
Hasan kini sedang libur selama sebulan karena sebentar lagi bulan puasa, ia juga sudah bisa membawakan sebuah ceramah di umurnya yang sudah memasuki usia 10 tahun lebih 2 bulan , Adam serta yang lainnya merasa senang mendengarnya.
"Abang bunda bangga sama abang". Ujar Aisyah memeluk anaknya.
"Ayah juga bangga bang, abang menjadi orang yang sangat berbeda". Ujarnya pada Hasan.
"Oh ya abang katanya ada tugas ceramah ya selama bulan Ramadhan?". Tanya Aisyah pada anaknya.
"Ah iya benar bunda, abang ditugaskan memberikan ceramah saat sesudah sholat shubuh". Jawabnya pada Aisyah.
"Ah senang bunda dengernya". Ujarnya sambil tersenyum pada anaknya.
Beberapa menit kemudian mereka sedang melaksanakan makan siang bersama, karena hari minggu jadi semuanya lengkap berada di rumah, mereka memakan dengan tenang hanya terdengar dentingan sendok dan garfu hingga beberapa menit kemudian mereka selesai memakan makanannya.
Aisyah langsung membawa piring bekas mereka makan bersama, dibantu oleh anaknya Arsyila yang membawa piring bekas lainnya, saat Aisyah akan mencuci piring dilarang oleh Arsyila yang membuat Aisyah mau tak mau hanya mengawasi anaknya.
"Bunda kembali aja ke depan, takutnya Adek nangis". Ujar Arsyila yang masih sibuk mencuci piring.
"Tapi kakak ngga papa nih? kakak bisa cuci piring sebanyak itu?". tanya Aisyah pada anaknya.
"Tenang aja bunda, Arsyila bisa kok'". Jawabnya sambil tersenyum pada bundanya.
"Baiklah kalau begitu bunda ke ruang tengah ya sayang, hati hati nyucinya". Ujarnya mengelus kepala anaknya.
"Iyaa siap bunda". Ujarnya dengan hormat pada bundanya Aisyah.
"Loh sayang, Arsyila mana?". Tanya Adam yang tidak melihat anaknya..
"Lagi pengen cuci piring Yah". Jawabnya pada suaminya.
Adam mengganggukkan kepalanya mengerti, kini mereka sedang menonton acara televisi bersama, bahkan Hasan manja sekali pada Aisyah membuat Adam hanya bisa mengalah saja karena anaknya akan lama lagi jika pulang.
Beberapa menit kemudian Arsyila bergabung bersama keluarganya, ia sedikit lama bergabung dengan mereka karena tadi dia ingin buang air besar , Adam menatap wajah anaknya yang menahan sakit pada perutnya.
"Mungkinkah sudah waktunya?". Gumam Adam membuat Aisyah menoleh.
"Kenapa ayah?". Tanya Aisyah padanya.
"Gapapa bun". Jawabnya sambil tersenyum pada istrinya.
"Beneran Yah?". Tanya Aisyah menatapnya dengan intens.
"Beneran bunda, udah fokus nonton aja". Jawabnya sambil mengelus kepala istrinya.
"Aduh, kayanya Arsyi kebanyakan makan pedes deh bun, sakit banget perut Arsyi". Ujar Arsyila membuat Aisyah dan yang lainnya menoleh.
"Ya Allah sayang, bentar bunda bawakan obatnya". Ujar Aisyah pada anaknya.
"Kakak, udah pernah mentruasi?". Tanya Adam menatap anaknya.
"Ya belum Ayahh, kan umur Arsyi masih belum bisa di bilang baligh". Jawab Arsyila pada ayahnya.
"Ah iya ya". Gumam Adam menatap putrinya.
Beberapa menit kemudian Aisyah membawa obat serta air minum untuk anaknya, Arsyila segera meminum obatnya dengan cepat hingga beberapa menit kemudian ia merasa mendingan tidak terlalu sakit pada perutnya.
"Alhamdulillah lega bunda, makasih ya bunda" . Ujar Arsyila memeluk bundanya.
"Iyaa syaang sama sama". Ujarnya mengelus kepala anaknya.
"Beneran udah gapapa kan sayang?". Tanya Adam menatap anaknya.
"Iyaa beneran Ayah, ngapain kakak bohong". Jawabnya pada sang Ayah.
"Ah baiklah kalau begitu". Ujarnya diangguki oleh anaknya.
__ADS_1
"Oh ya kak, ada tugas yang susah ngga?". Tanya Hasan padanya.
"Kenapa tiba tiba nanya itu?". Tanya Arsyila pada adik nya.
"Biar aku kasih tau kalau ada yang susah". Jawabnya pada sang kakak.
"Saat ini belum ada dek". Ujar Arsyila pada adiknya.
"Baiklah kalau ada kabarin aja Hasan kak". Ujarnya sambil tersenyum tipis pada kakaknya.
"Aku hanya ingin mendengar abang menyanyikan sholawat"..Ujar Alyssa pada Hasan.
"Baiklah abang akan nyanyikan sholawat untuk Adek abang yang minta dinyanyikan"..Ujar Hasan sambil tersenyum pada adiknya.
"Horeee". Sorak senang Alyssa mendengar perkataan abangnya Hasan.
Jangan Turuti Nafsu.. Tanamkan di Hati Iman yang Kokoh
Pacaran Tidak Perlu.. Temukan Cinta Dalam Istikhoroh
Bila Kau Jatuh Cinta.. Ingin Memilikinya
Minta Restu Orang Tua.. Datangilah Rumahnya.
Bila putus Cinta.. Di Tinggal Kekasih
Sudah Tak Mengapa.. Janganlah Bersedih
Cinta Yang Sejati.. Mengajak Yang Halal
Tak Kan Jauh Pergi.. Pasrahlah Tawakkal
Jangan Turuti Nafsu
Pacaran Tidak Perlu
Temukan Cinta Dalam Istikhoroh
Cinta Itu Anugrah
Pelihara Serta Kuasailah
Cinta di Jalan Allah
Menjauhkanmu Dari Segala Fitnah
Bila Kau Jatuh Cinta
Ingin Memilikinya
Minta Restu Orang Tua
Datangilah Rumahnya
Cinta Karna illahi
Abadi Selamanya dalam Hati
Tak kan Bisa Terganti
Dengan Manisnya Cinta Yang Tak Suci
Banyak Sudah Terjadi
Gara-gara Cinta Tak Di Restui
__ADS_1
Akhirnya Gantung Diri
Akal Fikiran Sudah Tak Berfungsi
Benarkah itu Cinta
Bila Lewat Sengsara
Apalagi Sampai Lupa
Pada Allah Ta'ala
Cinta Karna illahi
Abadi Selamanya dalam Hati
Tak kan Bisa Terganti
Dengan Manisnya Cinta Yang Tak Suci
Banyak Sudah Terjadi
Gara-gara Cinta Tak Di Restui
Akhirnya Gantung Diri
Akal FIkiran Sudah Tak Berfungsi
Semuanya menepuk tangan karena baru mendengar lagu tentang ini, membuat Hasan merasa senang karena mereka belum mengetahui lagu ini yang memang ia mendengar lagu gus Azmi saat ada di pondok pesantren.
"Contoh ceramah nya dong bang bunda pengen dengar"..Ujar Aisyah pada putranya.
"Baiklah bunda". Ujar Hasan menyanggupinya.
"Wah ayah juga pengen dengar". Ujar Adam menatap putranya.
"Baiklah harap diam semuanya". Ujar Hasan langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan mereka.
"Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabbarokatuh". Salam Hasan pada mereka.
"Wa'alaikumussalam Warrahmatullahi Wabbarokatuh". Jawab mereka dengan semangat.
"Semangat sekali sepertinya, baiklah saya akan membawakan sebuah ceramah singkat tentang islam". ujar Hasan tersenyum pada mereka.
"Cepat mulai bangg". Ujar Ayra tidak sabaran.
"Baiklah sabar sabarr". ujarnya terkekeh pada mereka.
"Alhamdulillah kita semua sampai saat ini masih diberikan kesehatan jasmani dari Allah Swt. sehingga kita semua dapat berkumpul dalam acara ini. Selawat serta salam tak luput mari kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad saw. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir kelak. Amin.
Hadirin yang kami muliakan,
Ilmu pengetahuan memberi kita pemahaman mengenai pentingnya menuntut ilmu sebagaimana telah diberikan contoh Allah melalui firman pertama yang turun. Bahwasanya Allah mengajari Nabi Muhammad untuk membaca.
Selain itu, dalam surat Al Mujadalah ayat 11 menjelaskan mengenai kedudukan orang yang menuntut ilmu. Allah akan meninggikan derajat orang orang berilmu.
Tanpa ilmu pengetahuan seseorang akan buta dengan apa yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu, jangan letih untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Demikian yang saya tuturkan, apabila ada salah ucap saya mohon maaf.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Hasan tersenyum pada mereka karena berhasil menyampaikan ceramah singkat pada mereka, Aisyah dan Adam tersenyum terharu pada anaknya yang kini layaknya ustadz, Adam saja bukan anak ustadz bahkan Aisyah juga bukan tapi hanya anak penganut agama islam.
"Bunda saMa ayah juga Adek bangga sama kamu bangg". Ujar Aisyah berkaca kaca menatap anaknya.
__ADS_1