
Jendral Mao Shan adalah pemimpin dari lima jendral besar kerajaan Gurun Barat, kekuatannya tentulah diatas keempat teman-temannya. Dia juga memiliki empat orang komandan yang memimpin pasukannya, komandan pasukan berkuda, pasukan tombak, pasukan pedang dan pasukan panah.
Masing-masing komandan memimpin seribu pasukan, sehingga kekuatan 5000 pasukan tampak menggetarkan perbatasan kota Emas bagian utara. Mereka adalah pasukan khusus dari Jendral Mao Shan yang sebagian besar adalah orang-orang pilihan dari berbagai sekte bela diri yang ada di wilayah kerajaan Gurun Barat kecuali sekte Huasan.
Wang Mei bersama kelompok penyerang kota Mengsu telah bergabung kembali dengan Baihu di luar benteng kota Emas menghadap ke utara. Wang Mei dan Zhou An berkuda mendekati Baihu. “Baihu, kota Mengsu telah kita kuasai. Kita juga telah meninggalkan beberapa orang untuk memimpin pertahanan disana,” Wang Mei melaporkan pada Baihu.
“Terima kasih kakak Wang,” senyum Baihu padanya.
Mereka terlihat tegang menghadapi peperangan kembali melawan pasukan dari jendral Mao Shan. Baihu mengangkat tangannya bersiap untuk memberikan aba-abanya. “Pasukan panah, bersiap!” Teriaknya.
Pasukan Baihu memiliki keunggulan karena memiliki benteng yang temboknya tinggi. Pasukan panah cukup memanah dari atas benteng itu. Dengan ketinggian seperti itu, anak panah bisa menjangkau lebih jauh daripada musuh yang berada di bawah mereka.
“Lepaskan panah!” Teriak Baihu
Ribuan anak panah meluncur ke arah pasukan jendral Mao Shan, namun mereka bisa menghindarinya dengan memblokir menggunakan perisai. Baihu mengetahui hal itu, dia kemudian memerintahkan pasukan panah untuk mengeluarkan panah minyak, lalu sebagian lagi mengeluarkan panah api.
Seperti peperangan sebelumnya, pasukan yang tersiram oleh minyak itu dengan mudah terbakar oleh panah api yang datang dan tertancap di perisai mereka. Hal itu membuat panik pasukan garis depan jendral Mao Shan.
“Cih, anak ini sungguh lihai,” gumam jendral Mao Shan. “Matikan api! Gunakan tanah dan pasir!”
Mendengar perintah jendral Mao Shan, pasukannya segera memadamkan kobaran api itu menggunakan tanah dan pasir untuk mematikan api yang berkobar itu. Bahkan ada yang berguling-guling di tanah untuk memadamkan api di badan mereka.
Kemudian tampak ribuan panah kembali meluncur ke arah pasukan jendral Mao Shan. “Sialan, mereka benar-benar tidak membiarkan kita beristirahat,” geram jendral mao Shan.
“Pasukan berkuda! Serang. Pasukan tombak dan pedang mengikuti. Pasukan panah fokus menyerang ke arah benteng kota!” Perintah Jendral Mao Shan sambil turut menyerang dengan memacu kudanya ke arena peperangan.
Melihat Jendral Mao Shan memimpin pasukannya di depan membuat Baihu kagum pada keberaniannya daripada jendral Zhu Cen sebelumnya.
__ADS_1
“Semuanya, Serang!” Perintah Baihu yang kemudian menyerang ke arah pasukan lawan. Dia langsung menerjang menuju ke arah jendral Mao Shan yang mengamuk menyerang pasukan berkuda miliknya.
“Aku lawanmu jendral,” kata Baihu yang telah berada di dekat jendral Mao Shan. Baihu melompat ke udara lalu mengarahkan tinjunya ke tubuh jendral Mao Shan. Namun jendral Mao Shan yang berada di atas punggung kuda mengarahkan tombaknya untuk menghadang tinju dari Baihu tersebut.
BUMM...
Ledakan terdengar dari benturan kekuatan tinju Baihu dengan tombak jendral Mao Shan. Kuda Jendral Mao Shan terdorong ke belakang mengikuti gerakan jendral Mao Shan yang terdorong oleh kekuatan Baihu. Sementara Baihu bersalto ke belakang dan mendarat di depan kuda jendra Mao Shan.
Baihu tidak menghentikan serangannya, begitu kakinya menginjak tanah, dia langsung kembali menyerang ke arah jendral Mao Shan dengan pukulan telapaknya. Jendral Mao Shan memutar tombaknya membentuk perisai menahan serangan dari Baihu.
Melihat dirinya kesulitan menyerang, Baihu mengubah jurusnya menggunakan jurus Matahari dan Bulan ke 8 yang dengan ganas menyerang jendral Mao Shan dari depan. Kemudian Baihu melompat di udara lagi dan mengeluarkan jurus Raga Spirit Sejati menghantam kembali tombak jendral Mao Shan.
BUMM... BUMM... BUMM..
Beberapa ledakan terdengar saat Baihu menghujam tombak jendral Mao Shan dengan beberapa pukulan tinjunya. Tampak tombak di tangan jendral Mao Shan bergetar dan retak di beberapa bagiannya. Jendral Mao Shan mengernyitkan dahinya tidak percaya pada kekuatan yang ditunjukkan oleh Baihu.
Baihu tidak menghentikan serangannya, pukulan berikutnya benar-benar mematahkan tombak dari jendral Mao Shan menjadi dua bagian.
Melihat tombaknya patah, wajah jendral Mao Shan menjadi bertambah gelap. Dia mengeluarkan pedang di pinggangnya untuk melawan serangan ganas dari Baihu padanya.
Jendral Mao Shan mengeluarkan kekuatan penuh miliknya dengan jurus pedang melawan serangan dari Baihu padanya.
TRANG...TRANGG..
Seperti suara dua logam yang beradu antara pedang jendral Mao Shan dengan tinju dari Baihu. Mereka terlihat sama kuat hingga saat ini. Jendral Mao Shan juga terlihat sangat lihai berperang di atas kudanya.
Melihat hal itu harimau Sunu segera menyerang kuda milik jendral Mao Shan. Kuda itu terkejut dengan munculnya harimau Sunu yang tiba-tiba menyerangnya sehingga kuda itu berdiri dan menjatuhkan jendral Mao Shan dari punggungnya. Kuda itu pun berlari meninggalkan medan peperangan itu.
__ADS_1
Harimau Sunu tidak mengejarnya, dia kembali menyerang para prajurit lawan yang menggunakan kuda dengan menggigit dan mencakar kuda mereka hingga prajurit itu terjatuh dari kuda.
Baihu tersenyum melihat kelakuan Sunu yang benar-benar pintar menurunkan prajurit pasukan berkuda dan mengusir kuda-kuda mereka. Kemudian Baihu bersiap menyerang jendral Mao Shan kembali yang kini telah turun dari kudanya.
“Hehehe... kamu pikir aku akan lebih lemah tanpa kuda?” kata jendral Mao Shan.
“Tidak. Aku hanya tidak ingin seranganku membunuh kudamu. Kini aku tidak akan menahan diri lagi,” sahut Baihu santai.
Mata jendral Mao Shan terlihat geram menyerang dengan ganas ke arah Baihu. Gerakan pedangnya sangat terukur dan menutup setiap gerakan Baihu. “Hmm... ilmu pedangnya luar biasa,” gumam Baihu dalam hatinya.
Baihu menghindari setiap serangan pedang dari jendral Mao Shan. Dia ingin melihat gerakan dari jendral Mao Shan sebelum menyerangnya kembali.
Makin lama, gerakan jendral Mao Shan menjadi semakin cepat dan kuat, Baihu tidak lagi bisa menghindarinya. Dia terpaksa menggunakan kekuatannya dan mengeluarkan jurus Kuasa Sejati untuk segera mengakhiri serangan itu.
TRANGG... BUGH...
Baihu berhasil menahan serangan pedang itu dan memukul perut jendral Mao Shan hingga dia terdorong mundur tiga langkah. Beruntung Jendral Mao Shan sempat mengalirkan kekuatannya untuk melindungi perutnya, sehingga dia terhindar dari luka parah.
Sementara itu di tempat lain Wang Mei terlihat bertarung dengan ganas melawan komandan pasukan berkuda dari jendral Mao Shan. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya dengan jurus Matahari dan Bulan tingkat 8 melawan komandan tersebut.
Dalam puluhan jurus akhirnya Wang Mei berhasil memukul dada komandan itu dengan telak dan membuatnya terlempar jatuh memuntahkan darah segar. Wang Mei kemudian tidak melepaskannya, dia mengejar dan memukul kepala komandan itu hingga retak dan tidak bernyawa kembali.
Kematian komandan pasukan mereka membuat wajah para pasukan berkuda menjadi berubah, mereka kehilangan pemimpin tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba dari arah belakang pasukan prajurit jendral Mao Shan, tampak debu mengepul dan suara derap kaki kuda mendekati arena peperangan. Seluruh mata prajurit melihat ke arah asap mengepul itu.
Tampak Yang Zi memimpin bersama ketua sekte Wudang di depan menyerang barisan belakang pasukan jendral Mao Shan. Mereka tidak menyangka lawan akan mengepung mereka dari depan dan belakang seperti itu.
__ADS_1
Mata Jendral Mao Shan berkedut menyadari hal itu. “Sial, strategi anak ini luar biasa,” gumamnya.