BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 127 | Perjanjian dengan Pang Niu


__ADS_3

Permaisuri Pang Niu menundukkan kepalanya, meskipun hatinya masih merasa geram tetapi melihat pasukan bangsa Buke di ibukota kerajaan yang telah melemparkan senjata dan berlutut membuatnya merasa kesal. Namun itu semua karena kesalahannya, dia sendiri yang memerintahkan pasukan dan para jendralnya untuk mengejar Baihu dan mengabaikan benteng ibukota kerajaan.


Setelah melihat semua pasukan bangsa Buke yang berlutut, ketua sekte Wudang dan beberapa jendral segera mendatangi Baihu yang berhadapan dengan permaisuri Pang Niu.


“Yang Mulia, kami telah datang.” kata ketua sekte Wudang bersama para jendral tersebut.


Permaisuri terkejut mendengar kata-kata mereka. “Yang Mulia?” batinnya.


“Siapa kamu?” geramnya pelan pada Baihu.


Baihu tersenyum padanya namun tidak memberikan jawaban. “Ikat seluruh pasukan bangsa Buke dan kirim ke penjara ibukota. Perkuat pertahanan benteng ibukota!” perintah Baihu kepada pasukan kerajaan Salju Utara.


“Baik Yang Mulia!”


“Bagaimana dengan wanita ini?” tanya ketua sekte Wudang pada Baihu.


“Biarkan aku yang menanganinya,” sahut Baihu pelan.


Ketua sekte Wudang tidak lagi melanjutkan pertanyaannya, dia dan seluruh pasukan kerajaan Salju Utara segera mengikat pasukan bangsa Buke yang menyerah dan mengirim mereka ke penjara.


Kini hanya tinggal Baihu dan permaisuri Pang Niu yang masih berada di sana. Baihu tahu Pang Niu memiliki dendam padanya karena telah membunuh ayahnya. Jadi dia tidak mempermasalahkan hal itu, namun dia wajib memberitahukan hal yang sebenarnya pada Pang Niu.


“Permaisuri Pang, Aku Baihu dari kerajaan Gurun Barat. Antara aku dan sekte Misterius memiliki takdir berselisih sejak sekte misterius ikut campur masalahku di kerajaan Gurun Barat.” jelas Baihu.

__ADS_1


Setelah mendengar nama Baihu, permaisuri Pang pun terkejut. Dia beberapa kali mendengar nama itu disebut oleh suaminya Raja Mao Da, ayahnya dan juga Zhang Mou. Perselisihan diantara mereka telah lama di dengarnya, suaminya bahkan sampai berkeringat dingin jika mendengar nama Baihu.


Dia masih ingat ketika Zhang Mou menyebut nama Baihu dalam pertemuan dengan suami dan ayahnya. Mereka bertiga terlihat menggigil gemetar karena marah.


“Jadi kamu Baihu yang aku dengar dinobatkan sebagai raja kerajaan Gurun Barat. Kamu yang bisa membuat suami dan ayahku menjadi marah.” kata permaisuri Pang Niu dingin.


“Hahaha... sepertinya namaku bagi mereka sangat menakutkan. Aku hanya memiliki dendam kepada Zhang Mou, namun ayahmu Pang Chu melindunginya berkali-kali sampai aku terluka. Sedangkan suamimu, aku memiliki cerita lama dengannya.” Baihu menjelaskan singkat pada permaisuri Pang Niu.


“Sudahlah, aku akan menjelaskannya lain kali. Aku akan meminta pasukan kerajaan Salju Utara mempersiapkan pemakaman ayahmu. Kamu bisa berpamitan padanya. Setelah itu, maaf kamu harus tinggal sementara di dalam penjara.” kata Baihu dingin.


Mendengar kata-kata Baihu, permaisuri Pang Niu terdiam. Hatinya galau mengingat kembali ayahnya yang terbunuh di pangkuannya, namun setelah mengetahui kekuatan Baihu dia merasa tidak berguna karena tidak bisa membalaskan kematian ayahnya.


Baihu segera memerintahkan pasukan kerajaan Salju Utara untuk mempersiapkan pemakaman sederhana bagi Pang Chu di luar ibukota kerajaan sebelah utara.


Setelah semua pemakaman dilakukan tampak hanya permaisuri Pang Niu yang berlutut di depan makam ayahnya. Sedangkan Baihu mengawasinya dari kejauhan, meskipun dia tahu jika permaisuri Pang Niu ingin kabur pun Baihu tidak akan mengejarnya.


Dalam hidup Baihu, dia sangat dekat dengan ibunya sejak kecil sebelum pembunuhan keluarga kerajaannya. Dia pun sangat disayangi oleh para pelayan wanita bahkan menyelamatkan dirinya sejak kecil ke tengah hutan.


Ketika bertemu dengan Sunu kecil dan harimau betina ibunya pun Baihu tidak menyerangnya, Baihu menghormati setiap wanita yang ditemuinya.


Setelah selesai berpamitan pada ayahnya, permaisuri Pang Niu pun berdiri dan berbalik menatap pada Baihu. “Mengapa kamu tidak mengikatku? Apa kamu tidak takut aku melarikan diri?”


“Aku tidak akan mengejarmu jika kamu bermaksud melarikan diri, dan kamu akan kesulitan bertahan dari orang-orang yang marah di kerajaan Salju Utara pada kalian. Aku berada di dekatmu untuk menjagamu agar tidak dijadikan pelampiasan oleh kemarahan kerajaan Salju Utara.”

__ADS_1


Deg!


Permaisuri Pang Niu tertegun mendengar alasan Baihu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa sedikitpun Baihu membenci dirinya, justru Baihu menjaga agar dia tidak dijadikan pelampiasan kemarahan dari penduduk kerajaan Salju Utara.


“Apakah kamu ada tempat yang ingin dituju? Tapi aku tidak menyarankanmu untuk kembali ke kerajaan bangsa Buke. Karena sebentar lagi kami akan berperang melawan mereka.” kata Baihu dengan jujur.


Permaisuri Pang Niu merenung, dia tidak tahu harus pergi kemana. Wajahnya menjadi galau antara dendam, benci, sedih, takut. Dia menatap dengan mata suram ke arah Baihu. “Aku hanyalah seorang tawanan, aku tidak punya hak untuk memutuskan hidupku.” Permaisuri menundukkan kepalanya lemah berusaha menerima kenyataan itu.


“Baiklah, begini saja. Aku akan membiarkanmu pergi keluar dari wilayah kerajaan Salju Utara. Aku memberikanmu kesempatan untuk meningkatkan kekuatanmu dan membalaskan dendam sebanyak tiga kali padaku. Jika dalam tiga kali kesempatan kamu tidak bisa membalaskan dendam padaku. Aku harap kamu bisa menerima kematian ayahmu dalam peperangan ini.” kata Baihu.


Wajah permaisuri sedikit berubah cerah, semangatnya kembali terkumpul mendengar perkataan Baihu. “Baiklah, tiga kali kesempatan sudah lebih dari cukup bagiku untuk membalas kematian ayahku padamu.”


“Tapi ingat, ini hanya antara kamu dan aku. Tidak boleh melibatkan orang lain disekitar kita. Apakah kamu bersedia?” tanya Baihu kembali.


Permaisuri merenungi perkataan Baihu, hal itu berarti dia tidak boleh membalaskan dendam kepada orang lain di sekitar Baihu. Dia hanya boleh membalaskan dendam kepada Baihu seorang.


“Baik. Aku menerimanya.” sahut permaisuri Pang Niu dengan wajah tegas. Dia akan pergi berguru menjadi lebih kuat dan akan menantang Baihu di masa depan untuk membalaskan dendam ayahnya.


“Bagus. Aku akan menunggumu lebih kuat. Ingat tiga kali kesempatan untuk menghapus dendam ini.” Baihu kembali mengingatkannya.


Permaisuri menganggukkan kepalanya dan berjanji dengan hal itu.


Kemudian Baihu mengantarkannya pergi keluar dari wilayah kerajaan Salju Utara. Permaisuri Pang Niu memilih pergi ke wilayah luar bagian utara, karena dia pernah mendengar bahwa ibunya yang telah meninggal memiliki guru dari wilayah luar bagian utara. Jadi dia bermaksud untuk pergi menemuinya dan berguru padanya.

__ADS_1


Setelah berada di wilayah luar bagian utara, Baihu menyerahkan pedang pusaka milik permaisuri Pang Niu dan melepaskannya. “Ingat, kamu bukan lagi permaisuri. Kamu hanya seorang wanita bernama Pang Niu. Aku akan menunggumu setelah kamu lebih kuat.” Senyum Baihu padanya.


Pang Niu menoleh pada Baihu lalu mendengus. “Cih, aku akan membalaskan dendam ayahku padamu. Aku hanya perlu satu kesempatan saja.” batinnya.


__ADS_2