
Adinda sedang duduk ditaman belakang rumah nya, sambil melihat pemandangan yang indah, sesekali Adinda mengelus perutnya yang sudah memasuki usia ke 9bulan. Adinda senang karena anak buah cinta nya bersama Davin sangat aktif di dalam perutnya.
"Anaknya bunda, tolong kerja sama nya sayang, semoga nanti lahirannya lancar, jangan susah keluarnya sayang". ujar Adinda mengelus perutnya.
"Sayang, aku cari dimana mana ternyata kamu disini". Ujar Davin duduk di samping istrinya.
"Maaf mas Davin, aku hanya ingin melihat pemandangan di taman belakang". Ujar Adinda pada suaminya.
"Iya gapapa sayang ga perlu minta maaf". Ujar Davin mengelus perut istrinya yang sudah sangat besar.
"Makasih yaa mas". ujar Adinda sambil bersandar di pundak suaminya.
"Makasih untuk apa sayang?". Tanya Davin pada istrinya.
"Makasih untuk semuanya mas, makasih udah Sabarr ngehadepin sikap aku yang kaya gini, makasih udah nerima semua kekurangan aku, makasih kamu udah melengkapi kekurangan aku mas". Jawab Adinda pada suaminya.
Davin yang mendengar itupun langsung memeluknya, serta mengecup kening istrinya lalu tangannya yang mengelus perut istrinya, hingga beberapa menit kemudian mereka masuk ke dalam rumah karena cuaca mendung.
"Aku udah ga sabar deh mas, nunggu anak kita lahir kedunia". ujar Adinda pada suaminya.
"Iyaa sayang, tinggal menghitung hari anak kita lahir". ujar Davin pada istrinya.
"Mas, makan yuk, aku lapar". Ajak Adinda pada suaminya.
"Iyaa hayu sayang, makan yang banyak biar kebagian baby nya". Ujar Davin diangguki oleh istrinya.
Mereka berdua makan bersama dengan nikmat, hingga beberapa menit kemudian selesai memakan makanannya, Bunda Halwa menghampiri keduanya sambil tersenyum.
"Assalamu'alaikum anak bunda". Salam Bunda Halwa pada mereka berdua.
"Waalaikumussalam bunda". Jawab keduanya pada Bunda Halwa.
"Kalian baru selesai makan?". Tanya Bunda Halwa pada keduanya.
"Iyaa bun, alhamdulillah". Jawab Adinda pada bundanya.
"Tadinya bunda akan mengajak kalian makan bersama, tetapi kalian sudah makan". Ujar Bunda Halwa pada mereka berdua.
"Yahh maaf bun, abis Adinda tadi lapar banget, maaf yaa bu". Ujar Adinda pada Bunda Halwa.
"Udah gapapa sayang, yaudah bunda tinggal ya". Ujar Bunda Halwa diangguki oleh keduanya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, waktu menunjukkan pukul jam 2 siang, Davin mengajak istrinya untuk jalan jalan sekitar rumah untuk kelancaran jika lahiran nanti, Adinda diam sejenak karena ia merasa letih berjalan kaki.
"Mas belikan minuman dulu ya syaang". Ujar Davin pada istrinya.
"Mau ikut mas, aku takut diculik disini sendirian". Ujar Adinda pada suaminya.
"Loh kamu kan capek syaang". ujar Davin pada istrinya.
"Tapi aku gamau ditinggal mas, aku takutt". Ujar Adinda dengan ketakutan.
"Yaudah sayang Ayok sambil sekalian pulang ke rumah". ujar Davin pada istrinya.
Saat dalam perjalanan pulang ke rumah, Adinda bertemu dengan seorang ibu hamil juga yang sedang duduk di kursi taman, Adinda meminta suaminya untuk menghampiri ibu hamil tersebut.
"Assalamu'alaikum bu". Salam Adinda pada ibu hamil tersebut.
"Waalaikumussalam, ada apaa nak?". Tanya Ibu hamil tersebut.
"Aku cuman mau nanya sekitar tentang hamil bu, bolehkan?". tanya Adinda dengan hatihati.
"Tentu saja boleh". jawabnya dengan ramah pada Adinda.
"Wah kalian menikah muda ya?". Tanya nya pada Adinda dan Davin.
"Iya bu eu". Jawab Adinda padanya.
"Panggil saja bu Hamidah". Ujarnya sambil tersenyum.
Adinda dan Davin berbincang soal hamil, serta banyak hal yang dibahas hingga mereka tidak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Adinda berpamitan serta mengucapkan terimakasih pada Bu Hamidah tersebut.
Beberapa menit kemudian Adinda dan Davin pulang ke rumah, disana Bunda Halwa menunggu dengan khawatir, melihat Adinda dan Davin pulang segera ia menghampiri mereka berdua.
"Kalian kok lama sekali sih? katanya cuman sebentar tapi selama dua jam kalian diluar, jalan jalan apa kemana? kalian gapapa kan selama diluar? ngga ada yang luka? ". tanya Bunda Halwa dengan beruntun membuat keduanya terkekeh.
"Maafin ya bun, sebenarnya jalan jalan memang sebentar yang lamanya tuh Adinda ngobrol sama bu Hamidah ditaman bun, maaf yaa buat bunda khawatir". Jawab Adinda pada Bunda Halwa.
"Iyaa syaang gapapa, yang penting kalian baik baik saja itu cukup untuk bunda". ujar Bunda Halwa membuat keduanya terharu.
Adinda memeluk Bunda Halwa begitu juga dengan Davin, keduanya merasa bahagia diberikan perhatian oleh Bunda Halwa, saat mereka sedang asik memeluk Bunda Halwa tiba tiba suara seseorang mengagetkan mereka.
"Lepasin bidadari ayah!". Tegas Ayah Ramli melepaskan pelukan mereka pada istrinya.
__ADS_1
"Ishh Ayahh, kaget tauu, lagian pelit banget sihh, kan bunda juga milik aku". Ujar Adinda pada Ayah Ramli.
"Ihh milik ayahh, bukan kamuu". ujar Ayah Ramli memeluk Bunda Halwa.
"Mas ihh malu sama mereka, udah tua juga". Ujar Bunda Halwa menepuk pelan tangan suaminya.
"Tua diumur gapapa, asal jangan tua diwajah aja bun". Ujar Davin pada Bunda Halwa.
"Nah, ayah setuju tuh". Ujar Ayah Ramli pada Davin.
Adinda kesal dengan ayahnya, tetapi sesaat kekesalan nya berubah menjadi ringisan karena sakit, Adinda memegang perutnya sambil menunduk, ia berusaha untuk menahannya tetapi sakit banget.
Teringat dengan Bu Hamidah yang memberitahukan bahwa mungkin ia akan lahiran tidak akan lama lagi, ternyata memang benar mungkin ini kebetulan tetapi entahlah pikir Adinda.
"Awws, Sakitt bunda Ayahh mas". Ujar Adinda sambil terduduk dibawah.
"Astagfirullah sayang, kamu kenapa?". Tanya Davin menghampiri istrinya karena tadi ia sedang berbincang dengan kedua mertuanya.
"Sakitt mas". Jawab Adinda dengan lirih.
"Vin, jangan jangan Adinda mau lahiran, cepat bawa ke rumah sakit". Ujar Bunda Halwa membuat Davin segera menggendong istrinya keluar rumah.
"Vin, biar ayah yang mengemudi mobilnya!". Teriak Ayah Ramli pada Davin.
"Iyaaa yahh". Teriak Davin dari luar.
Beberapa jam kemudian mereka sampai di rumah sakit, Adinda segera dimasukan keruangan bersalin ditemani oleh Davin, Adinda terus saja meringis namun sesaat ia menarik nafasnya karena ia sudah menanyakan ini pada Bu Hamidah.
"Sayang, kamu pasti bisa, aku disini sayang". Ujar Davin pada istrinya.
"Iyaa mas". Ujarnya dengan lemas.
"Kamu harus kuat sayaang". Ujar Davin pada istrinya.
"Baiklah sudah waktunya melahirkan, silahkan untuk mengejan". Ujar dokter tersebut pada Adinda.
Beberapa menit kemudian Adinda melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki laki, benar saja tidak butuh waktu lama Adinda melahirkan dengan waktu yang sebentar berkat doa dari bu Hamidah.
Aisyah serta yang lainnya diberikan kabar oleh Bunda Halwa bahwa Adinda melahirkan merasa bahagia, apalagi Adinda melahirkan tidak sesusah Adinda dan Maryam mereka butuh waktu lama agar anaknya lahir.
"Syukurlah sayang, walaupun tidak kembar setidaknya kalian diberikan anak yang bisa menjadi seorang abang untuk anak kalian berikutnya". Ujar Bunda Halwa pada mereka berdua.
__ADS_1