Adam segera duduk begitupun dengan Ayra yang tadi menyusul kedua orangtuanya.


"Nah sekarang kan ayah sama bunda udah disini, katanya pengen denger kisah nabi, nabi siapa Lagi?". Tanya Adam pada anak anaknya.


"Nabi Harun Ayah". Jawab Husein padanyaa.


"Nabi Musa aja ayah". Ujar Arsyila pada ayahnya.


"Baiklah kita ceritakan tentang nabi Harun aja". Ujar Aisyah pada mereka.


"Yaudah deh bun". Ujar mereka pada Aisyah.


"Ayo Yahh cerita". Ujar Ayra sudah tidak sabar.


"Iyaa sabar sayang". Ujar Adam sambil menghela nafasnya.


Harun alaihi salam (AS) merupakan saudara Nabi Musa AS yang sama-sama diutus untuk Bani Israil. Tidak disebutkan rinci berapa perbedaan usIa anatar Musa dan Harun. Namun, menurut mufasir Nabi Harun lahir lebih dulu dibanding Musa.


Berbeda dengan Musa yang lahir bertepatan dengan masa di mana semua bayi laki-laki di zaman Firaun dibunuh. Nabi Harun AS lahir di masa jeda Raja Firaun membunuh anak laki-laki. Firaun menyelingi kebijakannya itu untuk mencegah punahnya anak laki-laki. Kebijakan Firaun itukarena kekhawatirannya ada keturunan Bani Israil yang akan menjadi raja dan menjadi penantang kekuasaannya sesuai nasihat dari penasihat istana.


Nabi Harun Dan Musa meski keduanya diasuh berbeda oleh dua perempuan mulai, namun memiliki keterikatan batin. Hal ini terlihat saat keduanya baru bertemu setelah dewasa dan diangkat menjadi nabi.


Firman Allah Swt.: وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْۙ


"Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku. (Thaha: 29-30)


Musa mengadu kepada Tuhannya tentang apa yang ia takuti dari Firaun dan bala tentaranya menyangkut peristiwa pembunuhan yang dilakukannya. Musa pun mengadu kepada Tuhannya tentang kekakuan lidahnya, karena sesungguhnya lisan (lidah) Musa mengalami kekakuan yang membuatnya tidak dapat berbicara terlalu banyak. Dan Musa meminta kepada Tuhannya agar ia dibantu oleh saudaranya (yaitu Harun) yang kelak akan menjadi juru terjemahnya terhadap banyak perkataan yang ia tidak dapat mengungkapkannya secara fasih.


Maka Allah mengabulkan permintaannya dan melepaskan kekakuan lidahnya, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Harun dan memerintah­kan kepada Musa agar menemui Harun. Maka Musa berangkat dengan membawa tongkatnya sampai bersua dengan Harun AS, setelah itu keduanya berangkat menuju negeri tempat Firaun berada.

__ADS_1


"Ohh ternyata Nabi Musa dan Harun itu bersaudara". Ujar Ayra pada kedua orang tuanya..


__ADS_2