BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 89 | Menghabisi penguntit


__ADS_3

Pasukan Baihu bergerak dengan semangat tinggi, perbekalan mereka lebih dari mencukupi untuk selama dua bulan penuh. Jarak dari kota Emas menuju Ibukota Kerajaan Gurun Barat tidak terlalu jauh, hanya ditempuh dalam 7 hari berjalan kaki.


Dalam perjalanan itu mereka akan melewati hutan sebelum tiba di kota Mengsu. Lalu dari kota Mengsu akan bertemu hutan lagi sebelum tiba di ibukota kerajaan Gurun Barat.


“Kita akan bermalam ditengah hutan sebelum melanjutkan perjalanan kita,” perintah Baihu pada teman-temannya yang menjadi komandan pasukannya. Mereka pun mendirikan kemah untuk bermalam di tengah hutan dan beberapa prajurit bersama pendekar sekte bergiliran menjaga perkemahan tersebut.


Disaat malam, mereka dikejutkan oleh beberapa ekor ular dan kalajengking yang menyerang perkemahan mereka. Namun dengan menggunakan api dan senjata, mereka bisa memusnahkan serangan tersebut.


“Bagaimana bisa tiba-tiba ada kalajengking dan ular yang menyerang?” Yang Zi berpikir tentang hal itu. “Perintahkan pasukan untuk meningkatkan kewaspadaan.”


Di dahan pohon, tampak Ular Kobra bersama Kalajengking hitam sedang mengawasi perkemahan tersebut. “Ular, sepertinya serangan binatang kita tidak berhasil.” bisik Kalajengking hitam.


“Apa yang harus kita lakukan?” lanjutnya lagi.


“Kita tunggu dini hari lagi, saat mereka semua kelelahan, kita memeriksa kemah-kemah mencari anak bernama Baihu dan para komandan mereka lalu membunuhnya,” sahut Ular Kobra itu.


Mereka mengamati perkemahan itu dengan teliti, mereka berhati-hati pindah ke dahan berikutnya untuk melihat lebih dekat lagi.


“Kita tunggu mereka tertidur,” bisik Ular Kobra memasang mata tanpa berkedip ke arah perkemahan itu.


“Lalu apa yang akan kita lakukan?”


“Aku sudah mengatakan padamu, kita akan menyerang mereka saat tertidur dini hari nanti.” sahut ular kobra kesal menoleh ke arah datangnya suara itu.


Ular Kobra terkejut dan hampir terjatuh dari dahan pohon itu. Dia melihat Baihu duduk di sebelahnya sambil tangannya memegang kalajengking hitam yang sudah terikat dan mulutnya di tutup kain. “Hmmff... hmff... “ Kalajengking hitam mencoba bersuara yang tidak dimengerti dengan mulut tertutup kain.


Ular Kobra melompat turun dan mundur melihat ke arah Baihu. Matanya berkedut tidak menyangka dirinya sama sekali tidak mengetahui kedatangannya.


“Jadi kalian yang menyerang perkemahan kami dengan ular dan kalajengking?” kata Baihu pada Ular Kobra itu.


“Siapa kamu?” Ular Kobra menyipitkan matanya melihat ke arah Baihu.

__ADS_1


“Aku Baihu. Apakah kamu datang mencariku?” tanya Baihu kembali. Wajah Ular Kobra terlihat gelap menyadari kekuatan Baihu ternyata berada di atas dirinya.


Dia menguasai jenis racun yang berbahaya, jadi dia tidak takut pada Baihu meskipun kekuatannya melebihi dirinya. Belum lagi saudara seperguruannya kalajengking hitam ada bersamanya.


“Hehehe... kebetulan sekali. Kami tidak perlu repot-repot untuk mencarimu lagi. Kami akan membunuhmu disini.?” kata Ular Kobra itu.


“Kami? Tidak ada kami, hanya kamu sendirian.” sahut Baihu sambil menepuk-nepuk tangannya setelah membuat pingsan kalajengking hitam sambil turun ke tanah.


Alis Ular Kobra berkedut menyadari hal itu. Dia menggigil kedinginan karena keringat dingin telah mengucur deras di sekujur tubuhnya. “Dia bukan manusia.” gumamnya


Baihu berjalan mendekati Ular Kobra yang tanpa sadar mundur perlahan hingga tubuhnya terbentur pohon dan tidak bisa mundur lagi. Ular Kobra menggigit bibirnya untuk memberikan keberanian pada dirinya menyerang Baihu.


Ular Kobra lalu melompat ke arah Baihu sambil menyemburkan ludahnya yang mengandung racun. Baihu mengelak agar tidak terkena ludah dari Ular Kobra itu. Tampak racun dari ludah itu membuat batang pohon di belakang Baihu menjadi cair dan berbau tidak sedap.


Baihu terlalu malas bermain-main dengan musuh lemah. Dia segera bergerak cepat dan mencengkeram leher Ular Kobra itu. Dia tidak bisa bergerak bahkan untuk meludahpun tidak bisa. Mata Ular Kobra itu melotot tidak bisa bernafas. Baihu mematahkan leher Ular Kobra itu hingga mati mengenaskan.


“Cih, racunmu sungguh berbahaya untuk orang banyak. Aku hanya membantu manusia memusnahkan sampah sepertimu,” gumam Baihu


“Ukh... “ Kalajengking kemudian tersadar setelah aroma menyengat tercium di hidungnya. Wajahnya terlihat basah dan matanya mendelik melihat Baihu berdiri di depannya dengan wajah mengerikan.


“Apa maumu?” Kalajengking bertanya ketika kain yang menutupi mulutnya dibuka oleh Baihu. Tubuhnya menggigil ketakutan. “Hmm... bau apa ini?”


Kalajengking merasa tubuhnya beraroma kurang sedap, sedangkan Baihu tersenyum melihat wajah kalajengking hitam yang berubah jelek. “Ka-Kau...”


“Sudahlah, tidak usah di bahas. Katakan berapa orang dari kalian yang mengikutiku?” Tanya Baihu pada Kalajengking hitam.


Kalajengking hitam tidak menjawab pertanyaan dari Baihu, wajahnya kesal namun tak berdaya untuk melawan dengan tubuh terikat.


“Baiklah, karena kamu tidak tahu. Aku terpaksa membunuhmu karena kamu tidak berharga apapun. Kecuali kamu memiliki informasi penting, aku bisa mempertimbangkan untuk melepas dirimu” kata Baihu kemudian sambil mengeluarkan energinya untuk membunuh Kalajengking hitam.


Mata Kalajengking terasa melompat melihat cahaya di telapak tangan Baihu yang siap mengarah ke kepalanya. “Tu-Tunggu dulu. Aku akan memberitahumu. Aku akan beritahu,” Kalajengking gugup seketika.

__ADS_1


“Hanya aku dan Ular yang mengikutimu. Guru Merah, guruku menunggu kalian bersama kakak seperguruanku Kelabang Merah dan Kodok Belang di kota Mengsu” sahut Kalajengking hitam dengan lancar dalam satu tarikan nafas.


“Bagus, pergilah!” Baihu melepaskan ikatan Kalajengking hitam. Kalajengking hitam tertegun. “Apa benar aku bisa pergi?” tanyanya kembali.


“Iya. Aku sudah mengatakan akan melepaskanmu. Aku tidak akan ingkar janji” sahut Baihu dengan tenang.


“Hmm... kenapa perasaanku tidak enak yah?” gumam kalajengking hitam.


Melihat Kalajengking hitam masih ragu untuk pergi, Baihu membentaknya. “Apa kamu ingin aku melanggar janjiku?” bentaknya.


“Ah, tidak. Aku pergi.” Kalajengking segera melompat pergi dari tempat itu. Namun begitu dia melangkah tiga langkah, Sunu langsung menerkamnya dan menggigit leher kalajengking hitam hingga mati dengan leher hampir putus dengan mata melotot tidak percaya.


“Aku melepaskanmu, tetapi di hutan kamu seharusnya berhati-hati. Ada banyak binatang buas yang bisa memangsamu,” kata Baihu dengan santainya.


Baihu kemudian berjalan menuju perkemahan diikuti oleh harimau Sunu di belakangnya. Dua penguntit telah dihabisi oleh mereka.


“Tenanglah, dua penguntit telah mati. Tapi kita tetap waspada. Sebaiknya kita tidak perlu singgah di kota Mengsu. Perjalanan kita lanjutkan dengan melewati kota Mengsu,” kata Baihu pada teman-temannya.


“Baik!” Teman-temannya serempak menjawab.


Keesokan paginya, pasukan Baihu terbangun dengan semangat tinggi. Mereka melanjutkan pergerakan menuju ke barat, melewati kota Mengsu dan kemudian berkemah kembali di hutan sebelum tiba di ibukota kerajaan Gurun Barat.


....


....


Kota Mengsu, Guru Merah bersama Kelabang Merah dan Kodok Belang telah menunggu tanpa tidur sejak semalam. Mereka mengamati gerbang kota Mengsu untuk melihat datangnya pasukan Baihu memasuki gerbang kota.


.....


.....

__ADS_1


Kota Mengsu tetap sunyi dan kegiatan di kota itu masih berjalan seperti biasanya. Ketiga Guru dan murid masih menunggu hingga malam berikutnya.


__ADS_2