BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 76 | Melawan jendral perang Zhang Yei


__ADS_3

Baihu berjalan mendekati pasukan perang kerajaan Gurun Barat dengan tenang. Dia tersenyum melihat Putra Mahkota Zhang Mou dan adiknya Zhang Ji berada di depannya.


“Wahai Pangeran kerajaan Gurun Barat. Ada apa mengerahkan pasukan perang sebanyak ini? Apakah ada musuh yang kuat untuk dikalahkan?” tanya Baihu menyindir halus pada Zhang Mou.


Mata Jendral Zhang Yei berkedut mendengar perkataan Baihu. Dia merasa memang sedikit aneh mengerahkan kekuatan sebesar ini hanya untuk menangkap seorang anak kecil berusia 17 tahun ini.


Wajah Zhang Mou menjadi gelap mendengar kata-kata Baihu. “Baihu, jangan berpura-pura bodoh di depanku. Kamu telah membunuh utusan kiri dan utusan kanan kerajaan Gurun Barat. Apakah kamu mengakuinya?” teriak Zhang Mou berdalih menyalahkan Baihu.


“Apakah kamu memiliki bukti dan sakti bahwa aku yang melakukannya?” tanya Baihu sambil tersenyum padanya.


Zhang Mou menjadi naik pitam mendengar perkataan Baihu. Dia memang tidak memiliki bukti dan saksi yang menunjuk bahwa Baihu pelaku pembunuhan mereka. Dia mengetahui hal itu karena dirinyalah yang mengutus mereka untuk menangkap Baihu.


“Jika kamu tidak memiliki bukti dan saksi, sebaiknya kamu jangan asal menuduhku. Tapi jika kamu ingin bermain-main denganku. Aku akan melayanimu” lanjut Baihu dengan acuh tak acuh.


Mendengar kata-kata dari Baihu yang tajam membuat bola mata Zhang Mou berputar-putar. Dia menggertakkan giginya karena tidak bisa menjawab pertanyaan Baihu. Dia tidak mungkin menyebutkan Baihu telah melarikan calon istrinya dan juga calon istri adiknya. Itu sangat memalukan bagi seorang Putra Mahkota.


“Baiklah. Karena kamu hanya diam saja. Aku akan kembali, aku tidak ingin makananku menjadi dingin karena berurusan dengan anak kecil manja,” pancing Baihu untuk membangkitkan kemarahan Zhang Mou.


“Apa katamu? Aku anak kecil manja?” Mata Zhang Mou menjadi merah karena marahnya yang meluap.


Baihu mendekatinya, “Benar. Kamu hanya tidak suka barang mainanmu menjadi milikku” sahut Baihu pelan.


Kali ini Zhang Mou tidak bisa lagi menahan dirinya setelah mendengar kata-kata Baihu yang menginjak harga dirinya. Dia tidak bisa mengendalikan diri lagi.


“Jendral Zhang Yei, patahkan kaki dan tangan anak ini!” perintahnya pada Jendral Zhang Yei.


Jendral Zhang Yei segera melompat ke depan Baihu dengan membawa tombaknya. Wajahnya terlihat garang menatap Baihu dengan tatapan tajam.


GRRRR...

__ADS_1


Sunu menggeram ketika melihat Jendral Zhang Yei berjalan mengancam keselamatan Baihu. Dia segera bersiap untuk menerkamnya.


“Sunu, berhenti! Jangan turut campur!” teriak Baihu menghentikan gerakan Sunu untuk menyerang.


“Hebat. Kamu memiliki peliharaan yang patuh pada perintahmu” sahut Jendral Zhang Yei.


Baihu tertawa, “Hahaha... Aku juga merasa Putra Mahkota lebih hebat karena memiliki peliharaan yang patuh dengan perintahnya.”


Mata jendral Zhang Yei berkedut mendengar perkataan Baihu yang menyindir dirinya. Dia segera bersiap menyerang Baihu. “Dasar sombong. Aku akan memberikan pelajaran padamu,” teriak Jendral Zhang Yei.


Jendral Zhang Yei segera mengerahkan kekuatannya yang berada di alam Langit tingkat akhir. Dia pun mengalirkan tenaganya ke tombak ditangannya dan bersiap mengerahkan jurus Tombak Langit Ketujuh miliknya.


Baihu tampak tenang dengan mengerahkan kekuatan alam Langit tingkat akhirnya juga. Dia hanya mengerahkan jurus Raga Spirit Sejati dari ilmu Sembilan Semesta untuk menahan serangan awal Jendral Zhang Yei.


Tombak Zhang Yei mendengung setelah kekuatannya mengalir pada tombak tersebut. Lalu dia menyerang Baihu dengan ganas menggunakan jurus tombak Langit Ketujuh miliknya.


Tampak tombak jendral Zhang Yei berubah memperlihatkan seribu bayangan karena saking cepatnya menyerang ke arah Baihu. Melihat serangan ganas itu, Baihu menyipitkan matanya sambil menahan serangan Jendral Zhang Yei.


Baihu merapal jurus Angin Badai Mengguncang Langit dari tetua Zhu Shimin untuk melenyapkan bayangan seribu tombak dari jurus jendral Zhang Yei.


Serangan jurus Baihu berhasil, tombak jendral Zhang Yei tertahan oleh angin badai yang menghantamnya. Tangan jendral Zhang Yei terasa berat menahan derasnya angin badai tersebut. Tombak ditangannya hampir terlepas, tapi jendral Zhang Yei segera melepas jurusnya dan mengganti strategi dengan mengikuti pergerakan angin badai tersebut.


“Pengalaman tempur jendral Zhang Yei ini layak diancungi jempol” gumam Baihu dalam hatinya.


Jendral Zhang Yei memahami untuk melawan kekuatan jurus Angin Badai Mengguncang Langit, dia tidak boleh menggunakan kekerasan. Diapun mengubah jurus tombaknya dengan mengeluarkan jurus Tombak Sakti Membelah Bumi.


BUMM...


Gerakan tombak jendral Zhang Yei terlihat lebih gemulai, lembut namun kekuatan serangnya lebih dahsyat. Setiap tombak itu menghantam tanah tempat Baihu berpijak, tampak retakan dan lubang yang cukup besar.

__ADS_1


Melihat serangan tombak itu, Baihu mengubah jurusnya menggunakan jurus ke 8 Matahari dan Bulan, Bulan keempat. Jurus ini melawan kelembutan dengan gerakan yang selaras namun berkekuatan berpuluh-puluh kali lipat mengembalikan serangan lawannya.


Benturan ujung tombak dengan telapak tangan Baihu membuat kekuatan tombak berbalik menyerang dirinya. Jendral Zhang Yei menyipitkan matanya melihat gerakan dari Baihu yang semakin lama semakin ganas menyerang balik dirinya.


Tak terasa puluhan jurus telah berlalu dan mereka berdua masih seimbang dalam adu jurus.


“Jendral, segera akhiri pertarunganmu. Jangan bermain-main!” teriak Zhang Mou yang membuat wajah jendral Zhang Yei menjadi gelap mendengarnya.


Jendral Zhang Yei menjadi naik pitam. Dia lalu mengeluarkan jurus puncak Tombak Naga Sembilan untuk mengakhiri pertarungan itu. Jendral Zhang Yei mundur dua langkah untuk mengambil nafas sekaligus mengambil jarak untuk mengerahkan jurus Tombak Naga Sembilan miliknya.


Tampak bayangan sembilan naga muncul dari tombak tersebut dan menyerang ke arah Baihu dengan ganasnya. Baihu tetap tenang melihat jurus itu. Dia segera mengeluarkan jurus ke 9 Kuasa Sejati dari Sembilan Semesta untuk menghadang jurus Tombak Naga Sembilan dari jendral Zhang Yei.


Tubuh Baihu berubah menjadi berwarna emas. Dia memusatkan seluruh kekuatannya pada kedua tangannya. Lalu dia memukul seluruh kepala naga yang menyerang ke arahnya.


BUMM... BUMM... BUMMM...


Semua kesembilan bayangan naga itu hancur dihantam oleh tinju Baihu. Lalu Baihu meneruskan tinjunya ke arah dada jendral Zhang Yei.


Mata jendral Zhang Yei menyipit melihat serangan Baihu yang diteruskan ke tubuhnya. Dia tidak bisa menghindarinya. Jalan satu-satunya adalah menghadang serangan itu dengan tombaknya.


BUMM... TRANGG...


Suara logam bertemu dengan logam terdengar. Kekuatan jurus Baihu membuat tangannya berubah menjadi sekuat logam. Jurus Kuasa Sejati benar-benar dahsyat. Tombak jendral Zhang Yei melengkung penyok oleh tinju Baihu dan energi pukulannya menembus tombak tersebut mengarah terus ke dadanya.


Jendral Zhang Yei merasakan dadanya seperti dipukul oleh palu raksasa menghantam organ dalamnya hingga terluka. “Ugh...”


Darah mengalir dari sudut mulut jendral Zhang Yei karena organ dalam di dadanya terluka akibat serangan tinju Baihu, tombaknya sudah tidak bisa dipakai kembali.


Jendral Zhang Yei kalah dalam pertarungan itu.

__ADS_1


__ADS_2