
Aisyah dan Adam menuju ke bandara, untuk menjemput Sarah dan Azam yang katanya ingin bertemu dengan mereka berdua, sesampainya di bandara Aisyah langsung mengenali Sarah pun menghampirinya.
"Assalamualaikum mba". Salam Aisyah membuat Sarah menoleh.
"Waalaikumussalam Zahra". Jawab Sarah pada Aisyah.
"Wah akhirnya kita bertemu ya mba". ujar Aisyah memeluk Sarah.
"Iyaa Zahra, eh kamu apakabar nya? apa benar positif hamil?". Tanya Sarah pads Aisyah.
"Alhamdulillah positif mba". jawab Aisyah pada Sarah.
"Masya Allah Tabbarakkallah ya Zahra, semoga nanti lahiran nya lancar". Ujar Sarah diangguki oleh Aisyah.
"Iyaa mba Aamiin yaa rabbal'alamin makasih, eh iya mba udah lahiran?". Tanya Aisyah saat menyadari perut Sarah yang rata.
"Alhamdulillah sudah, itu baby Nizzam di gendong oleh mas Azam". Jawab Sarah pada Aisyah.
"Masya Allah tampan sekali mba". Ujar Aisyah sambil tersenyum menatap Baby Nizzam.
"Iyaa karena selalu mba bacakan surat Yusuf". Ujar Sarah pada Aisyah.
"Heum seperti itu ya mba". Ujarnya diangguki oleh Sarah.
Mereka berdua menghampiri para suami yang sedang berbincang, sementara Baby Nizzam hanya diam menatap kedua pria tersebut, terkadang menoleh pada Abi nya terkadang menoleh pada Adam membuat Aisyah yang melihat itu tersenyum kecil.
"Assalamu'alaikum". Salam mereka berdua.
"Waalaikumussalam". Jawab Adam dan Azam pada istri mereka.
"Mas lebih baik kita langsung pergi dari bandara, kayanya Aisyah eneuk deh". ujar Aisyah menahan rasa ingin mualnya.
"Astagfirullah yaudah sekarang aja kita berangkat dari bandara, kasian istri kamu lagi hamil Dam". Ujar Azam pada temannya.
Mereka pun masuk mobil Adam, Aisyah dan Sarah duduk dibelakang bersama Baby Nizzam sedangkan Azam duduk di depan bersama Adam, Aisyah senang mengajak bicara Baby Nizzam yang hanya diam menatapnya kemudian tersenyum.
"Lucu banget sih dekk". Ujar Aisyah mengusap pipi Baby Nizzam.
"Makasih Aunty". Ujar Sarah layaknya suara anak kecil.
"Nanti kalau udah besar jodohin aja sama anak kamu dam". Celetuk Azam pada Adam.
"Ngga boleh ya mas, ya mending kalau seperti kita yang dijodohin tanpa tau orangnya tapi kan kita saling mencintai, kalau anak kita lebih baik jangan, biarkan saja ia memilih pasangan Hidupnya, kalaupun anak kita dan anaknya Adam berjodoh juga pasti bertemu". Ujar Sarah pada suaminya.
__ADS_1
"Iyaa mbak, seperti lagu Afgan ya, jodoh pasti bertemu". Ujar Aisyah sambil tertawa pelan.
Beberapa jam kemudian, sampailah mereka di restoran karena tiba tiba Aisyah mengidam, mereka pun duduk serta makan bersama tetapi sebelum memakan makanan tersebut Adam memimpin doa kemudian mereka hening karena menikmati makanannya.
"Alhamdulillah kenyang". Ujar Aisyah yang habis beberapa piring.
"Astagfirullah kamu kenyang saat udah ke 5 piring, kita aja kenyang liat kamu makan Zahra". Ujar Sarah pada Aisyah.
"Hehe namanya juga ibu hamil mbak, kadang nafsu makannya tinggi kadang juga ga nafsu mbak". Ujar Aisyah sambil tersenyum menatap Sarah.
"Iyaa sih bener kata kamu Syah, dulu bahkan bukan mbak yang nafsu makannya tinggi, melainkan suami mbak mas Azam". ujar Sarah membuat suaminya menoleh.
"Masya Allah saling merasakan ya seperti Aisyah dan Mas Adam, bahkan dulu waktu di Eropa pengen banget bakso sampai di kirim dari Jakarta loh". Ujar Aisyah membuat suaminya tersenyum tipis.
"Yaudah mending kita pulang sayang, mas gamau kamu kecapean". ujar Adam pada Aisyah.
"Iyaa deh mas". Ujar Aisyah pada suaminya.
Adam dan Aisyah pulang terlebih dahulu karena ternyata Sarah dan Azam masih memiliki urusan, akhirnya mereka berpisah di restoran, selama perjalanan menuju rumah Aisyah selalu tersenyum ketika melihat bayi kecil.
"Sayang, kamu daritadi senyum senyum sendiri aja, kenapa?". Tanya Adam dengab tatapannya fokus ke depan.
"Aku senyum membayangkan betapa lucunya anak kita mas". Jawab Aisyah pada suaminya.
Dipertengahan jalan, Aisyah melihat seseorang yang ia kenal, ya itu adalah Adinda adik iparnya yang sedang jajan dipinggir jalan, Aisyah menyuruh suaminya berhenti disana .
"Assalamu'alaikum Dinda". Salam Aisyah membuat ia menoleh.
"Ehh kak Aisyah waalaikumussalam, dari mana kak?". Tanya Adinda pada kakak iparnya.
"Habis ketemu temen din, kamu sama siapa kesini?". Tanya Aisyah menoleh kesana kemari mencari Davin.
"Heum aku kesini sendiri kak, Ohh iya kakak mau beli juga?". Tanya Adinda pada Aisyah.
"Ngga, kakak cuman nyamperin kamu aja". Jawab Aisyah padanya.
"Ohh yaudah deh Kak, Ehh aku nebeng boleh?". Tanya Adinda pada Aisyah.
"Boleh dongg, ayoo kita masuk mobil". Jawab Aisyah pada Adinda.
Setelah membayar jajanannya, Adinda pun masuk bersama dengan Aisyah, Adam yang sedaritadi melihat ponselnya baru menyadari ada adiknya didalam mobil, Adam kira istrinya akan beli jajanan ternyata bukan.
"Assalamualaikum abang". Salam Adinda pada abangnya.
__ADS_1
"Waalaikumussalam, dari mana? Davin kemana? kenapa ngga antar kamu?". Tanya Adam beruntun pada adiknya.
"Habis beli jajanan bang, mas Davin ada urusan mendadak tadi jadi ga bisa antar aku". Jawab Adinda pada abangnya.
"Urusan apa?". Tanya Adam lagi pada adiknya.
"Ya mana aku tau, abang kan bos nya gimana sih". Jawab Adinda kesal pada abangnya.
Semenjak sang Ayah kecelakaan dan sampai sekarang masih koma, membuat Adam marah pada pelaku, tetapi ia tidak tau siapa dalang yang membuat ayahnya masuk rumah sakit. Adinda sebenarnya ingin memberi tau tapi takut suaminya yang kena imbasnya.
"Apa Davin tau siapa dalang dari kecelakaan ayah?". Tanya Adam padanya.
Ya Allah aku harus bagaimana, jika jujur kasian suamiku, jika tidak aku semakin merasa serba salah seperti ini. Batin Adinda cemas.
Tiba tiba ingatannya kembali saat ia masih berbulan madu dengan suaminya, suaminya berkata untuk jujur saja jika suatu saat Adam menanyakan tentang pelaku yang membuat ayah nya masuk rumah sakit dan koma.
Bismillahirrahmanirrahim, bantu suamiku ya Allah, jangan sampai bang Adam marah padanya, aamiin yaa rabbal'alamin. Batin Adinda.
"Dek". Panggil Adam karena Adinda tidak menjawab.
"Adinda!". Panggil lagi Adam padanya.
"Adinda Putri Dirgantara!". Barulah Adinda sadar saat nama lengkapnya dipanggil.
"Ahh iyaa kenapa bang?". Tanya Adinda pada abangnya.
"Abang tadi nanya, kamu malah ngga nyahut din". Jawab Adam pada adiknya.
"Nanti aku jelasin di rumah aja bang". ujar Adinda pada abangnya.
Adam pun mengangguk, hingga beberapa jam kemudian sampailah mereka di rumah kediaman keluarga Dirgantara, Bunda Halwa menjaga ayahnya di rumah sakit, jadi sementara Adam dan Aisyah serta Adinda dan Davin tinggal dirumah orangtua nya.
"Sekarang jelasin". Ujar Adam pada Adinda yang baru saja duduk di sofa.
"Mas, gaboleh gitu ihh, kasian Adinda tertekan loh, dia lagi hamil mas, gaboleh sampai buat dia tertekan bahaya". Ujar Aisyah pada suaminya.
Adinda pun menarik nafasnya panjang sebelum bercerita, hingga semuanya ia ceritakan pada abangnya membuat Adam kaget, ia tidak menyangka paman dari sahabatnya membuat ayahnya seperti ini.
"Aku mohon jangan marahin suami aku, bukan dia yang salah bang". ujar Adinda berkaca kaca.
"Bahkan dia marah pada pamannya saat kita sedang berbulan madu bang". lanjutnya pada Adam yang membuat kesal ada kata bulan madunya.
"Yaudah abang ga akan marah, lagian buat apa marah sama orang yang ga salah". ujar Adam pada adiknya.
__ADS_1
Adinda menghela nafasnya lega, ia pun pamitan pada mereka karena mengantuk, mereka berdua hanya mengangguk pada Adinda, lalu mereka juga masuk kamar setelah terdiam sejenak di sofa bawah.