
Pang Chu yang terdesak tidak bisa menghindari lagi serangan Baihu. Dia terpaksa menggunakan lengan kirinya untuk menangkis sabetan pedang naga Baihu.
Crasshh...
“Aakhh...”
Seperti dugaan, lengan kiri Pang Chu terpotong dengan sempurna oleh pedang naga. Darah mengalir deras dari lengan kirinya itu dan di tanah tergeletak lengannya yang telah terpotong. Mata Pang Chu melotot dan keningnya mengkerut menahan rasa sakit dari lengannya yang terpotong.
Segera Pang Chu menotok aliran darah di lengan kirinya untuk menghentikan pendarahan, lalu dia mundur dengan wajah pucat muram dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
“Pang Chu, hari ini adalah hari kematianmu. Aku tidak akan melepaskanmu.” kata Baihu dengan tatapan yang tajam ke arah Pang Chu.
Pang Chu bergidik melihat tatapan Baihu, kekuatannya seperti hilang setengah dengan terpotongnya lengan kirinya. Dengan menahan rasa sakit dia berusaha mencari celah untuk menyelamatkan nyawanya.
Baihu mengetahui niat Pang Chu yang ingin melarikan diri, namun dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kemudian Baihu kembali mengerahkan kekuatannya dan mengalirkan ke pedang naga bersiap untuk mengeluarkan jurus seribu pedang naga kembali. Pedang Naga diayunkan ke atas kepala Baihu lalu bayangan seribu pedang muncul kembali.
Mata Pang Chu menatap tanpa harapan ke arah Baihu, wajahnya pucat pasi memikirkan nyawanya yang sudah berada di ujung tanduk. Baihu tampak seperti dewa pencabut nyawa yang berdiri di depannya dengan hawa membunuh.
“Heyaah...!”
Baihu berteriak dengan lantang bersamaan dengan ayunan pedang ke arah Pang Chu. Ribuan pedang meluncur ke arah tubuh Pang Chu seperti akan melahap tubuhnya hingga berkeping-keping.
Trang! Trang! Trang! Jleb! Jleb!
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat menghalangi serangan Baihu dengan pedangnya, namun dia tetap tidak bisa menghalau ribuan bayangan energi pedang yang dikerahkan oleh Baihu. Tiga energi pedang berhasil menembus tubuh Pang Chu yang tersenyum dengan mata melotot melihat sosok yang datang menyelamatkan dirinya.
Seorang wanita berpakaian bangsa Buke berhasil menghalau beberapa bayangan pedang yang menyerang ke arah Pang Chu. Mata wanita itu terlihat suram menyaksikan tubuh Pang Chu yang mengenaskan seperti itu.
“Ayah!” Teriak wanita itu saat melihat Pang Chu terjatuh di depan matanya. Wanita itu segera meraih tubuh Pang Chu dan memangkunya.
Wanita itu adalah Pang Niu, anak kedua dari Pang Chu yang menikahi Raja Mao Da dan menjadi permaisuri kerajaan bangsa Buke.
Baihu yang melihat kedatangan Pang Niu yang disertai oleh bala tentara pengawal kerajaan segera mundur untuk sementara waktu. Dia berpikir belum saatnya untuk melawan kerajaan bangsa Buke saat ini.
“Jangan lari! Kejar orang itu!” Teriak Pang Niu dengan air mata menetes di pipi melihat ayahnya yang terbaring di pangkuannya dengan nafas satu dua.
Para pengawal kerajaan bangsa Buke yang mendengar teriakan perintah dari permaisuri raja segera bergerak mengejar Baihu. Namun kecepatan Baihu bukanlah tandingan para pasukan pengawal itu.
“Ayah! Maafkan aku yang datang terlambat.” gumam Pang Niu dengan wajah sedih melihat ayahnya yang lemah dipangkuannya.
“Ayah! Tidak....” Pang Niu meraung dengan keras sambil memeluk ayahnya Pang Chu di pangkuannya. Dia merasa sedih dengan kepergian ayahnya. Melihat hal itu para pengawal kerajaan berlutut di depannya, dan berusaha untuk mengambil jasad Pang Chu dengan tangan mereka.
Para pengawal kini memangku jasad Pang Chu dan juga mengambil lengannya yang terpotong untuk digabungkan dengan jasadnya itu.
Pang Niu dengan wajah gelap penuh kesedihan menatap tubuh ayahnya yang telah dipangku oleh para pengawal kerajaan. Sorot mata Pang Niu berubah menyala, giginya gemeretak geram melihat kematian ayahnya di depan matanya. Dia juga melihat sendiri wajah pembunuhnya itu, namun dia tidak bisa mengambil tindakan apa-apa.
Pang Niu bangkit berdiri dan menoleh ke arah kepergian Baihu. “Aku Pang Niu, anak dari Pang Chu bersumpah akan mencari pembunuh ayahku dan mengambil nyawanya. Hutang nyawa dibayar nyawa.” Teriaknya dengan lantang sambil mengerahkan kekuatannya dengan hawa membunuh.
__ADS_1
Para pengawal pasukan kerajaan yang selalu menyertainya terlihat bergidik menyaksikan wajah Pang Niu yang sedang dilanda kemarahan.
“Semuanya, sebarkan perintahku untuk memeriksa seluruh pelosok ibukota dan sekitarnya untuk mengejar pembunuh itu. Aku sendiri yang akan membunuhnya dengan tanganku ini.”
“Baik Yang Mulia!” sahut dua orang pelayan pribadi yang selalu mendampingi Permaisuri Pang Niu.
Pang Niu lalu mengajak seluruh pengawalnya kembali untuk mempersiapkan upacara pemakaman ayahnya Pang Chu. Tak lupa juga para pengawal itu membawa jasad Zhang Mou yang terbunuh hari itu.
Istana Kerajaan Salju Utara yang telah dikuasai oleh bangsa Buke tampak berkabung dengan kematian dua orang penasehat mereka. Pang Chu dan Zhang Mou yang keduanya merupakan orang penting atas kemenangan bangsa Buke menyerang kerajaan Salju Utara.
Di aula berkabung, terlihat Permaisuri Pang Niu yang duduk sendiri di singgasananya dengan wajah muram karena kesedihannya. Dia menatap ke arah ayahnya Pang Chu dengan hati gundah dan menggelora karena dendam.
Singgasana raja tampak kosong karena Raja Mao Da tengah kembali ke wilayah luar bagian barat untuk mengurusi segala sesuatunya dengan para tetua bangsa Buke. Sedangkan permaisurinya, Pang Niu diminta untuk memimpin sementara ibukota ini didampingi oleh ayahnya Pang Chu dan Zhang Mou. Adapun juga beberapa jendral yang ditinggalkan di dalam ibukota untuk menjaga Istana kerajaan dari serangan musuh.
Kini setelah kematian Pang Chu dan Zhang Mou, beberapa jendral pasukan yang tersisa merasa bersalah pada kedua penasehat itu dan juga takut akan serangan musuh yang tiba-tiba menyerang mereka. Sehingga mereka ingin segera untuk memberiahukan berita ini kepada Raja Mao Da.
Mereka telah mengirimkan utusan menuju kerajaan bangsa Buke di wilayah luar bagian barat menemui Raja Mao Da dan melaporkan situasi yang terjadi di ibukota kerajaan Salju Utara.
Namun yang tidak disangka oleh mereka bahwa utusan itu terpergok oleh para pasukan dari kerajaan salju utara yang telah bergerak menuju ibukota kerajaan dan dibunuh oleh mereka. Sehingga situasi dari ibukota kerajaan Salju Utara tidak pernah tersampaikan kepada Raja Mao Da.
“Minggir! Keluar semua orang dari dalam rumah ini!” Teriak para pengawal pasukan kerajaan bangsa Buke saat memeriksa rumah-rumah penduduk.
“Kami akan membunuh dan menghukum mereka yang menyembunyikan para pembunuh.”
__ADS_1
Di ibukota kerajaan Salju Utara, para pengawal kerajaan bangsa Buke segera bertindak memeriksa setiap sudut bangunan di ibukota kerajaan untuk mengejar dan menangkap pembunuh Pang Chu sesuai perintah dari permaisuri Pang Niu.
Seluruh isi ibukota kerajaan Salju Utara menjadi geger oleh perintah dari permaisuri Pang Niu tersebut dan tidak ada yang berani melawan perintah itu.