BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 64 | Tantangan bertarung di Gunung Awan Api


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, Chen Guo telah mengirimkan tantangan ke seluruh sekte besar untuk datang dalam pertarungan di Gunung Awan Api. Dia berencana untuk menjadi nomor satu di dunia bela diri dengan menantang seluruh sekte yang ada, terutama sekte-sekte besar di wilayah daratan.


Sebagai Putra Mahkota Zhang Mou akan hadir sebagai saksi dalam pertarungan tersebut dan sekaligus memberikan predikat sebagai nomor satu bagi pemenang dalam pertarungan itu.


Seluruh sekte besar menjadi gempar setelah menerima tantangan itu, para tetua yang memiliki kekuatan tinggi di alam Langit dari sekte-sekte besar berkeinginan datang untuk mewakili sekte mereka.


“Sialan, Chen Guo ini bekerjasama dengan Putra Mahkota untuk mendapatkan gelar nomor satu” geram Shu Wei dari sekte Matahari Bulan.


“Kakek, siapa yang akan melawannya?” Tanya Shu Chao cucunya yang berada di alam Dewa dan baru beberapa bulan ini menjadi tetua sekte.


“Saat ini hanya aku yang mencapai alam langit tahap awal. Tapi aku tidak yakin untuk mengalahkannya” geram Shu Wei


Sebagai ketua sekte Matahari Bulan yang baru, harga diri Shu Wei tidak ingin diinjak-injak oleh anak kemarin sore seperti Chen Guo. Tetapi tidak ada satupun dari sekte Matahari Bulan yang kini memiliki kekuatan tinggi sejak ketua sekte Shang Chi menghilang.


“Kita datang dan lihat situasi nanti disana” gumam Shu Wei selanjutnya


Sekte lainnya juga mengalami hal yang sama dengan sekte Matahari Bulan. Kekuatan tertinggi yang mereka miliki saat ini hanya alam Langit tahap menengah. Namun demi harga diri sekte, mereka akan datang memenuhi tantangan tersebut.


Sementara itu, Wang Mei dan Mu Lin yang menyamar sebagai petani di pedesaan juga mendengar tentang tantangan itu. Sejak mendengar tantangan tersebut, teman-teman sektenya yang datang dan tinggal di pedesaan itu untuk menunggu Baihu telah kembali ke sekte mereka untuk mendiskusikan tentang tantangan tersebut.


Wang Mei dan Mu Lin juga bermaksud untuk menyaksikan pertarungan tersebut, mereka berharap Baihu akan muncul saat itu dan menyelamatkan sekte Matahari Bulan yang sedang terpuruk.


“Tetua Wang, pertarungan akan berlangsung tiga hari lagi. Kita harus segera berangkat kesana” kata Mu Lin.


“Baik. Mari kita berangkat hari ini” sahut Wang Mei

__ADS_1


Berkat tantangan itu, Gunung Awan Api menjadi terkenal dan ramai dikunjungi oleh orang-orang dari dunia bela diri. Mereka menetap di beberapa desa yang ada di kaki gunung tersebut sebelum hari puncak pertarungan.


Sebagian besar dari mereka ingin menyaksikan siapa yang terkuat dan akan menjadi nomor satu di dunia bela diri ini. Sungguh predikat yang sangat diharapkan oleh sebagian orang yang mempelajari bela diri.


*****


Sementara itu, Baihu dan Zhu Shiming yang masih terkurung di dalam gua tersebut semakin sering berlatih. Baihu kini sudah menguasai seluruh ilmu dari Zhu Shimin dan kekuatannya seimbang dengan Zhu Shimin yang berada di alam Langit tahap akhir.


Baihu yang berusia 17 tahunan tampak penampilannya yang dekil, bau dan acak-acakan karena di selama ini ditempat itu tidak ada air untuk membersihkan diri. Mereka berdua tampak seperti dua orang pengemis yang sedang bertarung.


“Hebat. Kamu sungguh berbakat nak. Hanya dalam waktu singkat, kamu telah bisa menguasai seluruh ilmu dariku” Zhu Shimin mengacungkan jempolnya pada Baihu


“Tetua, kamu terlalu memujiku” sahut Baihu merendah


Baihu menyadari kekuatannya telah bertambah sejak berlatih hampir setiap saat di dalam gua tersebut untuk mengisi kebosanan dari Zhu Shimin yang telah bertahun-tahun di tempat itu tanpa seorang teman.


Ilmu tertinggi yang dimilikinya adalah Jurus Angin Badai Mengguncang Langit yang sangat dahsyat setara dengan jurus Sembilan Semesta yang dikuasai oleh Hong Jun dan dirinya. Kedua jurus itu pun setara dengan jurus Badai Salju Musim Dingin dari Dang Gui sang Raja Bintang Utara.


Dengan dua ilmu tertinggi saat ini yang dimiliki oleh Baihu, dan juga ilmu 9 Matahari dan Bulan membuat Baihu menjadi seorang yang patut diperhitungkan di usianya yang masih muda.


Tiba-tiba mereka merasakan getaran dan seakan-akan langit-langit gua akan runtuh membuat Baihu dan Zhu Shimin terkejut karenanya.


“Ada apa di luar gua ini?” gumam Baihu


Beberapa tanah mulai runtuh di gua tersebut membuat Baihu dan Zhu Shimin menyingkir jika tidak ingin terkubur oleh runtuhan tanah itu.

__ADS_1


Baihu dan Zhu Shimin tidak menyadari bahwa mereka berada di dalam Gunung Awan dan Api. Di luar gua tempat mereka terkurung saat ini sedang ramai didatangi oleh orang-orang dari dunia bela diri yang ingin menyaksikan pertarungan untuk mendapatkan peringkat nomor satu dunia bela diri.


Kejadian di luar gua yang mulai ramai, membuat gua menjadi bergetar dan mulai runtuh sedikit demi sedikit. Kolam lahar juga bergolak lebih kuat karena akibat dari getaran tersebut.


“Tetua, gua ini mulai runtuh. Sepertinya kita bisa memanfaatkan bagian atas gua untuk keluar dari tempat ini” Baihu menjadi bersemangat melihat hal itu.


Zhu Shimin juga tampak berkaca-kaca memikirkan dirinya akan segera bisa keluar dari tempat terkutuk itu yang menahannya selama bertahun-tahun.


Di atas gua tersembunyi merupakan puncak gunung Awan Api, sedangkan pertarungan terjadi di lereng sebelah barat yang pernah di gunakan oleh Guru Wushan bertarung dengan Raja Buas ketua sekte Ming, Shi Long.


Tampak orang-orang telah ramai berdatangan di lereng barat yang cukup landai dan bisa menampung ribuan orang disana. Gerakan mereka membuat gunung Awan Api bergetar sehingga langit-langit gua di dekat tempat itu menjadi runtuh perlahan.


Orang-orang dari sekte besar telah datang di tempat itu memenuhi tantangan dari Chen Guo yang mewakili dirinya sendiri meskipun dia berasal dari sekte Makam Raja seperti yang diketahui oleh orang-orang sekte lainnya.


Putra Mahkota Zhang Mou belum datang di tempat itu, semetara Chen Guo tampak duduk dengan santai di sebuah singgasana yang telah dia siapkan di ujung tempat itu. Dia juga menyiapkan satu singgasana lagi di sebelah dirinya untuk Putra Mahkota Zhang Mou.


Para utusan sekte besar diberikan tempat di sekelilingnya dengan beberapa kursi biasa sedangkan para murid serta penonton umum yang ingin menyaksikan pertarungan ini hanya bisa berdiri menunggu acara dimulai.


Terlihat semua wajah para ketua sekte sementara dan tetua sekte dari sekte-sekte besar menjadi gelap melihat tingkah dari Chen Guo yang mereka anggap sungguh menjijikkan karena terlalu meremehkan mereka.


Ketika para penonton mulai tidak sabar, tiba-tiba...


“Putra Mahkota telah tiba” teriak salah seorang dari bawahan Chen Guo


Mendengar hal itu Chen Guo dan para ketua sekte besar segera berdiri untuk memberi hormat pada Zhang Mou, Putra Mahkota Kerajaan Gurun Barat yang datang untuk menjadi saksi pertarungan itu.

__ADS_1


__ADS_2