Assalamu'alaikum Suamiku

Assalamu'alaikum Suamiku
Bab 72


__ADS_3

"Bunda, abang ingin bicara sesuatu sama bunda dan ayah". ujar Hasan yang tiba tiba membuat kedua orangtuanya menoleh.


"Mau bicara apa sama ayah dan bunda?". Tanya Aisyah pada putranya.


"Tapi bunda jangan marah ya sama abang, ayah juga". Ujar Hasan menatap kedua orangtuanya.


"Iyaa bunda sama ayah ngga akan marah sama abang, sekarang abang bilang aja mau bicara apa". Ujar Aisyah pada putranya.


"Sebenarnya abang pengen masuk pesantren ayah bunda , ingin memperdalam ilmu agama juga tapi di sukabumi". Ujar Hasan menunduk pada mereka berdua.


Aisyah dan Adam tentu saja terkejut mendengar nya tetapi hanya sesaat karena Aisyah langsung tersenyum menatap putranya, Aisyah mengelus pundak anaknya membuat Hasan menatap Aisyah dengan tatapan takut.


"Bunda dan ayah tidak akan marah jika niat abang ingin masuk pesantren untuk memperdalam ilmu agama, tetapi ingat ya abang di pesantren ngga seperti di rumah". Ujar Aisyah menggantungkan ucapannya pada pada anaknya.


"Emangnya kenapa bunda?". Tanya Hasan padanya dengan penasaran.


"Dipesantren kita harus bangun mandiri, apa apa dilakukan sendiri beda dengan dirumah, abang udah yakin mau masuk pesantren?". Tanya Aisyah pada anaknya.


"Berarti abang harus bangun tanpa dibangunkan, makan juga harus abang sendiri yang masak bun?". Tanya Hasan padanya.


"Bukan gitu juga sayang, nanti abang akan tahu saat masuk pesantren". Jawab Aisyah padanya.


"Pertanyaannya, abang jadi mau masuk pesantren apa ngga? udah yakin?". Tanya Adam pada anaknya.


"Iyaa abang yakin Ayahh". Jawab Hasan dengan tegas.


"Tapi tunggu, kenapa tiba tiba abang pengen masuk pesantren?". Tanya Aisyah pada Hasan.


"Abang punya temen bun, nah dia itu baru pulang dari pesantren, masya allah bun dia pinter banget dalam agama nya, bahkan abang aja gabisa hafal 30juz al Qur'an hanya surat pendek saja abang hafalnya, makanya abang pengen memperdalam ilmu agama abang bun". Jawab Hasan pada Aisyah dengan semangat.


"Yaudah bunda dan ayah akan memasukkan kamu ke pesantren, tapi kamu bilang dulu sama kembaran kamu ya syaang". Ujar Aisyah pada anaknya.


"Baik bunda". Ujar Hasan pada bundanya.


Melihat Hasan pergi dari hadapan mereka membuat keduanya saling menoleh, Adam mengerti perasaan Aisyah yang sebenarnya, ia hanya mengelus pundak Aisyah ketika istrinya mulai mengeluarkan air mata nya, Aisyah memeluk suaminya karena rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


"Sabar sayang, kkamu kuat syang, ikhlaskan Hasan untuk memperdalam ilmu agamanya". Ujar Adam pada istrinya.


"Iyaa mas, tapi Aisyah berat rasanya jika jauh dari salah satu antara mereka sayang". ujar Aisyah pada suaminya.


"Iyaa syaang, belajar ikhlas syaang, karena semua makhluk yang hidup pasti akan pergi meninggalkan kita selamanya". ujar Adam pada istrinya.


"Baiklah mas". Ujarnya sambil mengusap air matanya.


"Udah jangan nangis lagi sayang, nanti ketauan anak anak loh malah mas yang akan disalahkan nantinya". Ujar Adam sambil terkekeh pada istrinya.


"Iyaa udah ngga kok mas". Ujar Aisyah sambil tersenyum tipis.


Beberapa menit kemudian kelima anaknya menghampiri Aisyah dan Adam yang sedang menonton acara televisi, Aisyah yang menyadari itupun mengalihkan pandangannya pada anak anaknya, seolah mengerti mengapa kelima anaknya mendatanginya.


"Mas matikan dulu televisi nya". Bisik Aisyah pada suaminya.


"Baiklah syaang". Ujarnya pada Aisyah.


"Ada apaa kalian datang kemari?". Tanya Aisyah sambil tersenyum pada anak anaknya.


"Iyaa syang, abangmu yang menginginkan masuk pesantren untuk memperdalam ilmunya". Jawab Aisyah pada anaknya.


"Tapi kenapa? bukannya disini juga bisa bunda?". Tanya Arsyila padanya.


"Abang Hasan yang memang pengen masuk pesantren sayang, kita tidak boleh melarang niat baik abang untuk memperdalam ilmu agama". Jawab Aisyah mengelus kepala anaknya.


"Ngga ada lagi yang akan menjahili adek dong bun kalau abang masuk pesantren". Ujar Alyssa yang memeluk Hasan.


"Masih ada bang Fikri dek". Ujar Hasan mengelus kepala adiknya.


"Tapi akan kurang kalau abang ngga ada". Ujar Alyssa menatap abangnya.


"Kamu Tuh ya, abang kan belum berangkat syaang". Ujarnya menatap gemas adiknya.


"Pokonya sebelum abang berangkat ke pesantren, harus main sama kita titik ga pake koma". Ujarnya pada Hasan.

__ADS_1


"Iyaa dek iyaa abang akan selalu main selama abang masih belum ke pondok pesantren". Ujarnya dengan lembut membuat Aisyah terharu.


Beberapa menit kemudian, kini mereka sedang makan bersama dengan khidmat, hanya terdengar dentingan sendok dan garfu hingga beberapa menit kemudian mereka selesai memakan makanannya sampai habis tak tersisa sedikitpun.


"Bunda ceritain dong kisah tentang kancil dan buaya". Ujar Arsyilla padanya.


"Baiklah sayang". Ujar Aisyah pada anaknya.


Kancil dan Buaya


Disebuah hutan belantara yang luas, tinggal beraneka ragam satwa. Salah satunya seekor kancil. Kancil yang satu ini dikenal memiliki kecerdikan yang luar biasa. Tak hanya cerdik, kancil pun dikenal sebagai satwa yang ramah akan sesama.


Seperti suatu pagi, ia melihat seekor induk bebek yang tengah berenang bersama anaknya. Kancil pun yang sedang berjalan menelusuri hutan menyapa bebek tersebut, “Hai bebek! Asik sekali kamu berenang.”


Begitu pun kepada satwa-satwa lain yang sepanjang jalan tak henti menyapa dan ia sapa. Itulah kancil dengan keramahan yang selalu disegani banyak satwa di hutan itu.


Tak hanya ramah, kancil yang terkenal akan kecerdikannya ini juga sering membantu satwa-satwa hutan dalam memecahkan masalah. Banyak satwa yang datang ke kancil jika mereka memiliki masalah, kancil pun dengan senang hati membantu dan memecahkan masalah kawan-kawannya.


Seperti suatu ketika, saat tengah berjalan menelusuri hutan ia menemukan tiga ekor anak ayam yang terperangkap di dalam lubang yang cukup dalam bagi mereka.


Kancil pun segera menghampiri anak ayam itu dan turun ke lubang tersebut untuk membantu mereka yang terperangkap. Setelah masuk ke dalam, kancil membungkukkan badannya dan meminta anak ayam itu untuk menaiki tubuhnya.


“Ayo! Kalian bisa naik ke tubuhku, jadi kalian bisa keluar dari ini dan bertemu induk kalian.” Ucap kancil ramah.


Setelah semua anak ayam berhasil naik ke tubuhnya, kancil pun melompat keluar lubang dan berjalan menemui induk ayam yang tengah kebingungan mencari anak-anaknya. Ia pun melepaskan ketiga anak ayam tadi kepada induknya.


Sang induk pun sangat senang dan berterima kasih kepada kancil yang sudah membantu anak mereka. Tak hanya induk ayam, ketiga ayam tadi juga bersorak kompak mengucapkan  terima kasih kepada kancil, “Terima kasih tuan kancil!” ucap ketiga anak ayam itu girang.


Hingga beberapa menit kemudian Aisyah menyelesaikan cerita tentang kancil dan buaya, terlihat anak anaknya yang tertidur mendengar Aisyah mendongengkan cerita kancil dan buaya, Aisyah yang melihat itupun mengecup kening anaknya satu persatu.


"Bunda sangat menyayangi kalian, terimakasih telah membuat bunda bangga pada kalian". Gumam Aisyah menatap anaknya dengan lembut.


...****************...


Udah 3 bab nih :)

__ADS_1


__ADS_2