BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 72 | Dipermalukan lagi


__ADS_3

Zhou An menundukkan kepalanya, dia tidak mempedulikan omongan keluarga nya yang lain. Mereka tidak akan mengerti perasaan yang dirasakan oleh Zhou An sendiri. Mereka hanya mempedulikan kekuatan kerajaan akan bertambah kuat dengan menjalin hubungan dengan kerajaan Gurun Barat.


Zhou An merasa ingin menangis karenanya, dia tidak menyukai dirinya terlahir di keluarga kerajaan dan harus diatur seperti itu.


“An’er, besok keluarga kerajaan Gurun Barat akan datang kemari. Putra Mahkota Zhang Mou sendiri yang datang menemani adiknya Zhang Ji untuk maksud melamarmu,” kata ayahnya kembali.


Seperti disambar petir, kedua keluarga kerajaan menentukan sendiri nasibnya untuk menikah dengan Zhang Ji, lelaki yang sangat tidak disukainya karena terlalu sombong di sekte Matahari Bulan.


“Ayah, Ibu. Aku benar-benar tidak menyukai Zhang Ji. Aku telah menyukai orang lain,” sahut Zhou An sambil pergi meninggalkan aula kerajaan itu


“An’er!” teriak ayahnya memanggil namun Zhou An tidak mempedulikannya. Air matanya hampir menetes dan dia tidak ingin kedua orang tuanya melihat kelemahannya itu.


Zhou An kembali ke dalam kamarnya dengan hati sedih, dia mengurung dirinya di dalam kamar tersebut. Hatinya benar-benar merasa perih karena paksaan dari keluarga mereka untuk menikahi Zhang Ji.


Wang Mei dan Baihu yang lama menunggu merasa tidak enak hati karena Zhou An tidak kunjung kembali. “Nona, kemana Putri Zhou An?” tanya Wang Mei pada seorang pelayan kerajaan.


“Oh, setelah bertemu dengan Yang Mulia, Putri lalu mengurung dirinya di dalam kamar,” sahut pelayan kerajaan itu.


“Ada apakah dengannya?” Wang Mei tertegun mendengar jawaban dari pelayan kerajaan itu.


Wang Mei dan Baihu merasa tidak enak melanjutkan tinggal lebih lama di istana kerajaan itu. Mereka pun memutuskan untuk pergi meninggalkan istana tersebut.


“Nona, tolong sampaikan pada Putri bahwa kami akan pergi. Terima kasih atas jamuan ini,” pesan Wang Mei.


Mereka pun pergi meninggalkan istana kerajaan itu sementara pelayan itu memberitahukan hal itu pada Putri Zhou An. Mendengar hal itu Putri Zhou An tersadar. Dia melupakan bahwa dirinya tengah mengajak mereka ke istana kerajaan itu. Zhou An lalu bergegas keluar kamar untuk menemui mereka.


Melihat Wang Mei dan Baihu bersama harimau Sunu berjalan di tengah kota setelah keluar dari istana kerajaan, Zhou An segera memanggilnya. “Guru, Baihu. Tunggulah!,” teriaknya.


Wang Mei dan Baihu menoleh ke arah datangnya Zhou An. Tampak wajah Zhou An terlihat sembab karena bekas menangis.


“Guru, Baihu. Maafkan aku. Aku melupakan kalian,” katanya dengan wajah muram.


“Tidak apa nona Zhou. Kami memang akan meneruskan perjalanan kami,” sahut Wang Mei sambil tersenyum padanya.

__ADS_1


“Guru, ajaklah aku bersama kalian,” pinta Zhou An dengan wajah sedih sambil menundukkan kepalanya.


Wang Mei dan Baihu merasa ada yang salah pada Zhou An. Dia tadinya terlihat sangat periang dan gembira, namun setelah dipanggil oleh ayahnya dia berubah menjadi muram dan bersedih.


“Ada apa nona Zhou?” Tanya Wang Mei kembali.


“Aku-Aku tidak ingin menikahi Zhang Ji,” sahutnya sambil membenamkan wajahnya di dada Wang Mei sambil terisak.


Wang Mei tertegun. Dia mengerti perasaan Zhou An karena dia juga mengalami hal yang sama seperti dirinya.


Wang Mei lalu mengajak Zhou An mencari tempat duduk untuk bercerita sementara Baihu tampak bermain bersama harimau Sunu.


Zhou An lalu menceritakan tentang pertunangannya yang dilakukan sepihak tanpa persetujuan dirinya dan bermaksud untuk menikahkannya dengan Zhang Ji, adik kandung Zhang Mou dari kerajaan Gurun Barat. Dan mengatakan bahwa besok mereka akan datang untuk melamar dirinya.


Wang Mei terkejut mendengar hal itu, Zhang Mou melamar dirinya sedangkan adiknya Zhang Ji melamar Zhou An. Sungguh suatu kebetulan sekali pikirnya.


“Aku tidak menyukai Zhang Ji karena aku telah menyukai orang lain,” sahut Zhou An sambil menatap ke arah Baihu.


Baihu yang melihat dirinya ditatap oleh kedua wanita itu hanya tersenyum pada mereka, lalu kembali bermain bersama Sunu.


“Ah, Baihu. Mengapa semua wanita jadi menyukai dirimu?” Kepala Wang Mei menjadi pusing memikirkan hal itu.


Memikirkan hal itu membuat Wang Mei merasa sesak, “Bertambah satu lagi sainganku.”


Baihu yang sedang bermain bersama Sunu tiba-tiba tengkuknya merasa dingin dan alis matanya berkedut. “Aneh, apa ada orang yang membicarakanku?” gumamnya.


“Guru, aku tahu guru tentu bermaksud pergi ke kediaman sekte Matahari Bulan bersama Baihu. Bolehkah aku ikut bersama kalian?” tanyanya dengan wajah berharap.


Sebagai wanita yang menyukai Baihu, Wang Mei tentu tidak ingin ada wanita lain yang berada di dekat orang yang disukainya. Tetapi sebagai guru yang juga senasib dengannya dalam hal perjodohan, dia tidak tega melihat kesedihan muridnya itu.


“Baiklah. Kami memang akan pergi ke sekte Matahari Bulan. Kamu bisa ikut bersama kami untuk bertemu dengan ketua sekte Shang Chi,” sahut Wang Mei sambil menghela nafasnya.


“Terima kasih Guru. Tunggulah sebentar disini, aku akan segera kembali,” kata Zhou An yang kemudian bergegas kembali ke istana kerajaan untuk menulis pesan dan meninggalkannya di dalam kamarnya.

__ADS_1


“Kakak Wang, ada apa dengan nona Zhou An?” Tanya Baihu pada Wang Mei.


Wang Mei mendengus mendengar pertanyaan Baihu. “Tanyakan saja pada dirimu sendiri,” sahut Wang Mei sewot meninggalkannya.


“Aneh. Kenapa aku harus bertanya pada diriku?” Baihu sungguh tidak mengerti.


Beberapa menit kemudian, Zhou An telah bersiap untuk berangkat bersama Wang Mei dan Baihu untuk kembali ke kediaman sekte Matahari Bulan. Mereka pun pergi melanjutkan perjalanan ke arah utara ibukota kerajaan Pesisir Laut Selatan.


Keesokan harinya, istana Kerajaan Pesisir Laut Selatan gempar karena surat yang ditinggalkan oleh Zhou An di dalam kamar yang mengatakan bahwa dia kembali ke kediaman sekte Matahari Bulan bersama gurunya Wang Mei dan Baihu.


Mata Raja Pesisir Laut Selatan dan istrinya berkedut membaca surat dari anaknya itu. “Dasar anak manja,” teriak Raja dengan kesalnya.


“Yang Mulia, Putra Mahkota Zhang Mou dan pangeran Zhang Ji telah tiba bersama rombongan.” Seorang penjaga melaporkan hal itu pada Raja Pesisir Laut Selatan.


“Ah, Bagaimana sekarang Raja?” Tanya istrinya disamping raja dengan cemas.


“Aku juga bingung untuk menjawab hal itu,” Raja menghela nafasnya berusaha menenangkan diri dari kemarahan pada anaknya.


Raja Pesisir Laut Selatan beserta istri dan keluarga kerajaan segera menemui Putra Mahkota dan pangeran Zhang Ji di aula kerajaan.


“Yang Mulia, dimana Putri Zhou An?” tanya Zhang Ji karena tidak melihat kehadiran orang yang disukainya itu.


Raja Pesisir Laut Selatan lalu memberikan surat dari Zhou An kepada Zhang Ji, dia pun menghela nafasnya. “Aku tidak bisa mendidik anakku dengan benar. Aku terlalu memanjakannya,” sahut Raja dengan pelan.


Zhang Ji gemetar membaca surat yang dituliskan oleh Zhou An tersebut. Matanya melotot dan wajahnya menjadi merah padam. Zhang Mou yang melihat perubahan wajah adiknya segera mengambil surat tersebut lalu membacanya.


Wajah Zhang Mou pun berubah menjadi gelap seperti adiknya setelah membaca surat dari Zhou An yang ditulis untuk ayahnya.


“Baihu!” gumam mereka berdua hampir bersamaan.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Zhang Mou lalu berpamitan dan pergi meninggalkan istana kerajaan Pesisir Laut Selatan bersama adiknya Zhang Ji. Kali ini mereka telah benar-benar marah karena hal ini.


Mereka merasa dipermalukan dua kali oleh Baihu. Mereka lalu memerintahkan orang-orang mereka untuk melakukan pengejaran ke utara dan menangkap Baihu dan kedua wanita yang mereka cintai itu.

__ADS_1


“Sun Yang, panggil kedua utusan kiri dan kanan untuk datang menemuiku,” perintah Zhang Mou pada Sun Yang.


Zhang Mou mendirikan perkemahan di luar ibukota kerajaan Pesisir Laut Selatan untuk menunggu orang kedatangan orang yang dipanggilnya.


__ADS_2