BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 34 | Melaju ke babak kedua


__ADS_3

Melihat serangannya di patahkan dengan mudah oleh anak yang jauh lebih kecil darinya, membuat kekesalan Li Yan semakin memuncak. Dia lalu mengerahkan kekuatannya kembali.


Baihu masih terlihat tenang dan acuh tak acuh, dia merasa sudah cukup bermain-main menilai kekuatan Li Yan. Diapun langsung meningkatkan jurusnya kali ini dengan mengkombinasikan gerakan 5 jurus menjadi satu gerakan.


“Apa yang dilakukan oleh anak itu?” wakil ketua sekte Shu Wei terkejut melihat gerakan Baihu


Mata orang-orang dari sekte Matahari Bulan terkejut, dikarenakan gerakan jurus Baihu menjadi terlihat aneh bagi mereka. Namun mereka tidak mengetahui bahwa kekuatan jurusnya menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya.


BUGH! BUGH!


Dengan telapak tangannya Baihu menyentuh dada lalu kakinya menyentuh punggung Li Yan dalam satu jurus. Dua kekuatan menyerang masuk ke dalam tubuh Li Yan secara bersamaan di dada dan punggungnya.


Lutut Li Yan bergetar, kekuatannya terasa melemah lalu dia terjatuh berlutut di lantai arena. Wajahnya menjadi merah dan matanya menatap dengan kesal pada Baihu. Tampak dari sudut mulutnya menetes darah


“Sial, Aku kalah?” Li Yan masih tidak percaya dirinya dikalahkan oleh bocah kecil di depannya itu. Dia sama sekali kehilangan kekuatannya untuk bangkit kembali.


Baihu hanya berdiri memandang di depannya menunggu pengumuman.


“Baihu dari sekte Matahari Bulan menang” teriak panitia.


Kali ini tidak ada sorakan terdengar, semua mata memandang tidak percaya ke atas arena. Mulut mereka masih menganga melihat kemenangan Baihu. Hanya ketua sekte Shang Chi dan Wang Mei yang tersenyum puas melihat hasil itu.


Namun Wang Mei tampak sedikit menyipitkan mata pada pertarungan ini,”Ada apa diantara mereka?” batinnya


Setelah kekalahan Li Yan, murid kedua sekte Bulan Es turun melawan Baihu, namun murid kedua ini jauh lebih lemah dari Li Yan. Sehingga pertarungan kedua Baihu memenangkan dengan lebih mudah.

__ADS_1


Pertarungan ketiga Baihu berjalan lebih lama dari yang kedua, karena tampak murid ketiga terlihat sedikit aneh jurusnya. “Orang ini seperti memendam jurus lainnya” gumam Baihu dalam hatinya.


Murid ketiga memiliki kekuatan yang sama di alam Suci tahap akhir, namun jurus Bulan Bekunya terlihat tampak kaku seperti baru di latih beberapa bulan terakhir, namun di balik jurusnya itu Baihu seperti melihat murid itu menahan jurus lain di tubuhnya.


Tetapi Baihu masih anak-anak di usia 15 tahun, jadi dia tidak berpikir terlalu jauh akan hal itu. Dia hanya bergerak berdasarkan nalurinya dan mengalahkan murid ketiga tersebut dalam 5 jurus.


Akhirnya sekte Matahari Bulan maju ke babak selanjutnya di wakili oleh Baihu.


“Hebat, bocah ini memahami jurus Matahari dan Bulan melebihi teman-temannya. Sepertinya aku mengenali gerakannya itu” gumam Raja Buas Shi Long melihat gerakan Baihu yang memang berdasarkan pelatihan dari Guru Wu Shan padanya.


Pertandingan terakhir babak pertama antara sekte Makam Raja dan sekte Wudang, dilanjutkan antara murid pertama masing-masing sekte. Kemenangan berada di pihak sekte Makam Raja.


Kemudian saat murid kedua sekte Wudang melawan murid pertama sekte Makam Raja, kemenangan berada di pihak Wudang. Selanjutnya murid kedua sekte Makam Raja mengalahkan murid kedua Wudang.


Kini pertandingan berikutnya murid ketiga Wudang yang telah menguasai 3 jurus dari 5 jurus Pedang Semesta sekte Wudang melawan murid kedua sekte Makam Raja yang menguasai 4 jurus dari 6 jurus Membangunkan Sejuta Raja sekte Makam Raja.


Tampak jurus Membangunkan Sejuta Raja kekuatannya melebihi kekuatan jurus Pedang Semesta dari sekte Wudang.


“Ugh, seandainya aku menguasai jurus puncak Pedang Semesta, jurus kalian tidak akan menang dari kami” geram murid ketiga Wudang sebelum dia terduduk kalah.


“Sekte Makam Raja memenangkan pertandingan terakhir babak pertama” teriak panitia.


Setelah itu hanya 5 sekte yang akan mengikuti pertandingan babak kedua. Sekte Pedang Langit dengan kekuatan penuh 3 murid karena lolos langsung, kemudian sekte Ming dengan sisa 1 murid bernama Zhao Yun, lalu sekte Teratai Suci dengan kekuatan penuh 3 murid, kemudian Baihu dari sekte Matahari Bulan dan terakhir 2 murid dari sekte Makam Raja.


Para peserta beristirahat beberapa menit sementara para tetua kelima sekte yang lolos babak kedua mengambil nomer. Diantara nomer itu terdapat satu kesempatan lolos menuju final tiga besar.

__ADS_1


Sekte Ming mendapatkan kesempatan lolos langsung menuju tiga besar, Zhao Yun terlihat gembira mendengar hal itu. Dia akhirnya bisa melewati babak kedua dengan beristirahat lebih banyak sambil mempelajari pertandingan lawan.


“Aku bisa melihat dan mempelajari calon lawanku di babak final 3 besar nanti. Sepertinya kali ini sekte Pedang Langit masih menjadi calon juara terkuat pertandingan ini” gumam Zhao Yun.


Ketua sekte Raja Buas Shi Long mendatangi Zhao Yun yang sedang mengamati para murid peserta lainnya.


“Zhao Yun, kamu harus lebih berhati-hati pada anak bernama Baihu dari sekte Matahari Bulan. Jangan meremehkannya. Kamu lihat ketua sekte Shang Chi, dia sama sekali tidak terlihat khawatir dengan kekalahan murid lainnya.” pesan Raja Buas Shi Long pada muridnya


Zhao Yun melihat wajah ketua sekte Shang Chi yang masih tenang meskipun hanya satu muridnya yang berhasil melewati babak pertama seperti dirinya. Dia lalu menatap ke arah Baihu yang berdiri acuh tak acuh dari keadaan sekitarnya.


Hasil pengambilan nomer berikutnya adalah sekte Pedang Langit melawan sekte Makam Raja dan sekte Matahari Bulan melawan sekte Teratai Suci.


Semua orang-orang dari 9 sekte masih tetap berada di tempat pertandingan itu, meskipun mereka yang sudah kalah, namun mereka tidak kembali pulang. Tetapi mereka masih berada di sana untuk menonton dan mempelajari ilmu lawan.


Pertandingan ini adalah pertandingan persahabatan antar sekte, jadi mempelajari kekuatan lawan adalah kunci untuk memenangkan pertandingan pada tiga tahun berikutnya.


Li Yan dari sekte Bulan Es masih tidak percaya dengan kekalahannya, dia berjalan mendekati Baihu, “Aku tidak terima kekalahan ini. Kamu harus memenangkan pertandingan antar sekte ini. Karena aku hanya boleh dikalahkan oleh pemenang pertandingan ini” katanya pada Baihu dengan masih kesal


“Ah” Baihu menghela nafasnya lalu menoleh pada Li Yan yang menatapnya dengan wajah kesal.


“Sejak awal kamu terlihat kesal padaku, seandainya kamu tersenyum tentu akan terlihat lebih cantik seperti saat itu” sahut Baihu membuat mata Li Yan berkedut mendengarnya.


Li Yan lalu mendengus pergi meninggalkan Baihu. Kata-kata Baihu membuat wajahnya menjadi bertambah merah, namun dalam hatinya sedikit merasa senang karena dikatakan lebih cantik jika dia tersenyum.


“Seperti saat itu? Berarti dia mengingat semua kejadian itu” mata Li Yan melotot setelah menyadarinya. Wajahnya gelap mengingat mata Baihu saat itu telah menodai tubuhnya dengan tatapannya. Dia tidak tahu apakah harus senang atau marah karenanya.

__ADS_1


__ADS_2