BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 130 | Serangan mendadak


__ADS_3

Pagi harinya saat matahari belum muncul dari ufuk timur, Baihu telah mengumpulkan para jendral dan kepala pasukan untuk memberitahukan rencana serangan yang akan dilakukan lebih dulu oleh Baihu.


Setelah itu pasukan panah telah bersiap di tempat paling atas dari benteng kota Linshang. Mereka telah menyiapkan panah khusus yang bisa menjangkau lebih jauh dari arah benteng ke perkemahan bangsa Buke.


Baihu juga memerintahkan para pemanah untuk menunggu aba-aba darinya. Ketika matahari mulai muncul sedikit Baihu meminta para pasukan untuk bersiap-siap di posisi masing-masing.


Baihu juga telah mempersiapkan kekuatannya untuk mengeluarkan jurus Angin Badai Mengguncang Langit. Saat Matahari mulai naik sedikit lebih tinggu dan memperlihatkan wajah matahari pagi seutuhnya, Baihu memerintahkan para pemanah untuk menyiapkan panah mereka.


Saat Matahari berada di posisi yang pas, Baihu lalu memerintahkan pasukan panah untuk melepaskan panah mereka ke udara. Kemudian dengan Jurus Angin Badai Mengguncang Langit, Baihu menambah kekuatan anak panah dengan jurusnya sehingga panah-panah itu bisa menjangkau perkemahan bangsa Buke yang cukup jauh.


Para penjaga perkemahan bangsa Buke tidak mengetahui adanya panah-panah yang datang ke arah mereka karena mata mereka cukup silau melihat ke arah matahari pagi dari arah timur yang telah muncul di atas benteng kota Linshang.


Seluruh penjaga perkemahan terkejut saat anak-anak panah itu telah berada dekat di atas kepala mereka.


Sett... Sett... Sett... Wuuzzz...


“Aaaaakkhh... Aaakkhh...”


Angin kencang yang menghembus diiringi oleh anak panah yang datang langsung menghancurkan perkemahan bangsa Buke.


“Serangan panah!” Teriak seorang pasukan yang selamat dari serangan tersebut sambil mempersiapkan perisai mereka.


Banyak para penjaga perkemahan bangsa Buke yang terkena panah dan mati akibat serangan panah pertama dari arah benteng kota Linshang.


“Ini tidak mungkin! Bagaimana mereka bisa memanah hingga di perkemahan ini.”


“Mundur!” seorang pemimpin pasukan berteriak memerintahkan pasukan mereka untuk mundur. Namun hujan panah kembali berdatangan dan kali ini disertai dengan cairan yang berbau. “Minyak!”


“Awas...”


Belum sempat mereka menyadari tubuh mereka telah dilumuri minyak dan tertancap oleh panah-panah. Perkemahan juga telah dilumuri minyak dan tertancap oleh panah-panah.

__ADS_1


Pasukan bangsa Buke benar-benar tidak bisa melihat datangnya panah karena silau oleh cahaya matahari pagi dari arah timur.


“Sialan, mereka memanfaatkan cahaya matahari untuk menyerang kita secara mendadak.” geram Raja Mao Da yang kemudian memerintahkan pasukannya untuk mundur menjauh.


Berikutnya serangan panah api kembali turun dan membakar perkemahan mereka.


Suasana hiruk pikuk terjadi di perkemahan pasukan bangsa Buke. “Selamatkan perbekalan!” teriak salah satu pemimpin pasukan.


“Ambil perisai!”


“Cepat ambil air, padamkan api!” Teriak orang-orang di perkemahan yang kacau balau.


Wajah Raja Mao Da terlihat gelap menyaksikan perkemahannya hancur oleh kebakaran dan banyak pasukannya yang bergelimpangan terkena panah dari arah kota Linshang.


“Yang Mulia, tetua Mang telah tertusuk panah.” teriak salah satu pasukan yang memeriksa setiap tenda untuk menyelamatkan barang-barang perbekalan dan senjata mereka.


“Apa?” Raja Mao Da menggertakkan giginya karena kesal mendengar salah satu tetuanya terbunuh karena panah disaat sedang tidur.


Semua orang terlihat marah dan kesal akibat serangan tiba-tiba dari arah kota Linshang. Namun mereka terkejut karena jarak dari benteng kota dan perkemahan itu cukup jauh, namun bagaimana panah mereka bisa tiba di tempat itu.


Sementara itu di atas benteng kota pasukan kerajaan Salju Utara dan Gurun Barat bergembira melihat perkemahan musuh yang terbakar. Dan hal itu tentu akan membuat semangat tempur pasukan bangsa Buke menurun.


“Gong Jun, tolong bawakan aku sebuah busur dan anak panah.” teriak Baihu.


Jendral Gong Jun lalu memberikan Baihu sebuah busur dan anak panah. Dia kemudian berkalan ke tepian benteng sebelum menarik busur dan anak panahnya.


“Kalian pasukan panah, perhatikan aku!” Teriak Baihu kemudian


Baihu lalu memberikan petunjuk dengan mengarahkan anak panahnya sekitar 45 derajat ke arah atas dari garis mendatar agar jarak jangkauan panah menjadi lebih jauh.


Kemudian Baihu mengalirkan kekuatannya di kedua tangannya lalu mengatur nafas dan jantungnya sebelum melepaskan anak panah.

__ADS_1


Mata kiri Baihu menyipit dan dia fokus menggunakan mata kanan dengan memiringkan kepalanya sehingga mata kanannya sejajar dengan anak panah di tangannya.


Lalu setelah merasa tenang, Baihu melepaskan anak panahnya ke arah perkemahan bangsa Buke. Panah itu meluncur dengan arah 45 derajat ke atas kemudian turun melewati perkemahan yang terbakar, menerobos api yang membesar dan menusuk salah satu pasukan yang telah berada di kejauhan menyaksikan api yang mulai besar.


Sett... Jleb... Ukh!


Anak panah yang dilepaskan oleh Baihu berhasil menusuk musuh yang berjarak lebih jauh dari perkemahan itu. Mata pemanah di atas benteng menjadi berbinar melihat hal itu. Mereka pun segera mencoba melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Baihu.


Baihu memberikan petunjuk kepada para pemanahnya untuk melakukan serangan seperti itu. Mereka menganggap ini sebagai latihan memanah. Satu sisi pasukan Baihu berada di ketinggian benteng, sehingga panah bisa menjangkau lebih jauh lagi.


Pasukan bangsa Buke menjadi lebih panik ketika melihat teman mereka terkena panah yang dilepaskan oleh Baihu. Mereka semua menggigil ketakutan karena jarak ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang pemanah biasa.


“Mundur!” teriak kepala pasukan lagi.


Mata Raja Mao Da pun menjadi merah padam dengan wajah semakin jelek dia mundur akibat serangan panah ini. Namun semua terlambat, beberapa panah yang berhasil menembus api segera menusuk beberapa pasukan bangsa Buke di tempat tersebut.


“Aaakhh... Aakkhh... Aakkhhh...”


Teriakan memilukan terjadi kembali ketika panah-panah itu berhasil menembus api yang melahap habis perkemahan bangsa Buke. Mereka tidak bisa menemukan air di dekat perkemahan tersebut.


Pasukan bangsa Buke semakin jauh berkurang jumlahnya akibat serangan mendadak yang diperintahkan oleh Baihu. Sementara itu sebagian perbekalan mereka juga telah ludes terbakar dilalap oleh si jago merah.


“Ya-Yang Mulia...” Seorang jendral merasa gugup untuk berbicara dengan Raja Mao Da yang terlihat wajahnya mengerikan.


Bangsa Buke tidak menyangka kedatangan mereka kali ini akan menderita kerugian yang sangat besar.


“Begitu surat kita diterima di ibukota kerajaan, aku akan meratakan kota Linshang. Aku sudah tidak sabar lagi.” geram Raja Mao Da dengan mengepalkan tangannya.


Raja Mao Da tidak mengetahui situasi yang terjadi di ibukota kerajaan Salju Utara. Dia masih yakin bahwa kekuatan bangsa Buke masih kuat dan tentunya bisa bertahan di ibukota kerajaan.


Sehingga dia meminta Zhang Mou untuk mengerahkan pasukan bangsa Buke bersama jendral mereka pergi dan menyerang kota Linshang.

__ADS_1


“Tunggu saja kalian! Aku akan menghapus keberadaan kota Linshang.” wajah Raja Mao Da tampak semakin mengerikan


__ADS_2