BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 121 | Bertemu musuh bebuyutan


__ADS_3

“Argghh...”


Jendral bangsa Buke itu menjerit karena salah satu lengannya terputus oleh tebasan lelaki berpakaian hitam itu. Dia menahan sakit yang tak tertahankan lalu menotok aliran darahnya untuk menghentikan pendarahannya.


Matanya menjadi merah karena marah, dia mengamuk seperti babi hutan menyerang dengan ganasnya. Namun hal itu justru membuat staminanya semakin menurun dan lelaki berpakaian hitam serta dua wanita itu berhasil menusuk tubuhnya bersamaan.


Tiga pedang menusuk tubuh jendral bangsa Buke itu hingga menembus ke punggungnya. Matanya melotot tidak percaya dirinya mati pada hari itu.


Srettt...


Ketiga pedang bersamaan ditarik dan tubuh jendral bangsa Buke itupun jatuh ambruk ke tanah dan mati mengenaskan.


“Kakak, bagaimana dengan Baihu?” tanya salah satu wanita itu pada lelaki berpakaian hitam dengan melihat ke arah Baihu yang sedang melawan dua orang jendral bangsa Buke.


“Ayo kita bantu dia!” Lelaki itu lalu mengajak dua wanita itu pergi membantu Baihu yang menghadapi dua orang jendral bangsa Buke.


Baihu bergerak menghindari serangan dua orang jendral bangsa Buke itu, namun dia belum mengeluarkan pedang naga nya. Baihu hanya menggunakan jurus Sembilan Semesta yang telah dikuasainya.


Brakk!


Dengan menggunakan telapaknya dia berhasil menghantam dada salah satu jendral bangsa Buke hingga membuat jendral itu terbang melayang menghantam bangunan penduduk.


Lalu Baihu berputar dengan bertumpu pada tangannya dan menggunakan kakinya menendang dagu dari jendral yang satunya hingga kepalanya pusing dan terhuyung-huyung ke belakang. Kemudian Baihu menolak tubuhnya ke udara dan melanjutkan tendangannya kini dengan gerakan menggunting dari atas ke kepala lawan hingga menghancurkan tulang tengkorak jendral bangsa Buke itu dengan keras.


Braakkk!


Mata jendral bangsa Buke itu hampir melompat dari kelopaknya ketika tendangan Baihu mengenai telak kepalanya dan membuat jendral itu terjerembab jatuh ke tanah dan meregangkan nyawa.


Pasukan bala bantuan yang melihat kedua jendral mereka mati, tidak ada yang berani bergerak maju menyerang Baihu. Mereka tampak perlahan mundur dengan ketakutan.


“Sepertinya kamu tidak memerlukan bantuan kami, tuan Baihu.” Lelaki berpakaian hitam bertopeng itu menatap Baihu dengan senyuman di balik topengnya.


“Tuan Tang dan nona-nona Tang, terima kasih atas perhatian kalian.” sahut Baihu.

__ADS_1


Dua wanita itu terkejut mendengar Baihu mengetahui identitas mereka. Namun lelaki itu tertawa karena sama sekali tidak terkejut dengan kepintaran Baihu yang pasti bisa menebak identitas mereka.


“Hahaha... rupanya seorang tikus dari kerajaan Gurun Barat yang telah datang. Apa kabarmu Yang Mulia Baihu.”


Tiba-tiba sebuah suara yang dikenali oleh Baihu terdengar dari kejauhan. Lelaki berpakaian hitam dan dua wanita itu tertegun mendengar perkataan orang itu. Mereka menoleh ke arah Baihu dan tidak menyangka bahwa orang disamping mereka ini benar-benar Raja kerajaan Gurun Barat.


“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” Baihu kemudian menoleh ke arah datangnya suara itu.


Di kejauhan tampak dua orang datang melayang menuju ke arah Baihu dan keluarga Tang dari sekte Burung Api.


“Zhang Mou. Akhirnya kamu muncul juga.” geram Baihu menatap ke arah Zhang Mou yang datang menuju ke tempatnya.


Namun Baihu tertegun dan matanya berkedut setelah melihat jelas orang yang berada di samping Zhang Mou. “Pang Chu!”


Pang Chu adalah ketua sekte Misterius di wilayah luar bagian barat. Bangsa Buke dan sekte Misterius memiliki kerjasama yang cukup erat, sehingga tentu saja kehadiran Pang Chu di dataran tengah ini juga untuk mendapatkan hasil demi kerjasama mereka.


“Tuan dan nona Tang, sebaiknya kalian pergi dari tempat ini. Kekuatan mereka berdua tidak bisa kalian lawan.” bisik Baihu pada orang sekte Burung Api di sebelahnya.


Ketiga keluarga sekte Burung Api itu tidak bergeming sedikitpun. Dengan pedang ditangan mereka, mereka siap untuk berhadapan dengan siapapun yang menghalangi.


Baihu menghela nafasnya, dia tidak ingin konsentrasinya terpecah untuk melindungi ketiga orang itu. Tapi mereka sendiri yang memilih untuk tinggal disana, jadi Baihu tidak bisa menolaknya.


Baihu kini menghunus pedang naga dari cincin penyimpanannya. Dia dia menggenggam erat pedang itu sambil mengalirkan kekuatannya secara diam-diam.


“Cih, Aku pikir kamu telah mati. Ternyata kita bertemu kembali. Aku akan membalaskan dendam atas kematian anakku, Pang Mo.” Mata Pang Chu memancarkan sinar kemarahan setelah melihat Baihu orang yang telah membunuh anaknya berada di depannya.


Segera Pang Chu merapalkan mantra dan menggerakkan kedua tangannya menyerang ke arah Baihu.


“Awas, mundur semuanya!” Baihu berteriak memperingati Tang Jian bersama dua adiknya.


Seketika jaring tipis berwarna hitam yang tidak kelihatan dilemparkan oleh Pang Chu ke arah mereka, namun Baihu telah terlebih dahulu mengenali jurus itu dan mundur sambil memperingati keluarga Tang.


“Jurus Jaring Kematian” gumam Baihu yang pernah terkena sekali jurus tersebut.

__ADS_1


Kini dengan pedang naga di tangannya, dia bisa merobek jaring kematian itu dengan mudah dan membuat mata Pang Chu berkedut setelah melihat kekuatan pedang itu.


“Sial, kamu telah mendapatkan senjata pusaka. Aku harus merebutnya.” batin Zhang Mou.


Zhang Mou pun bergerak menyerang ke arah Baihu setelah menghunus pedangnya.


Setthh... Seethh... Seethhh...


Pedang di tangan Zhang Mou bergerak secepat kilat menyilang ke arah tubuh Baihu, namun sabetan pedang itu masih terlihat oleh Baihu yang kemudian menggunakan pedang Naganya untuk menghadang serangan Zhang Mou.


Trang! Trang! Trang!


Tiga percikan api terlihat ketika pedang di tangan Zhang Mou membentur pedang Naga Baihu. Pedang Zhang Mou bergetar dan tangannya terasa kebas hingga hampir melepaskan pedangnya.


Disisi lain, Pang Chu yang hendak menyerang Baihu dihalangi oleh ketiga orang dari sekte Burung Api yang membentuk formasi pedang untuk melawan ketua sekte Misterius Pang Chu.


“Sepertinya kemampuanmu telah bertambah Baihu. Tapi kamu tidak akan bisa mengalahkan jurus Pedang Dewa milikku ini.” kata Zhang Mou.


Baihu tidak menjawab kata-kata Zhang Mou, matanya menatap tajam ke arahnya dan kemudian menyerang Zhang Mou dengan jurus pedang Naga.


Zhang Mou tidak menduga Baihu kini memiliki jurus pedang Naga untuk melawan jurus pedang Dewa miliknya. Dengan kekuatan jurus yang seimbang, Baihu bisa memenangkan pertarungan karena kekuatan kultivasinya berada di atas Zhang Mou.


Dengan ganas dan kecepatan tinggi, Baihu mengerahkan jurus Pedang Naga dan mengurung Zhang Mou dengan pedangnya. “Sialan, jurus pedangnya sangat ganas.” Zhang Mou terbelalak dan kewalahan menghindari serangan ganas Baihu.


“Zhang Mou, terimalah kematianmu hari ini!” kata Baihu pelan dan mengerahkan kekuatan abadinya lalu mengalirkan kekuatan itu ke pedang Naga miliknya.”


Tebasan pedang Naga terasa begitu tajam. Angin tebasannya pun seperti mengiris udara dan kulit orang yang berada disekitarnya.


Zhang Mou terkejut merasakan kekuatan jurus pedang naga yang diperkuat oleh energi tahap Abadi Baihu. Zhang Mou tidak bisa berkelit, dia hanya menggunakan pedang Dewa nya untuk memblokir serangan Baihu yang menggunakan pedang naga.


Trang! Trang! Tangg...


Benturan ketiga kalinya, pedang Zhang Mou terlepas dan terlempar ke tanah. Wajah Zhang Mou tampak memucat menyadari kekuatan Baihu.

__ADS_1


__ADS_2