
“Berarti kerajaan Salju Utara telah jatuh ke tangan bangsa Buke.” kata Baihu kemudian.
Pemimpin pasukan itu menundukkan kepalanya bersama pasukan ibukota yang tersisa itu. Mereka merasa malu karena tidak bisa mempertahankan kerjaan, bahkan kini mereka hidup dalam pelarian.
“Sudahlah, kaliam nikmati makanan ini dulu. Setelah itu kita bicara kembali,” lanjut Baihu sambil memberikan makanan yang dipanggangnya kepada mereka.
Para mantan pasukan kerajaan Salju Utara itu segera meraih makanan yang diberikan oleh Baihu dan memakannya dengan lahap. Baihu menggelengkan kepalanya menatap mereka yang kelaparan.
Tak berapa lama, murid Wudang yang ditugaskan mencari informasi ke kota Weishan oleh Baihu pun tiba di tempat mereka. Dia terkejut melihat beberapa orang yang turut duduk melahap makanan bersama Baihu.
“Duduklah, ceritakan sambil bersantap,” Baihu menyerahkan sepotong daging pada murid Wudang itu. Sambil melahap daging, murid Wudang pun menceritakan situasi di dalam kota Weishan pada Baihu.
Sejak ibukota kerajaan dijatuhkan oleh bangsa Buke, mereka segera menutup beberapa kota yang dekat dengan ibukota dan membagi pasukan mereka di kota-kota tersebut serta memeriksa setiap orang yang datang dan pergi dari kota tersebut.
Murid Wudang juga menceritakan bahwa Raja Kerajaan Salju Utara telah terbunuh, dan kini Raja Mao Da yang duduk sebagai Raja Kerajaan Salju Utara. Mereka juga merayakan kemenangan di ibukota kerajaan.
“Yang Mulia, mereka juga melakukan pembersihan terhadap pasukan di setiap kota dan menangkap mereka yang setia dengan Raja Yang Kui sebelumnya. Pihak keluarga kerajaan juga telah dikumpulkan dan akan dihukum penggal tiga hari lagi,” kata murid Wudang itu dengan wajah serius.
“Raja Mao Da benar-benar memangkas keluarga kerajaan Salju Utara hingga ke akar-akarnya,” sahut Baihu.
Para mantan pasukan ibukota kerajaan yang mendengar hal itu hanya bisa menundukkan kepala mereka. Selama ini tidak semua keluarga kerajaan yang berperilaku buruk, namun kini semuanya menerima hukuman mati seperti itu. Peperangan memang sungguh tidak adil.
Baihu mengernyitkan dahinya “Apakah kamu mendengar berita tentang Zhang Mou?”
Murid Wudang itu mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak Yang Mulia. Orang-orang di kota Weishan tidak pernah mendengar nama itu.”
__ADS_1
Wajah pemimpin pasukan tampak tertegun memikirkan sesuatu. “Tuan, apakah maksudmu Zhang Mou itu orang dari dataran tengah ini?”
“Benar. Dia berasal dari kerajaan Gurun Barat dan bersekutu dengan bangsa Buke. Apakah kamu pernah melihatnya?” tanya Baihu berbalik menatap pemimpin pasukan itu.
“Jika aku tidak salah, ada seseorang yang seperti berasal dari dataran tengah ini selalu berada di samping Raja Mao Da. Dia seperti penasehatnya yang memberikan saran kepada Raja Mao Da selama pertempuran.”
Baihu menatap pemimpin pasukan itu dengan wajah serius. “Apa kamu yakin? Bisa jadi dia orang yang aku cari.”
“Yakin tuan. Selama pertempuran aku melihat seseorang yang wajah dan kata-katanya jelas berasal dari wilayah dataran tengah ini. Dan dia selalu mengikuti Raja bangsa Buke kemanapun dia pergi.” sahut pemimpin pasukan kembali.
Wajah Baihu terlihat menegang mendengar hal itu, “Benar. Bisa jadi dia orang yang kucari,” batinnya.
“Apa rencanamu Yang Mulia?” murid Wudang itu kemudian bertanya pada Baihu.
Semua orang menunggu kata-kata Baihu, mereka sendiri tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan sekarang.
Murid Wudang dan para mantan pasukan ibukota kerajaan termangu mendengar penjelasan Baihu. Mereka saling memandang satu sama lain seakan-akan meminta pendapat masing-masing.
“Menurutku, kalian sebaiknya mendahului menyerang mereka sebelum mereka bertambah kuat di kerajaan Salju Utara ini,” lanjut Baihu memberitahu rencana pada mereka.
“Sampaikan pesanku ini pada ketua sekte Wudang, aku akan menunggu kalian di ibukota kerajaan Salju Utara.” kata Baihu selanjutnya.
“Yang Mulia bermaksud memasuki ibukota kerajaan sendirian?” murid Wudang itu terkejut mendengar kata-kata Baihu.
Baihu tersenyum dan melihat pada mereka semua. “Benar, aku bisa menyamar sendiri dan memasuki kota Weishan kemudian pergi ke ibukota kerajaan.
__ADS_1
Murid Wudang itu pun menganggukkan kepalanya. “Yang Mulia, aku percaya dengan kekuatanmu. Tapi lawan juga memiliki pendekar kuat yang melindungi mereka.”
“Makanya aku memintamu untuk menemui ketua sekte Wudang dan menghimpun kekuatan. Aku mungkin tidak bisa selamanya di dalam ibukota kerajaan. Aku memerlukan bantuan kalian untuk memecah konsentrasi mereka dengan segera menyerang balik.
“Aku akan menyerang mereka dari dalam ibukota.” sahut Baihu kemudian.
Setelah Baihu menjelaskan secara panjang lebar rencananya, murid Wudang dan para mantan pasukan ibukota itu lalu pergi kembali ke kediaman sekte Wudang untuk menghimpun kekuatan seperti pesan Baihu melalui murid sekte tersebut.
Sementara itu, Baihu menyamar sebagai pedagang bersama rombongan pedagang lainnya yang bermaksud untuk pergi ke ibukota kerajaan. Para pedagang itu semuanya membawa barang dagangannya, sementara Baihu hanya mengikuti mereka seakan-akan dia menjadi bagian dari pedagang tersebut.
“Berhenti!” Para penjaga kota Weishan yang berasal dari bangsa Buke segera menghentikan Baihu dan para pedagang lainnya. Mereka memeriksa barang dagangan yang dibawa oleh pedagang itu. Karena tidak menemukan hal yang aneh, kemudian mempersilahkan para pedagang itu termasuk Baihu untuk masuk ke dalam kota Weishan.
Baihu pun lolos memasuki kota Weishan setelah menyamar sebagai pedagang dan bergabung bersama pedagang itu.
Ketika tiba di dalam kota Weishan, Baihu kemudian memisahkan diri dan pergi menghilang di tengah kota Weishan.
Hal pertama yang ingin di lakukan Baihu adalah pergi melanjutkan perjalanan menuju ibukota kerajaan. Namun dia menyadari bahwa penjagaan ibukota kerajaan saat ini tentu lebih ketat dari pada kota-kota di sekitarnya.
Untuk itu Baihu bermaksud menyelinap memasuki ibukota di malam harinya. Siang ini dia mencari tempat untuk beristirahat sambil menikmati makan dan mencari informasi di kota Weishan.
Di sebuah warung makan yang tampak sepi, hanya ada dua meja yang terisi di tempat itu. Baihu pun memasukinya sambil memesan makanan.
Salah satu meja tampak seorang lelaki setengah baya duduk sambil meminum arak sendirian. Sekilas orang-orang bisa melihat dia adalah seorang petarung dari dataran tengah. Dari raut wajahnya terlihat kesedihan yang mendalam sehingga dia meminum arak hingga mabuk di warung tersebut.
Di meja lainnya, tampak empat orang yang juga terlihat seperti petarung dari dataran tengah namun tiga diantaranya adalah wanita dan satunya lagi seorang lelaki muda yang tampan.
__ADS_1
Baihu berjalan dengan acuh tak acuh lalu duduk di antara meja mereka. Dari meja Baihu dia juga bisa melihat ke arah luar jendela dengan jelas. “Kota Weishan terlihat cukup sepi karena peperangan ini.”
Kota Weishan merupakan salah satu kota korban perang, dimana penduduk kota sebagian besar telah mati dalam peperangan itu. Hal itu membuat kota Weishan terlihat sepi penduduk.