
Seminggu setelah semua ketua sekte besar dibebaskan dan kembali ke kediaman sekte mereka masing-masing. Mereka kemudian berencana untuk bertemu dan memutuskan mengangkat Baihu sebagai pahlawan mereka dan menobatkannya sebagai anggota kehormatan seluruh sekte besar di Dataran Tengah.
Ketua sekte Wudang, Kunlun dan Huasan merasa paling berhutang budi pada Baihu dan mereka yang mengusulkan hal itu. Tentu saja para tetua dari sekte masing-masing juga menyetujui hal itu setelah melihat pertarungan Baihu melawan Chen Guo.
Satu hal yang juga membuat mereka memutuskan itu adalah karena Baihu dianggap dekat dengan ketiga tetua bela diri yang disegani oleh seluruh sekte di Dataran Tengah.
Di seberang sungai dari kota Bintang, wilayah kerajaan Pesisir Laut Selatan terdapat kota Panai. Kota pelabuhan milik kerajaan Pesisir Laut Selatan yang juga tak kalah ramai dari kota Bintang. Empat orang tampak duduk menikmati makanan di salah satu kedai makanan di kota Panai tersebut.
“Hahaha... orang-orang itu selalu saja berbuat dan memutuskan hal aneh-aneh.” Tetua Zhu Shimin tertawa mendengar berita tersebut.
Baihu juga menggelengkan kepalanya mendengar hal itu. Baginya mendengar ketua sekte Shang Chi selamat sudah membuat hatinya senang, begitu ketua sekte lainnya. Menjadi pahlawan bukan sesuatu yang diinginkannya.
“Lalu bagaimana menurutmu Baihu?” Tanya Wang Mei padanya.
“Tuan, tentu tidak baik juga menolak maksud baik orang-orang itu. Lagipula mereka dengan rendah hati memutuskan hal itu,” sahut Mu Lin.
Setelah memikirkannya, akhirnya Baihu memutuskan untuk datang sekaligus dia ingin menjenguk ketua sekte Shang Chi yang dihormatinya setelah tidak bertemu sekian lama.
“Tempatnya adalah di kediaman sekte Matahari Bulan.” Lanjut Wang Mei
“Kalian pergilah berdua kesana. Aku dan Mu Lin akan pergi ke Teluk Timur untuk melatih Mu Lin menjadi muridku dan melawan murid Dang Gui selanjutnya,” sahut Zhu Shimin.
Mata Mu Lin berkedut mendengar perkataan Zhu Shimin yang sepihak tanpa bertanya padanya terlebih dahulu. Namun kemudian dia mengerti maksud tetua Zhu Shimin, karena mereka berdua pergi ke sekte mereka sedangkan Mu Lin adalah orang luar sekte Matahari Bulan.
“Baiklah. Setelah urusan ini berakhir, kami akan pergi mengunjungi kalian di Teluk Timur,” sahut Baihu membuat Mu Lin merasa senang.
__ADS_1
Setelah berpamitan, merekapun berpisah arah. Zhu Shimin mengajak Mu Lin menuju ke arah timur ke wilayah kerajaan Matahari Terbit. Sedangkan Baihu dan Wang Mei pergi ke arah utara menuju kota Wuxia dan pegunungan tempat kediaman sekte Matahari Bulan. Dalam perjalanan menuju kota Wuxia, Baihu melewati Ibukota kerajaan Pesisir Laut Selatan yang hanya berjarak satu hari dari kota Panai.
Keesokan harinya mereka telah tiba di Ibukota Kerajaan Pesisir Laut Selatan. Ibukota Kerajaan tentu saja lebih ramai dari kota-kota besar lainnya.
Wang Mei berjalan bersama Baihu berduaan di ibukota kerajaan seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati keindahan ibukota. Wajah Wang Mei tampak merah, namun hatinya begitu senang bisa berjalan berduaan dengan Baihu.
Di ujung jalan tampak sedang ramai dipadati oleh pengunjung. Saat itu sedang diselenggarakan pertunjukkan binatang buas yang disenangi oleh banyak orang dan dinantikan oleh para penduduk ibukota kerajaan.
Para pedagang juga ramai di sekeliling tempat pertunjukkan tersebut.
“Baihu, ayo kita menonton pertunjukkan itu?” Ajak Wang Mei
Baihu sebenarnya tidak menyukai pertunjukkan binatang, namun demi Wang Mei yang ingin melihat pertunjukkan, dia pun akhirnya mau mengikutinya.
Tampak juga pihak kerajaan Pesisir Laut Selatan tengah berada di tempat itu untuk menonton pertunjukkan tersebut. Mata Wang Mei melihat Zhou An berada ditempat itu bersama teman-temannya. Baihu juga melihatnya, namun dia dan Wang Mei tidak berani mendekatinya karena keluarga kerajaan selalu dikelilingi oleh para penjaga mereka.
Akhirnya pertunjukkan pun di mulai.
“Para penonton yang terhormat, hari ini kami menampilkan seekor harimau yang sangat besar dan buas. Kami menemukannya di tengah hutan di sebelah utara ibukota kerajaan” teriak orang yang membawakan pertunjukkan
Para penonton bersorak mendengar pembawa acara akan memulai pertunjukannya.
Kemudian sebuah kurungan dikeluarkan dari arah pintu masuk, lalu tampak ada dua orang yang memegang cambuk telah bersiap untuk mengendalikan harimau yang buas itu.
Seekor harimau yang cukup besar sekitar empat kali tubuh manusia dewasa keluar dari dalam kandang itu.
__ADS_1
“AAAWWWW...!” Teriak penonton saat melihat harimau yang begitu besar dengan mata merah menyala keluar dari kurungan tersebut. Harimau itu tampak marah melihat kesekelilingnya. Namun kedua orang yang membawa cambuk itu sudah melecutkan cambuk mereka agar harimau itu tidak berani menyerang orang-orang disana.
Mata Baihu terkejut ketika melihat harimau itu. Dia melihat bekas luka di bagian pelipis mata kanan harimau itu, “Sunu?” teriaknya sambil berdiri membuat orang-orang disekitar tempat duduknya ikut terkejut.
Baihu lalu melompat ke dalam arena dan membuat para penjaga berusaha menghentikannya. Mata Wang Mei berkedut melihat tindakan Baihu yang tiba-tiba tersebut. Zhou An juga terkejut karena melihat Baihu yang tiba-tiba muncul didepannya.
Banyak para penonton yang berseru, memaki dan meminta Baihu untuk keluar arena agar tidak mengganggu pertunjukkan, namun Baihu tidak mempedulikannya. Sorot mata Baihu masih terus menatap ke arah harimau tersebut. “Sunu!” teriaknya
Harimau itu seperti mendengar seseorang yang memanggil namanya. Kemudian harimau itu menoleh ke arah Baihu yang datang. Dia seperti mengendus bau dan mendengar suara yang dikenalinya. Mata harimau Sunu langsung menjadi cerah setelah melihat jelas Baihu yang mendatanginya.
Para penjaga yang ingin menghalangi dan menangkapnya semua di pentalkan dengan kekuatannya tanpa menyentuh mereka. Harimau itu juga mengaum dan mengamuk ketika orang-orang mendekati Baihu dan hendak menangkapnya. Dia tidak mempedulikan dirinya dicambuk oleh dua orang itu.
Baihu menangkap kedua cambuk yang hendak mencambuk harimau Sunu lalu menarik mereka hingga terjatuh. Kini hanya Baihu dan Sunu yang berada di arena tersebut.
“Sunu, Apa kabarmu teman?” tanya Baihu dengan gembira melihat keadaan Sunu lalu mereka saling mendekati. Baihu mengelus kepala Baihu dengan tenang dan tampak harimau Sunu menyukai perlakuan dari Baihu.
Semua penonton yang tadinya memaki dan meneriaki Baihu kini terkagum karena harimau itu begitu patuh dan senang bertemu dengannya.
“Hei nak, apa yang kamu lakukan pada harimau kami?” teriak pembawa acara tadi
“Harimaumu?” Baihu berbalik dan menoleh ke arah orang itu dengan tatapan tajam.
Pembawa acara itu bergidik melihat tatapan mata Baihu yang lebih mengerikan dari mata harimau disampingnya.
“Apa yang sudah kamu lakukan pada Sunu?” tanya Baihu pada mereka.
__ADS_1