BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 93 | Bersembunyi di wilayah utara


__ADS_3

Salju selalu turun di seluruh daratan di wilayah utara dataran tengah dan memiliki suhu yang dingin. Kerajaan Salju Utara merupakan kerajaan yang berkuasa di wilayah utara itu. Raja Kerajaan Salju Utara saat itu adalah Yang Kui. Dia memiliki seorang adik perempuan yang menikah dengan salah salah satu jendral kerajaan dan menguasai kota Linshang yang berada di perbatasan barat Kerajaan Salju Utara.


Adik perempuan raja itu bernama Yang Nie, dia kini hidup menjanda setelah suaminya tewas dalam pertempuran di perbatasan barat melawan pasukan kerajaan bangsa Buke yang menyerang perbatasan kerajaan Salju Utara.


Yang Nie yang sedih bercampur marah kehilangan suaminya hendak pergi kembali ke ibukota kerajaan namun kakaknya tidak mengijinkannya kembali dan memerintahkannya untuk menjaga kota Linshang itu.


Mendengar larangan dari kakaknya, Yang Nie menjadi bertambah marah. Kakaknya sama sekali tidak memikirkan dirinya seorang diri menjaga kota perbatasan itu yang sewaktu-waktu bisa diserang oleh pasukan kerajaan bangsa Buke.


Kakaknya juga tidak mengirimkan pasukan bantuan untuk dirinya di kota itu. Jadi seakan-akan dirinya sengaja dijadikan tumbal oleh kakaknya untuk menjebak pasukan kerajaan bangsa Buke yang masuk sebelum dihancurkan olehnya.


Memikirkan hal itu hati Yang Nie menjadi semakin geram dan dingin pada sikap kakaknya yang tega menjadikannya tumbal demi kemenangan kerajaan Salju Utara dalam menangkap pasukan musuh.


“Aku tidak akan melupakan dendam ini. Meskipun aku mati, aku akan menghantuimu kak.” batin Yang Nie yang marah dengan sikap kakaknya Raja Kerajaan Salju Utara Yang Kui.


Saat sedang marah di makam suaminya, Yang Nie dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki muda yang berjalan mendekati makam suaminya.


“Siapa kamu?” tanya Yang Nie pada lelaki muda itu yang tidak dikenalinya.


Lelaki itu menoleh pada Yang Nie dan memberi hormat padanya. “Namaku Zhang Mou. Aku adalah sahabat dari Jendral Ning. Aku datang untuk memberi penghormatan padanya. Aku baru mendengar bahwa jendral Ning telah meninggal dalam pertempuran” sahut lelaki muda itu yang ternyata adalah Zhang Mou.


Hati Yang Nie menjadi tersentuh mendengar kata-kata Zhang Mou yang merupakan sahabat dari suaminya Jendral Ning. Dia mempersilahkan Zhang Mou untuk memberikan penghormatan kepada suaminya.


“Maaf, siapakah nyonya? Apa hubungan nyonya dengan Jendral Ning?” tanya Zhang Mou.


“Aku adalah Yang Nie. Jendral Ning adalah suamiku,” sahut Yang Nie pada Zhang Mou.

__ADS_1


Wajah Zhang Mou tertegun menyadari hal itu. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan istri dari sahabatnya di tempat itu. “Maafkan aku Nyonya Yang, aku tidak mengenalimu,” sahut Zhang Mou dengan sopan


“Tidak apa. Aku juga meminta maaf karena tidak bisa menyambutmu datang bersama suamiku,” kata Yang Nie sambil tersenyum.


Mereka pun saling bercerita tentang masa lalu jendral Ning. Zhang Mou menceritakan pada Yang Nie saat pertama kali dia bertemu dengan jendral Ning. Demikian juga dengan Yang Nie.


“Tuan Zhang, apakah kamu masih ada rencana lain lagi? Jika tidak, mari kita berbicara di kediaman kami sambil minum teh untuk mengenang tentang jendral Ning,” ajak Yang Nie pada Zhang Mou.


Zhang Mou melihat keramahan dalam kata-kata Yang Nie. “Terima kasih nyonya, kebetulan aku juga tidak ada rencana pergi kemana lagi. Aku akan mampir untuk menerima kebaikanmu dan jendral Ning,” sahut Zhang Mou sambil memberikan hormatnya.


Mereka pun kembali ke kediaman jendral setelah melakukan penghormatan di makam Jendral Ning.


Di kediaman jendral Ning, Zhang Mou diantarkan oleh pelayan kediaman menuju aula pertemuan untuk menikmati jamuan sederhana dari tuan rumah. Sementara Yang Nie kembali terlebih dahulu untuk mengganti pakaian berkabungnya kembali ke pakaian santai sebelum menemui Zhang Mou.


Saat Zhang Mou mengingat masa lalunya bertemu dengan jendral Ning di kediaman itu, kemudian Yang Nie muncul dengan pakaian yang anggun menampakkan wajah ibu muda yang sangat menarik perhatian Zhang Mou.


Zhang Mou menelan ludahnya melihat kecantikan dari Yang Nie yang masih terlihat meskipun dia telah menjadi seorang janda dari sahabatnya.


“Apa ada yang salah dengan diriku?” Yang Nie terkejut melihat Zhang Mou yang menatap dirinya tanpa berkedip dan terbengong saat dia memasuki aula itu.


Pikiran Zhang Mou dibuyarkan oleh kata-kata Yang Nie itu. Wajahnya menjadi merah dan diapun menundukkan kepalanya. “Maafkan aku nyonya, aku merasa tidak sopan menatap dirimu,” sahutnya.


Yang Nie tersenyum, “Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Mari nikmati hidangan yang telah disajikan oleh pelayan kami,” sahut Yang Nie sambil mempersilahkan Zhang Mou untuk menikmati hidangan yang telah disajikan.


Mereka pun menikmati obrolan ringan seputar masa lalu jendral Ning yang membuat wajah Yang Nie terlihat muram karena mengingat suaminya. Yang Nie menundukkan kepalanya ketika hatinya merasa tidak kuat menahan kesedihan karena kehilangan suaminya itu.

__ADS_1


Zhang Mou yang melihat perubahan wajah Yang Nie menghentikan obrolannya tentang jendral Ning. Dia tidak ingin Yang Nie semakin larut dalam kesedihannya.


Tak terasa hari telah sore dan malam akan segera tiba. “Tuan Zhang, hari mulai gelap. Jika kamu tidak keberatan, tinggallah di kediaman kami. Kami memiliki banyak ruang tamu untuk bisa kamu tempati.” kata Yang Nie yang senang mendapatkan teman baru di kediamannya yang selama ini sepi dari teman-teman yang berkunjung.


Zhang Mou menyadari dia tidak memiliki tujuan lainnya. Dia sebelumnya ingin menemui jendral Ning untuk bisa menetap di kediamannya dan merencanakan untuk kembali ke kerajaan Gurun Barat untuk membalaskan dendamnya.


Namun setelah mendengar kematian jendral Ning, dia menjadi hilang harapan. Tapi setelah melihat istri jendral Ning yang baik padanya. Dia merasa kembali bersemangat untuk menetap sementara di kediaman jendral Ning dan memikirkan kembali dendamnya itu.


“Terima kasih atas kebaikan nyonya Yang. Aku akan tinggal sementara disini sebelum menentukan langkahku selanjutnya.” sahut Zhang Mou sambil memberi hormat pada Yang Nie.


“Pelayan! Siapkan dan antarkan tuan Zhang ke kamar tamunya!” perintah Yang Nie pada salah satu pelayannya.


Pelayan itu memberi hormat pada Yang Nie dan kemudian mempersilahkan Zhang Mou untuk mengikuti dirinya menuju kamar tamu kediaman jendral itu.


Malam harinya, Zhang Mou yang tidak bisa tidur berjalan keluar dari kamarnya. Udara di wilayah utara itu sangat dingin, meskipun dia telah mengenakan pakaian dingin, namun dia tetap merasakan kedinginan di tubuhnya.


Zhang Mou lalu mempersiapkan sebuah perapian di depan kamarnya dan membakar beberapa batang kayu bakar untuk menghangatkan dirinya. Dengan adanya api unggun dari kayu bakar dan perapian yang ada disana, Zhang Mou merasakan tubuhnya menjadi hangat.


Dia pun duduk di depan api unggun itu sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini. Zhang Mou mengingat kejadian yang menimpa keluarganya dan menjadi geram setelahnya.


Dendamnya kepada Baihu menjadi berkali-kali lipat. Merebut kekasihnya, merebut kekasih adiknya bahkan membunuh adiknya Zhang Ji. Kemudian membunuh ayah dan adiknya Zhang Wu serta merebut kerajaan Gurun Barat dari keluarganya.


Dalam kehidupan ini, dendamnya pada Baihu tidak akan pernah pupus sebelum membunuhnya. Dia merenung memikirkan langkah apa yang akan dia rencanakan untuk membalaskan dendamnya ini.


“Tuan Zhang belum tidur?” tiba-tiba terdengar suara Yang Nie yang datang melihat Zhang Mou tengah menghangatkan dirinya di depan kamar tamu.

__ADS_1


__ADS_2