
Keesokan harinya Wang Mei sudah terlebih dulu berada di depan kamar tamu yang ditempati oleh Baihu. Dia mengetuk pintu kamarnya dan menunggu Baihu untuk keluar. Wajahnya tampak berseri ketika melihat Baihu keluar dari kamar itu.
Wang Mei lalu mengajaknya untuk ke ruang makan menikmati sarapan keluarga Wang. Tampak di ruang makan, telah ada kedua orang tua Wang Mei bersama kakaknya Wang Bao.
Wajah mereka bertiga terkejut oleh kedatangan Wang Mei dengan wajah berseri-seri bersama Baihu. Mereka tidak menyangka perubahan terjadi pada sikap Wang Mei sejak kedatangan Baihu di keluarga Wang.
“Baihu, kita makan dulu. Setelah itu aku akan mengantarmu berkeliling kota Persik.” kata Wang Mei.
“Baik kakak Wang” sahut Baihu
Mata Wang Mei tertuju pada kedua orang tua dan kakaknya,”Ayah, Ibu. Kakak” teriaknya sambil memberi hormat.
“Tetua, Nyonya” sahut Baihu sambil memberi hormat pada kedua orang tua Wang Mei.
Wang Mei lalu berjalan mendekati ibunya dan duduk disampingnya dengan manja, “Ayah, Ibu. Aku akan pergi mengajak Baihu untuk melihat-lihat kota Persik setelah sarapan” katanya dengan wajah ceria.
“Uhuk!...” Ayah Wang Mei terbatuk mendengar perkataan anak gadisnya itu. Ibunya tersenyum melihat anaknya kembali ceria seperti dulu,”Pergilah. Jangan pulang terlalu malam” sahut Ibunya Wang Mei dengan tersenyum
Ayah Wang Mei menoleh ke arah istrinya hendak protes, namun kaki istrinya telah menginjak kakinya dan membuat matanya melotot. Wang Bao kakak Wang Mei tidak mempedulikan hal itu. Dia hanya meneruskan makannya tanpa menoleh ke arah Wang Mei.
Setelah menghabiskan sarapannya, Wang Mei mengajak Baihu berkeliling kota Persik. Dia menjelaskan tempat-tempat masa kecilnya pada Baihu sebelum dia pergi berguru ke sekte Matahari Bulan. Kemudian mereka tiba di pelabuhan yang tampak sangat ramai.
“Baihu, sejak kecil aku pernah ingin pergi berlayar untuk melihat tempat-tempat lain di belahan dunia ini” gumam Wang Mei sambil melihat kapal-kapal layar di pelabuhan itu.
“Bukankah kakak masih bisa melakukan hal itu?” sahut Baihu
Wang Mei tersenyum,” Ah, aku seorang wanita dan usiaku juga sudah tidak muda lagi. Kedua orang tuaku ingin agar aku lebih banyak berada di dalam keluarga daripada berkeliling dunia seperti laki-laki” lanjut Wang Mei.
__ADS_1
Baihu tidak mengerti dengan hal itu, bagi dirinya wanita dan laki-laki sama, jadi mereka bisa memilih untuk melakukan hal yang sama dalam hidup mereka.
“Ah, kamu masih kecil. Tentu belum mengerti apa yang aku maksud” senyum Wang Mei.
Baihu tidak bertanya lagi, karena dia menyadari dirinya memang masih kecil.
“Kakak Wang, apa yang terjadi selama aku di dalam gua tersebut?” tanya Baihu.
Wajah Wang Mei termenung mendengar pertanyaan Baihu, dia kemudian menghela nafasnya sebelum mulai menjawabnya.
“Setelah pertandingan itu para penjarah yang berhasil membawa barang-barang berharga dari dalam gua pergi dari tempat itu sambil menculik para ketua sekte besar” kenang Wang Mei
“Kemudian seluruh sekte berusaha menyebarkan mata-mata pengintai ke seluruh daratan untuk menemukan jejak mereka. Namun beberapa petunjuk yang didapat tidak menghasilkan apa-apa. Hingga saat aku dijemput oleh ayah, aku pun pergi dari sekte itu.” lanjut Wang Mei.
Baihu mendengarkan penjelasan Wang Mei dengan serius, “Saat aku datang setelah berhasil keluar dari dalam gua. Shu Wei telah duduk menjadi ketua sekte Matahari Bulan menggantikan ketua Shang Chi” ujar Baihu
“Benar. Secara struktur sebagai wakil ketua sekte memang dia yang berhak untuk menjadi ketua sekte jika ketua sekte Shang Chi berhalangan” sahut Wang Mei
“Kakak, apakah kamu pernah mendengar orang bernama Yi Mao, Er Mao, San Mao atau Si Mao?” tanya Baihu mengingat nama dari orang-orang berpakaian hitam di balik air terjun.
Wajah Wang Mei merengut mendengar nama itu. “Bukankah itu seperti nama samaran? Ada apa dengan nama itu?” Wang Mei balik bertanya pada Baihu.
Baihu lalu menceritakan tentang kejadian di dalam gua yang ada di balik air terjun saat dia mendengar percakapan dari empat orang yang berpakaian hitam.
Alis Wang Mei berkedut mendengarnya. “Sepertinya mereka telah menyusupi orang-orang mereka di setiap sekte besar. Ini benar-benar sudah direncanakan dengan matang oleh mereka” gumamnya dengan wajah serius
“Kakak Wang, aku sebenarnya datang ke kota Persik bersama murid dari sekte Pedang Langit. Mereka menemukan petunjuk munculnya barang milik sekte mereka di kota ini” kata Baihu.
__ADS_1
Wajah Wang Mei menatap Baihu dengan serius, “Barang apa yang ditemukan mereka?” tanya Wang Mei
“Aku belum tahu pasti akan barang itu. Yang Zi dan Xin Ye tengah menyelidiki tentang barang tersebut” sahut Baihu lagi
“Yang Zi?” wajah Wang Mei berubah saat mendengar nama Yang Zi. Entah mengapa dadanya merasa sesak ketika mendengar nama itu. Dia mengingat kejadian saat dirinya mendengar bahwa Baihu sudah dijodohkan sejak kecil dengan Yang Zi oleh kedua orang tua mereka.
“Ah...” Wang Mei menghela nafasnya. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan perubahan wajahnya itu dari Baihu.
“Nona muda!” tiba-tiba seorang pelayan dari keluarga Wang datang dengan tergesa-gesa menghampiri mereka.
Wang Mei dan Baihu menoleh ke arah datangnya pelayan tersebut. “Ada apa?” tanya Wang Mei padanya
“Nona, Ayah anda memintaku untuk memanggilmu datang secepatnya” sahut pelayan tersebut dengan wajah kelelahan dan nafas tersengal-sengal.
“Apa yang telah terjadi?” Wang Mei tampak khawatir.
Pelayan itu mengatur nafasnya untuk menenangkan dirinya,” Aku tidak tahu nona. Tetapi tuan meminta seluruh pelayan untuk mencari dan memanggil nona untuk menemui tuan” sahutnya
Wang Mei menatap Baihu, “Aku harus segera kembali. Apa kamu mau pergi bersamaku?” tanya Wang Mei padanya
“Aku harus menemui nona Yang dan nona Xin dulu untuk memastikan barang sekte itu” sahut Baihu.
Mendengar hal itu, Wang Mei hanya bisa menghela nafasnya. “Baiklah, kita lanjutkan nanti pembicaraan tentang hal itu” sahutnya sambil pergi mengikuti pelayan tersebut menemui ayahnya.
Baihu melihat kepergian Wang Mei, lalu pergi ke arah penginapan tempat dia berjanji bertemu dengan Yang Zi dan Xin Ye. Setelah hampir 2 jam berkeliling, akhirnya dia berhasil menemukan penginapan tersebut.
Kemudian Baihu mencari Yang Zi di dalam kamarnya yang tampak sepi. Setelah mengetuk pintu, dia menunggu di luar kamar. Namun tidak terdengar jawaban atau sesuatu dari dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Lalu Baihu memberanikan dirinya untuk membuka kamar tersebut, dan melihat kamar itu telah kosong. “Kemana nona Yang?” gumamnya. Baihu lalu mencari kamar nona Xin dan ketika membukanya dia pun hanya melihat kamar yang kosong.
“Apakah mereka telah pergi?” Baihu mengkerutkan alisnya memikirkan kemungkinan itu. “Mereka pasti menungguku semalam. Karena aku tidak muncul, mungkin mereka telah pergi” gumamnya dalam hati.