BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 116 | Terlambat


__ADS_3

Tampak pasukan bangsa Buke lebih banyak menjaga kediaman jendral Ning, namun orang-orang di kediaman jendral Ning terlihat bekerja seperti biasa tanpa dipengaruhi oleh penjagaan tersebut. Bahkan terlihat mereka bercengkrama dan akrab dengan pasukan bangsa Buke.


Baihu menyipitkan matanya memperhatikan hal itu. “Rupanya mereka yang bekerja sama dengan pasukan bangsa Buke, sehingga bangsa Buke bisa masuk dengan mudah ke wilayah kerajaan Salju Utara.”


Baihu merasa geram dengan para pengkhianat seperti itu. Dia pun segera terbang melayang ke arah kediaman jendral Ning.


“Siapa kamu?” teriak penjaga bangsa Buke yang melihat Baihu turun dari udara mendarat di halaman kediaman jendral Ning.


Baihu tidak banyak bicara langsung melesat dengan kecepatan tinggi dan melumpuhkan para penjaga yang masih terkejut melihat kedatangannya. Para pelayan dan orang-orang kediaman jendral Ning yang melihat hal itu berlarian sambil berteriak ke dalam rumah.


Setelah merubuhkan para penjaga, Baihu memasuki kediaman jendral Ning dengan santai. Para penjaga yang berdatangan seperti lalat semuanya terkena tepuk oleh Baihu dengan mudah dan rubuh.


Yang Nie yang di temani oleh para pengawalnya melihat kedatangan Baihu dengan wajah merah karena marah. “Bunuh dia!” perintahnya


Pengawal yang berada di samping Yang Nie segera melesat ke arah Baihu sambil menghunus pedang mereka. Namun kedua penjaga itu kekuatannya jauh di bawah Baihu. Hanya dengan dua tamparan Baihu berhasil menghempaskan tubuh kedua pengawal dan menghantam dinding rumah itu.


Yang Nie dengan gemetar ketakutan kini perlahan mundur melihat kekuatan Baihu. “Si-Siapa kamu? Apa maumu?” teriaknya dengan gugup.


“Katakan dimana Zhang Mou?” tanya Baihu dengan acuh tak acuh berjalan mendekatinya


“Zhang Mou? Siapa itu?” sahut Yang Nie dengan berpura-pura.


“Orang yang pintar tahu dimana memposisikan dirinya. Kamu tidak perlu berpura-pura dan menyembunyikannya,” lanjut Baihu dengan cibiran.


Jantung Yang Nie memburu kencang, dia tidak tahu apakah harus jujur atau tidak pada Baihu. Dia tetap perlahan mundur hingga akhirnya terjatuh ke lantai dengan keras.


Baihu berjongkok di depannya dan menatap lekat-lekat ke mata Yang Nie yang ketakutan. Wajahnya tampak seperti main-main padanya dan membuat Yang Nie gemetar ketakutan. Wajah Yang Nie menjadi pucat pasi karenanya.


“A-Aku tidak tahu siapa maksudmu?” Yang Nie masih bertahan dengan keras kepala.


Baihu menjulurkan tangannya lalu menotok beberapa titik di tubuh Yang Nie. Wajah Yang Nie terlihat semakin jelek. Dia merasakan seperti gerombolan semut menggerayangi seluruh tubuhnya dan membuatnya menjadi gatal.


“Aaah.... Akh... hah... a... ampun... ja... ngan...”

__ADS_1


Suara menyayat parau keluar dari mulut Yang Nie yang tipis dia menggaruk seluruh tubuhnya dengan keras hingga berguling-guling di lantai. Baihu berdiri dan menatapnya dengan tatapan acuh tak acuh.


“Apakah kamu masih kuat bertahan?” Baihu menatapnya sambil tersenyum.


“Aakhh... A... Aku akan bi... bicara.” sahut Yang Nie dengan nada gugup sambil terus berguling-guling di lantai.


Baihu kemudian menotok kembali beberapa titik di tubuh Yang Nie untuk menghentikan siksaan semut gatal itu.


“Hah... ah... h...” Yang Nie terengah-engah setelah lepas dari siksaan Baihu.


“Katakan!”


Yang Nie kemudian duduk dengan wajah pucat, dia tidak berani menatap wajah Baihu.


“Zhang Mou sedang menuju ibukota bersama Raja Mao Da.” sahutnya.


Wajah Baihu berkerut mendengar jawaban Yang Nie, kemudian murid sekte Wudang datang menemuinya. “Yang Mulia, sepertinya memang tidak ada Zhang Mou di sini. Hamba sudah menyusuri tempat ini,” bisiknya pada Baihu.


Mereka pun langsung pergi menuju ibukota kerajaan dengan mengendarai kuda. Di sepanjang kota yang telah dikuasai bangsa Buke, Baihu dan murid Wudang itu mampir untuk mengganti kuda sekaligus membersihkan kota itu dari pasukan bangsa Buke.


Dalam waktu lima hari Baihu telah tiba di kota terakhir sebelum mencapai ibukota kerajaan Salju Utara. Baihu menghentikan kudanya sebelum memasuki kota Weishan. Tampak di kota ini pasukan bangsa Buke berjumlah lebih banyak dari kota-kota sebelumnya.


“Apa yang telah terjadi dalam lima hari ini. Apakah pertempuran telah usai?” batin Baihu.


Baihu lalu memerintahkan murid Wudang itu untuk pergi menyelidikinya, sedangkan Baihu menunggu di hutan yang ada di luar kota Weishan sambil mempersiapkan makanan untuk mereka makan.


Tiba-tiba dari balik hutan muncul gerombolan pasukan kerajaan Salju Utara yang seperti kelaparan mencium bau harum makanan yang dimasak oleh Baihu.


“Lapar! Serahkan makananmu pada kami! Kami sedang berperang membela kerajaan.” teriak salah satu dari mereka yang memimpin.


Baihu memperhatikan mereka dengan seksama. Pakaian mereka telah kotor dan dipenuhi oleh noda darah, wajah mereka tampak kelelahan dengan rasa lapar yang membuat mereka menjadi gila.


“Tenanglah teman. Kita bisa berbagi makanan, sayang aku tidak banyak masak kali ini.” sahut Baihu dengan wajah tenang dan santai.

__ADS_1


Para prajurit itu terlihat garang namun mereka juga tampak ketakutan sambil melihat ke sekelilingnya. Mereka mengelilingi Baihu namun tidak berani menyerang karena melihat Baihu yang acuh tak acuh dengan santai.


“Katakan apa yang telah terjadi?” tanya Baihu tanpa melihat ke arah mereka.


“Siapa kamu?” pemimpin itu melihat Baihu dengan tatapan menyelidik.


“Kamu seperti bukan orang kerajaan Salju Utara, tapi juga bukan dari bangsa Buke. Siapa kamu nak?” lanjut pemimpin pasukan itu dengan lebih sopan setelah melihat pakaian dan wajah Baihu.


“Aku dari kerajaan Gurun Barat, aku sedang berkunjung ke wilayah utara,” sahut Baihu tanpa memberitahu dirinya yang sebenarnya.


Pemimpin pasukan itu terlihat lebih tenang setelah mendengar jawaban Baihu. Dia pun berjalan mendekati Baihu dan duduk di depannya sambil menatap makanan yang sedang di panggang oleh Baihu.


“Paman, katakan apa yang telah terjadi.”


Pemimpin itu sedikit ragu, namun setelah melihat wajah Baihu yang polos dan jujur membuatnya menghela nafas sebelum menjawab.


“Kami adalah pasukan kerajaan Salju Utara yang bertugas menjaga ibukota kerajaan.”


Baihu terkejut mendangar hal itu. “Pasukan ibukota kerajaan?”


“Apa yang telah terjadi?” Baihu menyipitkan matanya melihat wajah pemimpin tersebut.


“Ibukota kerajaan telah jatuh ke tangan bangsa Buke. Raja telah dibunuh oleh mereka. Kami yang masih hidup berada dalam pelarian.” kata pemimpin itu dengan tatapan sedih.


“Aah... “ Baihu mende-sah setelah mendengar informasi dari pemimpin pasukan itu.


“Apa yang terjadi dengan ketua sekte Wudang dan murid-muridnya?” Baihu kembali bertanya pada mereka.


“Sebenarnya dua hari lalu, pasukan dari berbagai kota dan juga murid-murid sekte Wudang telah datang memberikan bantuan. Namun mereka juga terlambat, Raja Mao Da telah lebih dulu memenggal kepala Raja dan membawanya ke benteng ibukota untuk diperlihatkan pada pasukan bantuan tersebut.


Hal itu membuat turunnya semangat pasukan bantuan. Mereka menjadi terkulai setelah melihat kematian Raja. Bangsa Buke tidak membiarkan pasukan bantuan tersisa. Bangsa Buke tetap menyerang pasukan bantuan hingga mereka mundur dan kembali.


Pasukan bantuan yang juga terdiri dari murid sekte Wudang tercerai berai melarikan diri.

__ADS_1


__ADS_2