BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 126 | Serangan dari luar ibukota kerajaan


__ADS_3

Meskipun seluruh pasukan merasa mual dan menggigil ketakutan melihat pasukan yang mati bergelimpangan di tempat itu, namun mereka tidak berani membantah perintah dari permaisuri Pang Niu. Mereka segera mengepung tempat itu dengan cepat.


Baihu yang sengaja bermain sembunyi melawan pasukan bangsa Buke di dalam ibukota kerajaan kemudian menyerang mereka satu persatu. Seorang jendral yang ikut mengejar Baihu berhasil menemukannya. Namun Baihu tersenyum ketika melihat kedatangan jendral itu bersama beberapa pasukannya.


Dengan gerakan secepat kilat, Baihu menyerang ke arah pasukan bangsa Buke yang datang dipimpin oleh jendral tersebut. Baihu menyerang pasukan itu satu persatu, kemudian hanya masih menyisakan jendral bangsa Buke.


Wuzzz... Srett... Srett... Sett...


Gerakan golok yang digunakan oleh jendral bangsa Buke itu menyerang ke arah Baihu dengan membabi buta. Baihu menyipitkan mata sambil tersenyum melihat serangan itu. Dia dengan mudah menghindari serangan itu dan belum bermaksud untuk membalasnya.


“Orang ini berpakaian jendral tetapi serangannya tidak beraturan seperti itu.” batin Baihu.


Ketika jendral itu tampak mulai kelelahan, Baihu kini mengubah pertahanannya menjadi serangan. Dengan menggunakan jurus Telapak Sembilan Semesta, Baihu menghantam golok jendral itu dan membuatnya menjadi patah.


Mata jendral itu berkedut melihat goloknya yang patah oleh hantaman telapak tangan Baihu. Kemudian tanpa menarik nafas, Baihu langsung menyerang kembali ke arah jendral tersebut.


Brakk! Krakk!...


Jendral kerajaan bangsa Buke menderita kerugian yang besar. Seluruh pasukannya telah mati mengenaskan oleh serangan Baihu dan kini tulang dadanya remuk oleh hantaman jurus Telapak Sembilan Semesta. Jendral tersebutpun mati mengenaskan karena perbedaan kekuatan yang besar dengan Baihu.


Baihu kembali menghilang dan bergerak dengan cepat membunuh pasukan bangsa Buke satu persatu.


Kini tinggal permaisuri Pang Niu dengan salah satu jendral dan beberapa pasukan yang menjaga mereka.


“Sepertinya kualitas jendral dan pasukan bangsa Buke sangatlah rendah. Hahaha...,” cibir Baihu memprovokasi lawannya.


Permaisuri Pang Niu dan seorang jendral yang tersisa merasa kepalanya mendidih setelah mendengar cibiran Baihu yang sengaja membuat mereka marah.


“Siapa kamu?” Teriak permaisuri Pang Niu dengan tatapan marah ke arah Baihu.


“Apa gunanya untuk mengetahui namaku? Toh sebentar lagi kalian akan menghadap Dewa Yama.” sahut Baihu dengan wajah dingin.

__ADS_1


Kali ini permaisuri Pang Niu tidak lagi bisa menahan dirinya. Dia segera melompat dan menyerang ke arah Baihu dengan kekuatan yang ganas.


Pedang yang digunakan oleh Pang Niu melesat dengan jurus yang tajam ke arah Baihu, namun Baihu merasa enggan untuk menghadapi seorang wanita. Segera Baihu mengalihkan serangannya ke arah jendral yang masih tersisa.


Brakk!


Jendral tersebut terkejut karena tidak menduga Baihu akan mengalihkan serangan pada dirinya. Jendral itu memuntahkan darah segar ketika Baihu langsung menghantam dadanya.


Jendral itu terhuyung-huyung sambil memegang dadanya yang sakit, sementara Baihu telah kembali untuk menahan serangan permaisuri Pang Niu.


Trang!


Telapak tangan Baihu memotong gerakan pedang dari Pang Niu. Pedang yang berada ditangan permaisuri Pang Niu terlepas dari genggamannya. Dia pun berguling di tanah untuk mendekati senjata pusaka miliknya itu yang terpental oleh kekuatan Baihu.


Setelah mengambil pedang pusaka itu, permaisuri Pang Niu kembali melancarkan serangan berikutnya.


Bummm!


Ledakan kembali terdengar, namun kali ini berasal dari luar benteng ibukota kerajaan. Wajah permaisuri Pang Niu tampak pucat pasi mendengar ledakan tersebut. Dia menggertakkan giginya karena kesal.


“Apa yang harus aku lakukan?” batin permaisuri Pang Niu panik.


Baihu tersenyum mendengar ledakan itu. Dia yakin pesannya ke sekte Wudang telah tersampaikan dan kini mereka tengah menggempur benteng ibukota kerajaan.


“Kalian tentu tidak menyangka bahwa pasukan kerajaan Salju Utara ternyata masih ada.” cibir Baihu.


Mendengar cibiran Baihu, wajah permaisuri Pang Niu menjadi gelap. “Apakah ini memang rencanamu?” geramnya.


“Hahaha... kamu terlambat menyadarinya, kamu tak layak untuk menjadi pemimpin pasukan. Kepentingan pribadimu kamu utamakan dari kepentingan seluruh bangsa Buke.” lanjut Baihu menyindir permaisuri Pang Niu.


Apa yang dikatakan Baihu adalah benar, seluruh pasukan yang tersisa kini merasa kebingungan. Hanya tersisa satu jendral yang terluka, dia sendiri kesulitan untuk mengurus dirinya apalagi untuk mengurus pasukannya.

__ADS_1


Baihu yang melihat kepanikan dan keraguan pasukan bangsa Buke tidak membiarkan semangat mereka kembali. Baihu lalu menyerang secepat kilat ke arah jendral yang tersisa lalu meninju dadanya kembali.


Bugh!


Tinju kali ini bersarang keras di dada jendral itu dan melesakkan dua tulang rusuknya ke dalam hingga menusuk paru-parunya. “Ukh!”


Darah segar menyembur dari mulut jendral itu dengan mata melotot tidak percaya. Dia tidak percaya dirinya yang baru naik jabatan menjadi seorang jendral kini terbunuh dengan mudah.


Seluruh wajah pasukan bangsa Buke memucat seiring jatuhnya tubuh jendral mereka mencium tanah dan tidak bergerak.


Permaisuri Pang Niu menggigil gemetar karena marah tidak menyangka kecepatan Baihu secepat itu menghantam tinju ke dada jendralnya.


“Ka-kamu sangat curang!” Teriak permaisuri Pang Niu.


“Hei, mana ada peperangan yang adil. Kamu terlalu naif permaisuri. Kamu tidak layak memimpin mereka.” Baihu kembali mengulang kata-katanya untuk membuat permaisuri Pang Niu bertambah marah.


Dan benar tujuan Baihu tercapai setelah berhasil membunuh jendral pasukan bangsa Buke dengan mudah.


Dari arah gerbang ibukota, pasukan kerajaan Salju Utara yang dipimpin langsung oleh ketua sekte Wudang berhasil memasuki ibukota kerajaan dan mulai menduduki istana kerajaan Salju Utara.


Pasukan bangsa Buke yang melihat kedatangan pasukan lawan yang telah memasuki ibukota kerajaan menjadi ciut nyalinya. Mereka tidak memiliki satupun jendral saat ini, sehingga mereka segera melemparkan senjata mereka dan menyerah.


Hanya permaisuri Pang Niu yang masih tertegun tidak percaya dengan kejadian ini. Dia merasa perkataan Baihu sangat cocok untuk dirinya yang tidak layak untuk menjadi pemimpin pasukan.


“Apakah kamu ingin melanjutkan pertarungan kita?” Baihu bertanya pada permaisuri Pang Niu.


Permaisuri Pang Niu menatap tajam ke arah Baihu. “Meskipun kami kalah, tetapi asalkan bisa membunuhmu aku sudah senang.” teriak permaisuri Pang Niu sambil melompat menyerang ke arah Baihu dengan cepat.


Namun Baihu lebih cepat darinya, dengan kecepatan Baihu berhasil memukul telapak tangan permaisuri Pang Niu yang memegang senjata. Pedang pusaka milik Pang Niu terlepas dan berhasil ditangkap oleh Baihu.


Kemudian dengan menggunakan pedang tersebut, Baihu mengacungkannya ke arah permaisuri Pang Niu dengan senyuman.

__ADS_1


“Bagaimana permaisuri, apakah kamu masih ingin melanjutkannya.”


Permaisuri Pang Niu merasakan tangannya yang kesemutan akibat ditepis oleh Baihu untuk melepaskan pedangnya itu. Kini dia tidak tahu harus berbuat apalagi.


__ADS_2