BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 122 | Melawan Pang Chu


__ADS_3

Baihu tidak memberikan kesempatan bagi Zhang Mou untuk bernafas, dia segera melesat dengan cepat menebas ke arah Zhang Mou. Namun Zhang Mou berhasil menghindar dan meraih pedangnya kembali.


Kemudian Zhang Mou membalik badannya dan mengeluarkan tusukan seribu pedang ke arah Baihu. Menyadari jurus lawannya, Baihu memutar pedang naganya membentuk perisai untuk menghadang serangan dari pedang dewa Zhang Mou.


Ketika tarikan nafas berikutnya, Baihu melentingkan tubuhnya dengan menjejakkan kaki kirinya lalu menebas ke depan sambil melompat ke udara. Angin tebasan itu mengarah dengan cepat ke tubuh Zhang Mou. Mata Zhang Mou terbelalak melihat tebasan kilat Baihu. Lalu dia melakukan gerakan melengkung ke belakang menghindari tebasan tersebut.


Wuzzz...


Angin tebasan itu terasa mengiris kulit Zhang Mou saat melewati tubuhnya dan membuatnya bergidik.


Ketika Zhang Mou kembali berdiri tegap, tampak Baihu telah melompat dari udara sambil mengayunkan pedang naganya dari atas kepalanya ke arah tubuh Zhang Mou.


“Sial, tekanan ini terlalu kuat,” batin Zhang Mou


Kekuatan Baihu dan pedang naga memberikan tekanan yang kuat terhadap tubuh Zhang Mou, dia tidak dapat menggerakkan badannya dengan normal. Gerakannya seperti melambat saat mengayunkan pedang dewanya menyilang di atas kepalanya untuk menangkis pedang naga Baihu.


Trang! Tranggg!


Pedang dewa Zhang Mou patah menjadi dua bagian membuat mata Zhang Mou melotot karenanya. Namun serangan Baihu tidak berakhir disana, angin tebasan tadi masing menyerang ke arah tubuh Zhang Mou.


Crassss...


Karena gerakan Zhang Mou mengalami tekanan kekuatan Baihu, dia hanya bisa menggeser kepalanya sedikit ke kiri sehingga angin tebasan Baihu mengenai telinga kangan Zhang Mou dan membuatnya terputus.


“Aargghh!” Pekik Zhang Mou saat merasakan sengatan di telinga kanannya yang menyemburkan darah. Lalu angin tebasan itu juga sedikit melukai pundak Zhang Mou.


Mata Zhang Mou terbelalak melihat potongan telinga kanannya tergeletak di atas tanah. Dengan wajah geram Zhang Mou menatap Baihu sambil menutupi telinganya yang berdarah.

__ADS_1


“Kurang ajar!” Geram Zhang Mou dengan wajah gelap.


Baihu menyeringai melihat wajah Zhang Mou dan pakaiannya yang penuh percikan darah.


“Kamu lebih cocok mengenakan pakaiwan berwarna merah. Aku akan mewarnai ulang pakaianmu itu.” Sindir Baihu sambil bersiap untuk menyerang kembali.


Mata Zhang Mou berkedut, dia tidak bisa melakukan apapun untuk membalas serangan Baihu. Tubuhnya kembali merasakan tekanan kekuatan dari Baihu padanya.


Crasss... Jleb!


Pedang Naga Baihu akhirnya menebas dada Zhang Mou lalu menancap persis mengenai jantungnya dan membuat Zhang Mou mati seketika dengan wajah tidak percaya dan mata melotot.


Sementara itu orang-orang berpakaian hitam dari sekte Burung Api terlihat kewalahan melawan jurus dari Pang Chu, ketua sekte Misterius daerah barat yang bercampur dengan jurus sihir.


Cakaran Pang Chu menyerang ganas ke arah salah satu wanita paling kanan. “Adik, awas!” Teriak Tang Jian saat melihat Pang Chu bermaksud melumpuhkan adiknya itu.


Wanita yang berada di paling kanan terkejut dan terlambat menyadari serangan dari Pang Chu.


“Pang Chu, akulah lawanmu!” Baihu berdiri dengan tegak memandang ke arah Pang Chu. Mata Pang Chu berkedut melihat tubuh Zhang Mou di belakang Baihu yang terbujur kaku di atas tanah.


Hal itu membuat Pang Chu menjadi naik pitam. “Hari ini aku akan membunuhmu agar arwah anakku Pang Mo dan Zhang Mou tenang di alam sana. Kamu akan menemaninya disana.”


Pang Chu menyerang dengan ganas ke arah Baihu, serangan cakar itu mengalir bertubi-tubi ke arah tubuh Baihu. Bayangan ribuan cakar terbentuk karena kecepatan gerakan dari Pang Chu.


Sementara itu Baihu berkelit sambil sesekali menahan cakar itu dengan pedang naganya.


“Kalian bertiga pergilah, biar aku yang melawannya,” teriak Baihu pada ketiga orang sekte Burung Api.

__ADS_1


Melihat Baihu kini melawan Pang Chu, ketiga orang sekte Burung Api pun pergi meninggalkan pertarungan itu. “Yang Mulia, kami akan selalu mengingat hutang nyawa ini.” Teriak Tang Jian sambil berlalu.


Serangan cakar Pang Chu tidak berguna melawan jurus pedang Naga. Namun serangan cakar itu tidak sembarangan, karena saat serangan cakar itu datang Baihu merasakan ada udara yang tidak beres mengarah ke tubuhnya.


“Cakarnya beracun?” Baihu tertegun merasakan angin dari cakar Pang Chu itu lalu berkelit menghindarinya. Namun Pang Chu berbalik arah melompat hendak menghadang ketiga sekte Burung Api itu.


“Siapa yang mengijinkan kalian pergi?” Pang Chu tidak ingin melepas ketiga orang dari sekte Burung Api itu dan menyerang kembali ke arah Tang Jian.


Mata Tang Jian terbelalak melihat ganasnya serangan Pang Chu ke arah mereka. Segera dia menangkis cakar itu dengan pedangnya, sedangkan dua orang wanita lain memotong cakar itu dengan pedang mereka.


Pang Chu menyipitkan matanya kemudian menarik cakar lalu memutar ke arah dua wanita sekte yang mengayunkan pedang mereka. “Awas adik!” Tang Jian berteriak kembali memperingati kedua adik wanitanya itu.


Baihu yang melihat gerakan Pang Chu segera mengayunkan pedang Naganya ke arah Pang Chu. Bayangan energi naga yang kuat mendekati Pang Chu dan memberikan tekanan dari arah kanan tubuhnya.


Pang Chu buru-buru menarik kembali serangannya dan melompat mundur untuk mengatur nafasnya.


Baihu kini berdiri di depan ketiga sekte Burung Api dan memanfaatkan kesempatan untuk mengatur nafasnya juga. “Kalian cepat pergi!” usir Baihu pada ketiga sekte Burung Api.


Melihat Baihu berdiri di depannya dan menghalanginya untuk menyerang ketiga sekte Burung Api itu, Pang Chu terlihat kesal. Dia kembali mengerahkan kekuatannya ke tingkat puncak dan menyalurkan sebagian kekuatan itu ke cakarnya yang beracun.


Sementara Baihu juga mengeluarkan kekuatan puncaknya dan menyalurkan ke pedang naga di tangannya. Baihu menggenggam erat pedang naga yang ada di tangannya, kemudian dia bersiap untuk menerima serangan dari Pang Chu.


Pang Chu melompat dengan ganas ke arah Baihu dan mengayunkan kedua cakarnya ke arah wajah dan satunya lagi ke arah dada Baihu. Baihu memutar pedang naganya dan membuat perisai perlindungan dari serangan cakar Pang Chu.


“Hari ini kamu harus mati!” Seru Pang Chu dengan buasnya.


Baihu yang telah mengetahui rahasia cakar beracun Pang Chu namun hanya bisa bertarung dengan menjaga jarak dengannya untuk menghindari racun dari cakar tersebut.

__ADS_1


Melihat serangan Pang Chu yang semakin lama semakin kuat, Baihu melompat ke udara dan mempersiapkan jurus Seribu Pedang Naga. Kemudian menyerang dengan ganas ke arah Pang Chu.


Ribuan bayangan pedang naga di udara semuanya mengarah dan menyerang ke arah Pang Chu dengan kecepatan kilat. Suara pedang naga meraung berkali-kali membuat suasana bergidik.


__ADS_2