
Kematian dua tetua bangsa Buke membuat semangat tempur pasukan bangsa Buke menjadi semakin melemah. Kini hanya tinggal satu orang jendral dan Raja Mao Da yang masih tersisa memimpin mereka.
Jendral Gong Jun tampak berada di atas angin melawan jendral pasukan bangsa Buke. Jurus pedang jendral Gong Jun yang berasal dari sekte Pedang Langit sangat ganas. Jurus Sukma Pedang dari sekte Pedang Langit memang layak menjadi salah satu jurus pedang terkuat saat ini.
Meskipun jendral pasukan Buke menggunakan tombak, namun jurus pedang jendral Gong Jun jauh lebih unggul dari jurus tombak lawan. Tak lebih dari tiga puluh menit, jendral Gong Jun berhasil mematahkan serangan tombak jendral pasukan Buke dan menebas leher jendral pasukan Buke hingga hampir terputus dan mati mengenaskan.
Kematian jendral pasukan Buke benar-benar memupus harapan pasukan bangsa Buke meskipun Raja Mao Da masih bertahan menghadapi Baihu di medan perang.
Kekuatan alam Abadi Raja Mao Da seimbang dengan kekuatan Baihu. Pertarungan mereka telah berlangsung lebih dari satu jam, namun belum bisa menentukan siapa yang akan memenangkan pertarungan tersebut.
Golok ditangan Raja Mao Da meraung menebas ke arah Baihu dengan garang, sementara Baihu menghindarinya sambil sesekali menahan dengan pedang naga miliknya.
Trang! Trang! Trang!
Berkali-kali kedua senjata pusaka itu berbenturan dan membuat kebas kedua tangan Baihu dan Raja Mao Da, namun mereka berdua tidak mau menyerah. Mereka terus meningkatkan kecepatan masing-masing dan bergerak semakin cepat hingga sulit mata biasa untuk melihat pertempuran mereka.
Baihu melompat ke udara sambil membentuk lingkaran Yin dan Yang menggunakan pedangnya. Lalu mengarahkan pedang naga ke arah Raja Mao Da dengan kecepatan tinggi.
Traangg! Trrang... Tang.. Set.. Set...
Pedang naga menebas dan bayangan lingkaran yin yang mengurung tubuh Raja Mao Da. Namun Raja Mao Da berputar menghancurkan lingkaran Yin Yang tersebut dengan menggunakan goloknya.
“Jurus anak-anak,” cibir Raja Mao Da.
Kini giliran Raja Mao Da yang mengerahkan jurusnya, bayangan dewa perang muncul di belakang tubuh Raja Mao Da lalu dengan kekuatan goloknya menebas ke arah Baihu.
Wuuuzzzzhh...
__ADS_1
Udara di sekitar golok itu menjadi panas dan golok seperti meraung dengan ganas ke arah Baihu.
Mata Baihu berkedut merasakan kekuatan dari jurus golok Raja Mao Da, namun dia masih tetap tenang dan berusaha menghindari tebasan golok tersebut.
Tebasan golok Raja Mao Da mengarah ke benteng kota Linshang dan menghancurkan tembok tersebut beberapa bagian. Baihu melihat tembok benteng kora Linshang yang rusak akibat serangan golok Raja Mao Da.
“Sungguh luar biasa.” gumam Baihu mengagumi kekuatan jurus lawannya.
Baihu kemudian mengubah serangannya, dia kemudian mencoba jurus kombinasi yang telah dilatihnya selama ini. Dengan menggabungkan jurus pedang naga dengan jurus kesembilan matahari dan bulan.
Raja Mao Da mengetahui hal itu dan tidak membiarkan Baihu mengeluarkan jurus puncak matahari dan bulan. Dia menyerang kembali dengan kekuatan jurus golok menebas ke segala arah saat melompat di atas kepala Baihu.
Kali ini Baihu tidak bisa menghindari serangan Raja Mao Da yang telah mengelilingi tubuhnya dengan tebasan ke segala arah. Satu-satunya cara adalah menahan dengan pedang naganya.
Wuzzzhh... Crasshh... Crasshh...
Baihu segera menotok bagian tubuhnya yang terluka untuk menghentikan pendarahan. Wajah Baihu tampak lebih serius mengingat jurus yang di keluarkan oleh Raja Mao Da.
“Sedikit lagi!” batin Baihu.
Melihat serangannya berhasil, Raja Mao Da merasa senang. “Hari ini aku akan membunuhmu nak. Dengan kematianmu, memusnahkan kota Linshang akan jauh lebih mudah dan kerajaan Salju Utara akan menjadi milik bangsa Buke. Hahaha... “ Raja Mao Da tertawa senang.
“Baihu memanfaatkan kesempatan untuk mengatur ulang nafasnya sambil mengingat serangan yang dilakukan oleh Raja Mao Da.
“Raja Mao Da, apakah kamu pikir bangsa Bukemu bisa memenangkan kerajaan Salju Utara?”
“Hahaha... tentu saja. Pasukan bangsa Buke dari ibukota kerajaan akan segera menyerang kota Linshang dari arah timur.” sahut Raja Mao Da dengan senyum kemenangan.
__ADS_1
Baihu tersenyum mendengar perkataan Raja Mao Da. “Sungguh lucu. Kamu pikir pasukanmu masih menguasai ibukota kerajaan? Aku telah mengusir permaisurimu yang cantik keluar dari ibukota. Seluruh jendralmu telah terbunuh dan pasukanmu dalam penjara kami.” sahut Baihu
Wajah Raja Mao Da seketika terkejut mendengar hal itu. “Tidak! Kamu pasti berbohong! Aku telah mengirimkan surat ke ibukota kerajaan, mereka pasti akan segera mengirimkan bantuan untuk menyerang kota Linshang.”
“Terserah padamu. Tapi lihatlah sendiri ke atas benteng kota Linshang.” kata Baihu kemudian sambil memberikan sinyal kepada seorang jendral di atas benteng.
Raja Mao Da menyipitkan matanya melihat ke arah atas benteng kota Linshang. Tiba-tiba matanya melotot melihat ke arah atas benteng itu. Tampak permaisuri Tang Liu yang telah datang berdiri di atas benteng kota Linshang.
Kemudian yang membuat mata Raja Mao Da bergidik dan semakin marah adalah kepala para jendral dan Zhang Mou yang telah dipotong oleh pasukan kerajaan Salju Utara diperlihatkan di atas benteng kota Linshang. Ini adalah kunci dari kemenangan Baihu. Meskipun kejam, namun sangat efektif untuk menurunkan semangat tempur lawan.
Seluruh semangat tempur pasukan bangsa Buke langsung hilang setelah melihat hal itu. Mereka kemudian berlutut dan melemparkan senjata sambil tertunduk lesu.
Mata Raja Mao Da berkedut melihat seluruh pasukan bangsa Buke yang tersisa berlutut tak berdaya. “Kurang ajar! Kalian berani berlutut dan menyerah selama aku masih hidup?”
“Menyerahlah Raja Mao Da, kamu tidak akan bisa menang melawan kerajaan Salju Utara, meskipun kamu membunuhku.” kata Baihu kemudian.
Raja Mao Da semakin geram, dia menggertakkan giginya dengan kemarahan yang memuncak. Tubuhnya menggigil membayangkan pasukannya di ibukota kerajaan Salju Utara yang telah dikalahkan dan seluruh jendralnya telah binasa.
“Aku akan membunuhmu!” Teriak Raja Mao Da dengan kalap menyerang ke arah Baihu. Goloknya kembali meraung dengan ganas tanpa mata menyerang Baihu ke segala arah.
Tubuh Baihu kembali terkunci, namun Baihu menatap serangan itu dengan seksama. “Sedikit lagi!” batin Baihu sambil menunggu.
Ketika serangan tebasan golok Raja Mao Da hampir mengenai leher Baihu. “Sekarang!”
Baihu kemudian bergerak dengan kecepatan kilat menghilang dari hadapan Raja Mao Da. Alis Raja Mao Da berkedut kembali, matanya terbelalak karena Baihu berhasil menghindari jurus pamungkas miliknya. “Sialan!” gumamnya.
Raja Mao Da yang merasa berada diatas angin dengan serangan jurus tersebut, tidak menyangka Baihu dapat memecahkan kelemahan jurus itu dan kini berada di samping Raja Mao Da.
__ADS_1
Baihu kini membalas serangan Raja Mao Da dengan jurus Seribu Pedang Naga miliknya. Ribuan Pedang kini mengarah dalam jarak dekat ke tubuh Raja Mao Da dan membuat matanya hampir melompat dari kelopaknya.