Assalamu'alaikum Suamiku

Assalamu'alaikum Suamiku
Bab 82


__ADS_3

Semuanya berkumpul dirumah Aisyah setelah bayi laki laki tersebut memasuki usia 1 bulan, mereka menatap gemas baby Kahfi yang masih mungil, Adinda duduk disamping Aisyah yang sedang menatap anaknya, untung saja Hasan libur selama seminggu jadi bisa melihat adiknya.


"Adeknya abang lucu sekali ya bun". Ujarnya pada Aisyah.


"Iyaa syang, Adek abang lucu sama seperti kalian dulu". Ujar Aisyah pada anaknya.


"Ohh iyaa bunda?". Tanya Ayra padanya.


"Iyaa syang". Jawab Aisyah padanya sambil tersenyum.


"Ay pengen lihat fotonya dong bun". Ujarnya pada Aisyah.


"Ada di album foto sayang, coba minta ke ayah". Ujar Aisyah pada anaknya.


"Oke siap bunda". Ujarnya sambil berlalu pergi dari hadapan Aisyah.


Beberapa menit kemudian Ayra kembali dengan membawa sebuah album foto, semuanya kompak melihat album foto tersebut karena hanya Aisyah yang membuat foto foto anaknya dijadikan album, semuanya sontak gemas ketika melihat album foto.


"Bunda, Arsyila yang mana?". Tanya Arsyila pada Aisyah.


"Itu bunda fotoin di tengah antara kedua adik kamu". Jawab Aisyah pada anaknya.


"Wah iyaa bunda lucu banget ya aku waktu kecil". Ujarnya menatap foto album tersebut.


"Sekarang juga kamu lucu syang". Ujar Adinda mencubit gemas pipi Arsyila.


"Kalau Ayra yang mana bun?". Tanya Ayra padanya.


"Yang foto berdua sama Alyssa, bedanya kamu kupluk warna biru". Jawab Aisyah pada anaknya.


"Wah benar benar lucu". Ujarnya kagum pada dirinya sendiri.


"Haha iya syang, kalian emang lucu lucu". Ujarnya pada mereka.


"Bunda hamil kembar apa ngga sakit saat melahirkannya?". Tanya Arsyila penasaran.


"Pasti sakit sayang, tetapi akan terobati saat melihat kalian lahir". Jawab Aisyah padanya.


"Oh gitu ya bunda, makasih ya bunda udah mau berjuang hidup dan mati untuk melahirkan kita". Ujar Arsyila memeluk Aisyah.


"Iya sayang, sama sama nak". Ujarnya sambil mengelus punggung anaknya.


"Bunda hebatku". Ujar Ayra memeluk Aisyah.


"Kalian juga hebat Syaang". Ujarnya sambil mengecup kening anaknya satu persatu.


"Bunda, nanti kalau abang balik ke pondok, bunda sama siapa dong dirumah?". Tanya Hasan padanya.


"Bunda pastinya ada teman dong, kan ada Mbak Melda yang menemani bunda". Jawab Aisyah pada anaknya.


"Heum tapi nanti bunda repot dong ngurus adek". Ujar Hasan padanya.


"Ngga kok sayang, lagian kan sekarang cuman satu bayi bukan kembar". Ujar Aisyah mengusap rambut anaknya.


"Heum baiklah bunda". Ujarnya sambil tersenyum pada Aisyah.


Beberapa menit kemudian mereka semuanya berpamitan pulang pada Aisyah dan keluarga kecilnya, hingga sekarang hanya menyisakan Aisyah dan keluarga kecilnya, Hasan duduk disamping Aisyah serta yang lainnya juga.


"Bunda coba bunda bacakan puisi untuk kita". Ujar Alyssa dengan tiba tiba.


"Puisi? bunda gabisa sayang". Ujarnya pada mereka.


"Ayolah bunda, kita pengen dengar bunda bacakan puisi untuk kita". Ujar Ayra juga ikut ikutan.


"Heum baiklah baik, tapi setelah ini salah satu dari kalian yang membacakan puisi untuk bunda ya". Ujar Aisyah pada anaknya.

__ADS_1


"Iyaa siap bunda". Ujar mereka pada Aisyah.


Anakku


Aku sayang padamu


Masih terasa.. sakit saat melahirkanmu


Masih kuingat saat pertama aku menyusuimu


Masih jelas di ingatanku celotehan pertama lucumu


Anakku


Saat kulihat wajahmu ku temukan kedamaian


Senyummu selalu membangkitkan semangatku


Tawamu membuncahkan jiwaku..


Anakku


Aku tak berharap kau membalas semua yang telah kulakukan untukmu


Aku hanya ingin kau mencintaiku seperti aku sangat mencintaimu.


Aisyah selesai membacakan puisi untuk anak anaknya, membuat kelima anaknya memeluk tubuh Aisyah karena terharu mendengarnya, begitupun dengan Adam yang sedaritadi melihat mereka semua sambil menggendong baby Kahfi.


"Bunda, abang terharu dengarnya makasih ya bun". Ujar Hasan memeluk Aisyah.


"Iya sayang sama sama". Ujar Aisyah pada anak anaknya.


"Sekarang siapa nih yang mau bacain puisi pada ayah dan bunda?". Tanya Adam pada anaknya.


"Ya kan ayah juga mau dibacakan puisi oleh anak ayah". Ujar Adam pada mereka.


"Baiklah sekarang puisi untuk bunda dibacakan oleh adek Hasan, sedangkan nanti puisi untuk ayah dibacakan oleh Ayra". Ujar Arsyila memutuskan.


"Baiklah kak". Ujar mereka pada Arsyila.


Hasan menarik nafasnya sebelum membacakan puisi untuk bundanya, mereka semua menunggu Hasan yang akan membacakan sebuah puisi dengan tak sabar, hingga satu menit kemudian Hasan telah tenang agar ia tidak gugup.


Bunda, kamu adalah bunda yang luar biasa,


Begitu lembut, namun begitu kuat.


Banyak cara yang kamu tunjukkan bahwa kamu peduli.


Bunda sabar saat aku melakukan kesalahan,


Bunda memberikan bimbingan ketika aku bertanya,


Tampaknya kamu dapat melakukan hampir semua hal,


Bunda adalah master dari setiap tugas.


Bunda adalah sumber kenyamanan yang dapat diandalkan;


Bunda adalah bantalku saat aku jatuh.


Bunda membantu di saat-saat sulit;


Bunda mendukungku setiap kali aku menelepon.


Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu,

__ADS_1


Bunda memiliki rasa hormatku sepenuhnya.


Jika Bunda memiliki pilihan,


Bunda akan menjadi orang yang aku pilih!


Aisyah yang mendengar puisi dari putranya pun terharu, ia memeluk anaknya dengan erat serta menangis karena terharu, Hasan menghapus air mata Aisyah yang mengalir membuat Adam merasa senang melihat nya.


"Terimakasih sayang, bunda terharu mendengarnya". Ujar Aisyah pada anaknya.


"Iyaa bunda sama sama". Ujarnya pada Aisyah.


"Sekarang giliran Ayra dong yang bacakan puisi buat ayah, ayo semangat Ayra". Ujar Husein pada adiknya.


"Iya abang aku pasti semangatt". Ujarnya dengan semangat membuat mereka tersenyum.


"Baiklah aku mulai ya". Ujarnya lagi diangguki oleh mereka semua.


Ayah..


Beribu kata telah kau ucapkan.


Beribu cinta telah kau berikan.


Beribu kasih telah kau berikan.


Hanya untuk anakmu.


Ayah..


Kau ajarkan aku tentang kebaikan


Kau tunjukkan ku tentang arti cinta


Kau jelaskan ku tentang makna nya hidup


Dan Kau mendidikku dengan sungguh kasih sayang


Ayah..


Betapa mulianya hatimu,


Kau korbankan segalanya demi anakmu


Kau banting tulang hanya untuk anakmu


Ayah, aku menyayangimu.


Adam yang mendengar itupun terharu, ia meneteskan air matanya karena rasa terharu mendengar puisi yang dibacakan oleh Ayra untuknya, Aisyah pun ikut terharu mendengarnya bahkan kini memeluk anak anaknya karena Baby Kahfi masih berada digendongan Adam suaminya.


"Anak bunda pintar pintar ya, hebat bikin puisinya Syaang". Ujar Aisyah pada anak anaknya.


"Karena kita anak ayah dan bunda yang pintar". Ujar mereka pada Aisyah.


"Bisa banget ya kalian jawabnya". Ujar Aisyah terkekeh pada mereka.


"Iyaa dong bun". Ujarnya pada Aisyah.


"Yaudah sekarang lebih baik kita tidur siang sayang". Ujar Aisyah pada anak anaknya.


"Iya bunda, Ay juga ngantuk nih habis bacakan ayah puisi". Ujarnya membuat Adam mengulum senyumnya.


"Yaudah masuk kamar kalian sana". Ujarnya pada anak anaknya.


Beberapa menit kemudian mereka masuk ke dalam kamar mereka, baby Kahfi sudah Adam tidurkan di dalam kotak box, hingga kini baik Aisyah dan Adam sudah tertidur dengan lelap karena mendengar puisi dari kedua anaknya, sungguh sangat pintar anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2