
Segera semua pelayan diperintahkan pergi menuju gua penjara termasuk Xin Ye dan Mu Lin. Mereka bertugas untuk mempersiapkan menyambut kedatangan Putra Mahkota yang hendak mengunjungi gua penjara itu.
“Nona Xin, apa yang harus kita lakukan?” tanya Mu Lin gugup
“Tidak perlu gugup, kita sebaiknya memanfaatkan kesempatan ini untuk menyelidiki lebih lanjut gua penjara itu. Petunjuk terakhir kita dapatkan dari tiga ketua sekte tersebut.” sahut Xin Ye.
Mu Lin menganggukkan kepalanya, dia menjadi sedikit tenang karenanya, mereka memang harus mencari petunjuk lainnya di dalam gua penjara itu. Karena disanalah tempat terakhir para ketua sekte itu sempat dikurung.
“Nona Xin, lihat!” tiba-tiba Mu Lin menemukan sesuatu di dalam kurungan para ketua sekte saat mereka membersihkannya.
Xin Ye menemukan sebuah coretan tangan yang bertuliskan ‘Chen Guo’ di lantai itu. Lalu dia membersihkannya untuk menghilangkan jejak tersebut. Pikirannya mencoba mengingat nama tersebut sambil menghilangkan jejak tulisan itu.
Tiba-tiba matanya melotot karena mengingatnya, “Ini murid dari sekte Makam Raja yang saat itu melawan Zhang Mou di final pertandingan antar sekte” gumamnya telah mengingat nama tersebut.
7 tahun yang lalu, Wang Mei adalah peserta dari pertandingan bela diri antar sekte saat itu bersama Chen Guo dan Zhang Mou. Saat itu Xin Ye masih kecil dan hanya menjadi penonton pertandingan tersebut. Namun dia masih mengingat jelas pertandingan puncak antara Zhang Mou dan Chen Guo saat itu.
“Apakah Chen Guo terhubung dengan kejadian ini?” pikir Xin Ye.
Setelah membersihkan ruang rahasia tempat para ketua sekte itu ditemukan, mereka pun kembali dan berkumpul dengan para pelayan lainnya untuk beristirahat.
Keesokan harinya tampak orang-orang dari sekte Makam Pedang telah berbaris untuk menyambut kedatangan dari Putra Mahkota Zhang Mou yang ingin berkunjung ke gua penjara milik sekte Makam Raja.
Tampak juga Chen Guo yang ditemani oleh ketua boneka sekte Makam Raja yang berdiri disamping Chen Guo, bersama para tetua dan guru yang setia pada Chen Guo. Kekuasaan Chen Guo di dalam sekte Makam Raja tidak usah diragukan lagi.
Tak lama berselang, kereta kuda yang mengantarkan Putra Mahkota Zhang Mou segera tiba di gua penjara Makam Raja. Tampak ketua sekte dan Chen Guo pergi menyambutnya, sementara para tetua, guru, beberapa murid dan pelayan membungkuk memberi hormat pada Zhang Mou.
Chen Guo dan ketua sekte lalu mengantar Zhang Mou berkeliling tempat itu dan menceritakan kronologis kejadian saat itu di gua penjara tersebut.
“Chen Guo, aku ingin melihat mayat dari orang-orangku yang mati disini. Begitu juga mayat dari para tetua kalian” kata Zhang Mou.
__ADS_1
Mereka pun mengantar Zhang Mou dan Sun Yang menuju sebuah pintu yang cukup hawa dingin dari dalam ruangan tersebut.
“Pangeran, sebaiknya kita menutup pernafasan kita karena mayat-mayat itu telah cukup lama meskipun diletakkan di ruangan dingin ini” kata Chen Guo yang kemudian menutup saluran pernafasannya sebelum memasuki ruangan dingin itu.
Zhang Mou dan Sun Yang juga melakukan hal yang sama, mereka bertiga lalu masuk ke dalam ruang dingin untuk melihat kondisi dari mayat-mayat tersebut.
“Benar, pukulan yang membunuh Guo Tang dan Li Guan berasal dari jurus Matahari dan Bulan” gumam Zhang Mou. Hal ini berarti kematian mereka memang berhubungan dengan sekte Matahari Bulan
“Pangeran, ini mayat dari ketiga para tetua kami” kata Chen Guo menunjuk pada tumpukan daging dan tulang di atas meja es
Mata Zhang Mou dan Sun Yang berkedut melihat hal itu, “Jurus ini sungguh kejam” pikir mereka
Ketiga tetua yang terbunuh itu tidak menyisakan wujud manusia mereka sama sekali, yang tersisa adalah tumpukan tulang yang patah dan hancur serta daging yang berserakan hingga tidak bisa dikenali lagi.
Zhang Mou merasa pusing setelah melihat semua mayat-mayat tersebut, dia lalu pergi keluar dari tempat dingin tersebut bersama Chen Guo dan Sun Yang.
“Pangeran, jika tidak ada yang ingin dilihat kembali, sebaiknya kita berbicara di kediaman Makam Raja sekaligus untuk membicarakan hal lainnya” sahut Chen Guo
“Baik. Mari kita pergi dari tempat ini” ajak Zhang Mou yang kemudian diikuti oleh Chen Guo dan Sun Yang.
Putra Mahkota Zhang Mou segera naik ke dalam kereta kudanya sedangkan Sun Yang naik dan duduk di samping kusir kereta untuk menjaga Zhang Mou. Chen Guo juga naik ke kereta kuda miliknya bersama ketua sekte bonekanya.
Tampak dua kereta kuda beriringan menuju kediaman sekte Makam Raja yang diikuti oleh beberapa pasukan berkuda di depan dan belakang kereta.
Ketika orang-orang itu telah pergi kembali ke tempat masing-masing, gua penjara kini hanya dijaga oleh beberapa orang penjaga. Xin Ye dan Mu Lin telah menyelinap pergi setelah situasi mereka aman.
“Mu Lin, kita pergi ke desa di kaki bukit kediaman Makam Raja untuk bertemu dengan teman-teman” ujar Xin Ye
“Baik” sahut Mu Lin sambil bergegas
__ADS_1
Sesuai perjanjian, mereka akan bertemu di pedesaan dekat kediaman sekte Makam Raja. Jadi Xin Ye dan Mu Lin lalu bergerak menuju tempat perjanjian untuk bertemu dengan Baihu dan Yang Zi.
Sementara, Wang Mei yang melihat kejadian tadi dari jauh segera mendekati gua penjara tersebut dengan merubuhkan beberapa penjaga yang menjaga tempat itu. Dia lalu menyelinap masuk ke dalam gua penjara itu. Karena tidak menemukan sesuatu disana, diapun pergi dari tempat tersebut.
“Sepertinya aku harus pergi menuju ke kediaman sekte Makam Raja untuk menyelidikinya lebih lanjut” pikir Wang Mei
Setelah itu Wang Mei berangkat menuju bukit tempat kediaman sekte Makam Raja.
“Dimana Baihu?” tanya Xin Ye saat dia bertemu dengan Yang Zi di tempat yang telah mereka janjikan. Xin Ye tidak menyangka dirinya tidak bertemu dengan Baihu melainkan bertemu dengan Li Yan yang bersama Yang Zi.
“Aku tidak tahu, Baihu pergi semalam tanpa memberi tahu pada kami yang sedang tertidur” sahut Yang Zi sedih.
“Sebaiknya kita menunggunya disini. Aku yakin Baihu pasti akan kembali” timpal Li Yan.
Disaat mereka akan kembali ke tempat beristirahat, tanpa diduga mereka bertemu dengan Wang Mei yang hendak menyelidiki sekte Makam Raja.
“Tetua Wang” hormat Yang Zi dan Xin Ye saat melihatnya
“Tetua Wang” Li Yan juga mendekati dan memberinya hormat.
“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Wang Mei tidak percaya bertemu dengan mereka di tempat itu.
“Tetua, sebaiknya kita pergi ke tempat kami beristirahat. Kami akan menceritakannya disana” sahut Yang Zi.
“Baiklah” Wang Mei lalu mengikuti mereka menuju tempat beristirahat sebelumnya. Kemudian Xin Ye menceritakan dari awal perpisahannya dengan Yang Zi dan bertemu Baihu hingga saat tadi. Yang Zi juga menceritakan kejadian yang dialaminya hingga hari ini. Selanjutnya Li Yan yang mulai bercerita pada mereka.
“Jadi benar dugaanku, Baihu pergi meninggalkanku karena menemukan petunjuk dan untuk menyelamatkan Xin Ye dari sekte Makam Raja” Wang Mei tampak mulai mengerti permasalahannya.
“Lalu kemana Baihu sekarang?” tanya Wang Mei pada mereka.
__ADS_1