
Ketika melihat pertempuran itu Baihu langsung turun ke medan pertempuran itu. Dia melihat ke arah lawan bangsa Lato dan mencari pemimpin pasukan bangsa Lato. Mata Baihu tertuju pada seorang berpakaian jendral yang menunggangi kudanya.
Pasukan tombak bangsa Lato yang menyerang kota Langsang dipimpin langsung oleh seorang jendral perang bangsa Lato. Baihu segera melompat ke arah jendral tersebut. Dia membunuh semua pasukan bangsa Lato yang menghalangi jalannya menuju jendral yang menunggangi kuda itu.
Baihu melompat saat dia berada di dekat jendral tersebut. Pukulan tinjunya mengarah ke tubuh jendral tersebut, namun jendral itu berkelit menghindari serangan Baihu. Tapi melesetnya serangan Baihu menyebabkan tinju itu mengenai kuda yang ditunggangi oleh jendral tersebut.
Kuda itu meringkik kesakitan oleh pukulan tinju Baihu. Kuda itu lalu tersungkur ke tanah dengan tubuh terluka parah kemudian mati dengan mengenaskan.
Mata jendral itu berkedut keras dan wajahnya menjadi merah padam karena kuda kesayangannya terbunuh oleh Baihu. Jendral itu kemudian melompat dengan membawa tombaknya dan mengarahkan serangan tombak itu ke arah Baihu.
Hembusan angin dari senjata tombak yang berputar itu terasa mengiris kulit orang yang ada disekitarnya. Mereka segera menjauhkan diri mereka dari pertarungan antara Baihu dan jendral tersebut.
Baihu tidak mempedulikan serangan tombak lawan. Dia menerjang maju mendekati jendral tersebut dengan gerakan secepat kilat. Tangannya menepis tombak bermata golok itu lalu melancarkan serangan telapak tangannya ke arah dada jendral hingga jendral itu terdorong ke belakang.
Wajah jendral menjadi jelek merasakan energi Baihu yang menghantam tubuhnya. Dia merasa beruntung mengenakan baju pelindung jendral yang terbuat dari bahan khusus sehingga pukulan telapak Baihu tidak langsung menghantam organ dalam tubuhnya.
Meskipun demikian, jendral itu masih merasakan sedikit sesak di dadanya oleh hantaman telapak tangan Baihu. “Sial, meski sudah menggunakan baju zirah, energi anak ini masih bisa melukaiku,” geram jendral itu dalam hatinya.
Baihu mengernyitkan dahinya melihat pukulan telapaknya tidak mampu membuat jendral itu terluka parah. Dia kemudian meningkatkan jurusnya dengan mengeluarkan jurus keenam Telapak Sembilan Semesta, Raga Spirit Sejati.
Kekuatan pertahanan Raga Spirit Sejati cukup untuk menahan serangan kekuatan lawan sedangkan kekuatan serangannya menjadi semakin ganas. Jendral bangsa Lato terkejut ketika Baihu mampu menekan dirinya yang menggunakan senjata tombak.
Jendral itu menangkis setiap serangan Baihu tanpa bisa membalas serangan. Baihu semakin bersemangat melihat lawan yang kewalahan menghadapi serangannya. Hingga akhirnya Baihu berhasil menembus pertahanan baju zirah lawan hingga hancur.
__ADS_1
BRAKK...
Baju zirah perang jendral itu hancur berkeping-keping setelah berkali-kali dipukul oleh telapak dan tinju Baihu. Kini tubuhnya yang tidak memiliki pelindung menjadi lebih terbuka. Mata jendral berkedut tidak menyangka bahan terkuat milik bangsa Lato yang digunakan dalam pembuatan baju zirah perang itu akan bisa dihancurkan dengan mudah oleh Baihu.
“Sialan, aku tidak bisa menghindari lagi, Akh...” Mata jendral itu melotot saat tinju Baihu akhirnya mendarat di dadanya kembali. Bugh!... Bugh!
Dua pukulan telak menghancurkan tulang dada sekaligus organ dalam jendral itu dan membuatnya terjungkal mencium tanah dengan tombak terlepas dari tangannya. Jendral itu mati mengenaskan menghadapi Baihu.
“Mundur! Jendral telah mati!” Teriak seorang pasukan ketika melihat jendralnya itu telah dibunuh oleh Baihu.
Seluruh pasukan yang mendengar teriakan itu segera berbalik dan mundur secara acak ketika melihat jendral mereka terbunuh di medan pertempuran itu.
“Jangan dikejar!” teriak Baihu kepada pasukannya yang hendak mengejar musuh.
“Kita kembali ke dalam benteng terlebih dulu. Perketat pertahanan,” sahut Baihu kemudian.
“Baik Yang Mulia,” sahut komandan pasukan itu yang kemudian memerintahkan pasukannya kembali masuk ke dalam benteng.
Setelah semua pasukan kembali, Baihu bersama Yin Fang turut kembali masuk ke dalam benteng kota Langsang. Di dalam benteng kota Langsang, Baihu segera mengumpulkan pasukan mereka dan mengadakan pertemuan darurat.
“Katakan, mengapa bisa terjadi pertempuran kecil di luar benteng?” tanya Baihu pada kedua komandan yang tadi bertempur di luar benteng.
Kedua komandan itu berjalan maju mendekati Baihu lalu berlutut dengan satu kaki di depannya. “Yang Mulia, kami keluar benteng karena mendengar berita bahwa pasukan jendral Yang Zi sedang diserang di seberang kota Persik. Namun begitu kami keluar dari benteng, kami langsung diserang juga oleh musuh di tempat tadi,” sahut komandan pasukan itu.
__ADS_1
“Jendral Yang Zi?” Baihu mengkerutkan alisnya mendengar hal itu. Dia memandang ke arah Yin Fang. “Nona Yin, tolong selidiki apakah berita itu benar atau tidak,” perintah Baihu padanya.
“Baik Yang Mulia,” sahut Yin Fang yang kemudian pergi untuk mencari kebenaran berita tersebut.
Baihu kemudian melihat ke arah komandan pasukan yang ada di tempat itu. “Apakah jendral Yan Shu dan yang lainnya belum kembali?” tanya Baihu pada mereka karena tidak melihat jendral Yan Shu dalam pertemuan itu.
“Mereka belum tiba, Yang Mulia,” sahut komandan itu dengan heran.
Baihu terkejut mendengarnya, “Aku telah lima hari pergi ke ibukota kerajaan Pesisir Laut Selatan dan juga kota Panai lalu kembali kemari. Harusnya mereka sudah tiba di sini. Apa yang telah terjadi?” Baihu tidak menyangka jendral Yan Shu dan yang lainnya belum tiba di kota Langsang.
Baihu tampak cemas memikirkan teman-temannya yang belum tiba di kota Langsang. Baihu lalu memerintahkan komandan pasukan untuk mengirimkan pesan ke kota Persik dan juga memeriksa perjalanan menuju ibukota untuk melacak keberadaan jendral Yan Shu.
Setelah itu Baihu membubarkan pertemuan itu dan pergi menemui Yin Fang kembali di markas mereka.
“Nona Yin, selidiki juga keberadaan jendral Yan Shu dan yang lainnya. Seharusnya mereka telah tiba di kota Langsang ini empat hari yang lalu.” perintah Baihu kembali setelah melihat Yin Fang di dalam markasnya.
Yin Fang memberikan hormat lalu mengatur bawahannya untuk menyelidiki hal itu sementara Baihu pergi ke dalam benteng kota. Dia ingin melihat keadaan di luar benteng dari dalam ketinggian benteng kota Langsang.
Baihu berkeliling di atas benteng kota melihat ke arah luar benteng. Hari semakin senja dan haripun mulai gelap sehingga Baihu berhenti dan berdiri di pinggiran benteng melihat ke arah timur.
“Menurut informasi dari pasukan Yin Fang, pasukan bangsa Lato berkemah di dalam hutan itu.” gumam Baihu dalam hatinya sambil memandang ke arah hutan lebat di kejauhan.
“Komandan! Perhatikan ke arah hutan itu selalu. Laporkan setiap pergerakan yang ada dari arah hutan itu secepatnya.” perintah Baihu pada komandan pasukan yang berdiri disampingnya.
__ADS_1
“Baik Yang Mulia.” sahut komandan pasukan itu. Dia lalu mengkoordinasikan hal itu kepada pasukannya dan meminta mereka melakukan sesuai perintah Baihu. Seluruh pasukan di atas benteng bagian timur mengarahkan mata mereka ke arah hutan yang ada di kejauhan untuk menyelidiki setiap pergerakan yang muncul dari daerah tersebut.