BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 141 | Pertunjukan bela diri


__ADS_3

“Selamat Yang Mulia Baihu atas pernikahan tuan. Kami dari kerajaan Matahari Terbit datang untuk mewakili ayahanda yang tidak bisa menghadiri upacara tuan.” Liang Jun memberi hormat kepada Baihu dengan senyuman menyeringai.


Baihu segera berdiri dan juga memberi hormat kepada Liang Jun. “Oh Putra Mahkota, sungguh merupakan suatau kehormatan tuan bisa hadir di upacara kami”


Baihu kemudian mempersilahkan kepada putra mahkota Liang Jun dan para pengikutnya untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Mereka pun duduk di tempat itu sambil melihat suasana perjamuan itu.


Mata Putra Mahkota Liang Jun melihat ketujuh istri dari Baihu yang sangat cantik-cantik, dalam hatinya merasa geram dengan hal itu. Dia yang selama ini berusaha mengejar Li Yan dari sekte Bulan Es namun gagal karena dia lebih memilih Baihu sebagai selirnya.


Putra Mahkota menggertakkan giginya melihat ke arah Li Yan yang tampak bahagia memilih menjadi selir daripada permaisuri dirinya. Matanya juga melihat ke arah Zhou An yang juga pernah dia ajukan lamaran namun ditolak olehnya dengan alasan masih belajar di sekte Matahari Bulan.


“Yang Mulia, kami dari kerajaan Matahari Terbit biasanya mengadakan pertunjukan bela diri pada saat hari pernikahan. Bagaimana dengan pernikahan Yang Mulia, apakah akan ada pertunjukan bela diri?” kata putra mahkota tiba-tiba


Seluruh orang di ruangan itu berbisik-bisik mendengar kata-kata Putra Mahkota kerajaan Matahari Terbit. Namun mereka memang pernah mendengar tentang kebiasaan dari kerajaan Matahari Terbit yang selalu mengadakan pertunjukan bela diri pada saat upacara pernikahan di tempat mereka.


Namun ini bukan wilayah kerajaan Matahari Terbit, bahkan adat istiadat di sini pun berbeda dengan di kerajaan Matahari Terbit. Sehingga banyak yang membicarakan pertanyaan dari putra Mahkota itu.


“Tuan-tuan, kami di kerajaan Matahari Terbit biasa memberikan kesempatan kepada para mempelai pria dan wanita untuk unjuk kebolehan mereka dalam bela diri. Hal ini untuk menghormati para tamu.” jelas putra mahkota Liang Jun menambahkan.


Baihu tersenyum mendengar kata-kata putra mahkota Liang Jun, dia bukan orang bodoh yang tidak mengerti maksud dari kata-katanya itu. Namun Baihu tidak menolaknya, diapun berdiri untuk menyetujui pertunjukan bela diri tersebut.


“Baiklah, karena putra mahkota telah berkenan datang untuk menghadiri pernikahan kami. Tentu saja kami tidak akan menolak untuk memuaskan kedatangan tuan putra mahkota.” sahut Baihu dengan senyuman ramah.


Baihu kemudian berjalan mendekati tempat putra mahkota lalu memberi hormat kepadanya. Tolong putra mahkota sebutkan bagaimana adat istiadat di kerajaan Matahari Terbit dan bagaimana mengaturnya.” kata Baihu kemudian.


Putra mahkota tersenyum setelah merasakan umpan yang dilepaskannya telah mengenai Baihu. Dia pun ingin agar Baihu mengetahui kekuatan dari kerajaan Matahari Terbitnya.

__ADS_1


“Di Kerajaan Matahari Terbit, mempelai pria atau mempelai wanita bersedia untuk melayani para penantangnya yang ingin menguji kekuatan dari mempelai yang menikah saat itu. Namun unjuk bela diri ini tidak boleh sampai melukai bahkan menjadi dendam bagi kedua belah pihak. Bagaimanapun ini adalah pertunjukan saja.”


Baihu menganggukkan kepalanya mendengarkan perkataan dari putra mahkota. Dia memahami maksudnya. “Jadi seperti itu. Baiklah kita bisa mulai kapan saja.”


Baihu kemudian pergi ke tengah-tengah tempat yang cukup luas untuk menunjukkan kebolehannya bagi mereka yang ingin menantang para mempelai. Baihu membuka lebar-lebar kedua tangannya sambil mempersilahkan bagi mereka yang ingin memberikan pertunjukan dalam upacara pernikahannya.


Tentu saja semua undangan yang hadir mengetahui kekuatan raja mereka dan tidak ada satupun yang menyangsikan dan ingin lancang untuk melawannya meskipun ini hanya sebuah pertunjukan.


Mata Putra Mahkota berkedut melihat orang-orang di perjamuan yang berdiam diri tidak menyambut pertunjukan tersebut.


“Baiklah, jika demikian kami dari kerajaan Matahari Terbit akan memberikan contoh bagaimana pertunjukan ini berlangsung.”


Wanita bernama Lin Wen segera maju ke depan sesuai permintaan saat putra mahkota mengedipkan mata kepadanya. Lin Wen kemudian berjalan menuju ke hadapan Baihu dan memberi hormat padanya.


“Yang Mulia, hamba Lin Wen bermaksud untuk memohon petunjuk darimu.” kata Lin Wen dengan hormat namun tatapan matanya ingin menyelidiki kekuatan Baihu.


“Silahkan nona Lin,” sahut Baihu mempersilahkan Lin Wen untuk menguji beberapa jurus miliknya.


Lin Wen segera bersiap untuk melakukan serangan ke arah Baihu dengan mengerahkan seluruh kekuatan kultivasi miliknya. Energi alam Langit tampat menyelimuti tubuh Lin Wen dan membuatnya percaya diri bisa mengalahkan Baihu.


Mata putra mahkota Liang Jun pun merasa senang karena dia yakin dengan kemampuan kakak seperguruannya yang bahkan melebihi dirinya.


Baihu tidak banyak bicara dan bergerak. Dia hanya berdiri di tempatnya menunggu Lin Wen untuk bergerak menyerang dirinya.


Mata seluruh undangan geram melihat tingkah putra mahkota dan mencibir dirinya yang tidak tahu tingginya langit.

__ADS_1


“Orang-orang dari kerajaan Matahari Terbit berniat untuk mempermalukan Yang Mulia.”


“Benar, tapi mereka sendiri yang nantinya akan malu.” bisik orang-orang di perjamuan itu.


“Maaf Yang Mulia, aku tidak akan menahan diri.” ujar Lin Wen sebelum mulai menyerang.


Baihu menganggukkan kepalanya mempersilahkan Lin Wen untuk segera mulai. Lin Wen berkelebat dengan kecepatan tinggi dan mengerahkan telapak tangannya menyerang ke arah dada dan wajah Baihu.


Baihu tetap tampak tenang dan tersenyum melihat gerakan Lin Wen, namun saat serangan Lin Wen hampir mengenai Baihu. Tiba-tiba bayangan Baihu menghilang dari depannya dan membuat mata Lin Wen terkejut karenanya.


Guru Lin Wen, Xiang Wen juga terkejut setelah melihat gerakan Baihu yang hampir tidak terlihat olehnya. Alis matanya mengkerut merasakan keberadaan Baihu yang tiba-tiba sudah berada di samping kanan Lin Wen.


Lin Wen yang tidak melihat gerakan Baihu merasakan adanya angin dari sebelah kanannya. Kemudian dia berbalik menyerang ke arah kanan, namun bayangan Baihu menghilang kembali dan berada di belakangnya.


Baihu hanya memperlihatkan kecepatannya dengan kedua tangan masih menyilang di punggungnya. Lin Wen yang merasakan Baihu berada di belakangnya kembali menyerang ke belakang punggung namun Baihu telah menghilang sekejap dan berada di atas kepalanya.


“Di atas!” teriak guru Xiang Wen ketika dia menyadari Baihu telah berada di atas kepala muridnya Lin Wen.


Keringat dingin mengalir dari sekujur tubuh Lin Wen ketika dia menoleh ke atas dan hawa membunuh dipancarkan oleh Baihu ke arahnya dan memberikan tekanan kepada Lin Wen.


Lin Wen bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena tekanan yang diberikan oleh Baihu padanya. Orang-orang disekitarnya tidak mengetahui hal itu. Hanya Lin Wen yang mengetahui apa yang telah terjadi.


Lin Wen akhirnya mengendurkan kekuatannya dan menundukkan kepala kepada Baihu yang perlahan telah turun dan berdiri di depannya.


“Yang Mulia, hamba mengaku kalah.” ujar Lin Wen sambil memberikan hormatnya.

__ADS_1


Wajah Putra Mahkota tampak gelap melihat kejadian itu. “Kalah? Bagaimana bisa kalah?” Dia tidak mengerti bahwa jika Baihu bermaksud melukai Lin Wen, dia sudah terluka bahkan terbunuh beberapa kali.


Sementara itu kekuatan tekanan Baihu tidak bisa dilawan oleh Lin Wen, sehingga dia pun akhirnya mengakui kekuatan Baihu.


__ADS_2