BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 106 | Ilmu Ulat Sutera Barat


__ADS_3

Baihu yang duduk bersila kemudian membungkus tubuhnya dengan mengerahkan aura seputih kapas yang seperti serat energi yang menyelimuti tubuhnya. Mata Yang Zi dan teman-temannya terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Baihu.


Selang berapa menit mereka melihat tubuh Baihu telah tertutup sepenuhnya oleh aura serat energi berwarna putih itu. “Ilmu apa ini?” batin Yang Zi.


Ilmu Ulat Sutera Barat adalah kitab penyembuhan dari daerah barat luar dataran tengah yang dimiliki oleh sekte Lembah Obat. Baihu saat perjalanannya ke wilayah barat sempat terluka parah oleh sekte misterius. Namun dia beruntung di selamatkan oleh Guru Ketiga dari sekte Lembah Obat dan disembuhkan dengan ilmu ulat sutera barat itu.


Ilmu ulat sutera barat adalah kitab ilmu pengobatan dewa yang dapat menyembuhkan kerusakan tubuh yang fatal dengan memperbaiki sel-sel tubuh menjadi baru kembali. Baihu beruntung diwariskan ilmu pengobatan itu oleh Guru Ketiga sekte Lembah Obat sehingga dia bisa memulihkan tubuhnya kembali dengan ilmu tersebut dalam waktu yang cepat.


Hanya butuh waktu tiga puluh menit bagi Baihu mengembalikan kondisi tubuhnya seperti semula dengan menggunakan ilmu ulat sutera barat itu. Yang Zi dan kawan-kawannya terkejut melihat tubuh Baihu yang telah pulih dan kembali bugar seperti sedia kala.


“Apakah itu ilmu yang kamu dapat dari daerah barat?” tanya Yang Zi padanya.


“Iya kak, aku beruntung saat itu terluka dan diselamatkan oleh seorang guru dari sekte Lembah Obat. Aku juga mendapatkan ilmu ini darinya,” sahut Baihu dengan enteng.


Yang Zi tersenyum pada Baihu. Dia merasa gembira setelah melihat Baihu bukan saja menjadi lebih dewasa tetapi juga bertambah kuat. Perasaannya menjadi semakin dalam padanya. Wajah Yang Zi menjadi merah ketika memikirkan hal itu.


“Wajah kakak kenapa?” tanya Baihu padanya.


“Ti-tidak mengapa,” sahut Yang Zi gugup lalu berbalik pergi setelah meletakkan sup hangat di atas meja depan Baihu. “Minumlah sup ini untuk memulihkan kondisimu. Kami menunggumu di aula pertemuan,” lanjut Yang Zi kemudian


Baihu tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya. Lalu setelah menghabiskan sup tersebut, Baihu segera pergi ke aula pertemuan untuk mengadakan pertemuan dengan para pimpinan pasukan mereka.

__ADS_1


“Yang Mulia, kami telah mendapatkan kabar bahwa kapal pasukan air bangsa Lato telah memasuki perairan sungai mendekati kota Bintang dan juga kota Persik. Aku telah menyiapkan pasukan untuk serangan penyergapan di beberapa titik sungai untuk mengurangi kekuatan mereka.” kata Yang Zi.


“Kami juga telah meminta bantuan dari murid tetua bela diri untuk membantu memperkuat pertahanan kota tersebut,” lanjut Yang Zi.


“Yang Mulia, pasukan dari hutan juga telah bersiap untuk mengepung kota Langsang,” sambung Yin Fang yang telah mengirim mata-mata pengintai untuk memantau gerakan bangsa Lato di dalam hutan itu.


Baihu mengkerutkan keningnya memikirkan laporan dari teman-temannya itu. Dia memikirkan kekuatan dari kedua Xu bersaudara itu ketika melawan mereka.


“Aku yakin ketua sekte Ming dan juga ketua sekte Kun Lun dikalahkan dan dibunuh oleh kedua tetua dari bangsa Lato itu,” sahut Baihu. “Kekuatan mereka berdua tidak boleh dianggap remeh. Kita juga tidak tahu apakah masih ada lagi yang lebih kuat dari mereka yang datang kemari.”


Semua orang di aula pertemuan itu merenung memikirkan perkataan Baihu. Raja mereka Baihu saja kewalahan menghadapi kedua tetua itu. Keadaan akan menjadi lebih berat apabila diantara pasukan air mereka masih ada orang yang memiliki kekuatan yang melebihi kedua tetua tersebut.


“Kita membutuhkan banyak bantuan, mudah-mudahan tetua bela diri mau membantu kita menghadapi bangsa Lato ini.” lanjut Baihu.


Yang Zi memahami apa yang dirasakan oleh Baihu, dia ingin bisa mengalahkan kedua tetua bangsa Lato itu setelah bertempur melawan mereka. Baihu merasa dia harus meningkatkan kekuatan kultivasinya untuk menembus alam Abadi agar bisa mengalahkan kedua tetua tersebut.


“Baik Yang Mulia,” sahut Yang Zi sambil memberi hormat kepada Baihu.


Setelah membicarakan beberapa hal strategi pertahanan dengan para pemimpin pasukan kota Langsang, Baihu kemudian pergi ke tempat terpencil di kota Langsang untuk berlatih.


Harimau Sunu turut menemaninya pergi mencari tempat berlatih. Mereka berdua pergi menyusuri pinggir sungai hingga menemukan sebuah tebing di pinggir sungai wilayah kota Langsang. “Sunu, kamu tinggallah di hutan dekat tebing ini. Aku akan mencoba melihat ke pinggir tebing untuk mencari tempat yang bagus untuk berlatih,” kata Baihu.

__ADS_1


RROOAARR...


Harimau Sunu mengaum seolah-olah mengerti apa yang dikatakan oleh Baihu kepadanya. Setelah itu Baihu pergi menuruni tebing di pinggir sungai itu untuk mencari tempat berlatih yang baik.


Di pinggir tebing itu yang tersembunyi oleh rimbun tanaman semak, Baihu melihat sebuah gua disana. Baihu merasa penasaran dengan gua tersebut. Dia lalu menghampiri dan pergi memasuki gua tersebut.


“Tampaknya gua ini telah lama tidak dimasuki orang,” batin Baihu sambil membersihkan sarang laba-laba yang menutupi jalannya memasuki gua dan juga semak belukar di depannya. Baihu menggunakan mata batinnya untuk melihat jalan memasuki gua yang gelap itu.


Ketika beberapa langkah memasuki gua, Baihu tertegun merasakan sebuah aura dari dalam gua itu yang memberikan tekanan pada dirinya. Namun setelah mengerahkan kekuatan puncak alam Langit, tekanan itu tidak terlalu berasa baginya.


Baihu berjalan semakin ke dalam karena penasaran dengan aura tersebut. Tekanan aura semakin menguat saat Baihu memasuki gua itu lebih jauh. Dia sesekali berhenti untuk mengatur nafasnya agar bisa menetralkan tekanan itu.


Di bagian dalam gua yang cukup luas, Baihu tidak melihat apapun di tempat itu. Hanya ruangan gua yang kosong dan gelap. Tetapi aura yang menekan itu semakin kuat di sekitar ruangan gua yang kosong itu.


Baihu melihat sekeliling dan berjalan mengelilingi gua yang cukup luas itu. Kakinya berhenti di salah satu sudut ruang gua itu. “Sepertinya aura tersebut berasal dari balik dinding ini.” Baihu mengamati dinding gua itu dengan menggunakan mata batinnya sambil meraba-raba dinding tersebut.


Tangan Baihu tiba-tiba meraba sebuah tuas yang cukup kecil di dinding itu dan menariknya.


RRRRR...


Dinding gua itu tiba-tiba bergerak dan terbuka sebuah lorong gua kembali. Obor menyala di dinding itu ketika angin masuk dan pintu terbuka lebar. Baihu tertegun melihat lorong yang cukup panjang itu di depannya. “Kemana arah gua ini?” batinnya sambil berjalan memasuki gua tersebut.

__ADS_1


Obor yang terletak di dinding gua menerangi jalan memasuki lorong gua itu. Baihu berjalan perlahan dengan waspada sekelilingnya.


__ADS_2