BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 94 | Penyerangan bangsa Lato ke kerajaan Pesisir Laut Selatan


__ADS_3

Zhang Mou menoleh ke arah datangnya suara Yang Nie. Dia pun segera berdiri dan memberi hormat padanya. “Aku masih belum bisa tidur nyonya. Aku belum bisa menyesuaikan diri dengan kondisi udara di utara ini,” sahut Zhang Mou mencari alasan karena tidak bisa tidur memikirkan dendamnya.


Yang Nie berjalan mendekati api unggun itu dan juga turut menghangatkan tubuhnya di depan api itu. “Aku pun sejak kematian suamiku menjadi sulit untuk memejamkan mata,” sahut Yang Nie dengan wajah muram.


“Mengapa nyonya tidak kembali ke ibukota kerajaan? Bukankah Yang Mulia Raja adalah kakak nyonya?” tanya Zhang Mou.


“Jangan sebut dia! Dia bukan kakakku!” teriak Yang Nie ketus dengan wajah merah.


Wajah Zhang Mou terkejut mendengar teriakan Yang Nie dengan nada ketus. Dia tidak menyangka Yang Nie berseberangan dengan kakaknya yang menjadi Raja di Kerajaan Salju Utara.


“Seorang kakak tidak akan membiarkan adiknya menjadi umpan untuk pasukan lawan” lanjut Yang Nie dengan wajah sedih. Yang Nie lalu menceritakan keadaannya kepada Zhang Mou dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Namun Yang Nie berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya. Dia kemudian pamit untuk pergi sebelum air matanya tumpah tak terbendung di depan Zhang Mou.


Mendengar hal itu Zhang Mou menjadi mengerti akan keadaan yang dihadapi oleh Yang Nie. Meskipun dia bukanlah orang baik, namun dalam hal keluarga dia tidak pernah meninggalkan keluarganya. “Ternyata Yang Kui bukanlah orang yang baik” batinnya kesal.


*****


Sementara itu Baihu yang pergi ke wilayah luar dataran tengah bagian barat untuk mengejar Zhang Mou tidak berhasil menemukannya. Dia pun kembali ke kerajaan Gurun Barat untuk bertemu teman-temannya sebelum melanjutkan pencariannya.


Melihat kedatangan Baihu, teman-temannya terlihat gembira terutama Wang Mei, Yang Zi dan juga Li Yan. Baihu menyipitkan matanya karena tidak melihat Zhou An diantara mereka. “Kemana nona Zhou?” tanya Baihu pada ketiga temannya itu.


“Zhou An meminta ijin pergi ke Kerajaan Pesisir Laut Selatan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.” sahut Yang Zi.

__ADS_1


Baihu menganggukkan kepalanya. Zhou An memang hanya Duta Kerajaan Pesisir Laut Selatan di wilayah Kerajaan Gurun Barat. Jadi wajar jika dia harus kembali berkumpul bersama keluarganya di Kerajaan Pesisir Laut Selatan.


“Ceritakan apa yang kamu alami di wilayah luar Baihu.” pinta Wang Mei padanya.


“Kakak Wang, biarkan aku bercerita sambil menikmati masakanmu,” sahut Baihu yang sudah merindukan masakan buatan dari Wang Mei yang selama ini memasak untuk dirinya.


Wang Mei tersenyum mendengar hal itu. Dia pun segera pergi ke dapur untuk menyiapkan masakan untuk Baihu dibantu oleh Li Yan.


Baihu kemudian duduk bersama Yang Zi membahas tentang jalannya pemerintahan selama kepergiannya ke wilayah luar. Yang Zi melaporkan tentang perkembangan kerajaan Gurun Barat selama kepergian Baihu.


Setelah mendengar penjelasan Yang Zi, Baihu merasa lega. Dia kemungkinan masih terus akan mencari keberadaan Zhang Mou sehingga dia merasa lega meninggalkan kerajaan Gurun Barat setelah Yang Zi membantunya untuk mengurus kerajaan itu dengan baik.


Beberapa saat kemudian Wang Mei muncul bersama Li Yan membawakan beberapa menu masakan untuk mereka nikmati bersama. Sambil menikmati makanan yang dimasak oleh Wang Mei, Baihu pun menceritakan pengalamannya selama berpetualang di wilayah luar dataran tengah.


Baihu tidak memperhatikan perubahan wajah ketiga temannya itu. Dia membayangkan wajah Putri Ling Ling dalam benaknya sambil menikmati makanannya. “Cantik. Putri Ling Ling itu sangat cantik.” sahut Baihu dengan acuh tak acuh.


Suasana makan seketika berubah menjadi sunyi. Tampak ketiga wajah teman-temannya itu menjadi gelap karena perkataan Baihu. Baihu tidak memperhatikannya, dia masih terus menunduk menikmati makanannya.


“Yang Mulia, Putri Zhou An datang untuk bertemu-“ teriak seorang penjaga istana. Namun kata-katanya segera terpotong oleh teriakan Putri Zhou An.


“Kakak Wang, tolong lah kami,” teriak Putri Zhou An memasuki ruang makan itu secara tiba-tiba.

__ADS_1


Zhou An terkejut ketika melihat Baihu duduk menikmati makanan di sana. Dia segera berlarian menghampiri dan memeluknya. “Baihu, aku senang kamu akhirnya datang.” teriaknya sambil memeluk tubuh Baihu.


Ketiga mata teman-teman Baihu berkedut bersamaan dengan irama yang sama melihat hal itu. Mereka terlambat dari Zhou An yang terlebih dahulu mengambil kesempatan memeluk Baihu.


Baihu mendorong pelan tubuh Zhou An dan menenangkannya. “Duduklah dulu Putri Zhou!  Apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat cemas?” tanya Baihu padanya. Putri Zhou An pun duduk di samping Baihu dan mulai berbicara dengan mata berkaca-kaca.


Putri Zhou An pulang ke kerajaannya setelah mendapatkan surat dari ayahnya untuk kembali ke istana. Setibanya di istana kerajaan Pesisir Laut Selatan, Zhou An bertemu dengan para tamu dari bangsa Lato yang berada di seberang Laut Selatan.


Para pedagang bangsa Lato selama ini telah banyak menetap di wilayah kerajaan Pesisir Laut Selatan. Mereka telah membentuk kekuatan sendiri di dalam kerajaan Pesisir Laut Selatan dan mulai menguasai perekonomian di kota-kota pesisir Laut Selatan.


Tamu yang ditemui oleh Zhou An adalah pangeran dari kerajaan bangsa Lato yang datang ditemani oleh beberapa jendralnya. Saat melihat kecantikan putri Zhou An, pangeran bangsa Lato yang bernama La Yuan ingin meminangnya untuk menjadi permaisuri kerajaan bangsa Lato.


Namun Putri Zhou An menolak lamaran itu dengan alasan sudah memiliki pasangan. Hal itu membuat pangeran kerajaan bangsa Lato itu menjadi marah dan merasa harga dirinya terinjak oleh penolakan Zhou An. Dia pun segera memerintahkan pasukan bangsa Lato yang telah lama bersembunyi di kerajaan Pesisir Laut Selatan untuk merebut kekuasaan wilayah kerajaan Pesisir Laut Selatan.


Ayah Zhou An yang telah terlena selama ini tidak menyangka perkembangan bangsa Lato di wilayah kerajaannya begitu besar. Sehingga dia tidak bisa melakukan perlawanan saat bangsa Lato berhasil menduduki setiap kota besar di wilayah kerajaan Pesisir Laut Selatan.


Putri Zhou An berhasil pergi menyelamatkan diri keluar dari wilayah kerajaan Pesisir Laut Selatan, namun ayah dan ibunya telah di tangkap dan ditawan oleh mereka. Dan ibukota kerajaan Pesisir Laut Selatanpun runtuh dan dikuasai oleh bangsa Lato.


Mendengar cerita Putri Zhou An, Baihu dan teman-temannya menjadi geram atas penyerangan bangsa Lato itu. Mereka mengutuk bangsa Lato yang tidak tahu berterima kasih. Bangsa Lato telah diberikan kesempatan untuk hidup dan tinggal di wilayah kerajaan Pesisir Laut Selatan. Tetapi mereka justru membangun kekuatan di semua wilayah kerajaan Pesisir Laut Selatan dan sekarang menyerang kerajaan Pesisir Laut Selatan.


Putri Zhou An merasa sedih karena dia menganggap dirinyalah penyebab dari penyerangan itu.

__ADS_1


Baihu menggelengkan kepalanya. ”Bangsa Lato memang sudah sejak awal menargetkan untuk menyerang kerajaan Pesisir Laut Selatan. Hal ini bisa dilihat dari kekuatan yang telah dibangun olehnya selama ini secara tersembunyi. Lamaran yang ditolak itu hanya alasan baginya untuk menyerang kerajaanmu” sahut Baihu.


__ADS_2