
Meskipun kekuatan pasukan bangsa Buke berkurang hampir setengahnya, namun kini semangat tempur mereka telah meningkat. Dan mereka bergerak menuju ke arah kota Linshang pada siang harinya.
Strategi yang mereka susun sebelum berangkat adalah mengerahkan pasukan panah untuk melindungi dengan memanah ke arah atas benteng kota Linshang. Lalu mengandalkan pasukan berkuda yang dipimpin oleh dua jendral dan tetua untuk mendobrak gerbang benteng kota Linshang dengan menggunakan kayu dan kekuatan dari tetua bangsa Buke.
Namun dua hal yang dilupakan oleh Raja Mao Da dalam pertempuran ini. Yaitu posisi pemanah pasukan kota Linshang lebih menguntungkan karena berada di atas benteng dengan jangkauan yang lebih jauh. Dan satu lagi, lereng bukit yang ada di samping jalur menuju ke arah kota Linshang.
Baihu hanya memerintahkan pasukan pemanah untuk memanah ke arah bukit dimana bebatuan besar telah dipersiapkan untuk menggelinding setelah penahannya yang terbuat dari kayu di panah dengan menggunakan panah api.
Namun untuk mengaburkan arah panah itu, Baihu sengaja meminta sebagian pemanah untuk memanah ke arah pasukan bangsa Buke dan dia mengerahkan jurus Angin Badai Mengguncang Langit untuk menerbangkan debu di sekitar pasukan bangsa Buke.
Raja Mao Da mengerahkan jurusnya juga untuk menahan serangan dari jurus Angin Badai Mengguncang Langit. Dia menggunakan senjata golok pusaka miliknya dan menebas angin badai yang ditimbulkan oleh Baihu.
Namun konsentrasi Raja Mao Da dan pasukan Buke tidak melihat sebagian panah telah mengarah ke bukit dan membakar penahan batu besar disana.
Krakk...Kraakkk!... Brakkk!
Gludug! Gludug! Gludug!
Batu-batu besar menggelinding ke arah pasukan bangsa Buke dengan disertai getaran seperti gempa bumi di sekitar mereka. Pasukan bangsa Buke menjadi panik ketika melihat banyaknya batu besar yang jatuh dari atas bukit dan menggelinding ke arah mereka.
“Kurang ajarr...” Raja Mao Da berteriak dengan lantang kemudian mengubah serangannya membelah batu-batu besar itu dengan goloknya untuk melindungi pasukannya.
Tetua bangsa Buke juga menggunakan senjata tombaknya untuk menghancurkan bebatuan yang jatuh itu. Namun batunya cukup banyak dan ada yang lolos menghantam beberapa pasukan bangsa Buke.
Kemudian panah-panah api juga beterbangan dari arah benteng kota Linshang ke arah pasukan yang panik itu.
Pasukan bangsa Buke terjepit oleh batu dan juga anak panah ke arah mereka, sebagian dari mereka terlihat putus asa dan terbunuh dengan mengenaskan.
__ADS_1
Salah satu dari jendral pasukan Buke terkena serangan panah yang dilepaskan oleh Baihu yang dialiri dengan kekuatan tingkat alam Abadinya. Anak panah itu langsung menembus kepala jendral tersebut yang kemudian tersungkur dari kudanya.
Raja Mao Da menjadi geram melihat hal itu, kemudian dia menaiki kudanya kemudian melompat ke udara dan hendak menebas ke arah benteng kota Linshang dengan jurus goloknya.
Namun apa yang dilakukan oleh Raja Mao Da telah di antisipasi oleh Baihu yang juga melompat dan menggunakan pedang naganya membentuk pertahanan yang menghadang tebasan golok tersebut.
Bummm!
Ledakan terjadi ketika tebasan golok menghantam perisai perlindungan yang dibentuk oleh pedang naga Baihu. Raja Mao Da terlihat geram karena serangannya telah di gagalkan oleh Baihu. Dia pun lalu meneruskan menunggang kuda ke arah benteng kota Linshang.
Baihu melompat dari atas benteng kota Linshang dan mendarat dengan pelan di depan benteng kota untuk menghadang Raja Mao Da secara langsung.
Seorang tetua bangsa Buke yang juga turut berkuda disamping Raja Mao Da bermaksud untuk mengeroyok Baihu, namun ketua sekte Wudang telah turun mengikuti Baihu untuk menjadi lawan tetua bangsa Buke tersebut.
Jendral Gong Jun juga tidak mau ketinggalan dan turut melompat ke arena peperangan dan bermaksud melawan seorang jendral bangsa Buke yang masih tersisa.
Kreeekkk...
Pintu gerbang benteng kota Linshang terbuka dan tampak pasukan berkuda dari kerajaan Salju Utara dan kerajaan Gurun Barat keluar dan menyerang ke arah pasukan bangsa Buke yang masih tersisa. Pertempuran terbuka pecah di luar benteng kora Linshang.
Ketua sekte Wudang yang melawan salah satu tetua dari bangsa Buke tidak lagi membuang waktu dalam peperangan. Dia segera mengeluarkan jurus pamungkas pedang semesta milik sekte Wudang dan langsung menyerang dengan ganas ke arah tetua bangsa Buke.
Kekuatan mereka berdua seimbang di alam Langit, namun kekuatan jurus Wudang lebih ganas. Sehingga tidak memakan waktu lama, tetua bangsa Buke langsung menghembuskan nafas terakhirnya karena tertusuk oleh pedang ketua sekte Wudang.
“Adik!” teriak tetua bangsa Buke satunya yang melihat kematian dari adiknya. Wajahnya menjadi geram dan langsung melompat ke arah ketua sekte Wudang dan menyerangnya dengan ganas.
Tetua itu menggunakan tombak untuk menyerang jurus pedang dari ketua sekte Wudang dan jurus tombaknya lebih cepat dan keras dibandingkan dengan jurus pedang adiknya yang telah terbunuh.
__ADS_1
Ketua sekte Wudang yang berusia tua tentu saja kalah stamina dari tetua bangsa Buke yang berusia setengah baya. Sehingga ketua sekte Wudang tampak mulai kewalahan melayani serangan tetua bangsa Buke.
Melihat hal itu, dua orang jendral pasukan kerajaan Salju Utara segera bergegas membantu ketua sekte Wudang dengan menggunakan tombak mereka. Kini situasinya menjadi terbalik, dengan dua orang jendral melawan satu tetua bangsa Buke.
“Cih, kalian hanya berani bermain keroyokan saja!” cibir tetua bangsa Buke.
“Dalam peperangan tidak dibutuhkan keadilan. Hanya kemenangan yang hidup dan yang kalah mati.” teriak salah satu jendral tersebut.
Wajah tetua bangsa Buke menjadi geram mendengar hal itu. Bukannya dia tidak tahu tentang peperangan, tapi dia ingin melawan mereka satu persatu agar bisa memenangkan pertempuran itu.
Tapi kedua jendral tidak menginginkan kemenangan berada di pihak lawan. Mereka menyerang seperti air mengalir tanpa henti bergantian ke arah tetua bangsa Buke dan hampir membuatnya kehabisan nafas.
“Sialan!” batin tetua bangsa Buke yang kesal karena kewalahan.
Tetua bangsa Buke segera mundur kemudian dia mendorong dua orang pasukab bangsa Buke ke depan untuk menghalangi serangan dari dua tombak jendral yang mengarah padanya.
Tombak kedua jendral itu langsung menusuk dan mengoyak tubuh dua pasukan bangsa Buke yang didorong oleh tetua tersebut. Tapi hal itu dapat membuat tetua bangsa Buke mengatur nafas dan menghimpun kekuatannya kembali.
Tetua bangsa Buke melihat ke sekelilingnya yang telah banyak pasukan bangsa Buke yang terbunuh. Dia tidak bisa lagi mendorong tubuh pasukannya untuk menghalangi serangan tombak dari kedua jendral kerajaan Salju Utara.
“Huh, kamu lebih pengecut hanya bisa menggunakan tubuh pasukanmu sebagai perisai.” teriak seorang jendral itu dengan kesal.
Kedua jendral itu meraung lalu mengeluarkan jurus tombak mereka yang ganas dan mengarah ke tubuh tetua bangsa Buke. Tetua itu berusaha menangkis serangan kedua jendral dengan menggunakan tombak miliknya.
Namun selama beberapa menit, tetua bangsa Buke itu kembali kewalahan menghadapi dua serangan tombak sekaligus.
Jleb!... Akh!... Jleb!
__ADS_1
Akhirnya tubuh tetua bangsa Buke itu berhasil ditembus oleh tombak kedua jendral itu. Dua tombak menembus dada tetua bangsa Buke dan langsung membunuhnya di tempat itu.