
Arham tetap teguh dengan pendiriannya, membuat Arsyila mau menerima lamaran dari Arham dengan syarat jika menikah Arsyila ingin saat ia berumur 20 tahun atau tidak 21 tahun itulah yang dikatakan oleh Arsyila.
Untung saja Arham menyetujuinya karena ia juga harus mapan agar kelak Arsyila tidak kesusahan hidup bersamanya, sungguh pemikirannya membuat para orangtua geleng kepala melihatnya.
"Kamu tuh sebenarnya kenapa bisa suka sama. Arsyila?". Tanya Idris pada anaknya.
"Karena rasa suka tidak ada alasannya ayah, tapi jika ditanya aku mencintainya, iyaa aku sangat mencintainya tetapi harus ku pendam sebelum kata Sah terucap". Jawabnya sambil tersenyum tipis pada ayahnya.
"Bunda ngga habis pikir sama kamu Arham Arham, bagaimana bisa kamu menyukai Arsyila saja kamu tidak mempunyai alasan". Ujar Husna pada putranya.
"Ya karena suka itu gaperlu alasan bunda, begitupun dengan cinta". Ujar Arham pada bundanya.
"Aish terserah kamu ajalah Ham". Ujar Husna pada anaknya.
"Yaudah terserah Arham aja". Ujarnya dengan santai.
"Ish anak kamu tuh mas". Ujar Husna dengan kesal pada suaminya.
"Anak kamu juga sayang". Ujar Idris padanya.
"Yang jelas Arham anak bunda sama ayah". Ujar Arham menatap ayah dan bundanya.
Sementara di kediaman Aisyah dan Adam, Arsyila sedang membuat puding karena siang hari cocok makan pudding menurutnya, Aisyah dan Adam menatap putri mereka dengan pandangan yang berbeda, Aisyah memandang haru sedangkan Adam memandang sedih.
"Kenapa ayah sama bunda memandang Arsyi dengan tatapan seperti itu?". Tanya Arsyila pada keduanya.
"Bunda terharu melihat anak bunda sudah mulai bisa membuat pudding". Jawab Aisyah pada anaknya.
"Ayah merasa sedih, karena waktu akan cepat berlalu dan kamu akan menikah dengan Arham pastinya, karena Arham begitu kekeh ingin menikahimu". Jawab Adam menatap putrinya.
"Ayah waktunya masih lama kok 8tahun an lagi deh kayanya, Arsyi kan masih serumah sama ayah juga". Ujar Arsyila dengan lembut.
"Ah sini peluk ayah". Ujar Adam sambil merentangkan tangannya.
"Iya ayahh". ujar Arsyila yang kini memeluk ayahnya.
"Bunda juga mau dong pelukan". Ujar Aisyah pada mereka.
"Sini bunda". Ujar Arsyila pada bundanya.
"Iyaa sayang". Ujar Aisyah yang memeluk anak serta suaminya.
Beberapa menit kemudian datanglah keempat anaknya yang lain melihat suasana di ruang tengah, mereka sontak langsung menghampiri serta memeluk Aisyah dan Adam serta Arsyila dengan kompak.
"Aduh anak bunda pada kompak ya". Ujar Aisyah pada mereka semua.
"Iyaa dong bunda". ujar mereka pada Aisyah.
"Kalian udah lapar belum?". Tanya Aisyah pada suami serta anaknya.
"Udah bunda". Jawab mereka pada Aisyah.
"Yaudah ayok ke ruang makan". Ajak Aisyah pada mereka.
"Iyaa ayok bunda". Ujar mereka pada Aisyah.
__ADS_1
"Wah ada makanan kesukaan abangg". Ujar Husein sesampainya diruangan.
"Makanan kesukaan aku juga ada". Ujar Kahfi pada abangnya.
"Iyaa semua makanan kesukaan kalian juga ada kok". Ujar Aisyah pada anaknya sambil terkekeh.
"Haha iyaa bunda, mending kita mulai makan, abang udah lapar". Ujar Husein pada bundanya.
"Iyaa abang pimpin doanya ya". Ujar Aisyah pada anaknya.
"Iyaa siap bunda". Ujar Husein pada bundanya.
Beberapa menit kemudian setelah Husein selesai memimpin doa sebelum makan, kini mereka makan dengan tenang hanya terdengar dentingan sendok dan garfu, hingga beberapa menit kemudian mereka selesai memakan makanannya sampai habis tak tersisa.
"Bunda Arsyi bantu ya". Ujar Arsyila pada bundanya.
"Iyaa makasih sayang". Ujar Aisyah padanya.
"Iyaa sama sama bundaku sayang". Ujar Arsyila sambil tersenyum tipis pada bundanya.
"Bunda, kakak, Ayra juga mau bantu". Ujarnya pada mereka berdua.
"Iyaa boleh, tapi hati hati sayang bawa piringnya ya". Ujar Aisyah pada anaknya.
"Iyaa siap bundaku yang cantik". Ujar Ayra pada Aisyah.
"Kalau gitu Alyssa sama yang lainnya tunggu di ruang tengah ya bunda". Ujarnya pada Aisyah.
"Iya sayang tunggu aja di ruang tengah ya". Ujar Aisyah sambil tersenyum tipis pada anaknya.
Beberapa menit kemudian Aisyah serta kedua anaknya menghampiri mereka yang sudah fi ruang tamu, Adam menoleh pada istri dan kedua anaknya yang baru datang ke ruang tengah sambil membawa pudding yang tadi Arsyila buat.
"Wah siapa ini yang buat puding?". Tanya Kahfi pada bundanya.
"Kak Arsyi yang buat sayang". Jawab Aisyah pada anaknya.
"Wah kakak hebat". Ujar Kahfi menatap kakaknya.
"Hebat apanya dek?". Tanya Arsyila sambil duduk disamping adiknya.
"Iyaa kakak hebat bisa bikin pudding yang sangat enak". Jawabnya pada kakaknya.
"Apaan, orang itu cara bikinnya juga mudah belum bisa dibilang hebat". Ujar Arsyila sambil terkekeh pada adiknya.
"Semoga aja kakak jadi chef seperti di masterchef". Ujarnya membuat yang lainnya tertawa mendengarnya.
"Loh kok malah ketawa sih?". Tanya Kahfi menatap mereka.
"Kamu lucu sayang". Jawab Aisyah pada anaknya.
"Lucu bagaimana bunda?". Tanya Kahfi heran menatap bundanya.
"Iyaa ucapan kamu tadi sangatlah lucu, bagaimana Kak Arsyi akan menjadi seorang chef, karena cita cita kakakmu adalah menjadi seorang guru sayang". Jawab Aisyah pada anaknya.
"Guru apa bunda?". tanya Kahfi padanya.
__ADS_1
"Guru apa kak? bunda lupa". Ujar Aisyah pada anaknya.
"Guru Agama bunda". Jawabnya pada sang bunda.
"Masya Allah kakak mau jadi Guru Agama, berarti bisa dong jadi guru adek". Ujar Kahfi menatap kakaknya.
"Iyaa pasti dek". Ujar Arsyila pada adiknya.
Aisyah dan Adam saling menatap dan tersenyum melihat interaksi keduanya, hingga beberapa menit kemudian Kahfi tertidur karena kelelahan berbicara, ia tidur di paha ayahnya.
"Pindahin Kahfi ke kamar mas". Ujar Aisyah pada suaminya.
"Iyaa sayangg". Ujar Adam pada istrinya.
"Kalian juga tidur siang, ngantuk pasti". Ujar Aisyah pada anak anaknya.
"Oke siap bunda". ujar mereka sambil bangkit dari duduknya.
"Nanti bunda bangunkan seperti biasa ya sayang". Ujar Aisyah diangguki oleh mereka berlima.
"Seandainya ada abang Hasan disini, pasti makin seru di rumah". Gumam Aisyah saat melihat anak anaknya menaiki tangga.
"Ah sebaiknya aku menyusul Mas Adam". Gumamnya lagi sambil bangkit dari duduknya.
"Udah mas?". Tanya Aisyah pada suaminya.
"Udah sayang, yuk tidur". Jawabnya pada sang istri.
"Iyaa ayok mas". Ujar Anna pada suaminya.
Mereka berdua tidur dengan nyenyak saling berpelukan membuat keduanya nyaman, tanpa menyadari ada yang mengirim pesan pada ponsel keduanya, karena keduanya memang sangat mengantuk.
Ting!
...Jagoan Hasan...
...Online...
Assalamualaikum ayahh, apakabar? (ceklis dua)
Ayah tidur? (ceklis dua)
Ting!
...Bang Hasan...
...Online...
Assalamu'alaikum bunda, apakabar? (ceklis dua)
Yah ternyata sama, kalian sedang tidur siang pasti ya (ceklis dua)
Yaudah deh kalau gitu abang off ya bunda, paling nunggu seminggu lagi abang bisa main ponselnya, semoga kalian baik baik aja dirumah Aamiin yaa rabbal'alamin 🤲🏻🙏🏻
Beberapa menit kemudian Aisyah terbangun terlebih dahulu daripada suaminya, ia menatap ponselnya yang memang berada disamping tempat tidur, ia melihat pesan dari anak keduanya membuatnya mendesah kecewa.
__ADS_1
Yah aku telat buka ponsel, barengan dengan waktu tidur siang. Batin Aisyah merasa sedih.