BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 88 | Rencana serangan diam-diam


__ADS_3

Pasukan jendral Mao Shan menjadi kebingungan mereka tidak tahu harus berbuat apa karena para komandan pasukan mereka telah terbunuh di tangan para pendekar sekte besar itu.


Mata Jendral Mao Shan berkedut keras, dia melihat kekalahan pasukannya sudah didepan mata. “Satu-satunya cara adalah membunuh anak ini untuk menurunkan mental pasukan lawan,” gumamnya.


Jendral Mao Shan segera mengerahkan seluruh kekuatan alam Langit miliknya untuk menyerang dengan kekuatan penuh pada Baihu. Tatapan matanya tajam seperti hendak menerkam pada Baihu. Lalu dia melompat dan mengayunkan pedangnya menebas ke arah tubuh Baihu.


Baihu kini menjadi lebih besemangat melihat pasukan dari kota Beidu telah datang membantu mereka. Dia juga mengerahkan kekuatan alam langit puncak miliknya. Dengan menggunakan jurus Kuasa Sejati dia melawan pedang dengan telapak tangannya.


TRANG... TRANG... TRANG...


Berkali-kali benturan antara telapak dan pedang jendral Mao Shan terjadi, Baihu semakin menambah kecepatannya. Dia tidak memberikan kesempatan pada jendral Mao Shan untuk mengambil nafas.


“Maaf Jendral, sudah saatnya kamu pensiun,” Teriak Baihu sambil mengerahkan telapak dangannya dan menyerang jendral Mao Shan dengan bertubi-tubi.


BUGH... BUGH...


AKHH...


Jendral Mao Shan terpekik saat telapak Baihu bersarang di lengan kanannya hingga membuat pegangan pada pegangnya terlepas dan tulang bahunya juga turut lepas. Jendral Mao Shan meringis kesakitan merasakan lengan kanannya tidak bisa dia gerakkan lagi.


Jendral Mao Shan mengambil pedang dengan tangan kirinya untuk melawan Baihu. Meskipun dia merasa putus asa, namun mati di medan pertempuran adalah hal yang membanggakan bagi seorang jendral seperti dirinya.


Baihu mengagumi semangat juang dari jendral Mao Shan, dia tidak ingin menyiksanya lebih lama. Jadi dia mengerahkan jurus ke 9 Matahari dan Bulan Bersatu dengan lingkaran Yin dan Yang sebesar piring mengarah ke tubuh Jendral Mao Shan.


Menyadari dirinya akan segera mati, Jendral Mao Shan tidak mundur sedikitpun. Dia menerjang maju dengan gagah berani meskipun kematian yang akan dihadapinya.


BUMM...

__ADS_1


Serangan Baihu menembus dada jendral Mao Shan namun tidak menghancurkan seluruh tubuh jendral Mao Shan. Mayatnya masih bisa dikenali dan dikuburkan dengan layak oleh pasukannya.


Jendral Mao Shan pun terbunuh saat itu dan menghentikan peperangan di luar benteng kota Emas. Baihu dan teman-teman sekte bersama pasukannya kembali ke dalam kota Emas dengan kemenangan.


Sementara kota Emas dalam kondisi merayakan kemenangan, di luar benteng kota tampak lima sosok tengah mengamati kota Emas di depan mereka dari dahan pepohonan yang ada di hutan dekat kota Emas.


Mereka adalah Guru Merah dari sekte misterius yang datang bersama keempat muridnya. “Guru, mereka tampaknya merayakan kemenangan atas peperangan hari ini.” lapor Kelabang Merah murid dari Guru Merah.


“Biarkan mereka melewati waktu sehari lagi. Besok kita akan membuat mereka mati mengenaskan,” sahut Guru Merah. Keempat muridnya menyeringai mendengar kata-kata gurunya.


Mereka segera melanjutkan perjalanan menyusup ke dalam kota Emas dengan cara berpencar. Di dalam kota Emas mereka mencari tempat untuk bersembunyi sambil menyusun rencana mereka.


Di ruang komando Baihu dan teman-temannya sedang mengadakan pertemuan setelah mereka berhasil mengalahkan ke lima jendral pasukan kerajaan Gurun Barat. “Baihu, kita juga telah menguasai tiga kota lainnya. Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Yang Zi pada Baihu.


“Setelah pelindung kerajaan Gurun Barat, para jendral itu mati. Kerajaan Gurun Barat akan mengalami serangan dari berbagai wilayah di utara dan selatan. Sebelum itu terjadi, sebaiknya kita langsung menyerang ke ibukota kerajaan Gurun Barat dan merebut kerajaan untuk menstabilkan situasi di wilayah barat ini,” sahut baihu.


Sudah saatnya Baihu dan teman-temannya membalas melakukan serangan ke Ibukota kerajaan Gurun Barat. “Pagi-pagi ini kita langsung berangkat menuju ibukota kerajaan Gurun Barat,” saran Baihu.


“Siap!” seluruh pemimpin pasukan dan sekte besar bersemangat untuk melakukan serangan besok pagi berangkat ke ibukota kerajaan Gurun Barat.


Pagi-pagi sekali, rombongan berkuda dari kota Emas segera keluar terlebih dahulu menuju ibukota kerajaan Gurun Barat. Kemudian disusul oleh pasukan panah dan tombak yang mengikuti mereka.


Li Yan, Gong Jun, Yan Shu dan Yang Zi bersama pemimpin sekte memimpin selama perjalanan itu di depan pasukan. Sementara Baihu berada di belakang mengawasi pasukan dari serangan mendadak bersama beberapa Wang Mei, Zhou An, Diao Zhi, Xin Ye dan teman-teman lainnya.


Mereka bergerak dengan semangat berkobar menuju Ibukota kerajaan meskipun matahari belum bersinar terang. Mereka berharap bisa tiba di ibukota kerajaan Gurun Barat pada pagi hari minggu depannya.


Setelah kepergian pasukan Baihu bersama teman-teman sekte, kota Emas menjadi kembali seperti semula sebelum peperangan. Jalanan dan para pedagang kembali beraktifitas seperti biasa.

__ADS_1


“Gu-Guru...” tiba-tiba murid Guru Merah yang bernama Kalajengking hitam berlarian menemui Gurunya dengan tergesa-gesa.


“Ada apa membangunkanku terlalu pagi?” tanya Guru Merah sambil mengusap matanya yang masih setengah sadar.Murid lainnya juga baru saja terbangun setelah mendengar teriakan dari Kalajengking hitam.


Mereka segera berkumpul untuk mendengarkan laporan dari kalajengking hitam yang mendapat tugas berjaga dini hari kemarin. “Guru, pasukan kota Emas telah pergi ke ibukota kerajaan Gurun Barat dini hari tadi,” lapor kalajengking hitam


“Apa? Mengapa mereka begitu terburu-buru?” Guru Merah melompat dari tempat tidurnya.


Ketiga muridnya juga terkejut mendengar hal itu. “Mengapa kamu baru memberitahukannya sekarang?” kata Kelabang Merah.


“A-Aku tertidur juga dini hari tadi karena kelelahan berjalan jauh beberapa hari,” sahut kalajengking hitam dengan jujur.


“Ahhh... Sial, percuma kita memasuki kota ini. Musuh tidak ada di dalam kota,” geram Guru Merah.


Wajah kalajengking hitam menjadi merah mendengar hal itu. Dia merasa bersalah karena kelalaiannya dalam berjaga semalam.


“Apa kita akan merebut kota Emas Guru?” tanya Kodok Belang muridnya


Guru Merah memandang Kodok Belang dengan tatapan kesal membuatnya mundur dan menundukkan kepala. “Untuk apa merebut kota? Tugas kita membunuh anak bernama Baihu itu.”


Mereka semua menundukkan kepalanya, “Guru, mari kita ikuti mereka dari belakang dan menyerang secara diam-diam,” saran Kelabang Merah.


“Mereka akan tiba di kota berikutnya dalam 3 hari, yaitu kota Mengsu. Apakah kita menunggu mereka di kota itu dan menyerang disana? Atau mengikuti mereka diam-diam dan menyerang di dalam perjalanan?” tanya Ular Kobra


Guru Merah berdiam diri memikirkan kemungkinan tersebut, “Baiklah. Agar kita tidak tertinggal lagi. Kita membagi menjadi dua kelompok. Kelabang Merah dan Kodok Belang pergi bersamaku ke kota Mengsu dan menunggu mereka disana. Kalajengking hitam dan Ular Kobra mengikuti dan menyerang mereka dari belakang secara diam-diam.”


“Baik Guru!” sahut mereka berempat secara serempak.

__ADS_1


__ADS_2