BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 114 | Baihu mendengar Zhang Mou berada di utara


__ADS_3

Baihu tidak ingin mengalah dari lelaki tua itu, dia mengeluarkan pedang naga miliknya untuk melawan jurus dari lelaki tua tersebut.


Mata lelaki tua itu terkejut melihat pedang pusaka yang berada di tangan Baihu.


“Pedang yang bagus. Aku harus memilikinya,” batin lelaki tua itu.


Serangan lelaki tua itu semakin gencar, dia tidak lagi menahan diri meskipun lawannya jauh lebih muda darinya.


Namun Baihu yang masih muda juga bukan orang yang mudah untuk di kalahkan. Apalagi dengan menggunakan pedang Naga di tangannya, kekuatan nya menjadi bertambah kuat.


“Sialan, anak ini sungguh berbakat. Di usianya yang muda sudah memiliki kekuatan setinggi ini.”


Hati kecil lelaki tua itu mengagumi Baihu, dia menjadi mengerti mengapa kedua muridnya dikalahkan oleh Baihu karena kekuatan Baihu jelas berada di atas mereka.


Baihu menahan serangan cakar dari lelaki tua yang menyerang ke arah kepalanya dengan ganas menggunakan pedang naganya. Kemudian lelaki tua itu kembali mencakar dengan tangan satunya ke arah dada Baihu yang tampak terbuka.


Baihu melompat ke belakang sambil mengayunkan sabetan pedangnya untuk menghadang cakaran lelaki itu. Merasakan angin dari sabetan pedang, lelaki itu menarik cakarnya lalu mengejar Baihu yang melompat mundur.


Cakar yang mengarah ke dada Baihu diteruskan ke atas menuju tenggorokan Baihu, namun kembali Baihu mengangkat pedangnya memblokir serangan lelaki tua itu.


Beberapa kali serangan lelaki tua itu mengarah ke tubuh Baihu dengan ganas, namun Baihu selalu bisa memblokir serangan itu dengan pedangnya dan membuat lelaki itu menarik kembali cakarnya.


“Lelaki ini semakin lama semakin menggila. Aku harus segera mengakhirinya,” batin Baihu yang segera mengerahkan seluruh kekuatan puncaknya dan mengayunkan jurus pedang Naga ke arah lelaki tua itu.


Sudah ratusan jurus dilancarkan namun tak satupun cakaran lelaki tua itu bisa mengenai Baihu. Hal itu membuat wajah lelaki tua itu merasa kelelahan karena usianya.


Baihu mengetahui kondisi lelaki tua itu yang semakin lelah karena serangannya yang sudah tidak beraturan lagi.


Melihat hal itu, Baihu yang menggunakan pedang naga kini bermaksud untuk balik menyerangnya. Serangan pedang naga Baihu mengunci setiap gerakan dari lelaki tua itu. Tetapi pengalaman lelaki tua itu tidaklah rendah, meskipun lawan menggunakan senjata, lelaki tua itu tidak pantang mundur.


Sambil mengatur nafas, lelaki tua itu tampak kembali bersemangat. Kemudian lelaki tua itu melompat ke belakang untuk mencuri kesempatan mengatur nafas.


Baihu tidak mengejarnya, dan dia memberikan kesempatan pada lelaki tua itu untuk mengatur nafasnya.

__ADS_1


Kemudian Baihu menyimpan senjatanya dan mengerahkan kekuatan Kuasa Sejati dari jurus Sembilan Semesta untuk melawan lelaki tua itu.


“Hehehe... kamu meremehkanku. Kamu bisa mengimbangiku karena pedangmu itu.” Lelaki tua itu terkekeh melihat Baihu menyimpan senjatanya.


“Aku tidak ingin dikatakan menganiaya orang yang lebih tua. Kekuatan fisikmu melemah. Sepertinya tetua sedang sakit. Kenapa memaksakan diri untuk bertarung?”


Baihu tidak mengerti kenapa kematian kedua muridnya dalam peperangan membuat lelaki tua itu ingin membunuhnya. Kedua muridnya itu sendiri yang memilih untuk berperang melawan dirinya.


“Omong kosong!” Lelaki tua itu merasa tersinggung dengan kata-kata mengalah dari Baihu. Dia merasa harga dirinya tersentuh oleh Baihu, meskipun apa yang dikatakan Baihu benar.


Lelaki tua itu terluka selama puluhan tahun dan dia sendiri tidak bisa menyembuhkan dirinya bahkan tabib dewa sekalipun tidak bisa menyembuhkannya.


Bugh! Bugh!


Dua kali cakar lelaki itu berhasil dihantam dengan tinju Baihu. Mata lelaki tua itu terbelalak setelah kedua cakarnya berhasil ditahan dengan telapak tangan Baihu.


Baihu tidak menghentikan serangannya, dia kini mengejar lelaki tua itu hingga lelaki tersebut kembali kewalahan.


Bugh! Bummmm!


Wajah lelaki tua itu tampak berseming tak karuan. Dia menelan darah dengan terpaksa karena yang hendak menetes keluar dari mulutnya.


“Tetua, hentikanlah! Apa tujuanmu sebenarnya?” tanya Baihu.


“Hahaha... kamu memang cerdas. Kedua muridku itu wajar dikalahkan olehmu.


Lelaki tua itu tertawa. “Sejujurnya aku datang kemari setelah kematian kedua orang tuaku.


Di saat mereka sedang asik bertukar pikiran, tampak enam orang berpakaian sekte Wudang datang menghampiri mereka.


Wajah lelaki tua itu berubah ketika melihat datangnya orang-orang dari perguruan sekte Wudang yang bermaksud untuk menemui mereka.


Orang-orang dari sekte Wudang segera menghunus pedang mereka untuk membantu Baihu. “Yang Mulia, kami datang membantumu,” teriak orang Wudang yang memimpin.

__ADS_1


“Yang Mulia?”


Wajah lelaki tua itu menjadi terlihat aneh setelah dia mendengar orang-orang memanggil Shen Long dengan sebutan Yang Mulia


“Apakah kamu raja kerajaan Gurun Barat?” Lelaki tua itu menyipitkan matanya dan menunggu jawaban dari Baihu.


“Benar tetua. Akulah raja kerajaan Gurun Barat,” sahut Baihu singkat.


Mendengar jawaban dari Baihu, lelaki tua itu segera melesat ke arah timur dengan melayang di udara. “Suatu hari aku akan kembali menemuimu Yang Mulia. Aku akan meminta pertanggungjawaban itu.”


Baihu tertegun mendengar perkataan lelaki tua tersebut. Dia merasa lelaki tua itu menyembunyikan sesuatu yang dengan sengaja menyerang dirinya.


“Aah,  sudahlah. Aku akan bertanya kembali suatu saat jika bertemu dengannya lagi.” Baihu kemudian melihat ke arah enam orang murid sekte Wudang yang mendatanginya.


“Yang Mulia, ada suatu hal yang ingin kami sampaikan padamu.”


“Katakan!”


Baihu kemudian mencari tempat yang cukup teduh untuk berbincang. “Yang Mulia, kerajaan Salju Utara dalam kesulitan. Kelompok bangsa dari wilayah luar bagian barat saat ini telah datang dan menduduki setiap kota. Kekuasaan raja Yang Kui semakin kecil dan dikepung oleh para penghuni mogull, mogullian dan juga wudang”


Baihu terkejut mendengar laporan dari orang-orang sekte Wudang.


“Apakah mereka bangsa Buke?” Baihu kembali bertanya pada keenam orang sekte Wudang tersebut.


“Benar Yang Mulia, namun ada satu hal yang akan menarik perhatianmu.”


Baihu penasaran dengan apa yang dimaksud oleh orang-orang dari sekte Wudang itu.


“Yang Mulia, musuhmu Zhang Mou berada di wilayah di utara.” lapor salah satu yang memimpin rombongan ekte itu.


Baihu tertegun mendengar perkataan dari salah satu pemimpin rombongan sekte itu. Dia tidak menyangka Zhang Mou masih berani menginjakkan kakinya di dataran tengah ini. Hal ini membuat mata Baihu semakin bersemangat.


“Baiklah. Aku akan berangkat menuju kerajaan Salju Utara bersama kalian.”

__ADS_1


Baihu kemudian pergi mengikuti keenam murid sekte Wudang yang memang bermaksud untuk menjemput Baihu dan pergi menuju kerajaan Salju Utara.


__ADS_2