BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 129 | Kedatangan pasukan bangsa Buke kembali


__ADS_3

Dua hari berlalu dengan tenang di kota Linshang. Pasukan kerajaan Salju Utara tampak berlatih keras setiap hari bersama pasukan kerajaan Gurun Barat dan murid-murid dari sekte Wudang.


Hari ketiga, dari arah barat di kejauhan tampak gumpalan debu yang mengepul di udara. Pasukan berkuda dari kerajaan bangsa Buke tampak beriringan menuju ke kota Linshang.


Panji-panji kerajaan bangsa Buke dengan gagah berada terdepan memimpin barisan pasukan berkuda dari wilayah luar bagian barat menuju ke wilayah kerajaan Salju Utara.


Tampak Raja Mao Da sendiri yang memimpin pasukannya menuju kerajaan Salju Utara dengan hati gembira setelah para tetua bangsa Buke menyetujui untuk pergi ke kerajaan Salju Utara memperluas wilayah mereka.


Raja Mao Da juga tidak sabar untuk bertemu dengan permaisurinya Pang Niu yang telah ditinggalkannya bersama ayahnya Pang Chu dan Zhang Mou beserta lima orang jendral di ibukota kerajaan Salju Utara.


Alangkah terkejutnya Raja Mao Da ketika dia melihat dua bendera kerajaan Salju Utara dan kerajaan Gurun Barat berkibar di benteng kota Linshang yang sebelumnya telah mengibarkan bendera kerajaan bangsa Buke.


“Sialan, apa yang telah terjadi? Mengapa mereka membiarkan kota Linshang lepas ke tangan musuh?” geram Raja Mao Da dengan mata merah karena marah.


Raja Mao Da tidak percaya bahwa permaisurinya yang telah dikelilingi oleh lima jendral kuat dan ketua sekte Misterius membiarkan kota Linshang direbut oleh lawan.


“Berhenti!” teriak Raja Mao Da.


Seluruh pasukan berkuda yang datang berhenti begitu mendengar perintah dari Raja Mao Da. Kemudian tampak tiga orang tetua bersama dua orang jendral mendekati Raja Mao Da. “Apa yang telah terjadi Yang Mulia?” tanya salah satu tetua.


“Aku tidak tahu persis apa yang telah terjadi dalam waktu seminggu ini. Setelah aku pergi meninggalkan kerajaan Salju Utara, kota Linshang masih mengibarkan bendera bangsa Buke. Tapi kini lihatlah! Dua bendera musuh telah berkibar di kota Linshang.” sahut Raja Mao Da sambil menggertakkan giginya.


Tetua bangsa Buke dan dua jendral pun turut menyipitkan mata melihat di kejauhan. Mereka juga merasa panas melihat hal itu, karena tampak juga bendera bangsa Buke tergeletak di tanah dengan kondisi mengenaskan.


“Malam telah tiba, kita berkemah dulu disini. Kirimkan mata-mata untuk menyelidiki yang terjadi di ibukota kerajaan.” perintah Raja Mao Da pada salah satu jendralnya.


Jendral itupun segera pergi untuk memerintahkan pasukan mereka berkemah di tempat itu dan bersiap untuk mengirimpak mata-mata pada malam harinya untuk pergi menyusup ke ibukota kerajaan Salju Utara.

__ADS_1


“Yang Mulia, dikejauhan sepertinya pasukan bangsa Buke telah datang.”


Tiba-tiba seorang penjaga benteng berlari ke ruang aula menemui para jendral yang sedang berdiskusi dengan Baihu dan ketua sekte Wudang. Kemudian Baihu bersama para jendral dan ketua sekte segera berjalan menuju puncak benteng untuk melihat ke arah barat.


“Rupanya mereka telah datang.” kata ketua sekte Wudang.


“Benar, persiapkan pasukan kita! Kita akan bertempur mempertahankan kota Linshang.” kata Baihu.


“Siap!” Seluruh jendral mulai bersiap mempersiapkan pasukan mereka


Hanya jendral Gong Jun dan ketua sekte Wudang yang masih berada di atas benteng bersama Baihu sambil menatap pasukan bangsa Buke di kejauhan.


“Yang Mulia, bagaimana strategi kita kali ini?” tanya jendral Gong Jun pada Baihu.


Baihu memandang ke arah kejauhan dan melihat matahari tampak bersinar di belakang pasukan lawan. “Kita sebaiknya menunggu pada pagi hari, sore hari adalah saat yang buruk untuk menyerang lawan yang berada searah dengan sinar matahari.”


“Baik Yang Mulia,” Jendral Gong Jun memahami apa yang dimaksud oleh Baihu. Dia pun segera pergi untuk menyiapkan keperluan menghadang serangan musuh.


Kini ketua sekte Wudang datang mendekati Baihu. “Yang Mulia, bagaimana menghadapi mereka?”


Baihu tersenyum menatap ke arah ketua sekte Wudang. “Seperti biasa ketua, kita potong langsung kepala ular.” sahutnya sambil tersenyum.


Wajah ketua sekte Wudang tampak berubah setelah mendengar jawaban Baihu, namun dia menganggukkan kepalanya menyetujui hal itu. Memotong kepala ular adalah maksudnya langsung membunuh pemimpin dari pasukan lawan.


Siapapun yang memimpin pasukan yang menyerang ke arah benteng, maka targetnya adalah membunuh sang pemimpin pasukan tersebut.


“Benar-benar rencana yang sederhana namun efektif. Aku setuju dengan rencana itu.”

__ADS_1


Ketua sekte Wudang meskipun lebih tua dari Baihu, namun dia mengagumi anak muda sepertinya. Wajah ketua sekte Wudang terlihat yakin dan percaya diri bahwa kerajaan Salju Utara akan bisa memenangkan perang ini asalkan Baihu mau turun tangan langsung.


“Yang Mulia, aku takut selalu merepotkan dirimu untuk membantu kerajaan Salju Utara.” kata ketua sekte Wudang secara langsung meminta Baihu untuk turun tangan.


“Ketua sekte, kita adalah keluarga. Jangan terlalu sungkan. Aku akan membantu sekuat tenaga untuk kerajaan Salju Utara.” sahut Baihu.


Malam harinya, saat udara mulai dingin dan hanya para penjaga yang bergantian mengawasi dan menjaga benteng kota Linshang. Tiga sosok melesat ke arah kota Linshang namun lanjut pergi keluar dari kota Linshang menuju ibukota kerajaan.


Raja Mao Da di perkemahannya menerima dua jendral dan tiga tetua yang menemaninya. Wajah mereka berenam tampak serius memikirkan tentang peperangan ini.


“Yang Mulia, kita pernah menaklukkan kota Linshang sebelumnya. Kali ini kita pasti bisa melakukannya lagi.” kata seorang jendral dengan bersemangat.


Raja Mao Da menatap tajam ke arahnya. “Saat itu ada Zhang Mou yang bekerja sama di kota Linshang. Kini dia berada di ibukota kerajaan bersama jendral lainnya.”


“Kirim surat dengan menggunakan burung menuju ibukota kerajaan! Katakan pada mereka untuk menyerang kota Linshang dari arah timur!” perintah Raja Mao Da pada seorang pemimpin pasukan yang berada di sana.


Pemimpin pasukan itu segera mengirimkan surat dengan menggunakan burung untuk pergi ke ibukota kerajaan.


“Yang Mulia, menunggu pasukan dari arah ibukota kerajaan akan sangat membutuhkan waktu. Apakah kita akan menunggu di tempat ini?” seorang jendral lainnya bertanya.


“Yang Mulia, menurut hematku. Sebaiknya kita menunggu hasil dari mata-mata terlebih dulu dan juga balasan surat dari burung yang sudah dikirim ke ibukota kerajaan.” Kali ini seorang tetua ikut memberikan masukan.


Raja Mao Da merenungkan hal itu, dia kemudian berdiri. “Kita tunggu berita dari mata-mata dan kabar dari ibukota terlebih dulu sebelum menyerang.” kata Raja Mao Da mengakhiri pertemuan tersebut.


Di kota Linshang, Baihu mengumpulkan para jendral nya dan mulai menceritakan rencananya. “Serangan kita mulai pada pagi hari. Jendral Gong Jun, apakah persiapanmu sudah selesai?”


“Yang Mulia, hamba sudah mempersiapkan segala sesuatunya.” sahut jendral Gong Jun.

__ADS_1


“Bagus, pagi hari sebelum matahari terbit kita berkumpul kembali. Lakukan sesuai rencana!” Baihu menekankan sekali lagi.


__ADS_2