
Kepanikan melanda pasukan bangsa Buke. Hampir sepertiga pasukan mereka terbunuh oleh panah dan api yang melahap perkemahan mereka hingga ludes menjadi arang.
Wajah Raja Mao Da sudah seperti terbenam dalam lumpur. Ibarat menaruh air di atas kepalanya, air itu akan segera mendidih dalam waktu yang singkat karena saking panas dan membara karena kemarahannya.
Dua orang jendral dan dua tetua bangsa Buke tidak ada yang berani mendekati Raja Mao Da yang berada di puncak kemarahannya.
“Kita tidak punya perkemahan lagi. Apakah kita harus menyerang atau kembali?”
Bisik-bisik pasukan terdengar oleh Raja Mao Da dan membuatnya menjadi semakin beringas. “Malam ini kita tidur di alam terbuka jika belum ada kabar dari mata-mata. Besok kita segera menyerang kota Linshang!” Teriaknya marah.
Meskipun pernyataan dari raja Mao Da tidak menyenangkan dan menurunkan semangat pasukannya. Namun mereka tidak berani menentang perintah raja mereka.
Siang harinya pasukan bangsa Buke mencari tempat yang teduh di bawah pohon untuk berteduh, dan sebagian membuatkan tempat sederhana dari batang pohon dan dedaunan untuk berteduh sang raja dan para jendral dan juga untuk para pasukan.
Segera beberapa tempat sederhana dari batang pohon dan dedaunan berdiri untuk tempat peristirahatan mereka. Meskipun sederhana namun bisa meneduhkan di saat matahari terik.
“Yang Mulia, semangat pasukan kita menurun. Apa yang harus kita lakukan?” Seorang tetua bangsa Buke berbicara pelan dengan raja Mao Da.
Raja Mao Da terdiam mendengar perkataan tetua bangsa Buke, dia tidak bisa memberikan apapun saat ini. Namun dia berjanji dalam hatinya, jika bisa memenangkan perang kali ini, dia akan memberikan tanah yang luas pada para pasukannya di wilayah kerajaan Salju Utara.
Malam itu cukup dingin karena wilayah kerajaan Salju Utara merupakan daerah pegunungan yang tinggi, sehingga tempat berteduh sementara yang dibuat oleh pasukan bangsa Buke tidak bisa menghindari pasukan dari terjangan angin dingin.
Dan satu hal yang tidak mereka ketahui bahwa Baihu diam-diam telah mengendap-ngendap bersama beberapa orang untuk mendekati tempat peristirahatan mereka. Di balik bebatuan yang tinggi dan tersembunyi, Baihu telah memerintahkan pasukannya untuk mengumpulkan bebatuan di atas bukit.
__ADS_1
Kemudian Baihu mengerahkan jurus yang dipelajarinya dari murid tetua Dang Gui, Badai Salju Musim Dingin. Meskipun hanya dua jurus, namun Baihu mampu menciptakan udara yang sangat dingin hingga membekukan udara sekitarnya.
Dengan mengerahkan jurus Badai Salju Musim Dingin, Baihu langsung mengarahkan jurus tersebut ke tempat peristirahatan pasukan bangsa Buke.
Malam itu di tempat peristirahatan pasukan bangsa Buke, udara di pegunungan utara memang sudah cukup dingin dan membuat mereka semua merasa kedinginan. Pasukan kesulitan untuk menghalau rasa dingin karena perlengkapan mereka telah terbakar pagi harinya.
Pasukan bangsa Buke hanya mengandalkan api unggun yang mereka buat untuk mendapatkan kehangatan. Dan mulai tertidur di dekat api unggun tersebut.
Namun tiba-tiba, angin kencang yang dingin datang menerjang ke tempat mereka. Seluruh api unggun tiba-tiba padam dan udara dingin yang sedingin es menyerang pasukan bangsa Buke.
Tubuh pasukan bangsa Buke yang tidak dilengkapi dengan perlengkapan dingin karena terbakar segera menggigil kedinginan. Wajah mereka memucat dan bibir mereka membiru.
Raja Mao Da, para tetua dan jendral yang berkemampuan tinggi mampu menahan udara sedingin es itu, namun tidak dengan para pasukan mereka yang berkemampuan rendah.
Akhirnya sebagian besar pasukan menjadi panik dan berlarian untuk bersembunyi di balik dinding bebatuan yang ada. Sebagian lagi berlari ke arah pepohonan dan bersembunyi di balik pohon. Namun tidak sedikit yang mati membeku karena udara dingin yang tiba-tiba menyerang mereka.
“Yang Mulia, bebatuan sudah dipersiapkan sesuai rencana.” bisik salah satu jendral yang mendekati Baihu.
“Bagus, dengan begini pasukan musuh tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Semangat tempur mereka akan semakin menurun.” sahut Baihu pelan.
Mereka kemudian kembali ke benteng kota Linshang setelah mempersiapkan segala sesuatunya di tempat itu.
Tempat tersebut adalah sebuah lereng bukit yang berada di dekat kota Linshang yang merupakan jalur yang akan dilalui oleh pasukan Buke jika hendak menyerang kota Linshang.
__ADS_1
Pagi harinya, pasukan bangsa Buke banyak yang tidak bisa tidur nyenyak karena udara dingin. Dan beberapa yang memaksa tidur dalam udara dingin tidak akan bisa bangun kembali. Tubuh mereka yang tertidur membeku dan merekapun mati kedinginan.
Pasukan bangsa Buke kembali menderita kerugian karena kejadian tersebut. Dan hal ini berada diluar perkiraan Raja Mao Da. Dia tidak menyangka keberangkatan pasukan bangsa Buke kali ini akan mendapatkan rintangan yang sangat besar seperti ini.
Sudah sejak dulu bangsa Buke dari wilayah barat tidak bisa menyerang kerajaan Salju Utara karena kondisi alam di perbatasan Kota Linshang tidak menguntungkan bagi pasukan bangsa Buke. Namun karena mereka berhasil menaklukkan kerajaan Salju Utara sebelum ini, membuat mereka lupa dan mengabaikan hal itu.
Mereka lupa bahwa mereka bisa menaklukkan kerajaan Salju Utara karena kota Linshang bekerja sama dengan mereka sebelumnya dan meloloskan pasukan bangsa Buke ke wilayah kerajaan Salju Utara.
Pasukan bangsa Buke yang masih kedinginan dan kurang tidur, pagi itu tampak terpencar dengan perasaan kurang bersemangat. Semangat bertempur pasukan bangsa Buke benar-benar lemah.
Melihat kondisi pasukannya, Raja Mao Da memerintahkan tukang masak untuk menyiapkan makanan yang enak dari sisa perbekalan yang masih ada.
“Hari ini kita tidak akan menunggu lagi. Kita akan menyerang dan meratakan kota Linshang!” kata Raja Mao Da di depan tetua bangsa Buke dan dua jendralnya.
Mendengar hal itu, kedua jendral yang juga memaksakan diri bersemangat memberikan perintah agar seluruh pasukan mulai berbaris dan bersiap untuk makan serta mendengarkan perintah dari Raja Mao Da.
Makanan yang telah disiapkan dan pasukan bangsa Buke yang tersisa segera mengambil makanan untuk menghangatkan badan dan meningkatkan stamina mereka.
Semangat tempur pasukan bangsa Buke meningkat sedikit setelah selesai menikmati makanan hangat dan pedas khas bangsa Buke. Mereka kemudian berbaris meskipun udara dingin masih tersisa di pagi hari itu.
“Saudara-saudaraku, hari ini adalah hari bersejarah bagi bangsa Buke. Sebagian dari kita telah berada di ibukota kerajaan Salju Utara dan menunggu kedatangan kita. Namun kita mendapatkan hambatan karena kota Linshang telah jatuh ke pihak musuh.” kata Raja Mao Da memulai pidatonya.
“Aku telah mengirimkan surat ke ibukota kerajaan untuk membantu menyerang kota Linshang dari arah timur, dan kita akan menghimpit mereka dari barat. Kemenangan berada di depan mata. Jika berhasil memenangkan perang ini, kalian akan hidup makmur dan mendapatkan hadiah tanah yang luas di wilayah kerajaan Salju Utara. Aku berjanji akan hal itu.” Teriak Raja Mao Da dengan bersemangat.
__ADS_1
Mata pasukan bangsa Buke berbinar mendengar hal itu, semangat mereka kembali terpacu setelah mendengar rencana dan hadiah yang dijanjikan oleh Raja Mao Da. Udara dingin menjadi terbakar oleh semangat mereka dan segera bersiap untuk menyerang.
Barisan pasukan bangsa Buke segera bergerak menuju ke arah kota Linshang dengan rapi dan semangat tinggi. Pasukan berkuda menaiki kuda yang masih tersisa sejak kebakaran sebelumnya.