BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 111 | Peperangan meletus


__ADS_3

Keesokan harinya, pasukan kerajaan Gurun Barat telah bergerak dari kota Langsang menuju ke barat dan dari kota Panai menuju ke timur. Mereka mengepung hutan tempat perkemahan bangsa Lato.


Baihu memimpin sendiri penyerangan dari kota Langsang bersama para jendral dan petarung lainnya. Sementara dari arah kota Panai, Raja kerajaan Pesisir Laut Selatan sendiri yang memimpin serangan itu bersama Wang Mei dan petarung lainnya.


Dengan adanya Raja Kerajaan Pesisir Laut Selatan yang memimpin serangan itu, rakyat pun turut mendukung mereka dan bersatu melakukan penyerangan.


“Kita akan merebut kembali tanah air kita!” Teriak Raja Pesisir Laut Selatan dengan lantang memberi semangat pasukannya yang selama ini tercerai berai. Kini pasukan kerajaan Pesisir Laut Selatan bergabung bersama kerajaan Gurun Barat menyerang perkemahan bangsa Lato.


“Pangeran... Pangeran!” seorang penjaga berlarian dengan tergesa-gesa ke perkemahan pangeran La Yuan yang sedang berdiskusi dengan para jendral dan tetua Xu bersaudara.


“Ada apa?” kata pangeran La Yuan melihat pejaganya yang berwajah cemas dan panik.


“Pangeran, pasukan dari kota Langsang tengah bergerak ke arah kita!” lapor penjaga itu sambil terengah-engah.


Seluruh petinggi bangsa Lato yang ada disana terkejut karena tidak menyangka Kerajaan Gurun Barat melakukan serangan balik kepada mereka.


“Semuanya bersiap menghadapi mereka!” perintah pangeran La Yuan dengan wajah tegang.


Tiba-tiba seorang penjaga berlari lagi mendekati perkemahan pangeran La Yuan.


“Ada apa lagi?” tanya pangeran La Yuan pada penjaga satunya itu.


“Pangeran, pasukan kerajaan Gurun Barat bergabung dengan rakyat pesisir Laut Selatan menyerang dari arah barat kota Panai,” sahut penjaga itu dengan wajah cemas.


“Apa?” Pangeran La Yuan tidak menduga hal itu. Dia tidak menyangka dari arah sebaliknya mereka juga mengalami serangan pada saat bersamaan. Bahkan kerajaan Pesisir Laut Selatan juga turut serta menyerangnya.


“Pangeran ini akan memecah konsentrasi pasukan kita. Apa yang harus kita lakukan?” tanya seorang jendral


Wajah Pangeran La Yuan menjadi gelap. Dia menggertakkan giginya memikirkan hal itu. “Bagi pasukan menjadi dua bagian. Kita harus bertahan sambil menunggu bantuan dari pasukan air,” sahut pangeran La Yuan.


Semua mendengar perintah pangeran La Yuan, mereka segera hendak bersiap untuk membentuk pertahanan.


“Pangeran!” Tiba-tiba seorang penjaga kembali berlarian mendatangi perkemahan pangeran La Yuan.

__ADS_1


Mata La Yuan kembali berkedut dan tubuhnya menggigil karena kemarahannya memuncak.


“Apa lagi sekarang?” Teriaknya setelah menerima dua berita sebelumnya.


“Pangeran, kapal pasukan air bangsa Lato mendapat serangan selama dalam perjalanan di sungai. Serangan berasal dari dua sisi dengan menggunakan anak panah api. Banyak kapal kita yang terbakar karenanya.” kata penjaga itu dengan tubuh gemetaran.


“APAAA?” Kali ini darah di tubuh pangeran La Yuan seperti memuncak hingga ke ubun-ubun kepala. Wajah Pangeran La Yuan berubah gelap, demikian juga wajah para jendral dan Xu bersaudara.


Mereka tidak menyangka kerajaan Gurun Barat memiliki strategi seperti itu. Bahkan kapal pasukan air yang diharapkan menjadi bantuan pun kini telah diserang oleh mereka di perairan sungai.


Para jendral terlihat kepanikan di wajah mereka, namun mereka tidak berani bersuara. Pangeran La Yuan sendiri masih termangu mematung mendengar berita itu. Kepalanya serasa pusing dan aliran darahnya tidak terkontrol. Detak jantungnya semakin kuat karena kemarahannya yang memuncak.


“Ku-Kurang ajar! Habisi semua pasukan musuh. Kita bangsa Lato tidak pernah menyerah dan kalah dalam pertempuran. Bunuh semua musuh!” Teriak pangeran La Yuan dengan nada marah.


“Siap pangeran!” Seluruh jendral menyahut dengan wajah tegang. Meskipun mereka merasa gentar namun sebagai seorang jendral, mereka siap untuk mati di dalam medan peperangan.


“Tetua Xu, kalian habisi musuh dari kota Langsang. Aku sendiri akan membunuh Raja Pesisir Laut Selatan kali ini,” kata Pangeran La Yuan.


Mereka telah berangkat mengarungi lautan untuk tiba di tempat ini, mereka telah siap untuk mati di medan peperangan. Jadi seluruh pasukan kembali bersemangat.


Pangeran La Yuan membagi dua pasukannya untuk bertahan dari arah dua serangan. Xu bersaudara bersama dua jendral menghadang serangan dari arah kota Langsang sementara Pangeran La Yuan bersama dua jendral lainnya menghadang serangan dari arah kota Panai.


Kali ini pangeran La Yuan bermaksud untuk membunuh Raja Pesisir Laut Selatan yang sebelumnya di penjara olehnya. Dia tidak ingin berikutnya akan menjadi masalah seperti ini lagi dikemudian hari.


Peperangan pun meletus kembali, kedua pasukan kerajaan Gurun Barat dari kota Langsang bertempur melawan pasukan bangsa Lato di luar perkemahan. Baihu sendiri yang memimpin penyerangan itu bersama tiga orang jendralnya.


Baihu yang mengendarai harimau Sunu memimpin di depan dan langsung menyerang pasukan musuh yang terkejut melihat seekor harimau besar yang datang menyerang.


Meskipun mereka telah melepaskan panah, Baihu menggunakan jurus Angin Badai Mengguncang Langit untuk menghalaunya, sehingga panah-panah itu kembali menyerang pasukan bangsa Lato sendiri.


Pasukan bangsa Lato menjadi kocar kacir di barisan depan menghadapi amukan harimau Sunu dan pedang Baihu.


Pasukan berkuda di belakang Baihu pun turut menyerang dengan ganas yang dipimpin oleh Yan Shu, Diao Shi dan Yin Fang.

__ADS_1


Baihu melihat Xu bersaudara di barisan belakang yang memandangnya dengan tatapan geram. Baihu mengerahkan jurus Pedang Naganya menjadi seribu pedang menyerang barisan pasukan bangsa Lato di depannya.


Crasshh... Crashh... Crashhh...


Ribuan pedang naga melesat dan membunuh ribuan pasukan bangsa Lato. Xu bersaudara bersama dua jendral dari barisan belakang segera maju menyerang ke arah Baihu dan pasukannya.


Peperangan pun meletus dengan dahsyat, benturan senjata mewarnai peperangan itu dengan jeritan kematian yang menyayat hati.


Baihu dengan ganas menyerang ke arah Xu bersaudara. Kali ini dia tidak lagi memberikan kesempatan mereka untuk melarikan diri.


“Hutang tangan ini akan dibayar olehmu hari ini” teriak Xu Rou dengan kencang. Dia menggerakkan cambuknya ke arah Baihu.


Cetarrrr...


Baihu berkelit menghindari cambukan dari Xu Rou dan tidak bisa mendekatinya. Baihu menyipitkan matanya, dia memikirkan cara untuk bisa mendekati Xu Rou. Baihu lalu memaksakan diri bergerak ke kanan dan kiri menghindari cambukan itu sambil mendekat perlahan.


Xu Rou menyadari jarak mereka semakin dekat, namun Xu Gang tidak melepaskan Baihu. Dia menyerang dengan menggunakan roda emasnya kembali, dan di tangan kanannya kini memegang pedang untuk dikombinasikan dengan roda emas sebagai perisainya.


Baihu melihat serangan Xu Gang, tapi dia tetap memfokuskan dirinya untuk mendekati Xu Rou lebih dekat.


Cetarr....


Cambuk Xu Rou melesat kini ke arah kepala Baihu. Baihu melihat kesempatan itu, dia menggunakan pedang naganya untuk membelit cambuk tersebut dan memutar tubuhnya untuk mendekati Xu Rou.


Xu Rou berusaha menarik cambuknya namun tertahan oleh pedang naga di tangan Baihu. Matanya berkedut menyadari hal itu tapi Baihu telah bergerak mendekati dirinya. “Kurang ajar!” Teriak Xu Rou sambil melepas cambuknya dan bersalto ke belakang.


Xu Rou kini tidak memiliki senjata mengambil pedang yang tergeletak di tanah lalu menyerang ke arah Baihu dengan buas.


Baihu tidak menghentikan serangannya, tapi menyambut serangan Xu Rou dengan pedang Naga miliknya.


“Adik hati-hati!” Xu Gang tampak cemas memperingatkan Xu Rou agar tidak berhadapan langsung dengan Baihu.


Crasss! Crasshh!

__ADS_1


__ADS_2