Assalamu'alaikum Suamiku

Assalamu'alaikum Suamiku
Bab 119


__ADS_3

"Kamu yakin sayang? ingin menjadikan Ainun sebagai istri kamu?". Tanya Sarah pada anaknya Nizzam.


"Yakin dong bunda masa engga yakin". jawabnya dengan tegas.


"Tapi sayang, kamu akan menafkahi istrimu gimana? karena kamu kan belum kerja nak". Ujar Sarah menatap anaknya.


"Bunda jangan salah, Nizzam udah bisa menghasilkan uang sendiri kok". Ujarnya pada menatap bundanya.


"Tapi--"


"Ngga ada tapi tapian bunda, pokoknya abang tetap pada pilihan abang". Ujarnya memotong perkataan bundanya.


"Masalahnya Ainun nya mau engga saMa kamu sayang?". Tanya Sarah meledek anaknya.


"Ngga mungkin ngga mau, secara kan abang ganteng, sholeh , pinter bunda". Jawabnya sambil tersenyum tipis pada bundanya.


"Itumah kamu muji diri sendiri". Ujarnya terkekeh pada anaknya.


"Biarin, itu namanya percaya diri". Ujar Arham sambil tersenyum tipis.


Sedangkan disisi lain, Ainun tengah melamun ia benar benar tidak tau kenapa, akhir akhir ini selalu memikirkan hal yang tidak tidak, mendengar sepupunya yang sudah dilamar sejak umur 13 tahun membuatnya takut.


"Sayang , kenapa?". Tanya Maryam padanya.


"Ngga papa bunda". Jawabnya pada bundanya.


"Beneran ngga papa? ngga ada yang kamu pikirin kan sayang?". Tanya Maryam pada anaknya.


"Iyaa beneran bunda, ngga ada kok". Jawabnya pada bundanya.


"Yaudah kalau ngga ada, bunda ke dapur dulu ya sayang". Ujarnya diangguki oleh anaknya.


"Jangan bilang kalau aku akan seperti Arsyila". Gumamnya sambil menggelangkan kepalanya.


"Ngga boleh, apalagi nanti yang lamar orang yang aku ngga kenal". Ujarnya sambil bergidik ngeri.


"Kakak kenapa?". Tanya Arsyila yang kebetulan sedang main dirumahnya.


"Ah engga papa kok dek". Jawabnya pada Arsyila.


"Beneran gapapa kak?". Tanya Arsyila meyakinkan.


"Iyaa gapapa dek, kakak gapapa kok". Jawabnya pada Arsyila.


"Iyaa deh percaya". Ujar Arsyila pada kakak sepupunya.


"Iyaa harus percaya dong". Ujar Ainun pada Arsyila.


Beberapa jam kemudian Arsyila pamit untuk pulang, karena abangnya Hasan sudah menjemputnya, Ainun mengantarnya sampai depan lalu melambaikan tangannya saat kedua adik sepupunya pergi meninggalkan pekarangan rumahnya.


"Huft, semoga saja tidak terjadi padaku". Gumam Ainun sambil memasuki rumahnya.


"Sayang ngapain bengong disana?". Tanya Maryam pada anaknya.

__ADS_1


"Ah ngga papa bunda, tadi cuman liatin Arsyi sama Hasan aja". Jawabnya pada bundanya.


"Yaudah masuk sayang, nanti kesambet loh". Ajak Maryam pada anaknya.


"Iyaa ayok bunda". Ujar Ainun sambil memeluk lengan bundanya.


"Manjanya anak bunda". Ujar Maryam sambil terkekeh pada putrinya.


"Iyaa dong bunda, aku kan anak bunda yang paling cuantik". Ujar Ainun sambil tersenyum pada bundanya.


"Iyaa anak bunda cantik bangett". Ujar Maryam mengusap lengan anaknya.


"Wah wah wah, Aunty sama kakak akur banget". Ujar Ridwan pada mereka berdua.


"Ya harus akurlah dek". Ujar Ainun pada adik nya.


"Mana Adnan?". Tanya Ainun pada sepupunya.


"Ada di kamar sama Rayyan". jawabnya pada Ainun.


"Heum oke dehh". Ujarnya pada Ridwan.


Sedangkan disisi lain dirumah kediaman Aisyah dan Adam, mereka sedang membicarakan tentang pendidikan anaknya yang akan masuk ke jenjang yang lebih tinggi, Hasan memilih jurusan keagamaan begitupun Arsyila jika mereka memasuki kuliah.


"Bunda bangga dengarnya sayang". Ujar Aisyah pada anak anaknya.


"Iyaa karena tujuan kita ingin membuat bunda bangga begitupun dengan ayah". Ujar Hasan pada bundanya.


"Yaudah kalau gitu lebih baik kita makan siang dulu". Ujar Aisyah pada anak anaknya.


"Yaudah bunda sama kakak siapin dulu untuk makan siangnya ya". Ujar Aisyah diangguki oleh Kahfi.


"Bunda, Arsyila kok takut ya". Ujarnya membuat Aisyah menoleh pada putrinya.


"Takut kenapa sayang?". Tanya Aisyah pada anaknya.


"Takut suatu saat nanti Arsyila ngga bener jadi seorang istri". Jawabnya sambil menundukkan kepalanya.


"Kak Arsyi, please deh jangan pesimis gitu, harus optimis kak". Ujar Ayra pada kakaknya.


"Benar apa yang dibilang sama Ayra sayang, kamu jangan pesimis gini". Ujar Aisyah pada anaknya.


"Heum iya maaf bunda". Ujar Arsyila diangguki oleh Aisyah.


Beberapa menit kemudian makanan untuk makan siang sudah siap, Aisyah menyuruh anaknya untuk memanggil yang lainnya dan langsung dipatuhi oleh Arsyila dan kedua ana perempuannya yang lain.


Mereka makan siang dengan nikmat, hanya terdengar dentingan sendok dan garfu hingga beberapa menit kemudian mereka selesai memakan makanannya, Aisyah dan ketiga anak perempuannya langsung membereskan piring bekas makan mereka tadi.


"Bunda, Arsyi duluan ya". Ujarnya setelah selesai mencuci piring.


"Iyaa sayangg, sambil bawa cemilannya". Ujar Aisyah pada anaknya.


"Okew siap bunda". Ujar Arsyila pada bundanya.

__ADS_1


"Bunda, nanti kakak nikah sama abang Arham, bakalan kekurangan anggota dong". Ujar Alyssa pada bundanya.


"Iyaa karena nanti kakak kalian akan mempunyai keluarga kecilnya sendiri". Ujar Aisyah pada anaknya.


"Gitu ya bun". Ujar Alyssa diangguki oleh Aisyah.


"Bunda, Ayra ke kamar dulu ya ambil sesuatu". Ujarnya pada bundanya.


"Iyaa sayang". Ujar Aisyah pada anaknya.


"Mau ngapain dia ke kamar? sesuatu apa coba?". Tanya Alyssa menatap punggung kembarannya.


"Entahlah sayang, bunda juga ngga tau". Jawab Aisyah pada anaknya.


"Heum yaudah kalau gitu". Ujar Alyssa diangguki oleh Aisyah.


Beberapa menit kemudian mereka menyusul para lelaki yang sudah berada di ruang tengah, seperti biasa mereka akan bercerita mengenai masa di sekolahnya, dimulai dari Arsyila hingga terakhir adalah Kahfi.


"Bunda, ayah Kahfi punya teman tapi menyebalkan". Ujarnya pada kedua orangtuanya.


"Menyebalkan gimana maksud kamu?". Tanya Ayra pada adiknya.


"Ya menyebalkan, masa dia bilang aku harus jadi fuckboy". Jawabnya membuat yang lainnya terkejut.


"Astaghfirullah, jauhi teman yang seperti itu ya dek, ngga baik buat kamu". Ujar Hasan pada adiknya.


"Iyaa bang, menyebalkan bukan?". Tanya Kahfi diangguki oleh mereka.


"Nah daripada ngomongin orang dosa mendingan ngemil nih". Ujar Aisyah pada mereka semua.


"Wah cemilan enak nih". Ujar Husein pada bundanya.


"Baca do'a dulu sebelum memakannya". Ujar Adam menatap anaknya.


"Hehe iyaa ayahh, Husien ngga akan lupa kok".Ujarnya sambil cengengesan pada ayahnya.


"Heum iyaa ayah percaya". Ujar Adam sambil tersenyum tipis pada anaknya.


Mereka menikmati cemilan tersebut, sampai tidak terasa tinggal tersisa satu biji membuat mereka berebutan, tapi Kahfi lah pemenangnya karena yang lain sibuk adu mulut sedangkan Kahfi dengann tenang memakannya.


"Wahh adekkk nyebelin". Ujar Ayra menatap adik laki lakinya.


"Ih kalian yang ribut jadinya adek yang ambil cemilannya". Ujarnya dengan santai pada mereka semua..


"Udah jangan bertengkar lagi, lebih baik sekarang tidur siang aja". Ujar Hasan menengahi mereka.


"Benar juga apa yang dibilang sama abang". Ujar Husein pada abang kembarannya.


"Iyaa sekarang kalian masuk kamar masing masing". Ujar Aisyah pada anak anaknya.


"Oke siap bunda cantik". Ujar mereka pada Aisyah.


"Tidur yang nyenyak ya sayang, nanti bunda bangunkan seperti biasa". Ujar Aisyah pada anaknya.

__ADS_1


"Okee bunda". ujar mereka sambil berlalu dari hadapan Aisyah.


Aisyah dan Adam melihat keenam anak nya dengan senyum senangnya, mereka tidak menyangka anak anaknya sudah tumbuh remaja kecuali Kahfi yang masih kecil, Aisyah memeluk suaminya begitupun Adam membalas pelukannya.


__ADS_2