
“Zhang Wu, pergilah! Aku perintahkan kamu mempersiapkan para jendral untuk bersiaga penuh di kota-kota mereka,” perintah ayahnya Raja Gurun Barat sambil menyerahkan sebuah lambang panglima militer pada anaknya Zhang Wu.
Mata Zhang Wu berbinar menerima lambang panglima militer tersebut. Ini membuatnya bisa menggerakkan militer mewakili Raja Gurun Barat.
“Baik ayah. Aku akan melaksanakan tugas dengan baik,” sahutnya.
Setelah Raja Gurun Barat menganggukkan kepalanya, Zhang Wu segera bergegas menyusun rencananya untuk mengunjungi kota-kota yang dijaga oleh para jendral kerajaan Gurun Barat.
“Zhang Wu terlalu ambisius, tetapi kepintarannya luar biasa. Zhang Mou kurang kejam untuk memimpin, dia masih terpengaruh oleh emosinya.” Raja Gurun Barat merenungkan ketiga anaknya namun dia bersedih saat mengingat Zhang Ji yang baru saja mati dalam pertempuran.
“Baihu, bocah sialan. Aku akan membalaskan kematian anakku padamu,” Raja Gurun Barat itu menggertakkan giginya.
*****
Seminggu setelah kejadian di kaki pegunungan kota Wuxia. Untuk menghindarkan keterlibatan langsung sekte-sekte besar secara terbuka, Baihu membuat markas tersembunyi di kota Wuxia sebagai tempat komando dalam penyerangannya.
“Kota Emas adalah kota terdekat tempat Jendral Song Que dengan ribuan pasukannya. Kita harus menaklukkan kota ini pertama kali,” ucap Baihu di depan teman-temannya.
“Benar. Untuk menyusup ke dalam kota Emas, kita harus berpencar dan menyamar. Setelah itu, kita membuat markas bayangan di dalam kota sambil mengintai kota dan kegiatan pasukan mereka dari dekat sebelum melakukan serangan,” sambung Yang Zi.
“Sekte kami ada di kota Emas, kami akan membantu kalian menyusup ke dalam kota,” sahut salah satu anggota sekte Huasan.
Tampak rasa persaudaraan antar sekte besar sangat baik sejak Baihu muncul dan menjadi perekat bagi mereka yang sebelumnya saling bersaing dalam hal kekuatan. Kini semua bersatu untuk tujuan mempertahankan sekte mereka dan menyerang balik kerajaan Gurun Barat.
Hal ini disebabkan karena campur tangan dari kerajaan Gurun Barat dalam penangkapan dan pengurungan terhadap ketua sekte mereka selama setahun sehingga mereka kesulitan menemukan mereka. Seluruh sekte menjadi antipati dan dendam kepada kerajaan Gurun Barat.
Tiba-tiba datang seseorang dari sekte Matahari Bulan dengan tergesa-gesa ingin menemui Baihu.
“Baihu. Kabar buruk, sekte Makam Raja telah musnah.” seru orang yang datang itu sambil menarik nafasnya yang terengah-engah
__ADS_1
Mata orang-orang di ruangan markas terbelalak mendengar berita yang disampaikan oleh orang dari sekte Matahari Bulan. “Apa yang terjadi?”
“Seorang pedagang di kota Wuxia bercerita bahwa beberapa hari yang lalu kota Bintang dikejutkan dengan terbunuhnya orang-orang dari sekte Makam Raja. Mereka tampaknya di bunuh oleh semacam hewan buas yang mencabik-cabik tubuh ketua sekte, para tetua dan murid sekte” lanjut orang itu bercerita.
Di Kerajaan Gurun Barat ada dua sekte besar yang berada di sana, sekte Makam Raja dan sekte Huasan. Di selatan ada sekte Ming dan sekte Kunlun, di utara ada sekte Wudang dan di timur sekte Bulan Es. Sisanya berada di pegunungan dekat kota Wuxia.
“Kita harus segera pergi ke kota Emas. Jangan sampai sekte Huasan juga terkena musibah seperti itu.” Baihu segera memerintahkan teman-teman mereka untuk bersiap pergi ke kota Emas untuk melindungi sekte Huasan dan juga menjalankan rencana selanjutnya.
Sore harinya Baihu dan Wang Mei yang menyamar sebagai pedagang telah memasuki kota Emas dan langsung menuju kediaman sekte Huasan. Teman-teman mereka yang lain juga sudah berada disana satu persatu.
“Ketua sekte, mohon maaf atas ketidaknyamanan kami datang ke kediaman sekte Huasan ini,” kata Baihu memberi hormat pada ketua sekte Huasan.
“Baihu, kamu adalah anggota kehormatan seluruh sekte, kamu bebas datang ke kediaman sekte manapun,” sahut ketua sekte Huasan
“Kami juga sudah memperketat penjagaan dan pengintaian di sekitar sekte Huasan.” lanjut ketua sekte Huasan.
Baihu dan teman-teman mereka mendengarkan penjelasan serta laporan dari orang-orang sekte Huasan yang dikirimkan sebagai pengintai dari seluruh wilayah kota Emas.
Setelah pembicaraan itu, mereka pun beristirahat malamnya untuk bersiap melakukan rencana selanjutnya esok hari.
******
Malam itu udara terasa lebih dingin dari sebelumnya, kediaman sekte Huasan sudah tampak sepi karena malam telah larut. Hanya beberapa orang yang masih berjaga keliling sambil membawa lentera di sekitar kediaman sekte Huasan.
Dari kegelapan malam, berkelebat sosok yang segera menyerang dan mencabik orang-orang yang sedang berjaga keliling. Mereka tidak sempat berteriak karena leher para penjaga itu semua telah terkena cabikan tangan pelaku.
Di dalam kediaman sekte Huasan, tampak sosok itu berjalan dengan cakar di tangan kanan dan kirinya yang masih meneteskan darah.
“PENCURI!” tiba-tiba beberapa penjaga melihat sosok yang datang itu. Kemudian para penjaga itu dalam hitungan detik sudah terkapar di tanah tanpa nyawa dengan leher hampir terputus.
__ADS_1
Sosok itu adalah Serigala Hitam, mahluk ganas dan kejam yang dikurung oleh Chen Guo saat itu di dalam sekte Makam Raja. Setelah kematian Chen Guo, kurungan mahluk itu dipindahkan oleh Sun Yang. Kini mahluk itu terlepas dan menyerang ke dalam kediaman sekte Huasan.
“Aku tak menyangka yang datang adalah sosok manusia buas,” kata Baihu saat dia terbangun oleh teriakan dari penjaga sebelumnya.
GRRRR...
Sosok manusia yang tampak buas dengan mata merah menyala yang dipanggil Serigala Hitam itu menoleh ke arah Baihu. Dia menggeram merasakan Baihu bukanlah orang biasa yang berani menghadapinya.
Baihu melompat turun dan berjalan ke depan manusia buas tersebut. “Kamu serigala, aku adalah harimau,” kata Baihu kembali dengan tatapan tajamnya menatap manusia buas tersebut tanpa berkedip.
GRRRR...
Manusia buas Serigala Hitam itu berjalan mengelilingi Baihu sebelum dia akan menyerangnya. Baihu mengikuti gerakan Serigala Hitam itu dengan menggunakan matanya. Lalu saat Serigala Hitam itu melompat menyerang dirinya, Baihu berkelit menghindari serangan itu dengan sigap sehingga serangan Serigala Hitam itu hanya beberapa inci melewati tubuhnya.
Kembali Serigala Hitam itu berbalik dan menyerang ke arah Baihu dengan menggunakan cakarnya bergerak dengan ganas ingin mencabik-cabik tubuh Baihu. Namun Baihu menghindari setiap cabikan cakar darinya dengan mudah. Baihu lalu menghantamkan tinjunya ke arah cakar Serigala Hitam tersebut.
Menyadari adanya bahaya, Serigala Hitam itu mengurungkan niatnya untuk melanjutkan gerakan cakarnya dan membuat dirinya selamat dari tinju Baihu.
“Hebat! Manusia buas ini bisa merasakan serangan yang akan aku kirimkan padanya lalu menghindarinya,” gumam Baihu dalam hatinya.
Serigala Hitam itu kembali mengelilingi Baihu seakan-akan hendak mencari titik kelemahan dari Baihu. Melihat Serigala Hitam itu belum mengambil inisiatif untuk menyerang, Baihu mengambil kesempatan untuk menyerangnya terlebih dahulu.
Gerakan Baihu sederhana, dia hanya menggunakan jurus Telapak Sakti Sembilan Semesta mengerahkan telapak itu ke arah dada dari Serigala Hitam. Menyadari datangnya bahaya, Serigala Hitam itu melompat berkelit dari pukulan telapak tangan Baihu.
Namun Baihu tidak membiarkannya, dia mengubah serangannya kini menggunakan Tendangan Api menyapu bagian bawah tubuh Serigala Hitam. Serigala Hitam kembali merasakan serangan di bagian bawah tubuhnya, dia melompat ke udara menghindari sapuan serangan kaki Baihu.
Saat manusia buas itu melompat ke udara, Baihu telah terlebih dahulu menunggunya di udara. Melihat lawan sudah menunggunya di udara, Serigala Hitam menggerakkan tangannya untuk mencabik Baihu. Namun gerakannya lebih lambat sedikit dari Baihu yang telah melayangkan tendangannya mengenai perut dari Serigala Hitam tersebut.
“RROOOAARR...
__ADS_1
Serigala Hitam itu meraung kesakitan oleh tendangan Baihu yang mengenai telak di perutnya.