Assalamu'alaikum Suamiku

Assalamu'alaikum Suamiku
Bab 88


__ADS_3

Adinda tidak menyangka ia akan hamil kembali, bahkan ia tidak mengetahui tentang janinnya yang sudah jadi selama dua bulan, karena Adinda tidak merasakan tanda tanda hamil tapi ia juga baru menyadari jika sudah telat menstruasi selama dua bulan lebih.


"Selamat ya sayang, semoga sehat sehat ya kamu dan cucu bunda". Ujar Bunda Halwa padanya.


"Iyaa bunda, aamiin yaa rabbal'alamin makasih bun". Ujar Adinda memeluk bundanya.


"Selamat ya din, akhirnya kamu nambah lagi". Ujar Maryam terkekeh pada Adinda.


"Hihi iyaa kak makasih". Ujar Adinda padanya.


"Bun, abang akan punya adek lagi?". Tanya Fikri padanya.


"Iyaa sayang". Jawab Adinda pada putranya.


"Asikkk akhirnya abang akan punya adek lagi". Ujarnya dengan senang.


"Abang senang banget, kan ada Adek Ridwan sama adek Adiba". Ujarnya pada anaknya.


"Iyaa pokoknya abang senang bunda". Ujarnya pada Adinda.


"Haha baiklah sayang". ujarnya terkekeh pada anaknya.


"Iyaa bunda". Ujarnya sambil berlalu pergi dari hadapan Adinda dan yang lainnya.


Beberapa menit kemudian semuanya berpamitan pada Adinda dan Davin kecuali Bunda Halwa dan Ayah Ramli, mereka akan menginap dirumah Adinda dan Davin karena takut cucunya menyusahkan Adinda yang sedang hamil, apalagi sangat sensitif jika sudah lelah pikirnya.


Beberapa menit kemudian mereka sampai dirumah kediaman mereka, Aisyah membangunkan anak anaknya yang tertidur sedangkan Adam membuka pintu mobil untuk istrinya, Aisyah mengucapkan terimakasih pada suaminya sambil tersenyum manis.


"Bunda ngga ngidam?". Tanya Alyssa dengan polos.


"Kenapa bunda harus ngidam sayang?". Tanya Aisyah pada anaknya.


"Itu kaya Aunty Dinda bun". Jawabnya pada Aisyah.


"Syang, bunda ngga mungkin ngidam kalau ngga hamil". Ujarnya pada Alyssa.


"Berarti ngidam untuk orang hamil bunda?". Tanya Alyssa pada Aisyah.


"Iyaa sayang yang merasakan ngidam itu untuk orang hamil syaang". Jawab Aisyah pada anaknya.


"Ah baiklah Lysa mengerti". Ujarnya pada Aisyah.


"Iya sayang". Ujarnya pada anaknya.


Mereka pun masuk kedalam rumah, Aisyah menidurkan baby Kahfi terlebih dahulu sebelum memasak untuk makan siang mereka karena tadi dirumah Adinda dan Davin ia tidak makan karena merasa tidak enak entah kenapa.


Beberapa menit kemudian Aisyah selesai memasak untuk makan siang, ia pun menghampiri suaminya yang berada di ruang kerjanya, sebelumnya Aisyah mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk, ia melihat suaminya sedang fokus menatap laptop.


"Mas, makan siang dulu". Ujarnya pada Adam.


"Ah iyaa Ayok sayang". Ujar Adam sambil bangkit dari duduknya.


"Iyaa mas tapi mas duluan aja ke meja makan, Aisyah akan panggilkan anak anak terlebih dahulu". Ujarnya pada Adam.


"Baiklah Syaang, mas tunggu di meja makan ya". Ujarnya sambil tersenyum pada Aisyah.

__ADS_1


"Iyaa mas". Ujar Aisyah pada suaminya.


Aisyah menghampiri anak anaknya yang sedang berada di ruang tengah, keempat anaknya menoleh pada Aisyah membuat Aisyah tersenyum pada mereka semua, Aisyah menyuruh mereka untuk makan siang karena suaminya sudah menunggu dimeja makan.


Kini semuanya sudah berkumpul semua kecuali Hasan yang masih di pesantren, Aisyah melayani suaminya terlebih dahulu lalu anaknya dan terakhir dirinya sendiri, mereka makan dengan tenang hanya terdengar dentingan sendok dan garfu hingga beberapa menit kemudian mereka selesai memakan makanannya sampai habis.


"Alhamdulillah selesai". Ujar mereka bersamaan.


"Yaudah kalian kembali ke ruang tengah ya, jangan sampai lupa tugasnya ya sayang". Ujar Aisyah pada anak anaknya.


"Iyaa siap bunda". Ujar mereka pada Aisyah.


"Siip sayangnya bunda". Ujarnya pada anak anaknya.


"Iyaa bunda, tapi bunda sama ayah nanti susul kita ke ruang tengah ya". Ujar Husein pada mereka berdua.


"Iyaa syaang". Ujar keduanya pada Husein.


Aisyah dan Adam menghampiri keempat anaknya setelah memastikan Baby Kahfi terlelap, Adam dan Aisyah duduk di sebrang anak anaknya yang sedang menulis sesuatu di buku mereka membuat keduanya terdiam memperhatikan anak anaknya.


"Bunda, ini abang ada pertanyaan buat bunda". ujar Husein pada Aisyah.


"Pertanyaan yang seperti apa syang?". Tanya Aisyah pada anaknya.


"Abang sebenarnya tau tapi abang lupa bun, makanya abang tanya lagi sama bunda". Jawabnya pada Aisyah.


"Yaudah nanya apa syaang?". Tanya Aisyah menatap anaknya.


"Ciri ciri dari Sifat Mulia Mujahadah An Nafs apa aja bunda?". Tanya Husein padanya.


"Orang-orang yang dapat mengendalikan nafsu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:


Mampu menunda untuk memuaskan diri sendiri


Mampu mengantisipasi perilaku yang tidak diinginkan


Mampu menafsirkan suatu keadaan dengan cara memperhatikan atau melihat selalu ke sisi yang positif.


Mampu mengontrol dalam mengambil keputusan". Jawab Aisyah pada anaknya.


"Ohh gitu ya bunda, oke abang ngerti". Ujarnya sambil menuliskan apa yang dijawab oleh Aisyah.


"Abang emangnya ingat apa yang bunda Katakan?". Tanya Aisyah pada anaknya.


"Tau dong bunda". Jawabnya pada Aisyah.


"Beneran abang?". tanya Aisyah kaget.


"Beneran bunda, abang cepat tanggap". jawabnya pada Aisyah.


"Bunda, nyanyikan lagu dong agar semangat". Ujar Arsyila pada Aisyah.


"Baiklah sayang". Ujar Aisyah pada anaknya.


اِلَهَنَا .. يَا اِلَهَنَا يَسِرْلَنَا اُمُوْرَنَا

__ADS_1


Ilahanaa.. Yaa Ilahanaa Yasir Lanaa Umuuronaa


اِلَهَنَا .. يَا اِلَهَنَا مِنْ دِيْنِنَا وَدُنْيَانَا


Ilahanaa.. Yaaa ilahanaa Mindiininaa wadun yaanaa..


يَافَتَاحُ .. يَافَتَاحُ .. يَافَتَاحُ يَاعَلِيْمُ


Yaa Fattaaḥu.. Yaa Fattaaḥu.. Yaa Fattaaḥu, Yaa ‘Aliimu..


اِفْتَحْ قُلُوْ بَنَا .. اِفْتَحْ قُلُوْ بَنَا عَلَى تِلاَوَةِ اْلقُرْآنِ


Iftaḥ Quluubanaa.. Iftaḥ Quluubanaa.. ‘Ala Tilawatil Qur’aan


وَافْتَحْ قُلُوْ بَنَا .. وَافْتَحْ قُلُوْ بَنَا عَلَى تَعَلُّمِ اْلعُلُوْمِ


Waf-taḥ Quluubanaa.. Waftaḥ Quluubanaa.. ‘Ala Ta’alumil ‘Uluumi


يَا رَبَّنَا، يَا رَبَّنَا .. يَا فَــتَّاحُ .. يَاعَـلِيْمُ


Yaa Robbanaa,Yaa Robbanaa .. Yaa Fattaaḥu.. Yaa ‘Aliimu


Allah Yaa Robb.. Allah Yaa Robbi..


Mudahkanlah Urusan Kami


Agama Kami, Dunia Kami


Wahai Allah Yang Mengetahui


Buka Hati Kami.. Buka Hati Kami..


Untuk Membaca Al Qur’an..


Bacalah Al Qur’an.. Bacalah Al Qur’an..


Al Qur’an Sumber Kehidupan..


اِفْتَحْ قُلُوْ بَنَا .. اِفْتَحْ قُلُوْ بَنَا عَلَى تِلاَوَةِ اْلقُرْآنِ


Iftaḥ Quluubanaa.. Iftaḥ Quluubanaa.. ‘Ala Tilawatil Qur’aan


وَافْتَحْ قُلُوْ بَنَا .. وَافْتَحْ قُلُوْ بَنَا عَلَى تَعَلُّمِ اْلعُلُوْمِ


Waf-taḥ Quluubanaa.. Waftaḥ Quluubanaa.. ‘Ala Ta’alumil ‘Uluumi


Selesai menyanyikan lagu sholawat untuk anaknya, Aisyah berlalu pergi untuk ke kamar mengecek anaknya, terlihat Baby Kahfi yang sedang menatap sekitarnya tetapi tidak menangis, Aisyah menggendong anaknya untuk ia bawa ke ruang tengah.


"Bunda, Adek bangun ternyata". Ujarnya pada Aisyah.


"Iyaa sayang, tapi untungnya ngga nangis adeknya". Ujar Aisyah pada anaknya.


"Ah syukurlah kalau begitu bunda". ujarnya pada Aisyah.


"Yaudah lanjut lagi belajarnya Syaang". Ujar Aisyah diangguki oleh mereka berempat.

__ADS_1


"Satu ditambah satu sama dengan dua, dua ditambah dua sama dengan empat, empat ditambah empat sama dengan delapan, delapan ditambah delapan sama dengan enam belas". Ujar Husein yang sedang bersenandung.


"Enam belas ditambah enam belas sama dengan tiga puluh dua , tiga puluh dua ditambah tiga puluh dua saMa dengan enam puluh empat, ihh gimana sih kok ga enak lagunya". Gerutu Husein kesal membuat Aisyah dan Adam terkekeh mendengarnya.


__ADS_2