BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 45 | Kota Persik


__ADS_3

Yang Zi mengetahui hal itu, saat kejadian penyerangan terhadap kerajaan Xifang, ayahnya tidak bisa membantu karena sedang berperang melawan kerajaan Matahari Terbit untuk mempertahankan wilayahnya.


Setelah berhasil mempertahankan wilayah, ayahnya pun datang kemari beberapa kali dan pergi mencari keberadaan Baihu yang dipercayainya masih hidup. Hingga saat kematiannya dia pun membuat anaknya Yang Zi berjanji untuk meneruskan mencari keberadaan Baihu.


Meskipun awalnya Yang Zi merasa putus asa karena tidak menemukan Baihu, namun akhirnya dia memahami keyakinan ayahnya setelah menemukan Baihu kembali.


“Tuan muda, aku ingin memberikan peninggalan ayahmu ini untukmu” kata lelaki tua itu sambil menyerahkan kotak yang telah diambilnya dari dalam kamarnya.


Baihu mengambil kotak kayu berukuran sedang dari tangan lelaki tua itu dan membukanya. Tampak di dalam kotak kayu itu sebilah belati milik ayahnya. “Belati Mutiara Merah” gumamnya.


“Benar. Ini adalah milik kesayangan Yang Mulia, aku ingin tuan muda yang menyimpannya” kata lelaki tua itu kembali.


“Terima kasih kakek. Kakek telah banyak membantu ayah dan diriku. Aku akan membalaskan dendam kematian kedua orang tuaku” sahut Baihu dengan tatapan yang tajam ke arah belati itu.


Lelaki tua itu tersenyum melihat semangat Baihu yang membara. Sayangnya dia yang sudah tua dan cacat ini tidak bisa membantunya mewujudkan hal itu. Dia pun mendesah menyesali dirinya yang tak berguna itu.


Baihu lalu mengeluarkan kotak perhiasan milik Gurunya Wu Shan lalu mengambil pil obat dari dalamnya dan beberapa keping emas dan memberikannya pada lelaki tua tersebut.


“Tuan muda. Anda lebih memerlukan benda ini daripada kami. Kami tidak mau menerimanya” sahut lelaki tua itu mengembalikan emas dan pil obat tersebut.


“Kakek, pil obat ini untuk kalian agar bisa tetap sehat dan panjang umur. Beberapa emas ini untuk merawat makam keluargaku dan juga biaya hidup kakek dan nenek di masa depan. Tolonglah diterima” kata Baihu dengan tulus.


Meskipun dirinya iklas mengabdi pada keluarga Baihu, namun dia tidak berani menolak pemberiannya. Jadi dia pun menyimpan pemberian Baihu di dalam kamarnya dengan baik.


Setelah mendengarkan cerita dari kakek dan nenek bekas pelayannya itu sambil menikmati makanan dan minuman. Baihu dan Yang Zi pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya menuju kota Persik.


“Kakek, Nenek. Aku pasti akan kembali lagi kemari” kata Baihu sebelum meninggalkan mereka.

__ADS_1


Lelaki tua dan istrinya itu menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangan melihat kepergian Baihu. Mereka sudah cukup puas dalam hidup mereka masih bisa bertemu dengan tuan mudanya yang dalam keadaan sehat.


“Kalian kemana saja? Kenapa lama sekali?” teriak Xin Ye curiga dengan kepergian mereka berdua yang terlalu lama.


Xin Ye mendekati Yang Zi, ”Kalian tidak melakukan hal-hal aneh berdua kan?” bisiknya


“Kakak Xin!” teriak Yang Zi dengan wajah merah mendengar kata-kata Xin Ye


Baihu tidak mengerti apa yang mereka berdua bicarakan, dia hanya terdiam dan pikirannya masih mengingat kedua lelaki tua dan istrinya itu. “Kesetiaan mereka pada keluargaku tidak akan aku sia-siakan” gumamnya dalam hati.


Mereka pun bertiga meneruskan perjalanan menuju kota Persik.


Kota Persik, merupakan kota yang lebih besar dari kota Xifang tempat kelahiran Baihu. Kota Persik terletak di pinggiran sungai Panjang yang juga melintasi beberapa kota-kota besar di empat wilayah kerajaan. Hal ini membuat perdagangan di kota Persik berkembang pesat dengan adanya pelabuhan di kota tersebut.


“Nona Xin, Nona Yang apa rencana kalian selanjutnya?” tanya Baihu setelah tiba di kota tersebut.


“Kita akan mencari penginapan dulu, lalu kami akan menyelidiki tentang keberadaan barang milik sekte Pedang Langit tersebut” sahut Xin Ye dengan wajah serius.


Kemudian mereka menemukan penginapan untuk tempat tinggal mereka sementara di kota Persik.


“Apa rencanamu sendiri Baihu?” tanya Yang Zi kemudian


“Aku akan mencari seseorang untuk menyelidiki keberadaan ketua sekte Matahari Bulan” sahutnya


“Baiklah, kita akan bertemu lagi nanti di penginapan ini” kata Yang Zi sambil pergi bersama Xin Ye untuk menyelidiki barang milik sekte Pedang Langit.


Setelah kepergian kedua wanita itu, Baihu lalu berjalan mengelilingi kota Persik dan bertanya tentang wanita bernama Wang Mei pada beberapa orang yang ditemuinya di jalan, namun tidak ada satupun yang mengenalnya.

__ADS_1


Baihu tidak mengetahui ada beberapa orang yang mengikutinya setelah dia beberapa kali bertanya tentang Wang Mei pada orang-orang di jalan.


Ketika tiba di sebuah jalan yang sepi, orang-orang tersebut segera mengelilinginya. Baihu tertegun melihat dirinya telah dikepung oleh orang-orang tersebut dengan wajah mencurigainya.


“Hei bocah, mengapa kamu bertanya tentang nona muda pada semua orang?” tanya salah seorang dari mereka.


“Nona muda?” batin Baihu


“Apa maksud kalian kakak Wang Mei?” tanya Baihu pada mereka


“Benar. Nona Wang Mei. Apa hubunganmu dengan nona muda?” tanya mereka kembali


Mata Baihu terlihat senang akhirnya bertemu dengan orang-orang dari keluarga Wang Mei. “Aku adik seperguruannya dari sekte Matahari Bulan” sahut Baihu dengan wajah polos.


Orang-orang itu menyipitkan mata mereka tidak percaya dengan perkataan Baihu. Mereka waspada karena tidak ingin terjadi sesuatu pada nona muda mereka.


“Buktikan pada kami jika kamu memang murid dari sekte Matahari Bulan” sahut salah satu dari mereka lagi.


Baihu tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuktikan dirinya berasal dari sekte Matahari Bulan. Dia juga tidak memiliki tanda pengenal karena memang tidak resmi menjadi murid sekte dibawah Guru Wu Shan. Kemudian setelah masuk ke dalam sekte pun dia belum mendapatkan tanda pengenal apa-apa karena baru sebulan lalu terkurung di dalam Gua Kebijaksanaan.


“Cih, kamu tidak bisa membuktikan dirimu sebagai murid sekte Matahari Bulan dan mengaku kenal dengan nona muda kami. Sebaiknya kamu pergi saja, jangan mencari nona kami lagi” sahut salah satu dari mereka yang memimpin kepungan itu.


Mendengar hal itu, Baihu hanya bisa menghela nafasnya. Dia lalu melihat mereka pergi meninggalkannya. Namun Baihu tidak serta merta berhenti, dia melompat ke atas sebuah bangunan dan memperhatikan kepergian orang-orang itu.


“Mereka akan menuntunku menuju kediaman kakak Wang Mei” pikir Baihu


Kemudian Baihu menyelinap di atas rumah-rumah dan bangunan mengikuti kepergian orang-orang itu secara diam-diam.

__ADS_1


Tampak orang-orang itu memasuki sebuah halaman rumah yang sangat luas dengan gerbang yang besar di depan sebuah jalan bertuliskan “Kediaman Keluarga Wang”


“Sepertinya ini rumah kediaman kakak Wang Mei” gumam Baihu. Dia melihat kediaman keluarga Wang yang sangat luas. Bahkan hampir seluas kediaman sekte Matahari Bulan. Mencari Wang Mei di tempat luas itu tentu bukanlah hal yang mudah.


__ADS_2