
Raja Mao Da segera meningkatkan kecepatannya bergerak menghindari serangan ribuan pedang dari jarak dekat. Tubuh Raja Mao Da pun menghilang dari pandangan, namun beberapa bayangan energi pedang juga berhasil mengenainya.
Crasshh... Crasshhh...
Kedua lengan dan kaki Raja Mao Da terkena sabetan energi pedang naga Baihu dan rasa perih menjalar di sekujur tubuhnya akibat irisan pedang. Wajah Raja Mao Da terlihat gelap, nafasnya tidak beraturan namun sakit hatinya melebihi luka di tubuhnya.
Memikirkan kehilangan segalanya jauh lebih menyakitkan daripada luka-luka di tubuhnya. Matanya menatap tajam ke arah Baihu, darah mengalir dari luka di lengannya ke arah golok ditangannya.
Raja Mao Da mengatur kembali nafasnya, dia menggenggam erat golok di tangan kanannya. Rasa perih akibat luka tidak membuat semangatnya menurun. Dia kembali menghimpun kekuatan alam Abadi dan bersiap untuk melakukan serangan kembali.
“Anak ini tidak bisa dipandang sebelah mata.” geramnya.
Baihu yang telah mengatur nafas berjalan mendekati Raja Mao Da, luka nya terbuka kembali sehingga tubuh Baihu pun mengalirkan darah dari lengan kirinya.
“Raja Mao Da, kekuatanmu setara dengan Pang Chu, namun staminamu jauh melebihi Pang Chu yang sudah tua. Aku membutuhkan waktu satu jam untuk memenggal kepala Pang Chu.” kata Baihu memprovokasi emosi Raja Mao Da.
Raja Mao Da berusaha menahan amarahnya mendengar kata-kata Baihu, dia menggenggam lebih erat goloknya tanpa mempedulikan darah yang mengalir membasahi golok tersebut.
Baihu tersenyum melihat kata-katanya berpengaruh pada Raja Mao Da. Dia menjadi lebih bersemangat memprovokasinya. “Kamu mungkin tidak percaya jika aku mengatakan Zhang Mou, temanmu itu memelas dan memohon ampunan sebelum kematiannya. Tapi aku sudah berbelas kasih memberikannya kematian yang cepat dan tanpa menyakitkan.”
Kepala Raja Mao Da seperti akan meledak karena kemarahannya, dia kemudian bergegas menyerang dengan ganas ke arah Baihu. Gerakannya cepat namun menjadi tidak beraturan karena emosinya mengalahkan konsentrasinya.
Melihat serangan seperti itu, membuat Baihu lebih mudah menghindarinya. Mulut kadang memang lebih tajam daripada pedang. Emosi lawan yang terpancing membuat Baihu bisa dengan mudah menaklukkannya.
__ADS_1
Baihu pun bergerak dengan cepat menyabetkan pedangnya ke arah tubuh Raja Mao Da yang bergerak dengan emosi. Kali ini Raja Mao Da tidak bisa menghindarinya. Punggung Raja Mao Da tergores oleh pedang naga Baihu dan menyemburkan darah segar.
Tetapi luka itu tidak mempengaruhi emosi Raja Mao Da yang telah meledak. Semakin terluka serangannya menjadi semakin kuat, namun gerakannya tidak terarah dengan baik. Raja Mao Da hanya memiliki satu tujuan dalam pikirannya, membunuh Baihu meskipun dirinya juga terbunuh setelah itu.
Melihat lawannya bermaksud untuk mati bersama, mata Baihu berkedut merasakan hawa membunuh yang meningkat dari Raja Mao Da. “Orang ini seperti kesurupan. Dia tidak lagi merasakan luka di tubuhnya.” gumam Baihu dalam hatinya.
Baihu kemudian mengubah pola serangannya melihat situasi lawan yang seperti itu, dengan beberapa kali tusukan dan sabetan pedang naga di tubuh Raja Mao Da membuat tubuhnya menjadi merah bermandikan darah.
Crasshh... Set... Set... Crashh... Crashh...
Beberapa serangan Baihu mengenai titik vital dari Raja Mao Da, namun Raja Mao Da masih bergerak mengayunkan goloknya untuk menghalau serangan pedang naga Baihu.
Setelah tiga puluh menit berlalu, Baihu menghentikan serangannya dan melihat darah telah membanjiri tubuh Raja Mao Da serta efektifitas tempurnya menjadi menurun. Kekuatannya menurun secara perlahan namun semangatnya masih tetap membara. Matanya merah semerah darah yang membanjiri tubuh Raja Mao Da. Golok masih tergenggam di tangan kanan Raja Mao Da namun tubuhnya tidak bergerak.
Semua pasukan kerajaan Salju Utara dan Gurun Barat bergidik melihat penampilan mengerikan dari Raja Mao Da yang dikendalikan oleh emosinya.
Raja Mao Da menatap Baihu dengan mata yang merah berdarah, kesadarannya telah lenyap. Tubuhnya berdiri dan tidak bisa bergerak. Nafasnya perlahan mulai melemah lalu terhenti.
Raja Mao Da terbunuh dengan tubuh bersimbah darah menatap Baihu dengan tatapan mata merah. Hanya beberapa menit setelah itu tubuh Raja Mao Da pun ambruk ke tanah.
Dengan kematian Raja Mao Da, peperangan dengan bangsa Buke pun berakhir dengan kemenangan di pihak kerajaan Salju Utara yang bergabung dengan kerajaan Gurun Barat.
Seluruh pasukan kerajaan Salju Utara bersorak dengan gembira dan merasa terharu hingga beberapa diantaranya menangis bahagia. Bagaimanapun peperangan ini telah membuat seluruh kerajaan Salju Utara belajar untuk mengutamakan persatuan mereka. Perpecahan di internal kerajaan Salju Utara membuat musuh dengan mudah menaklukkan mereka.
__ADS_1
Pasukan bangsa Buke kemudian dikumpulkan di dalam kota Linshang termasuk yang telah dikirim dari berbagai kota di wilayah kerajaan Salju Utara sebagai tawanan perang.
“Bebaskan mereka, biarkan mereka kembali ke wilayah bangsa Buke dan memulai hidup baru. Dan jangan pernah kembali kemari dimasa depan.” kata Baihu kepada para jendral kerajaan Salju Utara.
“Siap Yang Mulia!” teriak para jendral dengan wajah bersemangat.
Setelah itu seluruh pasukan bangsa Buke dibebaskan kembali ke wilayah mereka di bagian barat. Mereka kembali dengan perasaan campur aduk antara sedih dan gembira. Peperangan ini juga menjadi pelajaran bagi mereka agar tidak kembali menyerang kerajaan lain. Lebih baik semangat mereka digunakan untuk membangun wilayah bangsa mereka sendiri.
Seluruh wilayah kerajaan Salju Utara telah kembali tenang seperti dulu, namun banyak perbaikan yang diperlukan karena kehancuran akibat peperangan ini.
Baihu kemudian bertemu dengan permaisuri Tang Liu dan putra mahkota bersama para jendral dari kerajaan Salju Utara disertai oleh ketua sekte Wudang. Sementara itu jendral Gong Jun telah kembali ke kota Beidu yang merupakan perbatasan kerajaan Gurun Barat bagian utara dengan kerajaan Salju Utara.
“Yang Mulia Baihu!” Tiba-tiba seluruh jendral kerajaan Salju Utara berlutut memberikan hormat kepada Baihu.
Baihu tampak tertegun melihat hal itu. Dia pun menoleh ke arah permaisuri Tang Liu yang tersenyum kepadanya. “Aku bukan raja kalian. Di sini masih ada permaisuri Tang Liu dan putra mahkota yang berhak menjadi pemimpin kalian.” kata Baihu.
Kata-kata Baihu tidak membuat para jendral itu berdiri, namun mereka tetap dengan wajah serius berlutut kepadanya.
Melihat hal itu permaisuri Tang Liu kemudian berjalan mendekati Baihu. “Yang Mulia, era kerajaan Salju Utara telah usai dengan kematian Raja Yang Kui suamiku. Aku harap Yang Mulia bersedia untuk memimpin kami.”
Permaisuri Tang Liu kini turut berlutut di hadapan Baihu dengan menundukkan kepalanya. Putra Mahkota yang masih kecil berumur 13 tahun pun mengikuti ibunya dan berlutut kepada Baihu.
“Yang Mulia, kami dari sekte Wudang juga mendukungmu dengan segenap hati.”
__ADS_1
Ketua Wudang pun berlutut kepada Baihu disertai oleh seluruh muridnya “Sekte Wudang mendukung Yang Mulia Baihu.”
Seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu berlutut kepada Baihu.