BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 51 | Terpisah


__ADS_3

Ketika berada di atas kapal layar, Baihu segera mencari tempat orang-orang itu menyimpan barang-barang tadi. Dari atas geladak kapal, Baihu lalu turun menuju ke dalam lambung kapal yang merupakan bagian terluas yang biasa dipergunakan untuk tempat tinggal pekerja kapal dan juga tempat menyimpan barang-barang berharga.


“Siapa pemilik kapal ini?” gumam Baihu dalam hatinya


Kemudian di salah satu ruangan Baihu mendengarkan percakapan di dalamnya dan berhenti untuk mendengarkan sambil bersembunyi di tempat yang cukup terhalang dari pandangan orang secara sepintas.


“Apakah barang-barang sudah dinaikkan?” tanya salah seorang di dalam ruang tersebut.


“Sudah. Semua sudah berada di dalam kapal ini” sahut orang satunya.


“Ketua memerintahkan kita untuk menyelidiki tentang pedang itu. Mengapa pedang itu bisa keluar dari penyimpanan? Siapa yang begitu bodoh melakukan hal itu?” tanya seorang lainnya


“A--Aku tidak tahu mengenai hal itu. Aku hanya bertugas mengirimkan barang-barang saja” sahut seorang lainnya dengan gagap.


“Si Mao, sudahlah. Kita harus pergi ke markas itu untuk menyelidikinya. Kita harus menghukum orang bodoh itu” sahut salah satu lainnya.


Mereka pun keluar dari ruang itu dan pergi ke tempat tujuan masing-masing.


“Si Mao?” Baihu tertegun mendengar nama itu dan sepertinya dia pernah mendengarnya.


Matanya langsung melotot saat menyadari bahwa nama Si Mao itu adalah salah satu dari nama yang pernah didengarnya di dalam gua belakang air terjun itu.


“Aku harus mengikuti mereka. Mungkin aku bisa menemukan petunjuk tentang ketua sekte” gumam Baihu yang kemudian menyelinap ke dalam ruang lainnya di lambung kapal tersebut.


Di dalam lambung kapal dia kembali menyelinap dengan hati-hati untuk melihat setiap ruangan disana. Kemudian dia tiba di sebuah area yang cukup luas yang menyimpan barang-barang yang akan dikirimkan dengan menggunakan kapal tersebut.


Akhirnya dia menemukan kurungan yang telah ditutupi kembali oleh kain di tengah ruangan yang cukup luas itu. Dia lalu membuka kurungan itu dan matanya berkedut melihat beberapa wanita berada di dalam kurungan itu.

__ADS_1


Wajah para wanita itu terkejut dan tampak ketakutan saat Baihu membuka kain tersebut. Baihu melihat ke sekeliling kurungan tersebut dan melihat para wanita itu sepertinya telah mengalami beberapa penyiksaan sebelum dinaikkan ke dalam kapal ini.


Di sudut kurungan itu matanya terbelalak melihat Xin Ye tengah meringkuk dengan wajah sedih. Baihu lalu berjalan mendekatinya dari luar kurungan “Kak Xin Ye” bisik Baihu pelan


Xin Ye tertegun mendengar namanya dipanggil oleh Baihu. Dia lalu melihat ke arahnya dan sorot matanya tampak bercahaya setelah bertemu dengan Baihu. “Bai--hu” sahutnya hampir berteriak namun Baihu segera menutup mulutnya untuk menghentikan Xin Ye berteriak.


“Sstt..., jangan berteriak kakak” sahutnya.


Wanita lain juga tidak ada yang berani berteriak karena tidak tahu apakah Baihu itu lawan atau kawan.


Baihu merasa sedih melihat Xin Ye berada dalam kurungan itu. Dia melihat kurungan itu terbuat dari besi yang kokoh dan sulit untuk dihancurkan tanpa menimbulkan keributan.


“Kakak, sabarlah. Aku akan mengikuti kalian dan menyelamatkan kalian” sahut Baihu.


Xin Ye menatap Baihu penuh harap, dia memegang tangan Baihu, “Baihu, tolonglah” sahutnya lirih


“Kakak, dimana nona Yang Zi? Apa yang telah terjadi?” tanya Baihu.


“Kemudian, kami disergap oleh beberapa orang yang memiliki kekuatan tinggi. Kami pun dikalahkan dan ditangkap. Aku tidak sadarkan diri, lalu saat sadar aku sudah berada di dalam kurungan dan dibawa kemari” sahutnya dengan wajah sedih.


“Lalu nona Yang Zi?” tanya Baihu kembali


“Sebelum pingsan, aku melihatnya juga ikut tertangkap. Setelah itu aku tidak mengetahui nasibnya lagi” sahut Xin Ye lirih meneteskan air matanya.


Wajah Baihu tertegun mendengarkan penjelasan dari Xin Ye, dia melihat sekeliling kurungan itu. “Tunggulah kakak. Aku akan kembali dan menyelamatkan kalian. Aku berjanji” kata Baihu dengan wajah gelap.


“Baihu, selamatkan nona Yang” sahut Xin Ye kembali.

__ADS_1


Baihu hanya menganggukkan kepalanya mendengar permintaan Xin Ye, dia kemudian kembali menutup kurungan itu dengan kain agar tidak menimbulkan kecurigaan dari orang-orang di kapal tersebut.


Saat Baihu hendak meninggalkan tempat itu, dia merasakan kapal telah bergerak, “Apakah kapal ini sudah berlayar? Ah, sial...” gumamnya kembali. Baihu menyelinap untuk keluar kembali dari lambung kapal itu dan menuju geladak kapal secara diam-diam.


Hari telah menjelang malam, untungnya di luar sudah tampak gelap. Pelabuhan kota Persik sudah terlihat jauh dari tengah sungai itu. Baihu hanya menghela nafasnya. Dia terpaksa mengikuti kapal itu berlayar menuju ke tempat tujuan mereka.


Sementara itu, saat malam telah turun. Wang Mei baru saja menyelesaikan pertemuan keluarganya yang meminta Wang Mei segera menyetujui lamaran dari Putra Mahkota dan menikahinya. Namun Wang Mei hanya terdiam, dia tidak memberikan jawaban apa-apa pada mereka.


“Ah, terserah padamu saja” keluh Wang Shui nenek dari Wang Mei yang sangat ingin untuk menjadi keluarga kerajaan Gurun Barat.


“Hidup mati keluarga Wang terletak pada keputusanmu.” lanjut nenek Wang Shui dengan wajah dingin.


Perkataan itu seperti palu yang menghantam kepala Wang Mei, namun dia tetap tidak membuka suaranya untuk memberi keputusan.


Wang Huo dan istrinya menyadari apa yang ada dalam pikiran Wang Mei. Mereka sudah mengikhlaskan keputusan apapun yang dibuat oleh anaknya. Namun kini tekanan dari keluarga besar mereka membuat keadaan menjadi runyam kembali.


Akhirnya setelah tidak mendapatkan jawaban dari Wang Mei yang hanya terdiam, mereka pun pergi dari kediaman keluarga Wang di kota Persik namun tetap mengingatkan konsekuensi yang akan dihadapi oleh keluarga Wang jika Wang Mei menolak lamaran itu.


Wang Mei tidak mendengarkan apapun kata-kata mereka. Dia sudah mengetahuinya, dia bukan anak kecil seperti Baihu.


“Ah... Baihu.” Wang Mei terperanjat. Tubuhnya menggigil gemetar karena baru teringat janji untuk bertemu dengan Baihu di pelabuhan sungai tersebut.


Dia segera berlari menuju pelabuhan untuk menemuinya di sudut pelabuhan tempat kemarin mereka berjanji. Namun dia tidak menemukan Baihu disana. Matanya melihat ke sekelilingnya untuk mencari sosok bocah yang telah membuat hatinya berdetak kencang itu.


“Maafkan aku Baihu yang terlambat. Kamu berada dimana?” gumamnya dengan wajah cemas dan mulai meneteskan air matanya.


Dia hanya melihat sebuah kapal layar yang telah pergi di tengah sungai itu tanpa mengetahui Baihu berada di atas kapal tersebut.

__ADS_1


Sungai itu sangat lebar, sehingga jarak pandang dari kapal di tengah sungai ke pelabuhan itu cukup jauh dan hari juga sudah mulai gelap sehingga Baihu tidak bisa melihat sosok Wang Mei di sudut pelabuhan itu.


“Kakak Wang, jaga dirimu baik-baik. Mungkin kita akan bertemu lagi disisi yang berlawanan nanti” gumam Baihu dalam hatinya memikirkan kemungkinan Wang Mei menikah dengan Putra Mahkota kerajaan Gurun Barat.


__ADS_2