
Baihu lalu menoleh ke arah gua buatan milik sekte Makam Raja itu, “Nona Xin, Sepertinya sekte Makam Raja berhubungan dengan penculikan para ketua sekte. Sekalian kita geledah gua ini untuk melihat apakah ada petunjuk tentang ketua sekte?” ajak Baihu.
“Baik” sahut Xin Ye dengan wajah manut.
Baihu lalu pergi ke dalam gua tersebut dan menggeledah tempat itu untuk mencari petunjuk dari ketua sekte. Orang-orang yang menjaga gua tersebut sudah tidak ada yang berani mendekati mereka, karena ketiga tetua yang ditugaskan untuk menjaga gua ini telah dibunuh dengan mudah oleh Baihu.
Para penjaga gua itu hanya berdiri gemetar saat melihat Baihu memeriksa setiap ruangan di tempat itu. Ketika dia memeriksa seluruh ruangan itu, dia tidak melihat orang yang tadi melapor pada tetua itu.
“Kemana orang itu menghilang?” gumamnya
Dia lalu mengumpulkan beberapa penjaga dan bertanya pada mereka kemana perginya orang tersebut.
Tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka, namun tiba-tiba seorang pelayan wanita datang mendekati Baihu. “Tuan, aku tahu kemana perginya orang itu” kata pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.
Mata Baihu berkedut melihat kondisi pelayan wanita itu. Tampak kaki dan tangan pelayan itu dirantai untuk membuatnya tidak bisa pergi jauh. Wajahnya menjadi marah karena hal itu.
“Kumpulkan seluruh pelayan wanita di tempat ini!” perintah Baihu pada para penjaga gua tersebut.
Segera para penjaga mengumpulkan seluruh pelayan yang ada di dalam gua itu dan melihat kondisi mereka yang sangat menyedihkan. Wajah Baihu menjadi geram karenanya.
Baihu segera memerintahkan para penjaga untuk melepas semua rantai mereka. Para penjaga tidak berani menolak perintah Baihu, kemudian mereka melepaskan rantai semua pelayan itu. Para pelayan merasa lega setelah mereka terlepas dari rantai tersebut.
Pelayan tadi yang berbicara dengan Baihu segera mendekatinya, “Tuan, terima kasih. Aku akan mengantarmu ke tempat persembunyian orang itu” sahutnya.
Baihu lalu mengikuti pelayan itu yang membawanya ke sebuah ruang rahasia yang terkunci dengan menggunakan sebuah patung di dalam ruang tamu. Ketika pelayan wanita itu menggeser patung tersebut, tampak sebuah pintu rahasia terbuka di sebelah kanannya.
Pelayan itu menunjukkan jalan kepada Baihu yang mengikutinya. Tiba-tiba dia merasakan sebuah pisau melayang dan Baihu menahan dengan kekuatannya sambil menarik pelayan itu.
Mata Baihu berkedut karena marah, pisau itu nyaris membunuh pelayan itu. Untung dirinya waspada dan melindungi pelayan tersebut. Tampak di ujung arah pisau itu datang, laki-laki yang melapor itu bersembunyi sambil memegang pisau lainnya.
__ADS_1
Dia bersiap untuk melempar kembali namun kali ini Baihu bergerak menghalau seluruh pisau dan menyerang langsung memukul dada orang itu dengan keras
BUGH!
Lelaki itu terbang menabrak dinding ruangan itu dan mati setelah organ dalamnya dihancurkan oleh Baihu dengan sekali pukul.
Ruangan rahasia itu seperti sebuah tempat persembunyian yang dilengkapi dengan berbagai perbekalan di dalamnya. Namun setelah melihat sekelilingnya, Baihu terkejut melihat 3 sosok tengah terkurung di dalam sebuah ruang tertutup dengan pintu yang hanya memiliki lubang kecil untuk melihat ke dalam ruang itu.
“Siapa mereka?” gumam Baihu yang kemudian bersiap untuk menghancurkan pintu masuk tersebut dengan kekuatannya.
BLAMM!
Pintu itu hancur dengan pukulan jurus ketiga Telapak Sakti dari jurus Sembilan Semesta. Tampak tiga orang tua dengan wajah kurus tengah duduk dan dirantai kaki serta tangan mereka ke tembok.
Mata ketiga orang itu tampak lemah saat melihat Baihu masuk ke dalam pintu tersebut bersama Xin Ye dan pelayan wanita tersebut. Xin Ye terkejut melihat ketiga orang itu, “Baihu, mereka adalah ketua sekte Wudang, sekte Kunlun dan sekte Huasan” teriak Xin Ye dengan mata melotot.
“Nak, apakah kamu orang yang memenangkan pertandingan bela diri antar sekte itu?” tanya ketua sekte Wudang.
Baihu melihat lelaki tua itu lalu memberi hormat padanya,”Ketua, benar itu aku” sahutnya
“Ah, aku tak menyangka bisa melihat dirimu lagi. Sungguh anak yang berbakat” kata lelaki tua itu tampak terharu.
“Ketua, kalian jangan khawatir. Kami akan mengeluarkan kalian dari sini” Baihu segera melepaskan rantai di tangan dan kaki ketua sekte tersebut.
Lalu mereka bertiga memapah ketiga ketua sekte itu keluar dari ruang tersebut dan kembali ke ruang utama dalam gua itu.
“Nak, tubuh kami telah terkena racun pelemah otot yang terus diberikan pada kami. Kami butuh waktu untuk menetralkan racun ini” sahut ketua Kunlun setelah mereka berada di ruang tersebut.
Baihu ingat, di dalam cincin penyimpanan Guru Wu Shan, Gurunya telah menyimpan beberapa pil obat pemulihan. Dia lalu memberikan tiga pil obat pemulihan itu kepada ketiga ketua sekte tersebut.
__ADS_1
Kemudian mereka menjaga ketiga ketua sekte itu yang sedang memulihkan kondisi tubuh mereka dan menetralkan racun di dalam tubuh. Butuh waktu 1 jam untuk menetralkan racun dalam tubuh mereka, akhirnya wajah mereka berubah lebih berseri dari sebelumnya.
“Nak, terima kasih telah menyelamatkan kami” kata ketua sekte Wudang pada Baihu.
“Ketua, itu sudah merupakan kewajiban kami sebagai murid” sahut Baihu dengan hormat.
“Hahaha... aku iri pada sekte Matahari Bulan yang memilikimu sebagai murid mereka” sahut ketua sekte Wudang kembali.
Mendengar hal itu Baihu menjadi teringat pada ketua sekte Shang Chi, “Ketua, dimana ketua sekte lainnya? Mengapa hanya kalian bertiga di tempat ini?” tanya Baihu.
Ketiga ketua sekte itu menghela nafasnya, “Sejak awal kami semua berada di tempat ini. Namun sekitar tiga bulan yang lalu, ke enam ketua sekte lainnya telah dibawa pergi oleh seseorang. Kami tidak tahu kemana mereka telah dibawa oleh orang itu” sahut ketua sekte Wudang kembali.
“Benar, tetapi sepertinya semua ini berhubungan dengan sekte Makam Raja” sahut ketua sekte Kunlun menimpalinya.
Baihu merenungkan perkataan kedua ketua sekte tersebut. Hal itu makin membuat sekte Makam Raja pasti berhubungan dengan kejadian ini.
“Baiklah. Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini” ajak Baihu.
Mereka pun bersiap untuk pergi meninggalkan tempat itu setelah ketiga ketua sekte itu pulih dan dapat berjalan kembali.
“Tuan, bolehkah aku mengikutimu?” tanya pelayan wanita yang tadi mengantarnya ke ruang rahasia dengan wajah merah dan muram.
Baihu melihat wajah pelayan wanita itu yang tampak berharap agar bisa menyertainya, “Baiklah. Siapa namamu nona?” tanya Baihu.
“Namaku Mu Lin” sahut pelayan wanita itu dengan senang hati.
“Kalau begitu ayo kita pergi dari tempat ini nona Mu Lin” ajak Baihu yang membuat pelayan wanita itu merasa senang. Dia berharap bisa membalas kebaikan Baihu karena telah membebaskannya dan juga menyelamatkan nyawanya saat berada di ruang rahasia dari lemparan pisau.
Fajar mulai menyingsing saat Baihu, Mu Lin dan Xin Ye bersama ketiga ketua sekte tiba di kota Bintang. Mereka lalu mencari penginapan untuk beristirahat sebelum ketua sekte itu kembali ke kediaman sekte mereka.
__ADS_1