
Pada hari yang telah ditentukan, Baihu pergi bersama beberapa jendral kerajaan Gurun Barat yang juga adalah teman-temannya dari sekte besar dataran tengah pergi ke puncak gunung Awan Api untuk bertarung melawan La Xuan, putra mahkota kerajaan bangsa Lato.
Sementara itu La Xuan bersama adiknya La Guan dan gurunya Xu Yuan telah menunggu di puncak gunung Awan Api. Waktu pertarungan tinggal satu jam lagi, Baihu dan teman-temannya telah tiba di tempat pertarungan.
Baihu berjalan mendekati La Xuan dan melihatnya dengan seksama. Wajah La Xuan memang mirip dengan La Yuan, namun agak lebih tua darinya. La Xuan memang kakak kandung dari La Yuan, sedangkan La Guan adalah adik tirinya dari ibu selir raja kerajaan Lato.
“Aku telah datang. Aku harap hari ini dendam ini akan berakhir.” kata Baihu pada La Xuan.
“Dendam ini akan berakhir ketika aku mengambil nyawamu.” sahut La Xuan dengan tatapan tajam pada Baihu.
Baihu menghela nafasnya mendengar perkataan La Xuan.
“Banyak manusia mati dalam peperangan, jika tidak ingin mati sebaiknya jangan pergi berperang. Gugur dalam peperangan adalah hal yang terhormat. Tidak ada dendam dalam peperangan, hanya pihak yang berlawanan. Kawan dan saudarapun bisa saling bunuh dalam peperangan.” kata Baihu panjang lebar.
Namun apa yang dikatakan oleh Baihu sama sekali tidak menarik bagi La Xuan. Dalam pikirannya, dia harus membalaskan dendam pada pembunuh adiknya.
“Baiklah, tidak perlu berbicara banyak lagi. Mulailah!” kata Baihu.
La Xuan segera bersiap dengan mengepalkan tinjunya. Dia mengerahkan kekuatannya dan mengalirkan ke kedua tinjunya. Baihu juga mengerahkan kekuatan di kedua telapak tangannya.
Kedua belah pihak telah bersiap untuk melakukan serangan, suasana seketika hening. Semua orang yang menonton seakan menahan nafas menunggu mulainya pertarungan ini.
Wuzzzhh...
Angin bertiup diantara mereka. La Xuan segera melompat dan menyerang Baihu dengan kedua tinjunya. Serangan La Xuan sangat ganas dan suara tinjunya meraung membuat bulu kuduk penonton berdiri mendengarnya.
Namun Baihu tetap tenang menanti serangan La Xuan. Ketika tinju La Xuan berjarak satu langkah darinya, Baihu pun bergerak dengan kecepatan tinggi mengelak serangan tinju La Xuan.
__ADS_1
Telapak tangan Baihu seperti menari meliuk di sela lengan La Xuan kemudian mengarah ke dada La Xuan dengan cepat. “Huh!”
Mata La Xuan melihat gerakan Baihu langsung mengangkat tinjunya dan menahan telapak Baihu dengan menggunakan siku tangannya. Siku La Xuan memotong arah serangan telapak Baihu yang ingin menghantam dadanya. La Xuan lalu mengarahkan tinju kirinya memutar ke arah berdirinya Baihu di sisi kanannya.
Wuzzzhhh...
Baihu berkelit dari tinju kiri La Xuan, sehingga tinju La Xuan hanya mengenai angin. Kemudian La Xuan mengubah serangan tinjunya dan bermaksud untuk menggunakan tendangan kakinya.
La Xuan mengeluarkan sapuan kaki ke arah Baihu, namun Baihu telah membaca arah serangan La Xuan, diapun melompat menghindari sapuan kaki La Xuan. Kemudian Baihu bersalto di udara seakan melompati tubuh La Xuan. Hal itu membuat La Xuan berbalik untuk menyambut Baihu di belakangnya, namun dia tidak melihat Baihu di sana.
Tiba-tiba La Xuan merasakan kekuatan besar menuju ke atas kepalanya dengan cepat. Wajah La Xuan menjadi pucat ketika mengetahui Baihu menukik turun di atas kepalanya dengan kaki menyapu ke arah tenggorokannya.
Hanya sepersekian detik La Xuan reflek mendongakkan kepalanya lalu memiringkan tubuhnya ke belakang untuk menghindari sapuan kaki Baihu dari atas. Dengan posisi demikian, La Xuan masih sempat untuk mengangkat kakinya berbalik dengan bertumpu pada tangannya mengarahkan tendangannya ke punggung Baihu.
Posisi Baihu di udara membuatnya mau tak mau membalikkan badan untuk menangkis tendangan kaki La Xuan dengan telapak tangannya.
Pukulan telapak Baihu menghalau kaki La Xuan dan memantulkannya kembali, sementara dia bersalto kembali di udara dan mendarat agak jauh di belakang La Xuan.
Ketika dia berhasil menjejakkan kakinya di tanah, Baihu menggunakannya untuk menolak tubuhnya kembali dan melesat ke arah La Xuan dengan kecepatan lebih cepat dari sebelumnya.
Bugh!
Telapak tangan Baihu berhasil menghantam punggung La Xuan dengan telah dan membuatnya terjerembab jatuh ke tanah. Namun La Xuan berhasil menahan tubuhnya dan berbalik memutar. Pukulan kuat Baihu membuatnya terduduk setelah berhasil menghindarinya jatuh tertungkup di atas tanah.
Wajah La Xuan menjadi jelek dan meringis kesakitan. Meskipun dia sempat mengalirkan kekuatannya ke punggung untuk menghindari serangan Baihu, namun rasa sakit masih tetap terasa di punggungnya.
La Xuan segera mengalirkan energinya untuk menghalau energi Baihu yang masih tersimpan di punggungnya.
__ADS_1
“Kurang ajar!” geramnya merasa sakit di punggung.
Mata La Xuan bergerak berputar karena kesal. Dia pun kembali mengerahkan kekuatannya dan bersiap untuk menyerang kembali.
Kali ini La Xuan tidak lagi menahan dirinya, dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk segera mengakhiri pertarungan ini.
“Kakakmu terlalu meremehkan lawannya.” gumam Xu Yuan yang berdiri di samping La Guan. Mendengar perkataan gurunya, La Guan menoleh ke arah Xu Yuan.
“Guru, apakah kakak bisa mengalahkannya?” tanya La Guan.
Wajah Xu Yuan terlihat tenang, dia menyipitkan matanya melihat ke arah pertarungan.
“Kekuatan mereka berdua seimbang, namun serangan jurus kakakmu kurang efektif. Tidak demikian halnya dengan Baihu, gerakannya sederhana namun daya serangnya sangat kuat. Pengalaman bertarungnya jauh di atas kakakmu.” sahut Xu Yuan.
La Guan kembali memperhatikan pertarungan antara kakaknya melawan Baihu. Dia merasa cemas setelah mendengar kata-kata gurunya itu. “Kakak...”
Serangan La Xuan memang sangat ganas dan kuat, namun pengalaman bertarungnya jauh di bawah Baihu yang telah melalui berbagai pertarungan dalam hidupnya. Sehingga serangan La Xuan meskipun sangat kuat tetapi tidak efektif terhadap lawannya.
Sebaliknya Baihu yang menggunakan jurus Sembilan Semesta namun gerakannya sederhana, tetapi daya serang dari gerakannya sangat kuat dan langsung menghantam ke arah lawannya.
Perbedaan itu membuat serangan La Xuan dengan mudah di hindari oleh Baihu dan stamina La Xuan terbuang karenanya, namun serangan Baihu selalu mengenai tubuh La Xuan meskipun dia bisa menangkis dan menahannya.
Akhirnya La Xuan menyadari bahwa gerakan jurusnya tidak sebaik gerakan Baihu. Dia pun akhirnya mengeluarkan pedang pusaka miliknya untuk melawan Baihu. Melihat lawannya mengeluarkan pedang, Baihu pun tidak meremehkannya. Dia menghunus pedang naganya dari dalam cincin penyimpanan miliknya.
Pedang naga memantulkan cahaya matahari dengan kilatan tajam di kedua sisinya. Suara pedang mendengung karena angin menerpa ke arahnya.
La Xuan menyipitkan matanya melihat pedang naga di tangan Baihu. Dia tidak menyangka pedang milik Baihu terlihat lebih kuat dari pedang pusaka miliknya. “Aku harus memiliki pedang itu. Aku akan merebutnya setelah berhasil membunuhmu.”
__ADS_1
Kemudian La Xuan bersiap mengeluarkan jurus pedang pusaka miliknya. Pedang pusaka diayunkan ke udara dan berputar lalu menebas ke arah Baihu.