
“Apa maksudmu Baihu?” Alis Yang Zi berkerut mendengar perkataan Baihu.
“Menurutku, para penjarah itu bisa menghilang dari dataran tengah selama lebih dari setahun, tentu ada campur tangan kekuasaan kerajaan dan juga kemungkinan salah satu sekte terlibat dengan mereka” jelas Baihu kembali
Wajah Yang Zi terbenam mendengar penjelasan Baihu, dia menyadari perkataan Baihu kemungkinan benar. Selama ini dia tidak menyadari akan kemungkinan tersebut.
“Lalu, bagaimana menurutmu?” tanya Yang Zi pada Baihu kembali
Baihu menghela nafasnya, ada empat kerajaan yang ada di dataran tengah ini. Dan ada 9 sekte besar. Ini akan memakan waktu lama untuk menyelidikinya secara hati-hati.
“Sebaiknya kita mencoba menyusuri petunjuk yang ada. Apa yang telah kalian temukan di kota Persik?” tanya Baihu
“Kami menemukan bahwa akan ada barang-barang berharga dalam pelelangan di kota Persik. Salah satunya kemungkinan barang dari sekte Pedang Langit, tapi kami belum tahu apakah barang itu asli atau tidak” sahut Yang Zi
“Hei, mengapa kalian lama sekali? Kalau kalian mau berduaan, aku akan pergi lebih dulu ke kota Persik” teriak Xin Ye melotot melihat Baihu dan Yang Zi berjalan sambil mengobrol.
Wajah Yang Zi menjadi merah mendengar hal itu, diapun mempercepat langkahnya menyusul Xin Ye. Melihat hal itu Baihu pun mengikuti mereka agar tidak tertinggal.
Dalam perjalanan menuju kota Persik yang terletak di sebelah barat kota Wuxia, mereka harus melewati perbatasan kerajaan Gurun Barat dan beberapa kota-kota kecil lainnya.
Wajah Baihu terlihat jelek ketika mereka melewati gerbang perbatasan kerajaan Gurun Barat. Yang Zi memperhatikan perubahan wajah Baihu tersebut. Dia lalu mendekati dan meraih tangan Baihu untuk menenangkannya melewati gerbang perbatasan itu.
“Baihu, tenanglah. Aku bersamamu” bisik Yang Zi setelah meraih tangan Baihu
Merasakan jari Yang Zi yang lembut menarik tangannya, membuat Baihu menjadi tenang, wajahnya berubah memerah namun dia bisa menenangkan dirinya. Yang Zi tersenyum melihat padanya.
Satu jam setelah melewati gerbang perbatasan, mereka pun tiba di kota kecil tempat kelahiran Baihu yang bernama kota Xifang. Tubuh Baihu bergetar, diapun melepaskan tangannya dari pegangan Yang Zi lalu berjalan menyendiri melihat keadaan kota masa kecil yang telah lama dia tinggalkan.
__ADS_1
“Baihu” gumam Yang Zi melihat wajah Baihu yang berubah gelap.
Yang Zi memahami perasaan Baihu, dia pun mengikuti kepergiannya. Xin Ye yang melihat kesedihan di wajah Baihu hanya menghela nafas, dia membiarkan mereka berdua untuk melihat kota itu dan dia pun beristirahat sambil menunggu mereka kembali.
Bangunan bekas istana kerajaan Xifang itu telah menjadi reruntuhan, banyak semak belukar di setiap sudut tempat itu. Baihu berjalan mengelilingi reruntuhan tersebut. Wajahnya terlihat muram, tubuhnya menggigil gemetar mengenang kejadian masa lalunya.
“Ayah, Ibu. Maafkan aku masih belum membalaskan dendam kematian kalian. Aku akan menjadi kuat dan membalaskan dendam kalian” gumamnya dalam hati saat melihat beberapa makam di belakang reruntuhan itu.
Yang Zi yang berjalan mendekati Baihu, dan melihat deretan makam tersebut.”Paman, aku telah menemukan anakmu. Kami akan membalaskan dendam kalian” kata Yang Zi sambil menundukkan kepalanya melihat ke arah makam tersebut.
“Siapa kalian?” tiba-tiba terdengar suara yang mendekat.
Baihu dan Yang Zi menoleh ke arah datangnya suara tersebut, mereka melihat tubuh seorang lelaki tua yang datang menghampiri mereka. Wajahnya tampak penuh bekas luka dan dia berjalan dengan menggunakan tongkatnya.
Wajah lelaki tua itu tampak terkejut saat melihat sosok dan wajah Baihu dengan rambut putih dan sorot matanya yang tajam seperti harimau. “Tu...Tuan Muda?” teriak lelaki tersebut dengan mata berkaca-kaca.
Lelaki tua itu terseok-seok mendekati Baihu lalu menjatuhkan dirinya dan berlutut di depan Baihu. Mata Baihu berkedut melihat hal tak terduga itu. “Kakek, berdirilah.” sahut Baihu sambil memegang pundak lelaki tua itu.
“Apakah benar Anda Tuan Muda Fang Bai?” wajah orang itu berkaca-kaca sambil terisak melihat Baihu sambil tetap berlutut.
“Kakek, ini aku Fang Bai” sahut Baihu pelan.
Tubuh kakek tua itu bergetar mendengar jawaban dari Baihu, ledakan tangisnya keluar dan dia pun berbalik bersujud ke arah makam itu. “Yang Mulia, aku telah bertemu dengan tuan muda” teriaknya sambil terisak ke arah makam itu.
Melihat kegembiraan bercampur tangisan dari lelaki tua itu, mata Yang Zi pun turut berkaca-kaca. Baihu berjalan mendekati lelaki tua itu yang merupakan bekas pelayan keluarga mereka lalu dia mengangkat tubuhnya.
“Kakek, aku Fang Bai telah kembali. Apakah kakek yang telah membuatkan makam keluargaku ini?” tanya Baihu padanya.
__ADS_1
Lelaki tua itu menganggukkan kepalanya, “Tuan muda, mari berbicara di kediamanku” sahut lelaki tua itu sambil meraih tongkatnya dan berjalan menuju rumah kecil di dekat reruntuhan tersebut.
Baihu dan Yang Zi mengikuti lelaki tua itu menuju rumah kecilnya. Seorang wanita tua yang ada di dalam rumah itu pun terkejut melihat kedatangan lelaki tua suaminya itu bersama Baihu dan yang Zi.
“Istriku, keluarkan arak yang telah lama aku simpan untuk hari ini” kata lelaki tua itu sambil tersenyum pada istrinya.
“Suamiku?” isrinya itu tertegun mendengar perkataan suaminya itu. Dia mengetahui suaminya telah menyimpan botol arak di belakang rumahnya yang akan dibukanya suatu saat jika bertemu dengan tuan muda Fang Bai.
“Suamiku, apakah dia...?” wanita tua itu menutup mulutnya dengan kedua tangan dan matanya tampak berkaca-kaca melihat wajah Baihu yang benar-benar mirip dengan anak kecil yang dulu sering diasuh olehnya. “Tuan Muda!” teriaknya sambil menjatuhkan dirinya berlutut di depan Baihu.
Mata Baihu berkedut melihat hal itu, diapun menarik tubuh wanita tua itu untuk membangunkannya, “Nenek, tolong jangan berlutut padaku. Aku sekarang bukan siapa-siapa” sahut Baihu padanya
“Tidak. Bagi kami, Anda tetaplah tuan muda kami” sahut wanita itu terisak.
“Istriku, biarkanlah tuan muda duduk beristirahat. Kamu siapkan saja masakan enak dan arak untuk kita makan bersama” kata lelaki tua tersebut sambil tersenyum.
“Ba...baik” sahut wanita tua itu menghentikan tangisnya dan bergegas ke belakang mengambil arak dan menyiapkan makanan untuk mereka.
Baihu lalu duduk bersama Yang Zi di bangku depan lelaki tua tersebut. “Tuan muda, siapakah nona ini?” tanya lelaki tua itu sambil tersenyum melihat Yang Zi.
“Kakek, aku putri dari Jendral Yang, sahabat dari ayah Fang Bai” sahut Yang Zi
“Ooh... aku mengingat Jendral Yang. Bagaimana kabar beliau?” tanya lelaki tua itu tanpa mengetahui berita tentang ayah Yang Zi.
Wajah Yang Zi muram mendengar pertanyaan lelaki tua itu. Lelaki itu pun menyadari kata-katanya pasti membuat Yang Zi sedih, dia pun menyadari tentang jendral Yang.
“Ayahku sudah tiada” sahut Yang Zi dengan wajah sedih.
__ADS_1
Lelaki tua itu menghela nafasnya, “Maafkan aku nona Yang, aku sangat mengagumi jendral Yang. Beliau berulang kali pernah datang kemari dan mencari keberadaan tuan muda setelah penyerangan itu” jelas lelaki tua tersebut