
Jendral Liang Guo tersenyum saat melihat Baihu telah terkepung oleh puluhan prajuritnya dan masih ada ratusan lagi prajurit di belakangnya.
“Hehehe... menyerahlah nak agar kami bisa menggantungmu di ibukota kerajaan untuk contoh bagi rakyat yang melawan kami,” kata jendral Liang Guo.
“Ayo lanjutkan. Majulah kalian bersama-sama” Baihu menantang mereka. Baihu mengeluarkan jurus tertinggi dari Sembilan Semesta, Kuasa Sejati. Kekuatannya melebihi Matahari dan Bulan Bersatu dalam pertahanan.
Daya pertahanan Baihu meningkat, meskipun serangannya melemah namun dia tidak akan mudah dirobohkan oleh mereka. Baihu menghajar prajurit yang berada di sebelahnya dan mengambil tombak mereka. Lalu dia mengamuk menggunakan tombak ditangannya menusuk, memukul prajurit hingga tewas.
Kekuatan Baihu seperti tiada habisnya membuat prajurit merasa ngeri melihatnya.
“Sial, anak ini seperti harimau yang mengamuk menghancurkan pasukanku,” gumam jendral Liang Guo.
Prajurit tidak ada yang berani mendekati Baihu, namun Baihu justru mengejar mendekati mereka. Mereka benar-benar tidak menyangka seorang anak tidak mengenal takut menghadapi mereka yang jumlahnya sisa ratusan prajurit.
Senjata prajurit yang menusuk dan menebas Baihu semuanya patah dengan kekuatan Kuasa Sejati tubuhnya seperti plat baja tidak bisa ditembus oleh senjata lawan.
Prajurit jendral Liang Guo semakin lama semakin berkurang dan mayat-mayat mulai bertumpukan di sekitar Baihu. Jendral Liang Guo masih bersembunyi di belakang para prajuritnya.
“Kota Langsang telah jatuh!” Tiba-tiba prajurit berkuda datang dari arah kota Langsang menuju ke hutan itu.
Tampak para pendekar dari sekte Ming dan sekte Kunlun menaiki kuda menyerang pasukan jendral Liang Guo dari arah belakang mereka. Wajah Jendral Liang Guo berubah gelap mendengar teriakan dari arah kota Langsang.
Para prajurit yang tersisa juga merasa semangat mereka menurun mendengarkan teriakan tersebut.
“Kota Langsang telah jatuh! Menyerahlah!” Teriakan orang-orang dari sekte Ming dan Kunlun yang telah berhasil menjatuhkan kota Langsang.
“Jendral, Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya seorang prajurit pada jendral Liang Guo.
Jendral Liang Guo sendiri bingung harus melakukan apa. Menyerang ke arah kota Emas dengan sisa kekuatan sama dengan mati. Kembali ke kota Langsang juga sama saja dengan mati. “Sialan.” Geramnya sambil menggertakkan gigi.
“Bunuh mereka semua demi kota Langsang!” teriak Jendral Liang Guo membakar kembali semangat pasukannya.
__ADS_1
Mendengar itu, para prajurit itu melanjutkan menyerang ke arah Baihu dan juga sebagian menyerang orang-orang sekte Ming dan Kunlun yang datang dari arah belakang mereka.
Baihu tidak tinggal diam, kini dia mengejar jendral Liang Guo. Dengan tombak ditangannya, dia menyerang Liang Guo lalu melempar tombak tersebut ke arahnya.
Jendral Liang Guo berkelit dari terjangan tombak Baihu, namun dia tidak menduga Baihu telah bergerak lebih cepat dan sudah berada di depan Jendral Liang Guo.
Aaaakhh...
Jendral Liang Guo merasakan telapak tangan Baihu menghantam dadanya dengan cepat dan telak. Jendral Liang Guo terlempar hingga menabrak pohon di belakangnya.
Baihu tidak menghentikan serangannya, dia tidak ingin jendral Liang Guo mendapat waktu untuk menarik nafas.
BUGH... DESHHH...
Pukulan terakhir Baihu membuat mata jendral Liang Guo melotot, tulang dadanya remuk dan organ dalamnya hancur. Pohon di belakang punggungnya hancur terkena energi yang menembus dari tubuh Liang Guo.
Jendral Liang Guo mati mengenaskan dengan dada hancur dan tubuhnya terkulai ambruk ke tanah.
“Kami menyerah” kata mereka dengan wajah muram terkulai lemas karena kelelahan.
Kemudian tampak Li Yan telah datang bersama bantuan dari kota Emas. Namun mereka merasa tenang karena peperangan telah berakhir dan Baihu tidak terluka.
Mereka lalu mengirimkan prajurit musuh itu ke kota Emas bersama para pendekar dari sekte Ming dan sekte Kunlun untuk bergabung di kota Emas.
Baihu berhasil memenangkan kota Langsang dan sekaligus membunuh jendral Liang Guo dengan tangannya.
Berita ini segera menyebar ke seluruh wilayah kerajaan. Kerajaan Pesisir Laut Selatan berusaha mengambil kesempatan untuk menduduki beberapa kota di wilayah perbatasan kerajaan Gurun Barat.
*****
Raut wajah Raja Gurun Barat tampak berubah menjadi kelam, dia sangat geram mendengar kekalahan dari jendral Liang Guo dan mengakibatkan kota Langsang jatuh ke tangan Baihu.
__ADS_1
“Zhang Wu, panggil Guru Merah sekte misterius kemari,”Perintah Raja Gurun Barat.
“Baik ayah” sahut Zhang Wu yang dengan sigap melaksanakan perintah ayahnya.
Beberapa jam kemudian tampak Zhang Wu datang ditemani oleh seorang lelaki tua dengan langkah tenang dan tangan menyilang di punggungnya. Pakaian yang dikenakan oleh lelaki tua itu berwarna merah seluruhnya.
“Ada apa Yang Mulia memanggilku?” Tanya Guru Merah itu sambil memberi hormat pada Raja Gurun Barat.
“Guru, maaf telah mengganggu waktu istirahatmu. Pergilah ke kota Emas untuk membunuh anak bernama Baihu,” perintah Raja Gurun Barat pada Guru Merah
Guru Merah menggelengkan kepalanya, “Tidak apa Yang Mulia. Aku siap melaksanakan tugas,” sahut Guru Merah sambil memberi hormat.
Guru Merah berasal dari sekte misterius yang spesialis membunuh lawannya dengan keahlian racun miliknya. Dia juga memanggil empat orang muridnya dan mengajak mereka pergi ke kota Emas. Keempat murid mereka itu adalah Kelabang Merah, Ular Kobra, Kalajengking Hitam dan Katak Belang.
Mereka berlima menggunakan kuda untuk pergi ke kota Emas.
Sebelum pasukan dari kota Beidu dan kota Mengsu tiba di kota Emas, mereka telah mendengar kota asal mereka telah dikepung dan dikuasai oleh orang-orang dari sekte besar. Ini membuat mental para prajurit itu jatuh, terutama yang memiliki keluarga di kota tersebut.
Namun jendral Mao Shan dan jendral Zhu Cen memahami strategi dari lawannya, mereka membuat semangat para pasukan kembali berkobar.
“Huh... kalian pikir kami pasukan baru seperti kalian,” gumam Jendral Zhu Cen yang telah tiba di perbatasan kota Emas.
Jendral Zhu Cen memerintahkan pasukannya untuk mendirikan tenda sambil menunggu pasukan dari dua jendral lainnya.
Tiba-tiba datang seorang pengintai yang menghadap pada jendral Zhu Cen.
“Jendral, kami mendengar dan kemudian melihat sendiri bahwa pasukan jendral Liang Guo telah ditawan dan banyak yang terbunuh dari peperangan melawan orang-orang dari sekte kota Emas.
Jendral Zhu Cen berdiri dari tempat duduknya, “Sialan. Anak bernama Baihu ini memang pantas mati,” Zhu Cen mengepalkan tangan kanannya.
Sementara jendral Mao Shan dari kota Beidu di perbatasan wilayah utara belum tiba di perbatasan kota Beidu yang berada disebelah utara mereka. Karena hari telah malam, jendral Mao Shan tampak berdiri sambil memerintahkan pasukannya unutk mendirikan tenda jauh di luar perbatasan kota Emas.
__ADS_1
Sementara itu di kota Emas, Baihu dan teman-temannya telah melihat kemah dari jendral Zhu Cen yang berada di perbatasan kota.