
Seluruh rumah penduduk diperiksa oleh pasukan bangsa Buke untuk menemukan Baihu dan orang dari sekte Burung Api. Disamping itu mereka juga ditugaskan untuk menemukan keluarga kerajaan Salju Utara yang telah berhasil melarikan diri.
Menemukan mereka di ibukota kerajaan tidaklah mudah, namun permaisuri Pang Niu tidak peduli. Kemarahan permaisuri Pang Niu membutuhkan pelampiasan, dan dia memerintahkan seluruh pasukan bangsa Buke di dalam ibukota kerajaan Salju Utara untuk mengejar para pembunuh ayahnya.
“Meskipun aku harus meratakan ibukota kerajaan ini, kalian harus menemukan orang itu!” perintah permaisuri Pang Niu pada pasukannya.
Di sebuah kediaman petani di luar ibukota kerajaan, tampak keluarga kerajaan yang diselamatkan oleh sekte Burung Api tengah mengungsi dengan berpencar menggunakan pakaian rakyat jelata menuju ke arah timur ibukota.
Mereka bertujuan untuk pergi ke kota LamShang yang merupakan kota di dekat perbatasan dengan kerajaan Matahari Terbit. Kota LamShang masih menjadi bagian dari Kerajaan Salju Utara namun pasukan kerajaan Salju Utara di kota itu tidak terlalu kuat.
Jendral kerajaan Salju Utara yang berada di kota tersebut mempersiapkan pasukannya untuk menjaga kota tersebut dari gempuran pasukan kerajaan bangsa Buke.
Ketika dia melihat banyak penduduk yang mengungsi ke kotanya, jendral Yang Jun yang memimpin pasukan di kota LamShang segera memerintahkan untuk menampung para pengungsi tersebut.
Alangkah terkejutnya jendral Yang Jun saat melihat putra mahkota yang masih berusia 13 tahun berada di antara rombongan pengungsi itu bersama permaisuri raja.
“Yang Mulia!” teriak jendral Yang Jun sambil berlutut memberi hormat para mereka.
Seluruh pasukan kerajaan terkejut melihat tindakan jendral Yang Jun. Mereka pun segera mengikutinya berlutut kepada perempuan berpakaian sederhana dan juga anak kecil berusia 13 tahun itu.
Melihat saudara jauhnya masih mengenali dirinya, permaisuri Tang Liu yang berasal dari keluarga sekte Burung Api menganggukkan kepalanya sambil bangkit turun dari kereta petani yang ditarik oleh seekor sapi. Putra Mahkota Yang Xu segera berlari ke arah jendral Yang Jun dan merangkulnya.
“Paman Jun!” teriak anak kecil 13 tahun itu dengan gembira.
Wajah jendral Yang Jun terharu melihat keponakannya yang masih hidup. Sebelumnya dia mendengar berita bahwa seluruh keluarga kerajaan telah ditangkap dan akan dieksekusi oleh pasukan bangsa Buke.
Namun saat ini dia merasa seperti mimpi bisa melihat keluarga Yang dari kerajaan Salju Utara ternyata masih hidup dan berada di kotanya.
__ADS_1
“Yang Mulia, aku Yang Jun siap menerima hukuman karena terlambat pergi menuju ibukota kerajaan.” kata jendral Yang Jun sambil menundukkan kepalanya.
“Yang Jun, aku tahu Yang Mulia Raja memerintahkanmu untuk mempertahankan kota LamShang ini. Tugas itu sangat berat karena kota ini adalah salah satu kota penting yang menjadi sumber pendapatan kerajaan dari bahan tambang yang dihasilkannya.” kata permaisuri Tang Liu.
“Benar Yang Mulia, tetapi apa gunanya menjaga kota LamShang jika kerajaan Salju Utara telah musnah.” sahut jendral Yang Jun.
Permaisuri Tang Liu berjalan mendekati jendral Yang Jun. “Berdirilah semuanya!”
Seluruh pasukan termasuk jendral Yang Jun segera berdiri begitu mendengar perintah dari permaisuri Tang Liu.
“Kerajaan Salju Utara belum musnah. Masih ada kami dan Putra Mahkota. Meskipun kita mulai dari kota LamShang, tetapi kita masih bisa bangkit.” kata permaisuri Tang Liu.
“Yang Mulia, pasukan bangsa Buke mungkin akan segera bergerak menuju kota ini. Kita harus bersiap untuk memperkuat pertahanan.” sahut jendral Yang Jun.
Permaisuri Tang Liu menganggukkan kepalanya, lalu dia menoleh dan melambaikan tangannya ke arah empat orang yang datang mendekati mereka.
“Jendral Yang Jun, keluargaku dari sekte Burung Api yang telah membebaskan kami. Mereka akan membantu kita mempertahankan kota LamShang ini.”
“Jendral Yang!” kata Tang Jian sambil memberikan hormat padanya yang diikuti oleh ketiga wanita cantik yang menemaninya.
“Tuan muda Tang dan nona-nona muda Tang! Terima kasih atas bantuan kalian.” kata jendral Yang Jun yang juga memberi hormatnya.
Setelah saling memperkenalkan diri, jendral Yang Jun lalu mempersilahkan permaisuri Tang Liu bersama keluarga sekte Burung Api dan keluarga kerajaan Salju Utara untuk pergi ke aula kediaman jendral Yang di kota LamShang.
“Tutup kota LamShang! Jangan ada yang keluar masuk kota ini sementara waktu!” Perintah Jendral Yang Jun pada kepala pasukan kerajaan Saljut Utara.
Segera pasukan kerajaan Salju Utara di kota LamShang menutup pintu gerbang untuk melarang orang datang dan pergi dari kota tersebut kecuali para pengungsi yang datang. Hal ini untuk meminimalkan kebocoran informasi keluar tentang keberadaan keluarga kerajaan di kota tersebut.
__ADS_1
Jendral Yang Jun adalah orang yang cermat dan waspada, dia juga mengerahkan mata-mata ke sekitar kota LamShang untuk mengatasi masalah kebocoran informasi tersebut.
Di ibukota kerajaan Salju Utara, permaisuri Pang Niu terlihat geram dan membanting barang-barangnya. Dia merasa kesal setelah sehari melakukan penyisiran di ibukota namun masih belum bisa menemukan para pembunuh itu.
“Katakan apakah utusan untuk pergi ke kerajaan Buke telah dikirim? Mengapa belum terdengar hasilnya.”
“Yang Mulia, jarak dari ibukota ke kerajaan Buke paling cepat adalah 10 hari, jadi kita harus bersabar menunggunya.” sahut salah satu jendral bawahannya.
Raja Mao Da telah meninggalkan empat orang jendral untuk menjaga permaisuri Pang Niu selain ayahnya Pang Chu dan Zhang Mou.
Permaisuri Pang Niu menggertakkan giginya tidak sabar menunggu kedatangan suaminya.
Bummm!
Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah ibukota kerajaan membuat permaisuri Pang Niu terkejut mendengarnya. “Apa yang telah terjadi?” Mata Pang Niu melotot ke orang-orang bangsa Buke di ibukota tersebut.
“Yang Mulia!” Tampak seorang penjaga pasukan yang berlari dengan tergesa-gesa menuju ke aula kerajaan di Istana kerajaan itu.
“Katakan apa yang terjadi!” sahut permaisuri Pang Niu pada penjaga tersebut.
Wajah permaisuri Pang Niu tampak tegang menunggu kata-kata dari penjaga pasukan itu.
“Yang Mulia, ka-kami telah menemukan pembunuh tersebut. Namun mereka melakukan perlawanan.” lapor penjaga pasukan bangsa Buke.
“Jendral, mari kita pergi bersama!” Permaisuri Pang Niu segera berangkat bersama dua orang jendral pasukan bangsa Buke yang masih tersisa menuju ke lokasi pembunuh itu.
Dari empat orang jendral pasukan bangsa Buke, dua diantaranya telah dibunuh sebelumnya oleh Baihu dan orang sekte Burung Api. Kini hanya tersisa dua orang jendral yang mengawal permaisuri Pang Niu.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya permaisuri Pang Niu saat mereka tiba di lokasi ledakan tersebut, tampak bergelimpangan potongan tubuh pasukan kerajaan bangsa Buke dan juga genangan darah dimana-mana.
Mata permaisuri Pang Niu tampak merah menyala menahan amarahnya. “Kepung wilayah ini, jangan biarkan pembunuh itu melarikan diri!”